Realitas Ujian The Lost Decade Ahead Sektor Ekonomi Indonesia di Masa Pandemi

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tinggi. EKON

Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Berbagai sektor, seperti pendidikan, politik, hingga ekonomi mengalami masalah signifikan. Ekonomi menurun, muncul kemiskinan di mana-mana, pemasukan lebih sedikit dibanding pengeluaran. Global Economic Prospects suatu laporan yang mencatat dahsyatnya dunia dihantam oleh Covid-19. Laporan ini disusun oleh Bank Dunia (World Bank), diinformasikan kepada masyarakat di akhir bulan Januari 2021.

Covid-19 berimplikasi serius pada keadaan ekonomi Indonesia. Tahun 2019 Indonesia sempat menjadi negara dengan penghasilan menengah ke atas. Kemudian sejak tahun 2020 hingga saat ini Indonesia kembali menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah.

Pada laporan Bank Dunia tersebut, pada bab tiga menyatakan bahwa global economy dalam satu dekade ke depan dikatakan mengalami apa yang disebut sebagai ‘A lost decade ahead’ (satu dekade yang hilang). Istilah a lost decade ahead nyatanya memiliki pemahaman yang multi aspek. Beberapa pandangan para tokoh menyatakan pendapatnya tentang a lost decade ahead.

Pertama, penurunan economic growth yang nyata di seluruh dunia. Degrowthization (de-growth-isasi) berlangsung dengan paksaan keras oleh Covid-19. Nyaris semua negara ekonomi terkemuka dunia tak berkutik karena mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif. Negara-negara ekonomi raksasa (G20) seperti USA, UK, Jerman, Perancis, Jepang, China, India, termasuk Indonesia terhantam hebat hingga terhuyung. Mereka kini hanya berfokus pada upaya penyembuhan warga atau penduduknya dari serangan Covid-19. Mereka tidak bisa melakukan ekspansi ekonomi.

Kedua, hilangnya berbagai kepastian yang menyisakan gumpalan-gumpalan ketidakpastian ekonomi yang menakutkan. Dalam level ekonomi makro, setiap satuan negara disergap jebakan investment uncertainty. Para pemilik modal dan teknologi merasa ragu dalam menentukan langkah, karena tidak ada kepastian pasar.

Pasar meredup hebat, karena konsumen sibuk menyembuhkan diri dari penyakit Covid-19. Bagi yang sehat pun, mereka lebih banyak bersembunyi di rumah tanpa produktivitas berarti. Rentetannya, kemungkinan besar dapat terjadi stagnasi dalam perluasan kesempatan kerja. Bila kesempatan kerja tak tercipta, maka jumlah pengangguran meningkat. Angka kemiskinan membesar, terutama di negara-negara EMDE (emerging market & developing economy). Kemiskinan dan pengangguran akan menyebabkan masalah-masalah sosial yang aneka rupa (stress, kriminalitas, dan lainnya).

Ketiga, hilangnya kemajuan peradaban dari dunia pendidikan, sains dan teknologi selama sepuluh tahun ke depan. Disebutkan bahwa Covid-19 has caused the largest disruption of education systems in history. Dunia, mengalami kemunduran pendidikan pertama kali sejak sejarah peradaban modern berlangsung. Diperkirakan, kegiatan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan melambat sangat nyata. Ke depan dunia pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan akan lebih banyak berjalan di tempat.

Demikian, penulis menghentikan bacaannya hingga pada bab tiga dari laporan tersebut. Tentu Bank Dunia juga memberikan sinyal-sinyal harapan pemulihan ekonomi ke depan. Optimisme tetap harus ditumbuhkan. Namun, sepuluh tahun ke depan sejak serangan Covid-19 terjadi pada awal 2020, memang tidak memihak kepada dunia perekonomian.

Namun, sebaliknya perubahan iklim, polusi, emisi karbon, relatif membaik bagi lingkungan hidup. Karena perekonomian berhenti atau melambat, maka emisi karbon juga melambat dan ancaman perubahan iklim sedikit mereda atau mengalami relaksasi. Berkurangnya pembakaran energi fosil karena pertumbuhan ekonomi yang drastis menurun, adalah sinyal baik bagi lingkungan hidup.

Covid-19 datang seakan ajang pembalasan dendam dari ‘Alam dan lingkungan hidup’ terhadap eksploitasi ekonomi. Dunia dengan peradabannya, seakan sedang mencari keseimbangan baru. Keseimbangan baru, yang lebih rileks bagi alam semesta.

Lebih realistis lagi, membaca kehidupan sepuluh tahun mendatang (2020-2030) masih tidak menentu. Refleksi peristiwa yang terjadi, yaitu ekonomi yang dijalankan selama seratus tahun terakhir. Keadaan ekonomi yang mengalami kekacauan. Sinyal Bank Dunia tentang stagnasi ekonomi memberikan kemungkinan, keadaan ini bisa saja berlangsung atau diperpanjang dalam satu dekade ke depan.

Setelah melihat realitas kondisi perekonomian Indonesia pada saat ini, dapat dilakukan dengan merestorasi perekonomian secara perlahan. Pemulihan ekonomi harus dilakukan dengan hati-hati. Pertama-tama bisa dengan menata ulang perekonomian ke depan dengan planning yang matang.

Dampak pandemi Covid-19 bisa saja berlangsung hingga kurun waktu sepuluh tahun mendatang. Namun, jika kita tidak berhati-hati, tekanan bisa berlanjut lebih dari sepuluh tahun. Dampak pandemi pada sektor ekonomi terasa langsung di setiap sendi-sendi kehidupan.

Meski ekonomi dipandang akan tidak stabil di beberapa tahun mendatang, Bappenas tetap optimis perekonomian negeri ini berangsur stabil dan tumbuh positif pada kisaran empat persen.

Pandemi masih terus berlangsung dan tidak tahu sampai kapan berakhirnya. Varian Covid-19 muncul dengan varian deltanya. Kondisi ini dipandang akan mencapai puncaknya lagi, lalu tugas pemerintah tetap mengupayakan sektor ekonomi terus tumbuh. Di tahun ini ekonomi tumbuh pada kisaran empat persen, artinya Indonesia berangsur bangkit dari resesi beberapa bulan lalu.

Add Comment