Melihat Permukaan BUMDES Panggung Lestari

Mahasiswa UNU di Aula Kalurahan Panggungharjo. JUNAEDI

Pada minggu pertama, observasi dilakukan di Kampung Mataraman. Tempat ini adalah bagian dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Kalurahan Panggungharjo yang bergerak di bidang kuliner. Saya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkeliling di sekitar Kampung Mataraman.

Setelah berkeliling, saya menganggap bahwa konsepnya sangat unik dan sangat ndeso. Mengapa saya bilang sangat ndeso? Sebab saya melihat dari segi arsitekturnya yang menyerupai bangunan zaman dulu. Terdapat beberapa joglo di Kampung Mataraman untuk tempat makan, tepat di pintu masuk terdapat gapura yang terbuat bambu, jembatan gantung yang terbuat dari bambu, di bawah jembatan itu ada kolam ikan yang cukup luas, dan semakin cantik karena bunga teratai bermekaran.

Setelah kegiatan selesai, akhirnya saya merasa lega, tapi belum begitu lega betul, mengingat esok hari masih harus melanjutkan observasi ke tempat selanjutnya. Meskipun begitu, kalau dipikir-pikir ada senangnya juga karena banyak teman, tidak hanya satu program studi (prodi), namun saya bertemu dengan mahasiswa dari prodi lain.

Observasi hari kedua akhirnya telah tiba. Berdasarkan jadwal yang tertera, seharusnya kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB, tetapi saya terlambat berangkat ke lokasi kegiatan karena harus menunggu teman. Melihat ia yang masih duduk santai dan belum bersiap-siap, saya sebenarnya ingin berangkat terlebih dulu, namun ia meminta saya untuk menunggunya. Saya merasa kesal sekali. Bagaimana tidak? Sudah ditunggu, dia malah tetap diposisi semula, duduk santai sembari menghisap rokok.

Singkat cerita, dengan waktu yang tersisa sedikit, kami akhirnya berangkat. Saya sangat malu ketika sampai di Kampung Mataraman, sebab saya terlambat dan kegiatan sudah dimulai. Untungnya, saya tidak menyerah untuk berangkat, meskipun terlambat. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Pertemuan di hari kedua, menjadi hal yang penting. Saya berkesempatan mengenal unit-unit usaha yang dikelola oleh BUMDES Panggung Lestari, yakni Kelompok Usaha Pengelolaan Sampah (KUPAS) dan Kampung Mataraman. Selain itu, saya jadi mengetahui tentang keberadaan Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID). Yayasan ini memiliki keinginan hebat, yaitu ingin membangun Indonesia dengan membantu desa-desa berinovasi dan menjadi desa yang mandiri.

Observasi dilakukan pada hari ketiga, lokasinya di Kantor KUPAS. Kali ini saya berangkat sendiri. Saya khawatir akan terlambat lagi karena harus menunggu teman. Kebetulan hari itu merupakan hari terakhir observasi sebelum kegiatan matrikulasi. Oleh karena itu, saya bertekad untuk untuk berangkat lebih awal daripada biasanya.

Ketika melakukan observasi, kami dibimbing langsung oleh direktur KUPAS, namanya Rizki. Ia mengenalkan beberapa tempat yang ada di sana, seperti tempat untuk menyortir antara sampah organik dan anorgani, tempat untuk merapikan sampah, dan sebagainya.

Informasi lain yang saya tangkap adalah, ia mengatakan bahwa tempat ini sebelumnya merupakan bekas peternakan sapi. Namun, sekarang sudah dialihfungsikan sebagai kantor KUPAS.

Sampah anorganik begitu dihargai di Kalurahan Panggungharjo. Jadi, KUPAS memiliki program bersama pegadaian, yakni program menukarkan sampah dengan emas. Masyarakat diminta menyetorkan sampah anorganik di KUPAS, kemudian mereka akan mendapat tabungan emas. Sungguh ajaib. Kalau begini, ketika ingin membuang sampah anorganik membuat kita berpikir dua kali.

Tidak hanya itu, KUPAS memiliki banyak inovasi dari sampah, di antaranya pembuatan pupuk yang berasal dari sampah organik, budidaya belatung, dan sebagainya. Tetapi untuk budidaya belatung belum berjalan karena masih dalam percobaan. Melalui program-program tersebut, kami jadi tahu bahwa sampah tidak selalu tidak berguna.

Lahan yang yang cukup luas di Kantor KUPAS, pernah dimanfaatkan sebagai kebun sayuran. Kini, tanaman hijau sudah tidak menghiasi lagi. Saya amat menyayangkan ketika melihat lahan itu kosong tanpa tumbuhan, rasanya mubazir.

Memasuki kegiatan di minggu kedua, saya mendapat materi matrikulasi laboratorium sosial (labsos), yang mana dalam kegiatan matrikulasi tersebut bertujuan untuk pengkayaan materi terkait unit-unit usaha di BUMDES Kalurahan Panggungharjo.

BUMDES merupakan lembaga usaha yang dikelola oleh masyarakat dan pemerintahan desa dalam upaya memperkuat perekonomian. Pembentukannya berdasarkan kebutuhan dan potensi yang ada di desa.

“BUMDES diharapkan menjadi entitas dalam menggerakan roda perekonomian di Kalurahan Panggungharjo,” tutur Wahyudi Anggoro Hadi selaku lurah.

Peran aktif BUMDES memiliki tekad dalam mendorong perekonomian masyarakat dan inovasi yang dilakukan oleh masyarakat Kalurahan. Tekad itu kemudian membuahkan hasil yang sangat luar biasa dan berhasil menyandang sebagai BUMDES terbaik se-Indonesia.

Dengan begitu, ketekunan dan tekad tersebut layak dicontoh oleh desa lain karena memiliki pemimpin yang mampu memberi dampak baik, serta mampu merubah pola pikir masyarakatnnya melalui beberapa programnya. Berdasarkan pencapaian, Kalurahan Panggungharjo bisa dikatakan sebagai desa yang maju pada sektor ekonomi.

Sebelum pandemi Covid-19, BUMDES memiliki enam unit usaha, antara lain adalah Kampoeng Mataraman, KUPAS, Program Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap (PTSPL), Pasardesa.id, Koperasi Wanita Dewi Kunti, dan YSID. Ketika pandemi melanda, hanya satu unit yang bertahan, yakni KUPAS. Contoh unit usaha yang sempat ditutup karena pandemi, ialah Kampoeng Mataraman.

Terdapat tiga perspektif yang mengukuhkan terbentuknya BUMDES ini, pertama perspektif ekonomi. Pada perspektif ini, BUMDES dikatakan sukses apabila memiliki profit dan benefitnnya yang tinggi.

Kemudian, perspektif sosial diperlukan untuk mendampingi perspektif ekonomi. Kurang lebih alasannya sama dengan lembaga sosial yang lain, sebab kegiatan usahannya bertujuan untuk sosial.

Politik turut hadir menjadi salah satu perspektif yang menyertai jalannya BUMDES. Ada dua hal yang menjadi alasan perspektif politik dihadirkan, pertama menjadi alat politik untuk mendidik atau mengedukasi warga, contohnya ilmu terkait literasi keuangan. Kedua, untuk demokratisasi ekonomi lokal atau meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga di Kalurahan Panggungharjo.

Add Comment