Menyulap Sampah Menjadi Bernilai

Tempat Pengelolaan Sampah. UNNES

Apa yang teman-teman tahun tentang sampah? Berasal dari mana ia? Siapa saja yang menyebabkan adanya sampah? Guna menjawab sederet pertanyaan tersebut, kita harus memahami pengertian sampah terlebih dahulu. Jadi, sampah merupakan buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi, baik domestik (rumah tangga) maupun industri.

Berdasarkan Undang-undang No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan bahwa sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi padat berupa zat organik atau zat anorganik yang bersifat terurai atau tidak dapat terurai dan dianggap sudah tidak berguna lagi sehingga dibuang ke lingkungan.

Perlakuan terhadap sampah di awal penggunaan produk agar tetap bagus juga penting, hal ini untuk meminimalisir kuantitas sampah yang dihasilkan. Negara maju seperti Jepang dan Singapura, orang yang membuang sampah sembarangan pasti dikenakan denda yang tidak main-main karena kalau main-main namanya permainan. Hehehe.

Gambaran mudahnya, jika seseorang punya kebiasaan buruk dalam memperlakukan sampah yang ia hasilkan, efek yang ditimbulkan bukan hanya tercemarnya lingkungan, tetapi pencemaran kualitas diri seseorang menjadi buruk.

Lingkungan yang bersih, indah, dan rapi mampu membuat pikiran dan hati menjadi jernih. Selain itu, jiwa dan raga kita akan sehat dengan terjaganya kebersihan lingkungan sehingga keseimbangan alam terjaga.

Tanpa kita sadari, apabila bersikap enggan dalam menjaga kebersihan lingkungan, hal itu akan membawa petaka ke diri kita sendiri. Munculnya penyakit berbahaya dan virus bisa saja berasal dari pola hidup yang tidak sehat. Lebih parahnya lagi dapat menimbulkan bencana alam, yakni banjir, tanah longsor, lingkungan yang kumuh, dan akhirnya terjadi inflasi negara.

Mari kita kembali ke isu sampah lagi. Secara umum, sampah terbagi menjadi dua kategori, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Kedua jenis sampah tersebut dapat dijabarkan lagi secara spesifik.

Setelah kita tahu definisi sampah, hal selanjutnya yang perlu kita pahami adalah sumber-sumbernya. Entah sudah banyak yang mengetahui atau belum, ternyata sumber timbulnya sampah ada banyak.

Barangkali sudah tidak asing bahwa pemukiman, yakni perumahan dan apartemen, menjadi salah satu penyumbang sampah di semesta ini. Jenis-jenis sampah yang dihasilkan berupa sisa makanan, kertas, kardus, plastik, tekstil, sampah kebun, kayu, kaca, logam, limbah berbahaya, limbah rumah tangga, dan lain-lain.

Tidak banyak yang menyadari tentang ini, sektor pertanian yang tak lepas dari kegiatan mengolah alam pun turut menyumbangkan limbah. Sampah yang dihasilkan, sering kali berasal dari makanan busuk, plastik, dan sisa-sisa pertanian.

Tentu saja daerah Komersial, meliputi pertokoan, rumah makan, pasar, perkantoran, hotel, dan sebagainya menghasilkan sampah yang tak kalah variatif daripada sampah rumah tangga. Sampah yang dihasilkan berupa kertas, kardus, plastik, sisa makanan, kaca, logam dan lain-lain.

Institusi, yakni sekolah, rumah sakit, penjara, pusat pemerintahan, dan sebagainya pun ikut berkontribusi memberikan sampah kepada bumi. Sampah yang dihasilkan sama seperti daerah komersial.

Selain itu, sampah juga bersumber dari konstruksi dan pembongkaran bangunan, seperti kegiatan pembuatan konstruksi baru serta perbaikan jalan. Beberapa sampah yang dihasilkan adalah, besi, kayu beton, dan lain sebagainya

Ini dia, yang tak pernah lepas dari materi pencemaran lingkungan di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ketika sekolah dasar, yaitu kawasan industri. Sampah yang dihasilkan berupa sisa proses industri, buangan non industri, dan sebagainya.

Pengolahan limbah domestik seperti instalasi pengolahan air minum, pengolahan air buangan, dan insinerator menjadi salah satu sumber penghasil sampah. Limbah tersebut berupa lumpur sisa hasil pengolahan, debu, dan sebagainya.

Fasilitas umum, seperti penyapuan jalan, taman, pantai, dan tempat rekreasi memang tidak bisa lepas dari sampah yang berserakan. Sampah yang dihasilkan biasanya sampah taman, ranting, daun, dan plastik.

Banyak sekali sampah yang diproduksi oleh penjuru dunia, bukan? Namun, sebelum kita mengatasi masalah di tingkat internasional, lebih baik fokus membahas sampah di negara sendiri. Bahkan sampah di negeri ini saja sudah berhasil membuat kepala pusing tujuh keliling.

Mengenai masalah sampah di negeri ini rasanya kapasitas saya belum mampu membahasnya. Oleh karena itu, saya mengerucutkan masalah sampah tersebut di tingkat desa.

Terdapat desa yang telah berhasil mengelola sampah, desa itu terletak di Kabupaten Bantul, namanya Kalurahan Panggungharjo. Ternyata, di sana ada yang namanya Kelompok Usaha Pengelola Sampah (KUPAS). KUPAS sendiri terbentuk dari pengusaha-pengusaha sampah, yang diajak oleh Wahyudi Anggoro Hadi selaku Lurah Panggungharjo.

Fasilitas yang dihadirkan oleh KUPAS, yaitu melayani pengangkutan sampah dari rumah-rumah warga, namun warga juga boleh menyetorkan sampahnya secara mandiri. Sampah yang dibawa atau diangkut itu akan dikumpulkan di bank sampah, kemudian dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah yang masih ada nilai ekonomisnya dijual.

Hal yang menarik adalah KUPAS bekerja sama dengan pegadaian untuk menampung dana yang dihasilkan dari penjualan sampah tadi. Dana itu dikembalikan ke warga dalam bentuk emas, maka munculah semboyan, ‘memilah sampah menabung emas’.

Negara-negara maju, seperti Jepang, Belanda, Belgia, dan Jerman sudah mampu mengolah sampahnya sendiri dan hasil olahan tersebut, antara lain gas yang diubah menjadi energi listrik kemudian didistribusikan ke seluruh penjuru negeri. Inovasi itu berhasil memenuhi kebutuhan listrik 2.000 hingga 3.000 rumah tangga.

Walaupun negara kita belum mampu mengolah sampah yang begitu banyak, namun ada warga dari Provinsi Jawa Barat yang berhasil mengatasi sampah kaca menjadi tepung kaca, yang nantinya dapat diolah menjadi guci, genteng, bahkan keramik kaca.

Selain inovasi tepung kaca, ternyata dapat juga diolah menjadi pernak-pernik, antara lain cincin, piala kaca, serta miniatur-miniatur bangunan terkenal, seperti Menara Eiffel, Monas, dan lain-lain.

Inovasi sampah selanjutnya muncul dari Provinsi Jawa Timur, yakni pengolahan sampah plastik dengan metode penyulingan dan menghasilkan minyak yang kualitasnya sama dengan minyak tanah.

Metode penyulingan sampah plastik dimulai dengan merebus sampah, dari perebusan sampah plastik dihasilkan uap-uap. Hasil dari penampungan uap berwujud air dan minyak.

Minyak hasil penyulingan itu digunakan oleh pemerintah daerah sebagai bahan bakar mesin pemotong rumput, namun jumlah minyak hasil penyulingan belum mampu memenuhi kebutuhan minyak tanah dalam negeri. Harap dimaklumi karena masih skala provinsi, kecuali kalau sampah plastik dari seluruh negeri ditampung menjadi satu dan diolah seperti di Jawa Timur.

Setelah kita membahas pengolahan sampah anorganik, mari kita bahas juga penyelesaian masalah sampah organik. Sampah ini dapat terurai lebih cepat dibandingkan sampah anorganik yang memerlukan waktu berpuluh-puluh tahun agar dapat terurai.

Walaupun sampah organik dapat terurai secara alami lebih cepat, namun jika diolah dan diselesaikan dengan metode-metode tertentu dapat terurai lebih cepat.

Membahas permasalahan sampah organik tidak lepas dari dunia pertanian, hasil dari penguraian tersebut menghasilkan serpihan-serpihan, seperti sampah dari kayu yang memiliki kandungan unsur hara.

Sampah dari sisa pengrajin kayu dapat juga digunakan sebagai media budidaya jamur, campuran penanaman bunga, selain itu sisa serbuk kayu dapat digunakan sebagai media budidaya cacing Lumbricus.

Ada sampah organik lain yang memiliki nilai ekonomis, bahkan sampai-sampai para pegiat eksportir pun mengirimkan barang ini ke mancanegara, yakni sabut kelapa yang diolah menjadi briket atau arang.

Maggot sangat berguna sekali dalam hal mengatasi sampah organik yang jumlahnya sampai puluhan ton. Maggot sebagai pengurai yang dalam hal ini untuk mengatasi permasalah sampah organik muncul saat awal pandemi Covid-19.

Walaupun badannya kecil, maggot mampu mengurai sampah dalam satu hari dengan jumlah yang banyak. Pastinya bukan sembarang sampah organik karena menjaga kualitas produk unggulan dan memberikan makanan yang layak bagi hewan mungil tersebut.

Maggot sendiri sebenarnya mau dan mampu mengurai sampah-sampah tersebut, namun jawaban yang paling tepat adalah mereka hanya menerima sampah jenis buah-buahan.

Mengapa maggot terasa pemilih? Sebab maggot sendiri merupakan lalat buah. Mau tidak mau, makanan mereka adalah buah-buahan yang sudah tidak layak konsumsi.

Saya mendapatkan informasi ini dari jurnal penelitian dari mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang telah melakukan uji coba dengan tiga perlakuan terhadap maggot, yakni sampah jenis buah, sayur, serta campuran buah dan sayur. Simpulan dari hasil penelitian tersebut, yakni laju penguraian sampah buah lebih cepat dibandingkan penguraian sampah sayur maupun campuran buah dan sayur.

Maggot yang layak digunakan sebagai pakan di dunia peternakan adalah yang berwarna putih kecoklatan atau maggot remaja. Ada dua cara menjadikannya pakan ternak, yakni secara langsung atau diolah agar awet dan dapat dijua dalam kondisi kering.

Melalui tulisan ini diharapkan dapat memberi paham bahwa sampah merupakan masalah yang serius dan butuh aksi nyata untuk mengolahnya, karena pengelolaan yang baik dan benar akan meningkatkan nilai sampah sehingga bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia serta lingkungan.