Peta Ketahanan Pangan, Langkah Penting Menjaga Ketahanan Pangan Kota Yogyakarta

Suyana menyampaikan masukan untuk peta ketahanan pangan. ILHAM LUTHFI HABIBI

PURBAYAN, Kotagede | Pada hari Selasa, tanggal 02 November 2021 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Yogyakarta menggelar rapat koordinasi dalam rangka pembuatan peta ketahanan pangan Kota Yogyakarta. Rapat koordinasi pada kali ini melibatkan beberapa pihak, salah satunya dari Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK) Universitas Gadjah Mada.

Jumlah peserta yang mengikuti rapat koordinasi untuk kali ini sekitar 20 orang. Acara ini dimulai pukul 10.00 WIB yang bertempat di Lumbung Pangan Mataram Purba Asri lebih tepatnya di Kopi Lumbung Mataram. Acara rapat koordinasi kali ini diadakan di lokasi tersebut sebagai wujud kepedulian Dinas Pertanian dan Pangan Yogyakarta terhadap Kelompok Tani Purba Asri selaku kelompok tani binaan dan pengelola Lumbung Pangan Mataram Purba Asri.

“Kami mengadakan acara di tempat ini sebagai wujud kepedulian kita terhadap Kelompok Tani Purba Asri,” ungkap Supriyanto selaku pegawai Dinas Pertanian dan Pangan Yogyakarta.

Acara dibuka dengan pemaparan dari Supriyanto mengenai arah rapat koordinasi sekaligus memperkenalkan hadirin yang mengikuti rapat tersebut. Selain itu, Supriyanto juga menjelaskan mengenai pentingnya peta ketahanan pangan. Komponen mengenai peta ketahanan pangan salah satunya adalah persebaran kampung sayur yang terdapat di Kota yogyakarta.

“Pentingnya peta ketahanan pangan ini adalah kita mengetahui daerah mana yang rawan pangan dan daerah mana yang lagi surplus pangan, jadi peta ini sifatnya hidup kapan saja bisa berubah” tambah Supriyanto.

Setelah Supriyanto membuka rapat koordinasi tersebut, dilanjutkan dengan presentasi yang dilakukan oleh pihak PSEK selaku mitra Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta dalam pembuatan peta ketahanan pangan. Dalam pemaparan yang dilakukan oleh pihak PSEK diselingi dengan tanya jawab antara pihak PSEK dengan audiensi yang hadir.

Dalam pemaparanya, pihak PSEK yang diwakili oleh Lilik menjelaskan bahwa pembuatan kampung sayur di berbagai tempat di Yogyakarta belum profit oriented.

“Jadi memang warga itu belum begitu berorientasi pada profit, mungkin sejarahnya mereka dalam melakukan pertanian ini karena sekadar hobi dan tersedianya lahan pekarangan. Untuk hasil panennya didonasikan kepada anggota kelompok tani atau warga sekitar,” terang Lilik.

Meskipun sebagian besar kampung sayur belum bisa profit oriented, setidaknya adanya kampung sayur ini bisa memberi nilai-nilai sosial yang bisa didapatkan, misalnya seperti gotong royong dan guyub rukun.

“Tetapi ada nilai-nilai sosial atau social value yang bisa didapatkan di dalam urban farming,” tambah Lilik.

Setelah selesai dilakukan pemaparan oleh pihak PSEK, dan dilanjutkan sesi tanya jawab, acara ini ditutup oleh Suyana selaku Kepala Dinas Pertanian dan Pangan dengan memberi masukan-masukan mengenai pembuatan peta ketahanan pangan.