Menemukan Keunikan di Panggungharjo yang Membuat Nyaman

Suasana Dapur Kampoeng Mataraman. NUZULINA

Kata ‘aneh’ biasanya sering diartikan sebagai hal ganjil, asing, dan hal lain yang memiliki makna tidak pantas. Saya beri contoh seperti kalimat berikut, “Eh, kok akamu aneh banget, sih, pake lipstik warna itu” atau “Aneh banget kalau kamu kurus begini”. Nah, seperti yang kita tahu bahwa kata ‘aneh’ di kalimat atas menunjukan bahwa ada ketidakcocokan dan hal ganjil untuk orang tersebut.

Namun, jangan salah paham dulu. Tidak ada unsur menjelek-jelekan Panggungharjo dalam tulisan ini. Saya hanya ingin mengartikannya secara berbeda, agar istimewa dan beda dari yang lain.

Apa saja keanehan yang ada di Panggungharjo? Jadi, saya ini asli Tangerang. Pada tahun 2007 keluarga saya memutuskan untuk pindah ke Kota Tegal, Jawa Tengah. Tahu, kan, bagaimana rasanya awal-awal baru pindah? Hawanya tidak betah, Ingin kembali ke Tangerang. Itu yang saya rasakan, sedikit susah untuk beradaptasi dengan teman-teman rumah.

Barangkali ini terjadi karena perbedaan bahasa. Maka dari itu saya susah untuk beradaptasi karena belum paham dengan bahasa dan lingkungannya. Setelah berlalu cukup lama, sekarang saya sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan, juga teman-teman sekolah ataupun teman sekitar rumah.

Singkat cerita, ketika sudah duduk di bangku sekolah menengah atas, kebetulan saya dipondokkan oleh orangtua di salah satu pondok pesantren yang ada di Bantul, tepatnya di Krapyak Kulon. Sementara itu, Krapyak Kulon menjadi salah satu pedukuhan yang ada di Panggungharjo.

Mulai saat itu keanehan dimulai. Lingkungan di pedukuhan ini sangat aman dan tentram. Begitu juga dengan warga sekitar, baik serta ramah. Apabila ada tamu yang baru datang, si empunya rumah sangat menghormati. Itu yang saya rasakan. Jika kalian tahu, umur saya bisa dibilang jauh dari warga sekitar. Terlebih lagi zaman sekarang, anak-anak muda saja banyak yang tidak sopan terhadap orang yang lebih tua. Oleh karena itu, dari daerah Krapyak Kulon, saya melihat dan merasakan hal aneh yang jarang ditemukan di daerah-daerah lainnya.

Keanehan itu membuat saya nyaman dan senang sebagai tamu yang berada di daerah orang lain. Lalu, saat ini saya kebetulan sedang mengerjakan riset aksi atau laboratorium sosial dan tempatnya di Kalurahan Panggungharjo. Benar kata pepatah, Mau seperti apapun kondisinya, mau sejauh apapun jaraknya, kalau memang jodoh pasti akan bertemu.” Sepertinya saya memang ditakdirkan tidak jauh-jauh dari Panggungharjo.

Setelah beberapa hari saya mengikuti kegiatan Labsos, hal aneh pun saya temukan lagi. Seperti unit usaha di bawah naungan BUMDES Panggung lestari, yaitu Kampoeng Mataraman. Jika kalian datang ke Kampoeng Mataraman, kalian akan merasa seperti di zaman dahulu. Tempat ini merupakan tempat kuliner yang letaknya di Ring Road Selatan. Tentunya, masih dalam lingkup Panggungharjo.

Kampoeng Mataraman menyuguhkan suasana baru bagi para pendatangnya karena mengangkat tema zaman Mataram Islam Kuno. Maka dari itu tempat ini diberi nama Kampoeng Mataraman. Sebelumnya, Kampoeng Mataraman ini ada dua bagian. Bagian awal dan bagian depan.

Bagian depan Kampoeng Mataraman terdapat gedung serba guna, biasanya bisa disewa untuk acara-acara formal, seperti pernikahan, rapat, dan lain-lain. Sedangkan, di bagian belakang kalian bisa menemukan rumah makan atau restoran. Nah, di tempat makan inilah kalian akan diperlihatkan nuansa-nuansa zaman dahulu, di sana karyawannya pun memakai baju adat.

Selanjutnya, di antara bagian depan dan belakang kalian bisa menemukan tempat ngopi yang kekinian. Ketika masuk ke Kampoeng Mataraman, akan disambut suasana yang modern ada cafe kopi, setelah melewatinya, suasana itu akan berubah menjadi nuansa zaman dahulu. Aneh. Dua suasana dalam satu tempat.

Dapur di Kampoeng Mataraman pun juga terkesen ndeso, masih mempergunakan kayu dan anglo sebagai bahan bakar untuk memasak. Menu makanannya pun kebanyakan masakan tradisional, seperti sayur lodeh, oseng genjer, apem, tempe goreng garit, dan lain-lain. Sedangkan, untuk minumannya tersedia es dawet, cincau, jahe, dan banyak minuman tradisional lainnya.

Selain itu, ada dua rumah Joglo yang bisa dipergunakan untuk menikmati makanan maupun tempat bersantai bersama keluarga. Halaman belakangnya pun sangat luas, bisa untuk anak-anak memainkan berbagai macam permainan tradisional.

Para pengunjung juga bisa mencoba untuk ikut membajak sawah di Kampoeng Mataraman. Apakah sudah pantas kalau Kampoeng Mataraman saya bilang aneh? Mungkin banyak rumah makan yang tempatnya bernuansa desa, tapi hanya tempatnya saja, sebab saya pun pernah duduk di salah satu kafe yang katanya tradisional dengan tema 80-an, namun menunya tidak berbicara seperti itu, menu yang disajikan di sana modern sekali, tidak seperti Kampoeng Mataraman ini.

Ada keanehan lain yang saya temukan di Kalurahan Panggungharjo, yakni Koperasi. Iya, Koperasi Unit Desa (KUD) Panggungharjo. Sebelumnya, koperasi desa ini bernama Koperasi Wanita Dewi Kunti. Secara kelembagaan Koperasi Wanita Dewi Kunti dibentuk oleh Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Panggungharjo dan pengelolanya adalah ibu-ibu PKK.

Jika ingin bergabung ke dalam anggota Koperasi Dewi Kunti, berarti harus menjadi anggota PKK terlebih dahulu. Melalui penjelasan singkat tersebut, dapat diketahui bahwa koperasi di Kalurahan Panggungharjo ini sungguh unik dan sangat memberi ruang bagi perempuan untuk berkontribusi di sektor ekonomi.

Selain itu, di Koperasi Dewi Kunti juga ada anggota PKK yang punya usaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), seperti jajanan sehat yang berbahan dasar gandum. Berdasarkan hal ini, saya dapat mengambil keanehannya.

Pada umumnya, peran ibu rumah tangga adalah mengurus rumah yaitu anak dan suaminya, tetapi Kalurahan Panggungharjo ini mendukung seorang ibu rumah tangga untuk mengaktualisasikan perannya melalui peran ganda. Maksudnya adalah ibu rumah tangga tidak saja berperan pada sektor domestik, namun juga berperan di sektor publik atau sosial kemasyarakatan, terutama bidang sosial dan ekonomi.

Maka dari itu, ibu rumah tangga khususnya yang ada di Kalurahan Panggungharjo diharapkan dapat menjalankan peran gandanya dengan sebaik mungkin, tanpa melupakan kodratnya seorang istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya.

Sudah tahu alasan saya menyematkan kata ‘aneh’ untuk Panggungharjo, kan? Mungkin memang agak menyimpang. Namun, saya ingin membuktikan bahwa kata ‘aneh’ tidak selalu merujuk pada hal yang buruk. Berdasarkan cerita di atas, saya beri arti kata ‘aneh’ karena ini merujuk pada sesuatu yang unik dan belum banyak orang yang bisa melakukannya.

Selain itu, memang Kalurahan Panggungharjo sungguh inovatif dan kreatif sekali. Mungkin banyak desa di Indonesia yang belum bisa mengembangkan lembaga desanya seperti ini. Maka dari itu saya berharap desa-desa yang ada di Indonesia bisa meniru atau belajar dari Kalurahan Panggungharjo. Bukan hal yang mudah, saya pun belum mempraktekannya.

Saya harap ada banyak desa di Indonesia yang sudah mengembangkan desanya dengan caranya masing-masing dan bisa dikenal oleh banyak orang luar agar kami, anak penerus bangsa Indonesia bisa meneruskan serta menjaga kemajemukan adat dan budaya Indonesia dari hal yang paling kecil, seperti desa.

Add Comment