Menggali Potensi Sumber Daya Laut DIY, Nelayan Butuh Mentor

Dinas Kelautan DIY. JOGJAPROV

Kehadiran mentor di kalangan keluarga nelayan sangat ditunggu dan diharapkan. Peran mentor dibutuhkan sebagai pengarah kegiatan nelayan atau dapat meningkatkan taraf hidup keluarga nelayan dan kesejahteraannya. Sistem pementoran telah lama diterapkan terutama di lembaga pendidikan kedinasan maupun semi-kedinasan seperti pendidikan di lingkungan ABRI, perguruan tinggi pemerintah atau kedinasan, pendidikan semi kemiliteran, dan lainnya.

Tampaknya sistem pementoran pada umumnya menunjukkan feedback hasil yang lebih baik. Oleh karena itu perlu mencoba sistem pementoran di lingkungan keluarga nelayan atau di sentra kegiatan nelayan, yang dianggapnya masih terdapat banyak persoalan dan membutuhkan pembinaan serta pendampingan teknis maupun manajemen melalui mentor.

Pendampingan (mentorship) dapat dimaknai sebagai pembimbing atau pengasuh. Mentor merupakan seorang yang bijak, bisa berperan sebagai konselor (guru) yang dapat dipercaya untuk melakukan pendampingan. Mentor biasanya seseorang yang lebih senior, dipercaya, dan memiliki pengalaman (professional) yang lebih dalam dan mumpuni di bidang pengembangan karakter.

Peran mentor pada umumnya bertindak sebagai pelaku perubahan, suri-tauladan, penasehat, pemberi dukungan, perintis, dan pelindung. Ketidakpahaman peran mentor dapat menyebabkan kurang optimalnya gagasan ide serta proses merancang kegiatan perubahan dan implementasi dari kegiatan perubahan kegiatan selanjutnya. Terlebih lagi ketidaktepatan penunjukkan mentor, akan sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilannya.

Keberadaan mentor di lingkungan keluarga nelayan sangatlah penting, karena mentor bisa berbagi pengalaman, pengetahuan, keberhasilan dan kekurangan serta saran perbaikan tindakan usaha yang lebih berkembang dan maju. Beberapa hasil riset dan survei menunjukkan bahwa mentor memiliki peran penting dalam mencapai kesuksesan.

Pada umumnya seorang mentor akan memberikan arahan yang tepat untuk menapak kegiatan ke depannya atau ia punya kapasitas membaca solusi terhadap problem yang dihadapi. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh dalam memilih mentor.

Pertama menyampaikan apa masalah yang dihadapi. Kedua, memberikan niatan dengan umpan balik. Ketiga, memiliki inisiatif. Keempat, menganggap mentor sebagai rekan kerja. Kelima, amati keberhasilan seseorang yang memiliki posisi lebih tinggi. Keenam, manfaatkan peluang jejaring. Ketujuh, mau dan mampu. Kedelapan, komitmen dan konsisten dalam pendampingan.

Bagi nelayan di DIY, sistem pementoran masih sangat dibutuhkan. Sementara ini keadaan menunjukkan belum cukup jika hanya mengandalkan dari pembinaan yang dilakukan oleh instansi. Terlebih dalam kegiatan-kegiatan nelayan yang masih terbatas, kurangnya pendampingan, perekrutan tenaga pendamping nelayan juga sulit (kurang diminati) karena faktor resiko yang lebih besar dibanding di darat.

Alasan yang mendasar karena nelayan DIY bisa dikatakan belum cukup umur jika dibandingkan dengan nelayan daerah-daerah lain. Budaya nelayan DIY dapat dikatakan bahwa nenek moyang mereka bukan pelaut. Keadaan inilah yang menyudutkan mereka. mayoritas sebagian orang menduga bahwa nenek moyang mereka adalah petani dan seniman. Dengan latar belakang keadaan geografis dan folklor yang berkembang menguatkan dugaan mayoritas orang.

Realitas yang terus berkembang hingga saat ini masih dibutuhkan pembinaan dan pendampingan yang lebih intensif. Salah satu bentuk pembinaan dan pendampingan yaitu sistem pementoran.

Kenyataan yang tidak berlebihan apabila nelayan DIY masih membutuhkan mentor untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kapasitasnya sebagai seorang pelaut atau bermata pencaharian menangkap ikan di laut. Melihat kondisi saat ini, pembinaan dan pendamping nelayan DIY relatif kurang, disebabkan terbatasnya sumber daya manusia di bidang perikanan tangkap. Berbeda dari pembinaan perikanan budidaya yang berkembang pesat dan lebih baik.

Pada kenyataannya potensi laut bagi masyarakat berkontribusi besar penunjang hidup dan masa depan bangsa, ia dapat berfungsi sebagai sumber segala kehidupan. Dapat diibaratkan jika ingin membeli kendaraan bermotor maupun lainnya, seseorang diarahkan ke laut untuk menangkap ikan.

Banyak kisah-kisah inspiratif dari para nelayan yang berkegiatan atau bekerja di laut yang bisa memenuhi segala kebutuhan pribadi maupun keluarga. Profesi nelayan membutuhkan kemauan, ketekunan, keberanian, ketrampilan, kedisiplinan, pengetahuan niteni, dan kekompakan yang matang.

Kenyataannya tetap saja banyak nelayan yang mengatakan bahwa profesi nelayan merupakan pekerjaan yang cepat menghasilkan (quick yielding), artinya berangkat pagi, pulang siang sudah mendapatkan ikan yang kemudian dilelang di Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Mereka pun dibayar dengan biaya yang sesuai jerih payah.

Cukup mudah, bisa juga berangkat sore pasang alat (setting), paginya diambil (hauling) sudah mendapatkan ikan tangkapan, ikan-ikan kemudian dilelang di TPI dan dibayar dengan harga yang sesuai kualitas ikan. Hal yang lebih menggembirakan bagi nelayan, apabila ikan hasil tangkapan termasuk ikan yang berkualitas tinggi dan cukup diminati masyarakat.

Ikan-ikan yang kualitas bagus seperti ikan tuna, cakalang, tongkol, tenggiri, bawal putih, layur, kakap, surung, udang, lobster, gulamah (gogokan), dan lainnya. Sebagai contoh ikan gulamah (gogokan) yang ukurannyanya di atas 20 kg per-ekor, harganya bisa mencapai Rp. 300.000 per-kg. Lobster dan bawal putih harganya bisa saja lebih tinggi dari harga biasanya, tergantung permintaan atau harga pasar yang naik turun.

Perairan selatan DIY termasuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP NRI) yang mempunyai potensi sumberdaya ikan dan keanekaragaman (biodiversity) yang besar, serta memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Jika potensi tersebut tidak dimanfaatkan dan dikelola dengan optimal, maka kita tidak akan mencicipi sumberdaya tersebut. Hal penting lainnya, potensi tersebut bisa menjadi pendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi daerah, serta penyedia bahan pangan khususnya protein ikan.