Panggungharjo Adalah Bukti Bahwa Desa Tidak Melulu Pasif

Panggungharjo Menjadi Bintang Tamu di Acara Kick Andy. ARSIP KAPANEWON SEWON

Kalurahan Panggungharjo adalah salah satu desa di Kabupaten Bantul yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta. Desa ini merupakan kawasan aglomerasi yang artinya adalah sebagai kawasan strategi ekonomi. Pada tahun 2012 jumlah penduduknya sekitar 25 ribu jiwa, dengan pendapatan kumulatif senilai 86 miliar setiap tahun.

Profil penduduk rata-rata lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain itu terdapat ribuan sarjana (S1), empat profesor, dan dua puluh warga bergelar doktor. Kesuksesan Kalurahan Panggungharjo tak luput dari peran pemimpin dengan gagasan yang visioner, ide-ide kreatifnya mampu membawa Panggungharjo sebagai desa yang mempunyai tradisi juara di berbagai perlombaan.

Wahyudi Anggoro Hadi sejak 2012 menjabat sebagai Lurah di Panggungharjo. Ia telah mewujudkan banyak ide untuk desanya. Terobosan itu di antaranya adalah mendirikan kelompok Usaha Pengelolaan Sampah (KUPAS). Program yang digagas sejak tahun 2013 ini mampu memberikan manfaat yang besar bagi warga.

Terebosan inovatif yang lain adalah Kalurahan Panggungharjo mendirikan Kampoeng Mataraman. Tempat ini terkenal karena menjadi tujuan wisata dan kuliner. Alamatnya berada di Dusun Glugo, Kalurahan Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul.

Lokasi ini menggambarkan sebuah peradaban manusia abad 19. Tentu konsep yang diusung terkait dengan edukasi berbasis budaya dan lingkungan. Dilihat dari segi nama sudah pasti mengedepankan tentang peradaban masa lalu dengan corak Kerajaan Mataram.

Aspek sandang, pangan dan papan abad ke-19 ada di kompleks itu. Pendirian Kampoeng Mataraman di atas lahan seluas enam hektar. Landscape sengaja didesain mirip dengan era Kerajaan Mataram. Hal yang menarik adalah selama pandemi kalurahan Panggungharjo mempunyai terobosan baru dengan menciptakan sebuah aplikasi untuk membantu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang kesusahan memasarkan produknya di masa pandemi. Nama aplikasi tersebut Pasardesa.id.

Tidak hanya itu, selama pandemi Kalurahan Panggungharjo menggagas Kongres Kebudayaan Desa (KKD) yang digelar selama 2,5 bulan sejak Juni hingga pertengahan Agustus 2020. Kongres tersebut menghasilkan 21. Buku tersebut terdiri dari sembilan belas buku hasil webinar, satu buku bunga rampa strategi pemajuan kebudayaan nusantara, serta satu buku putih berisi hasil riset KKD dan panduan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa).

Yayasan Sanggar inovasi Desa (YSID) merupakan komunitas pegiat pembangunan desa di bawah binaan Kalurahan Panggungharjo guna menjawab permintaan berbagai pihak, baik lokal, nasional, maupun internasional.

Pada saat gempa bumi 2006 yang berkekuatan 5.9 SR mengakibatkan banyak rumah dan gedung perkantoran roboh, rusaknya instalasi listrik, dan komunikasi. Akhirnya tahun 2007 Dinas Koperasi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menawarkan bantuan dana, tetapi dengan syarat untuk membuat lembaga koperasi yang berbadan hukum. Dimulai dari bantuan tersebut, lahir lah Koperasi Wanita Dewi Kunti yang merupakan bagian entitas usaha di Kalurahan Panggungharjo. Pengelolaannya dilakukan oleh ibu-ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dengan badan hukum No. 027/BH/XV.1/VII/2007.

Selain itu, ada unit-unit usaha di Kalurahan Panggungharjo. Mereka di bawah naungan BUMDES Panggung Lestari yang penghasilan setiap tahunnya adalah enam miliar hingga tujuh miliar, namun selama pandemi hanya mencapai tiga miliar. Kampoeng Mataraman menjadi penyumbang terbesar dari total penghasilan tersebut. Angka-angka fantastis itu dapat diraih berkat ide kreatif dan gagasan-gagsan yang dijalankan Wahyudi.

Saat matrikulasi pengayaan dengan mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta (UNU) mengenai gambaran umum Kalurahan Panggungharjo, Wahyudi mengatakan bahwa pandemik Covid-19 seperti membuka kotak pandora. Hal-hal yang dulunya tidak terlihat tiba-tiba terlihat.

Covid-19 pun mendekontruksi semua tatanan, akhirnya pandemi ini menjad kesempatan bagi kita semua untuk membuat tatanan baru yang sesuai dengan situasi atau karakter Indonesia. Sisi lain adanya pandemi ini memberikan gambaran bahwa puncak dari relasi sosial kita adalah keluarga. Kita melihat langsung peran sekolah yang berkurang. Intuisi formal dinihilkan. Semua dipaksa kembal ke rumah. Hal ini mengindikasi bahwa lembaga yang paling aman dan mendasar atau substansif itu keluarga.

Hal lain yang perlu dibahas, yakni pandemi memberikan banyak pelajaran bahwa puncak dari ekonomi adalah kerja sama. Pola kolaborasi, berbagi, dan solidaritas itu bisa menyelamatkan kita pada situasi saat ini. Semua instrumen ekonomi yang dibangun oleh pasar dengan adanya pandemi rusak semua. Termasuk basis-basis produksi, semuanya rusak. Satu-satunya cara unuk mengatasi, yakni lewat kerjasama dan berbagi.

Pandemi juga memberi gambaran bahwa puncak dari relasi politk adalah musyawarah. Hal itu didukung dengan distribusi informasi yang merata. Akses informasi yang disebar secara merata. Jika informasi tersebar secara merata maka pengetahuan akan dibagi secara merata sehingga puncak kekuatan politik itu adalah musyawarah karena masing-masing entitas punya kekuaan politik yang sama.

Kekeluargaan dalam relasi sosial, kerja sama dalam relasi ekonomi, maupun musyawarah dalam relasi politik itu adalah makna dari gotong royong. Gotong royong lahir dari pikiran nusantara, dari alam pikiran desa. Selain mendekonstruksi, pandemi pun memunculkan nilai-nilai yang bisa menjadi penyelamat atau penopang dari keberlanjutan hidup kita sekarang.

Dalam UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa (UU Desa) menyebutkan bahwa desa adalah adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memilki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan kepentingan, masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan atau hak tradisional yang dakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam hal ini maka desa berhak dalam mengelola segala hal yang ada di desa dan adanya dana desa adalah alat untuk menjalankan kewenangan oleh karena itu desa telah memilki 120 kewenangan. Desa adalah awal basis kebangkitan negara. Kementerian desa memiliki pendekatan baru yang dijalankan untuk mendongkrak kebangkitan desa.

Pertama, kebangkitan sosial dengan menjunjung prinsip gotong royong dan kebersamaan secara kolektif antara pemimpin desa dan masyarakat. Pastinya dapat memupuk modal sosial (solidaritas, kerjasama, dan kepercayaan). Desa akan tumbuh menjadi benteng kohesi dan ketahanan sosial atas kebinekaan, juga benteng dari radkalisme dan terorisme.

Kedua, kebangkitan ekonomi membangun desa memiliki orientasi pada kebangkitan ekonomi berbasis dana desa. Dana desa atau alokasi tentu bukanlah anggaran untuk belanja Negara tetapi menjadi aset untuk investasi dan konsolidasi kekuatan ekonomi desa.

Ketiga, kebangkitan budaya. UU desa memilki semangat memupuk tradisi berdesa yang di antaranya memperkuat kearifan lokal, ketaatan pada hukum, memupuk spirit republik, serta mendidik penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusian dan kebijakan. Kearifan lokal merupakan merupakan roh dan tradisi desa yang akan menjadi benteng kuat ketika menghadapi gempuran globalisasi.

Keempat, kebangkitan politik. Desa bukan hanya arena politik pemerintahan. Musyawarah desa, perncanaan desa, hingga pemilihan kepala desa merupakan arena politik desa. Perubahan kepemimpinan dan reprentasi rakyat merupakan dua sisi mata uang kebangkitan negara.

Gagasan kebangkitan negara dari desa nampaknya sudah dilakukan di Kalurahan Panggungharjo. Terobosan-terobosan dan visi misi yang dilakukan Wahyudi seakan menjadi bukti nyata bahwa gotong royong dan kebersamaan antara pemimpin dan masyarakat sudah sejalan.

Dana desa di Kalurahan Panggungharjo juga dikelola secara mumpuni dengan adanya entitas-entitas usaha yang dikelola baik yang akhirnya bisa menyerap tenaga kerja warga sekitar. Sekitar 70 persen pekerja di setiap unit BUMDES merupakan penduduk asli.

Selain perekonomian yang kuat, Kalurahan Panggungharjo memiliki budaya yang kental. Kebangkitan budaya juga sudah berkembang, seperti tahun 2019 Kampoeng Mataraman menjadi tuan rumah Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) dan tahun 2020 mengadakan KKD.

Kesuksesan Wahyudi dalam membangun desa yang maju ternyata tdak harus kaya akan sumber daya alam karena masih ada potensi lain yang bisa dioptimalkan supaya menjadi desa yang mandiri, kreatif, dan inovatif. Kalurahan Panggungharjo memanfaatkan sosial, budaya, dan teknologi untuk mengembangkan desanya. Wahyudi mengungkapkan bahwa kunci sukses yang sudah diraih ini terletak pada kapasitas memanfaatkan sekecil apapun potensi desa yang dimiliki.

One thought on “Panggungharjo Adalah Bukti Bahwa Desa Tidak Melulu Pasif

Add Comment