Lika-liku Media Masa Cetak di Era Industri 4.0

Ilustrasi Koran. SHUTTERSTOCK

Setiap perjalanan saya selalu mengucap rasa syukur terhadap Allah sebab telah diberi kenikmatan berupa hidup, akal sehat, pendidikan, dan sebagainya. Ketika menuju lokasi Laboratorium Sosial dengan menggunakan ojek online, banyak sekali yang saya jumpai di perjalanan, salah satunya adalah penjual koran di perempatan.

Bukan hal yang asing bagi kita melihat penjual koran saat lampu merah tiba. Mereka menawarkan korannya kepada pengemudi mobil maupun sepeda motor. Kegiatan ekonomi itu dilakukan agar dapat menukarkannya dengan uang yang nominalnya di bawah lima ribu rupiah.

Melihat aksi cara penjual menawarkan korannya dengan dengan begitu sopan, ramah, baik, dan interaksinya pun menggunakan bahasa jawa halus dengan intonasi yang sangat lembut. Masalahnya tidak semua orang yang berkendara membeli koran itu karena membaca tidak punya banyak peminat di Indonesia, terlebih lagi melalui media cetak, salah satunya koran.

Koran atau surat kabar biasanya dicetak pada kertas berbiaya rendah, isinya berita-berita terkini dalam berbagai topik. Topiknya bias berupa politik, kriminalitas, olah raga, tajuk rencana, cuaca, dan lain-lain. Surat kabar juga biasa berisi karikatur dengan tujuan menyindir lewat gambar berkenaan dengan masalah-masalah tertentu.

Penurunan Industry Media Cetak

Saat ini, eksistensi industri cetak memang sedikit mengkhawatirkan dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi. Selain faktor tersebut, perilaku baca masyarakat yang berubah dan faktor internal menjadi rentetan problematika yang menggoyahkan industri cetak.

Mantan Chief Executive Officer (CEO) Jawa Pos Group, yaitu Dahlan Iskan mengatakan ada tiga faktor yang berkontribusi besar terhadap media cetak pada saat ini. Ketiga factor tersebut adalah kesalahan manajerial, kualitas rendah redaksi, dan kenaikan harga kertas.

Dahlah pernah mengatakan bahwa masalah paling utama yang dihadapi oleh media cetak pada saat ini adalah kegagalan manajerial. Ia memaparkan bahwa kegagalan manajerial ini mencakup ketidakmampuan mengelola sumber daya manusia, jenjang karier karyawan, penghasilan, keuangan, dan apresiasi terhadap karyawan.

Kasus kegagalan manajerial ini dapat terjadi ketika ada karyawan yang memiliki kualitas dan etos kerja yang bagus tidak diangkat kariernya, sedangkan karyawan yang kurang berkompetensi justru diberikan kursi kepemimpinan.

Efek samping yang ditimbulkan adalah pihak redaksi akan terkena imbas yang menyebabkan kualitas tulisan menurun. Padahal, media cetak sangat bertumpu pada kemampuan jurnalis mengolah kata. Terutama sekarang ini, media cetak harus bersaing dengan media online yang memiliki keunggulan dari sisi kecepatan dan multimedia.

Selain itu, faktor yang juga memberatkan industri media cetak adalah kenaikan harga kertas. Harga kertas akan terus naik karena bahan baku pembuatan kertas yang semakin sulit didapat, khususnya kertas koran yang kian sulit didapat karena penjualan koran semakin menurun.

Dunia industri tengah memasuki era baru yang disebut revolusi industri 4.0. Barangkali masih banyak di antara kita yang masih mempertanyakan apa itu industri 4.0? Industri 4.0 adalah industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi siber. Ini merupakan tren otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur.

Pada awalnya, istilah Revolusi Industri 4.0 berasal dari sebuah proyek strategis teknologi canggih Pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pada semua pabrik di negeri itu. Revoluasi Industri 4.0 ini kemudian dibahas kembali pada 2011 di Hannover Fair, Jerman. Pada Oktober 2012, Working Group on Industry 4.0 memaparkan rekomendasi pelaksanaan Revolusi Industri 4.0 kepada Pemerintah Federal Jerman.

Bob Gordon dari Northwesten University, Illinois, USA, juga memberikan beberapa tanggapan mengenai Revolusi Industri 4.0 yang dirangkum oleh Paul Krugman dari Princeton University, New Jersey, USA (penerima Nobel Price on Economic) pada 2008.

Revolusi Industri

Pada perkembangan berikutnya, April 2013, Krugman mencatat beberapa hal tentang perkembangan revolusi industri yang terjadi sejak abad ke-17. Revolusi industri pertama (1750-1830) ditandai dengan penemuan mesin uap dan kereta api. Penggunaan mesin uap pada waktu itu dimaksudkan untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan dalam produksi. Revolusi industri pada saat itu juga berguna untuk melaksanakan mekanisasi sistem produksi. Mekanisasi di sini bermakna penggunaan tenaga mesin dan sarana-sarana teknik lainnya untuk menggunakan tenaga manusia dan hewan dalam proses produksi.

Revolusi industri kedua (1870-1900) ditandai dengan penemuan listrik, alat komunikasi, bahan-bahan kimia, dan minyak. Revolusi industri pada tahap ini dapat digunakan untuk melaksanakan konsep produksi massal.Revolusi industri ketiga (1960 hingga sekarang) ditandai dengan penemuan komputer, internet, dan telepon genggam. Revolusi industri ketiga ini dapat digunakan untuk otomatisasi proses produksi dalam kegiatan industri.Saat ini kita memasuki era baru, yaitu revolusi industri keempat atau istilah populernya revolusi Industri 4.0. Revolusi industri gelombang keempat ini tetap bertopang pada revolusi industri ketiga.

Namun, revoluasi industri 4.0 mulai ditandai dengan bersatunya beberapa teknologi. Hal itu membuat kita melihat dan merasakan suatu era baru yang terdiri atas tiga bidang ilmu yang independen, yaitu fisika, digital, dan biologi Dengan komposisi yang demikian, maka revolusi industri 4.0 mempunyai potensi untuk memberdayakan individu dan masyarakat karena revolusi industri fase ini dapat menciptakan peluang baru bagi ekonomi, sosial, maupun pengembangan diri pribadi. Tetapi, revolusi industri 4.0 juga bisa menyebabkan pengerdilan dan marginalisasi beberapa kelompok dan ini dapat memperburuk kepentingan sosial bahkan kohesi sosial, juga dapat menciptakan risiko keamanan dan dapat pula merusak interelasi antarmanusia.

Bagaimana Media Menyikapi Era 4.0?

Perubahan itu saat ini semakin terlihat nyata. Hal ini mestinya turut diikuti dengan kesiapan media dalam menyikapi perubahan. Perkembangan teknologi yang kini tengah berjalan membuat segalanya menjadi lebih mudah diakses, khususnya informasi. Hanya dengan sekali klik, pengguna internet menjadi tahu mengenai dunia. Semua lapisan dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi yang sedang terjadi. Era ini tentu berdampak ke berbagai bidang, tak terkecuali jurnalisme.

Satu hal yang sudah pasti bahwa revolusi industri 4.0 telah datang di tengah-tengah kita dan kita tak mungkin lagi menolak atau menghindarinya. Proses ini akan terus berjalan di tengah kemampuan atau bahkan ketidakmampuan kita menepis dampak negatifnya.

Ada satu hal yang paling menonjol dalam derap perubahan ini, yakni dunia harus merespons perubahan tersebut dengan cara yang terintegrasi dan komprehensif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, baik itu pelaku politik global, mulai dari sektor pemerintah sampai sektor swasta, akademik, perusahaan, dan tentu saja masyarakat luas.

 

 

Add Comment