Potret Singkat BUMDES Setelah Dapat Suntikan Dana Desa

Kampoeng Mataraman Salah Satu Unit Usaha BUMDES Panggung Lestari. FRG KATA DESA

Panggungharjo adalah contoh kisah sukses lain dari tata kelola desa yang baik, desa itu adalah Kalurahan Panggungharjo. Pada tahun 2014 dinobatkan sebagai desa terbaik tingkat nasional. Adanya inovasi-inovasi yang dilakukan pemerintah desa seperti dalam rangka mewujudkan akuntabilitas dan transparasi di bidang pemerintahan menjadi keunggalan desa ini.

Desa ini mungkin menjadi satu-satunya desa dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang mengelola sampah. Sampah tersebut dikelola mulai dari dipilah, didaur ulang, dan dijual. Sampah-sampah organik diubah menjadi pupuk, sedangkan sampah non organik diubah menjadi bahan kerajinan. Berangkat dari 37 juta rupiah sebagai modal awal, kini aset yang dikelola sudah mencapai 360 juta rupiah.

Selain itu, BUMDES juga membawahi beberapa unit usaha. Salah satunya adalah Kampoeng Mataraman. Konsepnya yang diusung adalah tempat makan. Iya, tempat makan. Namun, jangan berharap konsep tempat makan ini berupa restoran yang mewah karena yang disajikan oleh Kampoeng Mataraman adalah rumah makan dengan atmosfer pedesaan zaman dulu. Ketika melewati gapura—anggap saja gerbang selamat datang, suasana sederhana dan ketenangan sebagai ciri khas desa akan menyambut kita.

Apa yang menjadi daya tarik dari Kampoeng Mataraman selain lokasinya yang mencitrakan zaman dulu? Hal yang menarik perhatian saya adalah pembangunannya menggunakan dana desa melalui BUMDES Panggung Lestari. Sejak tahun 2014 lalu, Undang-undang Desa mulai diberlakukan. Manfaat yang diberikan dengan adanya Undang-undang Desa, yakni dapat memajukan pedesaan melalui pengoptimalan BUMDES.

Langkah dalam memajukan desa ditempuh dengan membuat berbagai unit usaha. Sebelum Kampoeng Mataraman muncul, unit usaha pertama yang dirintis ialah Kelompok Usaha Pengelolaan Sampah (KUPAS). Berdirinya pada tahun 2013. Seperti yang tertera pada paragraf kedua, adanya inovasi ini menjadikan Kalurahan Panggungharjo sebagai satu-satunya desa yang mengelola sampah.

Kupas ini berdiri karna berawal dari sebuah keprihatinan terhadap semakin menurunnya tingkat kebersihan lingkungan. Hal itu disebabkan oleh semakin banyaknya volume sampah yang dihasilkan oleh masyarakat sehingga membutuhkan penanganan yang serius.

Membawa slogan ‘Peduli Sampah untuk Masa Depan Anak Cucu Kita’ yang artinya ingin mengajak masyarakat desa agar lebih peduli terhadap masa depan anak. Hal ini merupakan penegasan atas komitmen pemerintah desa kepada masyarakat di Kalurahan Panggungharjo. Pengelolaan sampah terlihat memiliki potensi besar sebab sampah sudah menjadi masalah klasik di wilayah tersebut. Dalam beroperasi, KUPAS berasaskan kekeluargaan dan memegang prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat.

Keuntungan dari dirintisnya unit usaha KUPAS menambah terbukanya lapangan kerja, setidaknya bagi dua puluh orang. Kehadiran unit usaha ini menginspirasi terbentuknya lembaga-lembaga ekonomi maupun sosial berbasis lingkungan di tingkat RT maupun padukuhan, seperti Bank Sampah di Padukuhan Glugo, Bank Tigor (Tilasan Gorengan) di Padukuhan Dongkelan, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Among Siwi yang menerapkan pembayaran sekolah menggunakan sampah di Padukuhan Pandes dan Sawit, serta pengrajin daur ulang.

Inovasi ini tentunya memberikan dampak positif, seperti terkelolanya sampah rumah tangga di desa, terserapnya lebih banyak tenaga kerja yang ada di desa dari berkembangnya kegiatan ini, serta dapat memberi percontohan sistem pengelolaan sampah rumah tangga yang inovatif dan produktif bagi desa-desa lain di Indonesia.

Tidak hanya unit usaha BUMDES, namun beberapa lembaga lain juga bertumbuh dan berkembang di sini. Lembaga tersebut bernama Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yang secara resmi sudah berbadan hukum pada 4 Juli 2020. Sebelumnya, inisiasi sudah dimulai pada Desember 2019 dan diluncurkan oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi pada 5 Januari 2020 di Yogyakarta, bersamaan dengan program pelatihan angkatan pertama YSID yang diikuti oleh 22 pemuda desa dari sepuluh provinsi di Indonesia.

Lembaga ini merupakan inisiatif komunitas pegiat pembangunan desa di bawah binaan Pemerintah Kalurahan Panggungharjo guna menjawab permintaan berbagai pihak, baik lokal, nasional, maupun internasional yang selama ini telah melakukan aneka kunjungan dan studi banding di Kelurahan Panggungharjo.

YSID memiliki rumusan tiga pilar penopang kemandirian desa. Rumusan ini merupakan ekstraksi dari pengalaman Kalurahan Panggungharjo yang menjadi salah satu desa terbaik di Indonesia.

Tiga pilar kemandirian desa tersebut mencakup politik yang berarti menjadikan desa sebagai arena demokrasi politik lokal sebagai wujud kedaulatan politik. Kemudian, pilar ekonomi yang bertujuan ingin menjadikan desa sebagai arena demokratisasi ekonomi lokal sebagai wujud kedaulatan ekonomi. Pilar terakhir, yakni data yang dimaknai sebagai aktualisasi pengetahuan warga sebagai wujud kedaulatan data.

Barangkali, ke depannya YSID akan membuat program-program dan kegiatan yang bisa diikuti oleh khalayak umum sehingga misinya yang berkaitan dengan tiga pilar kemandirian desa bisa terealisasikan.

Bukan menjadi rahasia, hingga saat ini Kalurahan Panggungharjo masih menjadi referensi bagi beberapa desa lain di Indonesia. Hal ini, tentu berkaitan dengan lahirnya inovasi-inovasi yang baik untuk ditiru, di antaranya seperti pegelolaan pemerintah desa, pengelolaan BUMDES yang bisa memberdayakan warga desa, dan lain-lain.

Ketika pandemi merapuhkan segala sektor, terlebih lagi sektor ekonomi, Kalurahan Panggungharjo bak diuji kemandiriannya supaya dapat bertahan di situasi yang penuh ketidakpastian. Pemerintah desa tetap berikhtiar menyuarkan semangat progresif di kala pandemi dengan cara membentuk gugus tugas bernama Panggung Tanggap Covid-19 (PTC-19). Semangat bertahan itu membuahkan hasil berupa start up atau perusahaan rintisan berbasis platform daring, namanya Pasardesa.id.

Setiap warga desa berhak mendapat kesempatan menjualkan produknya di Pasardesa.id sebab platform ini lahir sebagai bentuk mitigasi ekonomi bagi warga desa, khususnya bagi warga yang terdampak Covid-19. Harapannya, agar mereka dapat terus menggerakan roda perekonomian, meskipun di tengah pandemi.

Add Comment