Sungai yang Menghantui Warga Bantaran

Sampah di Sungai. PINTEREST

Ledakan jumlah penduduk berdampak pada penggunaan kantong plastik sebagai wadah. Pembungkus kantong plastik menggantikan kemasan alami dan tradisional yang mudah diurai oleh alam. Penggunaannya dipilih karena harga yang lebih murah dan mudah disimpan. Selain itu, aktivitas urban dan gaya hidup warga perkotaan yang cenderung konsumtif mengakibatkan produksi sampah kian bertambah.

Yogyakarta sebagai kota dengan aktivitas 24 jam tanpa henti memiliki sisi tentang masalah sampah yang serius. Pertumbuhan global berdampak pada meningkatnya biaya hidup di Yogyakarta dan merosotnya kualitas lingkungan. Masalah sampah plastik sudah semakin parah, sementara sikap sebagian masyarakat yang masih tidak peduli dengan sampah yang dihasilkan memperparah kondisi ini.

Membuang sampah sembarangan sudah menjadi kebiasaan sebagian warga, terutama warga perkotaan, dengan alasan tidak mempunyai tempat untuk membuang sampah sisa rumah tangga. Akibatnya, sampah mulai memenuhi permukaan sungai.

Pada saat musim hujan, air sungai meluap membawa sampah yang ada di sungai menuju pemukiman warga di bantaran sungai. Selain itu, curah hujan tinggi yang terjadi akhir-akhir ini membuat debit air sungai meningkat. Kondisi ini membuat banyak sampah yang terbawa arus sungai dan membuat sungai menjadi semakin kotor. Potensi banjir yang disebabkan dangkalnya sungai akan menjadi lebih besar karena sungai yang tertutup oleh sampah akan menghalangi arus air.

Banyak warga di kawasan bantaran yang membuang sampah langsung ke sungai. Warga masih beranggapan sampah hanya barang sepele. Alhasil banyak sampah yang menyangkut berserakan pada kawat beton pembatas sungai.

Sampah berasal dari aktivitas warga sekitar. Sampah yang terbawa dari hulu sungai maupun proses alam yang tidak ada nilai ekonomis. Sampah-sampah yang dibuang ke sungai akan menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan dan habitat sungai terganggu.

Hingga saat ini masih banyak warga yang mengonsumsi air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, padahal kondisi air sungai sudah tidak layak untuk dikonsumsi mengingat meningkatnya kadar bakteri E.coli yang melebihi ambang batas wajar.

Sudah banyak upaya yang dilakukan untuk mencegah warga membuang sampah di sungai, namun hal tersebut tidak dihiraukan oleh warga sekitar bantaran sungai. Mereka beralasan malas untuk membuang sampah ke TPS, padahal jarak rumah dengan TPS sekitar 100 meter.

Permasalahan sampah merupakan hal yang butuh perhatian serius dari berbagai elemen dan warga sekitar. Dibutuhkan kesadaran dan edukasi kepada warga terhadap bahaya pencemaran air sungai. Peduli lingkungan dan kesehatan dapat dimulai dari membuang sampah pada tempatnya, banyak dampak buruk yang ada dalam sampah yang menjadi ancaman bagi warga bantaran sungai. Pencemaran sungai yang dilakukan masyarakat dengan membuang sampah di sungai menyebabkan air sungai menjadi kotor dan tidak dapat digunakan oleh masyarakat.

Beberapa indikator air sungai telah tercemar, antara lain. Pertama, perubahan suhu air yang dapat mengganggu kehidupan mikroorganisme dan hewan air. Kedua, adanya perubahan pH. Air sungai normal memiliki pH yang berkisar antara 6,5 – 7,5 yang memenuhi syarat untuk adanya kehidupan. Ketiga, adanya perubahan warna, bau dan rasa pada air. Air dalam keadaan normal dan bersih pada umumnya tidak berwarna sehingga tampak bening dan jernih. Jika air memiliki rasa berarti telah ada penambahan material pada air dan mengubah konsentrasi pH air.

Membuang sampah di sungai memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan dan lingkungan, berikut dampak buruknya. Pertama, hilangnya sumber air bersih. Populasi sampah, limbah atau minyak yang bertebaran dan menutupi aliran sungai dapat membuat sumber air bersih kotor dan tidak dapat dikonsumsi. Hal ini dapat menyebabkan ketersediaan sumber air bersih berkurang.

Kedua, sungai menjadi kotor dan menimbulkan bau tidak sedap. Sampah yang dibuang sembarangan di sungai membuat sungai menjadi kotor dan muncul bau tidak sedap. Bau yang berasal dari penguraian sampah organik yang tidak terjadi dengan sempurna dan konsumsi mikroorganisme menghasilkan serangkaian senyawa kimia yang berbau tidak sedap.

Ketiga, membuang sampah di sungai menyebabkan pendangkalan dasar sungai. Sampah-sampah yang menumpuk kemudian menghambat sedimen dan benda-benda yang berada dalam aliran sungai menciptakan tumpukan sampah. Selain itu, lumpur juga membuat sungai dangkal. Semakin banyak sampah yang dibuang di sungai maka akan semakin tinggi tumpukan sampah di dasar sungai. Akibatnya sungai akan semakin dangkal kedalamannya.

Keempat, pendangkalan sungai akan mengakibatkan daya tampung volume air sungai semakin berkurang. Ketika musim hujan tiba dengan intensitas hujan yang tinggi, sungai tidak mampu menyediakan volume yang cukup untuk menampung air yang mengalir. Aliran sungai yang tersumbat sampah mengakibatkan air sungai meluap dan menimbulkan banjir.

Semakin tinggi intensitas hujan dan kiriman air dari hulu maka semakin besar banjir yang akan terjadi. Banjir menyebabkan banyak kerugian jiwa dan harta bagi warga bantaran sungai. Di sisi lain, banjir dapat memicu longsor dan dapat memperparah keadaan.

Kelima, ketika banyak sampah yang dapat terurai secara hayati masuk ke dalam sungai menyebabkan jumlah mikroorganisme meningkat dan menggunakan oksigen yang tersedia. Kadar oksigen dalam air akan menurun, sampah anorganik juga menahan turbulensi yang akan menurunkan kadar oksigen dalam air sungai.

Sampah-sampah dalam air sungai akan menyebabkan air menjadi keruh, sehingga sinar matahari tidak akan masuk ke dasar sungai membuat tumbuhan air tidak dapat berfotosintesis mengakibatkan tumbuhan dan hewan air banyak yang mati.

Keenam, sungai yang tercemar membuat bakteri dengan mudah berkembang biak dan menyebarkan penyakit. Ketika mengonsumsi air sungai yang tercemar, bakteri akan masuk ke tubuh manusia sehingga menyebabkan berbagai macam penyakit, seperti diare, kolera, disentri, tipus, dan polio. Sampah akan melepaskan berbagai senyawa toksik ke air sungai. Senyawa berbahaya tersebut akan membunuh makhluk hidup di air dan juga manusia.

Solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan sampah, antara lain. Pertama, meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Sudah waktunya untuk masyarakat menjadi sadar akan kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar. Sebab, apa yang kita tanam maka itulah yang akan kita tuai. Sama halnya dengan sampah yang kita hasilkan lalu dibuang sembarang maka akan ada bencana yang akan menanti kita nantinya.

Kedua, memulai kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dari rumah, dengan memilah sampah-sampah organik, sampah yang dapat didaur ulang, dan sampah yang dapat digunakan kembali. Hal tersebut dilakukan guna mengurangi produksi sampah yang dimulai dari rumah.

Ketiga, mengurangi pemakaian plastik. Penggunaan plastik pada kemasan makanan dan minuman, serta sebagai wadah pembungkus barang belanjaan mengakibatkan plastik mempunyai andil besar dalam pencemaran lingkungan. Dengan menggunakan wadah yang dapat digunakan kembali bisa meminimalkan penggunaan plastik. Memulai zero waste dapat menyelamatkan bumi dari ancaman iklim yang disebabkan oleh ulah manusia.

Keempat, mengurangi populasi sampah plastik dengan menggunakannya sebagai bahan alternatif membuat kerajinan tangan yang memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan. Hal ini akan meningkatkan ilmu pemanfaatan limbah plastik kepada masyarakat guna menciptakan lingkungan bersih dan sehat.

Kelima, pembuangan memegang peran penting guna menghindari penumpukan sampah di TPA, pemerintah dapat mencontoh dari negara maju mengenai penanggulangan sampah. Beberapa caranya, yakni menjadwalkan pengambilan sampah sesuai dengan jenisnya untuk mempermudah dan mengatasi permasalahan mengenai sampah, juga dapat menyediakan tempat penampungan sampah yang tidak terlalu jauh dari pemukiman warga, dengan menyediakan tempat sampah pada setiap RT.

Keenam, petugas sebagai subjek utama penanganan sampah yang bertugas untuk mengatur sistem kerja. Penambahan personil petugas kebersihan demi penanganan sampah yang optimal. Ketujuh, pentingnya pengelolaan sampah menjadi nilai tambahan untuk para petugas yang kadang dianggap sebelah mata. Sementara itu, amanah yang mereka terima untuk menangani masalah sampah secara langsung ke lapangan adalah hal mulia. Memberikan apresiasi walaupun dengan hal yang sederhana akan membuat petugas lebih giat, semangat, dan disiplin untuk mengelola sampah.

Kedelapan, memberikan penyuluhan-penyuluhan mengenai pengelolaan serta penanganan sampah yang benar, dan bahaya yang ditimbulkan dari sampah untuk lingkungan. Menggandeng Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang turut serta dalam kepedulian lingkungan hidup, untuk mensosialisasikan kepada masyarakat dengan harapan menumbuhkan kesadaran dan kepedulian menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat.

Kesembilan, membentuk bank sampah sebagai alternatif pengelolaan sampah. Bank sampah mengajarkan masyarakat untuk memilah sampah, sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah secara bijak. Bank sampah akan mengurangi jumlah sampah yang akan dibuang ke TPA. Selain itu, bank sampah dapat membina kesadaran kolektif masyarakat.

Air sebagai sumber kehidupan akan tercemar jika masyarakat yang menggunakannya membuang sampah ke sumber air yang menyebabkan genangan. Sudah saatnya kita sebagai generasi penerus meningkatkan kesadaran dan kepedulian akan pentingnya menjaga air dengan melakukan perubahan dalam pengelolaan sampah.

Pengelolaan sampah yang baik akan mengurangi dampak negatif kepada kesehatan dan lingkungan. Jika menimbulkan permasalahan yang besar, mengapa kita tidak menghindarinya? Mulailah dengan hidup yang taat pada peraturan walaupun hanya hal kecil. Lingkungan dan bumi penting bagi kehidupan makhluk hidup yang ada di alam semesta.