Pemuda sebagai Iron Stock Penanggulangan DBD

Penandatanganan deklarasi bebas jentik Kecamatan Kalasan. TAMANBINAKARYA

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia terutama di wilayah tropis dan subtropis. Seperti di Indonesia sebagai salah satu negara endemis DBD. Tercatat pada tahun 2017 kasus tertinggi terjadi di Provinsi Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Bali, dan Aceh.

Sementara itu, Provinsi DIY pernah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) pada tahun 2015 dan 2016. Namun sebelum itu, DIY juga pernah mengalami hal serupa. Berdasarkan data yang ada di Dinas kesehatan Kabupaten Sleman DBD tahun 2013 terdapat total 736 kasus DBD dengan 4 orang meninggal dunia. Angka ini menurun pada tahun 2014 yaitu sebanyak 538 kasus yang terjadi dengan 4 orang meninggal dunia.

Pada awal Januari hingga Maret 2015 telah tercatat sebanyak 176 kasus DBD dengan 4 orang meninggal. Kemudian pada tahun 2017 kasus DBD termasuk 10 besar masalah kesehatan di Rumah Sakit dan termasuk ke dalam 10 besar masalah kesehatan yang ada di seluruh Puskesmas di Provinsi DIY.

Tahun lalu, 2020 jumlah kasus dan kematian akibat wabah DBD di DIY lebih tinggi lagi, mencapai 3.618 kasus dan 13 orang meninggal selama pandemi Covid-19. Melihat data di atas jumlah kasus dan kematian akibat demam berdarah di DIY trennya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Kabupaten Sleman menempati jumlah penduduk terbanyak di antara empat kabupaten di Yogyakarta. Sedangkan, kepadatan penduduk memiliki pengaruh terhadap wabah DBD, mobilitas penduduk juga menjadi musabab, ditambah lagi kesadaran warga dalam pengendalian jentik nyamuk.

Pada dasarnya, pencegahan penyakit DBD sangat bergantung pada perilaku individu di masyarakat. Sementara itu, kondisi masyarakat Sleman yang heterogen dalam menyadarkan akan pentingnya perubahan pola hidup masyarakat ke arah yang lebih sehat tidaklah mudah.

Untuk menyadarkan pentingnya menjaga kesehatan utamanya dalam mencegah penyakit DBD, diperlukan koordinasi dan kerja sama dengan instansi-instansi baik itu di luar kesehatan masyarakat maupun instansi kesehatan itu sendiri. Misalnya dengan menggaet tokoh masyarakat maupun organisasi-organisasi yang ada di lingkungan.

Instansi kesehatan dari mulai kementerian, puskesmas, maupun satuan tugas dapat mengoptimalkan kerja sama dengan organisasi kepemudaan misalnya. Organisasi kepemudaan dipilih karena dianggap memiliki peran sentral dalam rangka membantu sosialisasi maupun praktik di masyarakat secara langsung sesuai dengan dibentuknya organisasi ini di lingkungan.

Terjalinnya kerja sama tim antara instansi di luar kesehatan dengan instansi kesehatan ini akan membantu menumbuhkan partisipasi di masyarakat. Jika sudah seperti ini, kesadaran individu untuk berpartisipasi dalam rangka pencegahan DBD dapat dioptimalkan.

Kedudukan Karang Taruna sebagai Iron Stock

Pemuda sebagai Iron Stock yaitu pemuda diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Pemuda itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan.

Pemuda yang terhimpun dalam organisasi Karang Taruna Taman Bina Karya Tamanmartani memiliki fungsi sebagai Iron Stock. Seperti digambarkan di atas bahwa pemuda menjadi harapan bangsa untuk masa depan. Dalam hal ini, Karang Taruna Taman Bina Karya Tamanmartani yang berlokasi di Kelurahan Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman memiliki tugas partisipasi dalam menanggulangi penyakit DBD di lingkungannya.

Penyebaran nyamuk DBD di Sleman mau tidak mau menjadi tanggung jawab bersama salah satunya organisasi kepemudaan Karang Taruna Taman Bina Karya Tamanmartani dalam partisipasinya mencegah penyakit DBD di lingkungannya.

Pada tahun 2018 Karang Taruna se-Kapanewon Kalasan menandatangani deklarasi bebas jentik bersama tim rescue. Dalam kegiatan ini Karang Taruna memiliki andil dalam menyosialisasikan hidup sehat di masyarakat di lingkungan mereka berasal. Tidak hanya sosialisasi, Karang Taruna turut melakukan aksi kerja bakti di tempat-tempat sarang nyamuk.

Melalui aksinya diharapkan tidak hanya pencegahan melainkan menghilangkan kejadian DBD tidak terjadi lagi. Selain itu, program kerja bakti memberantas nyamuk DBD jangan dijadikan kegiatan momen saja. Itu artinya, kegiatan pencegahan melalui kerja bakti harus dijadikan jadwal kegiatan rutin agar tidak ada lagi kejadian DBD di wilayah Sleman khususnya Kelurahan Tamanmartani.

Jika melihat data di awal, bahwa 2020 terjadi ledakan penyakit DBD itu artinya kesadaran masyarakat untuk saling menjaga sangat kurang. Hal itulah yang seharusnya dijaga semenjak deklarasi bebas jentik ditandatangani. Karang Taruna Tamanmartani dan yang lainnya butuh komitmen dari pemerintah untuk bersama-sama memberantas DBD di Sleman.

Komitmen Pemerintah Memberantas DBD di Sleman

Yogyakarta didapuk menjadi proyek percontohan. Beberapa waktu lalu pemerintah Kabupaten Sleman bekerja sama dengan World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta dan Yayasan Tahija, UGM dalam rangka meluncurkan program Si Wolly Nyaman untuk pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan menerapkan teknologi nyamuk ber-Wolbachia.

Jika Yogyakarta menjadi percontohan sudah seharusnya kasus DBD bisa dikendalikan sehingga tidak akan pernah terjadi lagi KLB tahun-tahun mendatang di Kabupaten Sleman khususnya. Adapun teknologi nyamuk ber-Wolbachia adalah dengan menyebarkan nyamuk yang mengandung bakteri Wolbachia. Wolbachia diekstrak dari Drosophila Melanogaster (lalat buah) yang diisolasi dan dimikroinjeksi ke dalam telur nyamuk Aedes aegypti,

Lewat mekanisme kawin silang nyamuk, para peneliti EDP memanipulasi populasi Aedes Aegypti lokal dengan serangga sejenis pembawa Wolbachia. Hasilnya, sejak ditebar pertama kali awal tahun 2021 di beberapa pedukuhan di Sleman terdapat peningkatan populasi nyamuk ber-Wolbachia hingga di atas 60 persen. Ini adalah komitmen pemerintah terhadap kesehatan warga Sleman.