Problem Sampah dan Cara Pengelolaannya

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga. JOGJAPROV

Problem sampah tidak hanya di wilayah perkotaan, bahkan di wilayah pelosok dusun atau desa. Keberadaannya ditemukan di mana-mana, seperti di jalan, kebun, sungai, saluran, gorong-gorong, lorong-lorong, pekarangan rumah, pantai, laut dan lainnya. Jumlahnya semakin bertambah seiring pertambahan jumlah penduduk. Jika dikumpulkan di suatu daerah, kemungkinan satu provinsi saja jumlahnya bisa mencapai puluhan juta ton per hari, bagaimana kalau dikumpulkan di seluruh Indonesia?

Dari hulu hingga hilir, pegunungan hingga laut, bahkan dari tempat tertutup hingga tempat terbuka. Dapat dipastikan banyaknya sampah disebabkan oleh manusia. Setiap rumah tangga dipastikan menghasilkan sampah setiap hari. Jika sampah yang berasal hewan, pada umumnya memberi manfaat seperti kotorannya bisa sebagai pupuk, biogas, dan lainnya.

Masalah utama berada di titik kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah, membuat lingkungan yang bersih, terbatasnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, mencegah dari membuang sampah dan puntung rokok di sembarang tempat masih banyak tanpa menghiraukan atau memperdulikan keselamatan orang lain. Sampah dapat dipisah-pisahkan menjadi beberapa jenis antara lain sampah organik, sampah residu, sampah daur ulang, sampah guna ulang, dan sampah B3 yang termasuk di dalamnya sampah medis.

Sampah bila dikelola dengan serius dan cara yang tepat dapat mendatangkan ekonomi yang menjanjikan, bahkan tidak jarang pengelola sampah yang profesional hidupnya sejahtera. Apabila dikelola dengan tepat juga memberikan nilai tambah (value added), salah satunya bisa dijadikan sebagai bahan souvenir, hiasan, pupuk, dan lainnya sesuai kategori jenis sampah. Bahkan bila ditekuni dapat menciptakan lapangan kerja, dalam bentuk home industry.

Penanganan sampah yang dilakukan secara serius dan massal, dapat mengurangi pengangguran dan membantu pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan menjaga lingkungan (pro environment). Tujuan utama pengelolaan sampah yaitu mewujudkan sanitasi dan higienis lingkungan tetap terjaga.

Sebaliknya, apabila dibiarkan akan mengakibatkan masalah yang serius, semisal sumber penyakit, mengganggu pandangan, bau tidak sedap, banjir, kebakaran, kecelakaan pengguna jalan, dan menyebabkan lingkungan menjadi kumuh. Sebagian masyarakat mulai menyadari, peduli, berinovasi, dan kreatif untuk melakukan proses pengelolaan sampah, namun jumlahnya relatif sedikit.

Upaya yang dapat dilakukan, bisa melalui pola tiga R (Reduce; Membatasi atau mengurangi lahirnya sampah; Reuse; Menggunakan kembali; Recycle; Mengolah atau mendaur ulang). Salah satu contoh kegiatan Reduce, antara lain menggunakan sapu tangan kain, membiasakan bawa tas belanja dari rumah, menyajikan makanan atau minuman dengan piring atau gelas, menolak kotak makanan dari gabus styrofoam, memakai pembalut wanita “reusable”.

Langkah-langkah reuse (pemanfaatan kembali sisa atau barang bekas), antara lain sisa makanan atau sayur untuk pakan ikan atau ternak, kertas bekas untuk amplop, kertas bekas kalender untuk kartu nama, kaleng bekas untuk pot bunga, gelas air mineral untuk tempat pembibitan tanaman, sachet minyak goreng untuk polybag tanaman, dan menggabungkan sisa sabun mandi dengan sabun baru.

Recycle (daur ulang atau mengolah sampah menjadi produk bernilai), salah satu contohnya kotoran ternak menjadi pupuk dan biogas, sampah organik menjadi pupuk kompos, asap cair dan briket bioarang, sampah kertas menjadi kertas daur ulang misal kerajinan dan souvenir, bungkus plastik menjadi aneka soevenir dan kerajinan, gabus styrofoam menjadi batako dan pot bunga, gelas atau kaca menjadi aneka kerajinan dan souvenir.

Ada pula yang mengelola sampah, istilahnya dikenal dengan nama bank sampah, peduli sampah, selamatkan lingkungan dengan bebas sampah, dan lainnya yang perlu di apresiasi kepada masyarakat yang sudah melakukan pengelolaan sampah.

Solusi penanganan sampah sudah seharusnya menjadi gerakan nasional, bahkan menjadi program nasional pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir dan mencakup seluruh wilayah baik perkotaan maupun pedesaan. Di antara program-program pemerintah yang sudah dijalankan seperti program kali bersih (prokasih), pesisir berseri, kota berseri, jangan membuang sampah sembarangan, dan lainnya harus dilanjutkan dan ditingkatkan.

Perlu juga penambahan program-program baik di kampung atau desa berseri, semisal halaman berseri, kebun berseri, jalan berseri, pasar berseri, dan lainnya. Beberapa alternatif lainnya dalam mengatasi persoalan berbagai jenis sampah dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti membuat regulasi sekaligus mengatur reward dan punishment, penegakan implementasi regulasi atau hukum (pengenaaan denda atau sanksi), program nasional pengelolaan sampah, sosialisasi atau penyadaran tentang sampah secara masal, dilembagakan di masyarakat, pelatihan daur ulang sampah, memperbanyak bak-bak sampah, menambah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, memperbanyak sarana angkut sampah, niat kesungguhan dan komitmen peduli sampah, pengelolaan sampah harus tersistem, dan pencanangan gerakan nasional “Budaya lingkungan bersih”.

Add Comment