Menekan Alih Fungsi Lahan Produktif Pangan

Alih Fungsi Lahan Hutan Di Indonesia. JOGJAPROV

Para petani, pekebun, dan pembudidaya ikan pada umumnya tidak akan menyarankan kepada putra-putri mereka bercita-cita menjadi petani, pekebun atau pun pembudidaya ikan. Pekerjaan tersebut dinilai kurang bergengsi bahkan menganggap pekerjaan tersebut dianggapnya keras, kotor, dan panas.

Hasilnya pun dianggap penuh ketidakpastian, artinya sangat tergantung dari perubahan alam. Jadi tidak heran jika mereka lebih tertarik melakukan urbanisasi mencari pekerjaan di kota. Bahkan demi mendukung karier di kota, beberapa petani melakukan beberapa hal, pertama, sebagai salah satu bekal untuk mendapatkan pekerjaan umumnya akan menjual tanahnya untuk biaya merantau mencari pekerjaan, atau menyewakan tanahnya. Tidak hanya itu, bahkan mereka menjual sebagian tanahnya dan sebagiannya lagi untuk dibangun rumah tinggal.

Apapun alasannya, berkarier di kota menawarkan banyak akses dan lebih menyenangkan. Meski akan banyak persaingan yang lebih ketat, keras, panas, dan hasilnya juga belum tentu menjanjikan. Inilah salah satu penyebab lahan pertanian produktif semakin berkurang dikarenakan tuntutan dan kebutuhan hidup.

Hal ini berlangsung setiap tahun dan sulit dibendung atau dihentikan, karena berkaitan dengan hak milik dan kebutuhan. Apalagi lahan pertanian yang mereka miliki bersifat warisan atau turun temurun (beranak pinak), serta hanya itu kepemilikannya. Pembagian ini menyebabkan lahan semakin sempit bagi ahli waris.

Kedua, bertambahnya tahun, harga tanah semakin mahal, banyak para orang tua tidak mampu membelikan tanah untuk membangun rumah tinggal putra-putrinya. alasan tersebut menyebabkan para orang tua akhirnya memanfaatkan sebagian lahan pertaniannya (baca: Alih fungsi).

Lahan yang awalnya difungsikan sebagai sawah bisa juga dijual sebagian atau sebagian lainnya untuk dibangun rumah. Selain itu bisa juga dijual semua kemudian membeli lahan lain yang lebih murah. Ketiga, kondusifitas daerah juga menjadi salah satu penyebab maraknya alih fungsi lahan. Alasannya karena banyak yang suka tinggal di DIY.

Harga tanah di Yogyakarta mulai melambung mahal. Namun, hal itu bukan suatu masalah besar, terutama bagi kalangan menengah ke atas (orang berduit). Tidak hanya itu, mereka juga cenderung lebih suka investasi tanah di DIY. Selain itu, ada beberapa investasi-investasi lain, di antaranya rumah tempat tinggal, tempat indekos, ruko, apartemen, rusunawa, kampus, hotel, dan fasilitas umum lainnya.

Pengaruh Alih Fungsi Lahan

Akibat berkurangnya lahan pertanian dan beralih fungsinya, muncul beberapa masalah, pertama, kawasan hijau berkurang. Kedua, sebagai penyimpan air tanah berkurang. Ketiga, udara semakin panas. Keempat, jalan semakin padat karena jumlah penduduk dan kendaraan bertambah. Kelima, tentunya kondisi kehidupan semakin tidak nyaman.

Solusi menekan alih fungsi lahan dengan regulasi saja belum cukup. Sudah ada Perda Nomor 10 Tahun 2011 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Implementasinya, juga belum bisa optimal dalam mengendalikan alih fungsi lahan. Sulitnya penerapan regulasi tersebut berkaitan dengan hak milik lahan pribadi dan tuntutan kebutuhan pemilik.

Seperti biasanya selalu muncul kendala, apalagi keinginan anaknya yang tidak dapat dibendung, serta tidak berniat menjadi petani. Penegakan hukum pun juga belum dapat mengendalikan alih fungsi lahan secara optimal, atau bisa juga karena sosialisasinya yang belum optimal.

Solusi Alternatif Terhadap Masalah

Sebagai alternatif solusi yang dapat dilakukan antara lain, pertama memberi insentif atau kompensasi kepada yang betul-betul sebagai petani dengan harapan kehidupannya akan lebih baik dan tetap tertarik dalam usaha dibidang pertanian dalam arti luas. Kedua, memberi jaminan hidup layak bagi para petani misalnya subsidi, asuransi, dan lainnya.

Ketiga, revolusi mental pro petani untuk mencintai atau suka membeli dan mengonsumsi produk dari petani. Keempat, jaminan pasar produk pertanian secara luas (dari hulu sampai hilir) dengan harga yang menguntungkan. Kelima, regulasi dan implementasinya. Keenam bila perlu ada fasilitas rumah susun bagi keluarga petani (rusutani). Ketujuh, pembatasan luasan bangunan tempat tinggal (diarahkan kembang ke atas dua atau tiga lantai). Kedelapan, areal tertutup (close area) untuk bangunan. Kesembilan, memantapkan kelembagaan dan jejaring para pelaku dibidang pertanian.

Apabila hal tersebut di atas tidak dilakukan, tidak mustahil beberapa tahun ke depan lahan produktif pertanian akan semakin menyempit, bahkan bisa habis menjadi bangunan. Oleh karena itu, sudah saatnya petani bisa ditempatkan sebagai pahlawan pangan, untuk mewujudkan kedaulatan pangan.

Harga tanah yang semakin melambung tinggi di DIY menjadi salah satu faktor kecenderungan alih fungsi lahan yang semakin pesat. Keberadaan petani cenderung semakin menurun, ini sejalan dengan semakin menyempitnya lahan pertanian. Oleh karena itu, pahlawan-pahlawan pangan seperti petani, pekebun, peternak, pembudidaya ikan, dan nelayan harus tetap dipertahankan eksistensinya.

Banyak predikat yang disandang DIY, di antaranya daerah istimewa, kota budaya, kota pelajar atau pendidikan, daerah tujuan wisata, kota kondusif, kota biaya hidup murah, kota gudeg, kota perak, kota batik, kota untuk hidup nyaman dan tenteram, usia harapan hidup tertinggi di tingkat nasional dan bisa juga disebut Indonesia mini apabila dilihat dari keragaman masyarakat yang heterogen, sehingga tidak mengherankan banyak orang yang suka dan kerasan tinggal di Yogyakarta, karena banyak daya tariknya.