KWT Flamboyan, Potret Petani Kota Berdaya

Lorong sayur KWT Flamboyan. ILHAM LUTHFI HABIBI

Pangan merupakan kebutuhan pokok manusia yang pemenuhannya menjadi hak dasar setiap manusia. Kecukupan pangan menentukan kualitas sumber daya manusia dan ketahanan bangsa. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan pada Bab 1 Pasal 1 ayat (3) menyatakan bahwa kemandirian pangan adalah kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi pangan yang beraneka ragam dari dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup sampai di tingkat perseorangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara bermartabat.

Ketersediaan pangan rumah tangga dipengaruhi oleh produksi pangan dan pendapatan yang menentukan daya beli seseorang atau keluarga terhadap pangan. Status sosial budaya seperti sikap, kebiasaan makan, tabu terhadap makanan, ketidaktahuan akan gizi dan distribusi pangan dalam keluarga memengaruhi kecukupan ketersediaan pangan.

Salah satu masalah yang dihadapi dalam penyediaan pangan dari produksi pada rumah tangga perkotaan adalah keterbatasan lahan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menyediakan pangan dari produksi di daerah perkotaan adalah dengan mengembangkan pertanian perkotaan (urban farming). Pertanian perkotaan didefinisikan sebagai produksi pangan yang terjadi di dalam batas-batas kota.

Produksi pangan tersebut terjadi di halaman belakang, di atap rumah, di kebun sayur dan buah komunitas dan di ruang publik atau tempat yang tidak digunakan. Pertanian kota mencakup juga kegiatan komersial yang menghasilkan pangan di rumah kaca dan di ruang terbuka, tetapi lebih sering berskala kecil dan tersebar di sekitar kota.

Pertanian perkotaan terbukti memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja dan penghasilan, ketahanan pangan, dan konservasi lingkungan. Di Malaysia, pertanian perkotaan juga berperan dalam ketahanan pangan dengan menyediakan akses kepada penduduk kota pada makanan bergizi, aman, dapat diterima dan hemat biaya .

Kemandirian pangan dapat terwujud ketika masyarakat dan pemerintahan berkolaborasi untuk mewujudkan hal tersebut. Di RW 14 Jogonegaran, Kalurahan Sosromenduran, Kemantren Gedongtengen, Kota Yogyakarta terdapat kelompok tani yang bernama Kelompok Wanita Tani (KWT) Flamboyan. Nama Flamboyan sendiri diambil dari nama tanaman yang khas dengan pohon besar, dan bunga-bunga merah cerah. Dengan diberikannya nama tersebut, diharapkan anggota KWT mampu berdiri kukuh apa pun situasi dan kondisinya, dan selalu semangat menyala seperti warna bunga-bunga tersebut.

KWT Flamboyan sudah berdiri sejak tahun 2012, kalau dihitung kurang lebih sudah sembilan tahun KWT ini mengelola kampung sayur. Sembilan tahun bukan waktu yang singkat bagi KWT Flamboyan dalam menghadapi tantangan zaman.

Dalam perjalanannya, KWT Flamboyan sudah beberapa kali berganti kepemimpinan, untuk periode yang sekarang dipimpin oleh Nur Hidayatun. Nur Hidayatun sendiri memimpin dari tahun 2020 sampai 2022, karena sesuai AD/ART KWT Flamboyan masa jabatan ketua selama satu periode itu adalah dua tahun. Selanjutnya dilakukan pemilihan kembali, tapi Nur Hidayatun dapat dipilih kembali jika tidak ada anggota yang siap menjadi ketua KWT Flamboyan.

Cukup unik memang yang dilakukan oleh KWT Flamboyan, karena jarang sekali kelompok tani mempunyai AD/ART sebagai pedoman menjalankan organisasi tersebut. Tapi dengan adanya AD/ART yang dibuat oleh KWT Flamboyan ini dapat memajukan kelompok tani dalam segi keorganisasian. Karena yang termuat di AD/ART ini tidak hanya mengenai masa jabatan ketua saja, tapi lebih dari itu misalnya mengenai struktur kepengurusan sampai dengan tugas dan tanggung jawab anggota kelompok.

Anggota KWT Flamboyan terdiri dari 25 anggota yang terbagi menjadi dua, yaitu 21 perempuan dan 4 orang laki-laki. Meskipun nama kelompok ini adalah Kelompok Wanita Tani tetapi anggota kelompok ada laki-lakinya juga, dikarenakan dalam mengelola kampung sayur dibutuhkan tenaga laki-laki yang tidak bisa dilakukan oleh tenaga perempuan, terutama kerja yang membutuhkan tenaga yang besar.

Anggota KWT Flamboyan memanfaatkan lorong-lorong rumah atau gang-gang perumahan sebagai tempat budi daya tanaman sayuran. Hal ini mengingat di wilayah perkotaan sulit untuk menemui lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk menanam sayuran.

Banyak tanaman yang ditanam oleh para anggota KWT Flamboyan ini, yaitu ada cabe, sawi, bayam merah, kubis merah dan masih banyak lagi. Untuk kubis sendiri, setiap sekali panen bisa menghasilkan sampai lima kilogram, sedangkan untuk satu kilonya berharga Rp10.000. Hasil panennya dijual ke pasar sekitar yang lokasinya dekat dengan lokasi kampung sayur dan jika di pasar tidak sampai terjual sampai habis, sayuran tersebut dijual ke warga sekitar Jogonegaran.

KWT Flamboyan membuat salah satu program sosial, yaitu Jumat Berkah, di mana program ini sebagai wujud kepedulian KWT Flamboyan kepada warga sekitar Jogonegaran. Setiap hari Jumat, anggota kelompok melakukan panen raya di kampung sayur dan hasil dari panen raya tersebut dibagikan secara gratis kepada warga sekitar Jogonegaran. Hal ini sangat bagus dilakukan, mengingat keberadaan KWT Flamboyan ini bukan semata-mata untuk mencari profit belaka, tapi tidak lupa dengan aspek sosial.

Dalam mengelola kampung sayur, tidak semua anggota KWT Flamboyan bisa full datang setiap hari ke kampung sayur, karena masing-masing anggota memiliki kesibukan. Hal ini sangat bisa dimaklumi, karena tidak semua anggota bermatapencaharian sebagai petani. Untuk menyiasati hal tersebut, dibagilah anggota kelompok tani berdasarkan blok wilayah rumahnya, yang nantinya masing-masing blok tersebut bertanggung jawab untuk mengelola kampung sayur yang dekat dengan blok-blok rumah mereka.

Dengan begitu, dapat mempermudahkan anggota dalam mengelola kampung sayur, selain dekat dengan rumah anggota kelompok yang sewaktu-waktu dapat ke kampung sayur, juga dipermudah dengan sumber mata air untuk menyirami tanaman, karena dekat dengan rumah masing-masing anggota maka anggota kelompok tau mana sumber mata air terdekat.

Guna menunjang operasional perawatan kampung sayur, warga masyarakat anggota KWT Flamboyan melakukan iuran dana swadaya. Hal ini sangat bagus untuk keberlangsungan kampung sayur agar tetap berproduksi dengan maksimal. Selain itu KWT Flamboyan juga mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, bantuan yang didapat berupa pendampingan dalam menanam sayuran, pemberian media pembibitan dan masih banyak lagi. Melihat peran pemerintah yang begitu aktif dalam men-support kelompok tani, timbul harapan yang besar untuk semakin memajukan kelompok tani.

Melihat perjalanan KWT Flamboyan yang sudah lebih dari sembilan tahun, melalui kegiatan-kegiatan ataupun melalui program-programnya banyak kebermanfaatan yang dirasakan oleh anggota kelompok dan masyarakat sekitar. Hal ini tak heran jika KWT Flamboyan banyak menorehkan prestasi bergengsi yang didapatkannya, salah satunya yaitu mendapatkan Juara I dalam lomba lorong sayur 2019 se Kota Yogyakarta. Hasil ini tak lepas dari perjuangan keras dan komitmen tinggi para anggota KWT Flamboyan dalam mengelola kampung sayur.

Pengelolaan kampung sayur oleh KWT Flamboyan tidak serta merta bisa berjalan mulus, pasti ada halangan dan rintangan yang perlu dihadapi, misalnya seperti kurangnya ilmu pengetahuan tentang pertanian dan kekompakan anggota yang semakin hari semakin luntur semangatnya, apalagi pas waktu pandemi Covid-19 banyak anggota yang mengurung dirinya di rumah saja. Tapi waktu terus berjalan, anggota kelompok tani dapat menghadapi masalah itu semua dengan baik.

Nur Hidayatun selaku ketua KWT Flamboyan mengungkapkan bahwa dia berharap kampung sayur ini dapat dilestarikan guna bisa menjaga kesejukan wilayah Jogonegaran, dan bisa menaikan perekonomian masyarakat, khususnya anggota KWT Flamboyan dan umumnya untuk masyarakat RW 14 dan sekitarnya.

Bahan Bacaan

Umi Barokah, dkk. 2021. ‘Pemberdayaan Kemandirian Pangan Berbasis Urban Farming di Kawasan Padat Penduduk Kota Surakarta Jawa Tengah’. Jurnal Ilmiah Pengabdian terhadap Masyarakat, Volume 6.

 

Add Comment