Optimalisasi Pemuda dalam Mitigasi Bencana

Taman Bina Karya Tamanmartani pelatihan bersama URC Team di Pantai Goa Cemara. TAMANBINAKARYA

Sebagai salah satu provinsi yang banyak potensi bencana, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memiliki sebanyak 12 dari 13 potensi bencana yang disebutkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Bencana tersebut di antaranya: letusan gunung api, tanah longsor dan erosi, banjir, kekeringan, tsunami, angin kencang, gelombang ekstrim dan abrasi, gempa bumi, epidemi dan wabah penyakit, kebakaran, konflik sosial, dan kegagalan teknologi (Rencana Penanggulangan Bencana DIY, 2013-2017).

Berdasarkan data dan informasi bencana Indonesia BNPB 2016, sejak tahun 1815 hingga 2016 tercatat korban meninggal dunia paling tinggi kedua setelah tsunami adalah bencana letusan gunung api. Kemudian menurut data Energi dan Sumberdaya Mineral 2015, Indonesia setidaknya memiliki 129 gunung api. Gunung Merapi sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia terletak di perbatasan DIY dan Provinsi Jawa Tengah.

Berdasarkan data yang tercatat sejak tahun 1600-an, Gunung Merapi meletus lebih dari 80 kali atau rata-rata meletus dalam waktu lima tahun sekali. Setidaknya, terdapat sekitar 40.000 penduduk bertempat tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang terancam oleh bahaya Primer Pyroclastic Flow (aliran awan panas) dan bahaya sekunder berupa aliran lahar.

Pada letusan tahun 2010, mengakibatkan 347 korban jiwa. Sementara itu, jumlah pengungsi mencapai 410.388 jiwa (Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral, 2015). Dampak letusan gunung api pada periode tersebut juga menimbulkan kerugian yang sangat tinggi pada sosial ekonomi masyarakat serta kerusakan lingkungan dan sumber daya alam.

Di sisi lain, Gunung Merapi memiliki nilai penting bagi masyarakat yang ada di sekitarnya, baik dari aspek ekonomi maupun sosial budaya, selain itu juga memiliki fungsi ekologis besar. Pada aspek perkembangan wilayah, beberapa kecamatan di lereng Merapi di wilayah Kabupaten Sleman merupakan kawasan strategis pertumbuhan ekonomi. Dalam lingkup Provinsi DIY, Kabupaten Sleman memiliki peringkat pertama dalam memberikan kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY.

Namun demikian, pelaksanaan pembangunan dan pengembangan wilayah Kabupaten Sleman hendaknya memperhatikan aspek mitigasi bencana, mengingat sebagian wilayahnya berada di KRB Merapi, baik KRB III, KRB II, maupun KRB I. Mitigasi bencana tersebut diselenggarakan dalam rangka mengurangi tingkat risiko bencana, dalam hal ini bencana letusan Gunung Merapi.

Mitigasi bencana sendiri dapat dilakukan dengan pelaksanaan penataan ruang, pengaturan pembangunan, pembangunan infrastruktur, tata bangunan, penyelenggaraan pendidikan, penyuluhan, dan pelatihan baik secara konvensional maupun modern (Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana).

Mitigasi Bencana melalui Organisasi Kemasyarakatan

Pemetaan ancaman, kerentanan, kapasitas, dan risiko bencana bermanfaat untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap perlunya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam yang saat ini menjadi bagian kritis dalam kehidupan sebagian besar masyarakat di Indonesia. Salah satu metode yang tepat dalam proses perkembangan tersebut salah satunya dengan melakukan pendidikan dan pelatihan mitigasi bencana.

Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2008 mengenai penyelenggaraan penanggulangan bencana khususnya pada pasal 87 poin 1 yang berbunyi ‘Partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (1) huruf E bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dalam rangka membantu penataan daerah rawan bencana ke arah lebih baik dan rasa kepedulian daerah rawan bencana’.

Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu cara preventif untuk mengantisipasi dampak bencana yang terjadi, pemberdayaan tersebut dapat dimulai dari lembaga-lembaga masyarakat, terutama lembaga pemuda, karena pemuda merupakan generasi penerus yang suatu saat akan berhadapan dengan bencana.

Berdasarkan uraian di atas maka sudah semestinya diperlukan adanya pendidikan dan pelatihan mitigasi bencana bagi para pemuda dan mahasiswa yang ada di wilayah Sleman khususnya di Desa Tamanmartani, Kecamatan Kalasan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk nyata dari upaya preventif terhadap pengurangan risiko korban jiwa jika suatu bencana terjadi.

Maka mitigasi melalui pendidikan dan pelatihan yang digunakan agar program dapat berkelanjutan di masyarakat adalah dengan melakukan pelatihan, implementasi, pendampingan, dan jejaringan seperti berikut ini.

Pertama, pemberian materi mitigasi bencana melalui sosialisasi tentang apa itu mitigasi dan bagaimana mitigasi itu dijalankan. Kedua, pemberian materi pembuatan peta daerah rawan bencana sehingga masyarakat dapat lebih tanggap khususnya terhadap daerah rawan bencana.

Ketiga, praktik lapangan berupa simulasi (skala kecil), sehingga ilmu yang diberikan dapat diterapkan saat simulasi. Keempat, memfasilitasi terciptanya kerja sama pendampingan antara stakeholder dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman dalam rangka Pengurangan Risiko Bencana (PRB).

Dari pemahaman tersebut, maka upaya pengurangan risiko bencana di suatu daerah dapat beriringan dengan proses perencanaan pembangunan dan tata ruang. Terkait perencanaan dan pelaksanaan tata ruang, konsep mitigasi bencana dapat diinternalisasikan baik pada pola ruang maupun struktur ruang.

Pemerintah Indonesia melakukan ratifikasi terhadap perjanjian internasional mengenai penanggulangan bencana, dimulai dengan membuat payung hukum dengan mengeluarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pasal 16 dari Undang-undang tersebut menyebutkan bahwa komponen pelaksana penanggulangan bencana memiliki tiga tahapan tugas yang secara terintegrasi meliputi, yaitu: prabencana, tanggap darurat, pascabencana.

Terkait peran prabencana, hasil studi Wisner (2006) dan Fothergill (2017) menunjukkan bahwa pemuda perlu memiliki pengetahuan terkait tindakan pertolongan pertama. Studi tersebut menemukan bahwa pada saat bencana, pemuda kerap hadir di dekat pemuda lain yang sedang terluka.

Oleh karena itu, pengetahuan mengenai pertolongan pertama menjadi penting untuk meminimalisir, atau mencegah cedera parah dan jatuhnya korban jiwa. Tidak hanya itu, para pemuda dapat memanfaatkan media sosial untuk berbagi informasi terkait upaya mitigasi bencana dengan respons yang cepat.

Terkait peran pemuda pada saat bencana, hasil studi Fothergill dan Peek (2015) menunjukkan bahwa pemuda dapat memberikan dukungan emosional di saat-saat kritis, bagi sesama korban bencana. Studi tersebut menunjukkan bahwa pemuda mampu berempati dengan rekan sebayanya, menenangkan adik-adiknya, dan mendengarkan keluh kesah pemuda lain. Pemuda juga dapat memberi dukungan bagi orang tua mereka lewat pelukan, nyanyian, dan ucapan semangat.

Senada dengan upaya prabencana, pemuda juga dapat menggunakan media sosial sebagai sarana komunikasi saat bencana. Sekelompok pemuda di Selandia Baru berhasil menggunakan media sosial untuk mengorganisir tim respons bencana, ketika bencana gempa bumi melanda Kota Christchurch pada tahun 2011 lalu. Selain itu, hasil studi juga menunjukkan bahwa pemuda memiliki kemampuan untuk menyajikan data yang lebih akurat terkait korban dan dampak bencana, karena posisi anak muda yang relatif bebas dari kepentingan politik (Nikku dkk, 2006).

Perihal peran pemuda pascabencana, pemuda dapat terlibat dalam kegiatan crowdfunding untuk membantu korban bencana. Perkembangan teknologi informasi memungkinkan pemuda untuk menginisiasi kampanye daring, dan melakukan proses pengumpulan dana bagi korban bencana.

Selain itu, pemuda juga dapat mendaftarkan diri sebagai relawan untuk membantu korban bencana. Selain berkesempatan untuk membantu kawan-kawan korban bencana, relawan juga akan menerima pelatihan respon bencana, serta pelatihan-pelatihan lain yang turut membantu proses pengembangan kapasitas pemuda.

Tamanmartani Siaga Bencana

Lagi-lagi Karang Taruna sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan menjadi ujung tombak dalam kegiatan sosial di lingkungannya. Sebagai Karang Taruna kelurahan, Karang Taruna Taman Bina Karya Tamanmartani turut serta dalam agent of health.

Pemuda Tamanmartani menyadari dan memberikan manfaat atau kontribusi positif bagi pembangunan nasional, dalam hal ini berkaca dengan dunia kesehatan masyarakat. Revitalisasi peran Karang Taruna dalam pembangunan nasional berwawasan kesehatan masyarakat harus dipahami pemuda untuk mau memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk kesehatan masyarakat Indonesia.

Pengabdiannya untuk bangsa juga negara dalam bidang kesehatan akan memberikan kontribusi yang nyata bagi pembangunan nasional. Karang Taruna akan terlihat kembali bukan sebagai organisasi ‘laden’ tetapi organisasi yang bertransformasi menjadi agent of health.

Transformasi Karang Taruna Taman Bina Karya Tamanmartani menjadi agent of health dibuktikan dengan keikutsertaan dalam pelatihan bersama Unit Reaksi Cepat (URC) Tamanmartani pada 2018 lalu. Hal ini menjadi kontestasi bagi Karang Taruna Taman Bina Karya dalam memperlihatkan kemajuan bertindak sebagai pemuda yang memberikan kebermanfaatan untuk lingkungan, khususnya Kelurahan Tamanmartani.

Keseluruhan kemampuan yang diperoleh Karang Taruna Taman Bina Karya itu tidak terlepas dari pelatihan mitigasi yang dilakukan URC Tamanmartani bersama pemerintah daerah. Mitigasi dan kesiapsiagaan menjadi menjadi dampak langsung peran Karang Taruna dalam mendukung ketahanan daerah terhadap bencana alam.

Peran yang dilakukan oleh Karang Taruna Taman Bina Karya dalam pengurangan risiko bencana memiliki implikasi terhadap ketahanan wilayah Desa Tamanmartani dengan kata lain ketahanan wilayah Tamanmartani telah tercipta. Dengan demikian setidaknya warga sadar bahwa mitigasi bencana sangat diperlukan masyarakat dalam mencegah bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi melalui organisasi pemudanya.

 

Bahan Bacaan

Fothergill, Alice. (2017). Children, Youth, and Disaster. Oxford Research Encyclopedia of Natural Hazard Science.

Sarwidi dan Mutiara H. 2018. ‘Pendidikan dan Pelatihan Mitigasi Bencana bagi Masyarakat dan pemuda Karang Taruna di Desa Pagerharjo, Samigaluh, Kulon Progo’. AJIE Vol 3 (169-172).

Septiana Fathurrohmah dan Ayu Candra Kurniati. 2017. Kajian Struktur Ruang Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Merapi Kabupaten Sleman. Prosiding Seminar Nasional XII ‘Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi 2017’.

Add Comment