Revolusi Mental Pro-Petani

Pemberdayaan Petani Indonesia. BPPKETINDAN. PERTANIAN

Banyak himbauan dan ajakan untuk mengkonsumsi panganan lokal, baik secara tertulis maupun lisan. Tidak hanya itu, pernah ada suatu kebijakan tentang anjuran hal konsumsi panganan lokal, namun implikasi di lapangan tidak menunjukkan komitmen yang tinggi, akhirnya tidak dapat berjalan secara berkelanjutan.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi juga mengatur pangan lokal dalam bentuk surat edaran, poin intinya untuk menyajikan menu konsumsi dengan pangan lokal (local food) utamanya di lingkup lembaga pemerintahan. Hal ini merupakan harapan besar bagi para petani, untuk menggunakan produksinya, dan tidaklah berlebihan, apabila kita ingin mewujudkan kedaulatan pangan lokal.

Pangan lokal dipahami sebagai makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal. Slogan cinta bahan pangan lokal perlu digalakkan dengan gerakan secara massal, untuk kepentingan petani sebagai produsen, pengolah maupun konsumen.

Cara tersebut setidaknya angin segar bagi para petani untuk tetap melangsungkan budaya sebagai petani. Diharapkan dapat memberi peluang bagi generasi penerus untuk tidak enggan sebagai petani, tidak seperti di masa saat ini banyak generasi yang enggan menjadi petani.

Harapan besar penulis, di masa mendatang pekerjaan bertani bukan merupakan pilihan terakhir, namun dapat menjadi pekerjaan pilihan yang memberikan kesejahteraan tinggi. Hal itu ternyata membutuhkan komitmen dan konsistensi yang tinggi dari semua pemangku kepentingan. Jika tidak, dipastikan akan berhenti ditengah jalan dan akan hilang begitu saja.

Pada kenyataannya, Indonesia sungguh kaya akan bahan baku pangan lokal hingga seantero nusantara. Apalagi kalau ingat pola dan budaya hidup para pendahulu atau nenek moyang kita, sebelum masuknya era modern seperti saat ini, mereka lebih banyak mengkonsumsi bahan pangan lokal yang notabene usianya relatif lebih panjang.

Bahkan tidak jarang yang usianya di atas 100 tahun, coba bandingkan dengan usia harapan hidup saat ini. Usia harapan hidup masyarakat Indonesia tertinggi ada di DIY, karena tidak makan neko-neko (bermacam-macam jenis makanan), pola hidup yang sederhana, nrimo, sabar, rela dan tekun.

Gizi merupakan zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serat, air, dan komponen lain yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia. Oleh karena itu, untuk kembali mengkonsumsi bahan pangan lokal termasuk suatu hal yang sangat penting (back to nature). Logikanya usia harapan hidup manusia sekarang bisa lebih panjang, asal dapat menyeimbangkan kebutuhan tubuh yang bahan pangannya sangat mudah diperoleh saat ini dan sulit diperoleh era ratusan tahun yang lalu.

Mewujudkan kedaulatan pangan lokal dengan memperbesar keberpihakan pada petani dan mengakselerasi terwujudnya kedaulatan pangan produk lokal dalam negeri. Apabila dicermati kandungan pangan produk lokal juga cukup lengkap. Untuk menjamin kelanjutan konsumsi pangan lokal, hendaknya perlu dilakukan kreatifitas dalam memilih bahan baku pangan, bentuk olahan, penyajian, serta kreatif dalam kemasan dan pemasaran.

Bahan pangan lokal seperti ketela rambat, ketela pohon, uwi, gembili, tales, swag, ganyong, garut, enthik, kacang tanah, jagung, sorgum, padi gogo, padi lokal, kedelai, dan lainnya hampir bisa ditanam dan dapat tumbuh di wilayah Nusantara. Para petani dapat didorong memproduksi bahan lokal yang banyak dan beraneka ragam.

Manfaat yang dapat dipetik dari kebijakan mengkonsumsi pangan lokal dalam setiap acara pertemuan, pertama membuat petani akan lebih semangat dalam berusaha taninya. Kedua, bertani bukan pekerjaan pilihan terakhir tetapi mulia. Ketiga, mempercepat kedaulatan pangan lokal. Keempat, mengurangi/menekan produk impor. Kelima, memberi perlindungan bagi para petani. Keenam, menjamin pasar produk lokal. Ketujuh, menjamin produk lokal dengan harga layak dan menguntungkan. Kedelapan, menjaga dan melestarikan bahan baku pangan lokal.

Mungkinkah kedaulatan pangan lokal dapat diwujudkan? Jawabanya mungkin saja. Dengan catatan komitmen dan konsistensi semua pemangku kepentingan tetap ditegakan bersama-sama. Untuk mewujudkan kebijakan tersebut banyak hal yang perlu dilakukan, pertama pemberdayaan petani ditingkatkan, kedua menyetop/mengurangi bahan pangan impor, ketiga menyediakan lahan abadi untuk memproduksi bahan pangan lokal di setiap daerah, keempat diversifikasi tanam produk lokal, kelima diversifikasi produk olahan bahan pangan lokal, keenam sosialisasi pentingnya bahan pangan lokal, ketujuh gerakan massal untuk cinta dan mengkonsumsi produk pangan lokal.

Harapan besar bagi para petani, dapat mengakselerasi terwujudnya cinta produk pangan lokal. Masyarakat Indonesia juga dapat ikut menyukseskan cinta produk pangan lokal. Tugas kita bersama untuk merealisasikan cinta pangan lokal. Jaminan yang dapat diharapkan untuk lebih mensejahterakan para petani.

Sulitnya swasembada pangan bukan suatu alasan. Ada beberapa alasan yang menyebabkan swasembada pangan tidak mudah diwujudkan, antara lain alih fungsi lahan, konversi lahan pertanian setiap tahun mencapai sekitar 200 Ha, sarana irigasi, saprodi, dan tidak kalah pentingnya ketersediaan SDM.

Ketersedian SDM tidak sepenuhnya sebatas kualitas, akan tetapi kuantitas juga lebih penting. Animo generasi muda meneruskan warisan nenek moyang sebagai petani dalam perkembangannya sangat sedikit yang memiliki ketertarikan. Bahkan tidak jarang tanahnya dijual untuk bekal merantau atau urbanisasi ke kota-kota besar, atau dijual sebagian untuk membangun tempat tinggalnya.

Maka tidak heran jika tanah produktif sebagai lapangan kerja semakin berkurang atau habis. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan minat generasi muda menjadi petani, salah satu caranya dengan memberi tawaran berbagai bentuk kompensasi, insentif, memberi kemudahan, bila perlu jaminan masa tua, dengan bantuan saprodi, saluran irigasi saja belum cukup, justru yang penting adalah Indonesia harus memiliki generasi petani.

Jumlah petani semakin lama semakin berkurang, karena pada umumnya usia petani banyak di kalangan lanjut usia, anak muda masa kini sedikit yang memiliki minat menjadi petani. Jika keadaan ini terus berlanjut, Indonesia akan mengalami kesulitan mewujudkan swasembada pangan apalagi kedaulatan pangan di masa mendatang

Add Comment