Tempat Pemrosesan Akhir, Bukan Tempat Pembuangan Akhir

Mahasiwa UNU Melakukan Kunjungan ke KUPAS. JUNAEDI

Sampah didefinisikan sebagai benda padat, tidak terpakai, tidak diperlukan dan dibuang. Banyak dari kita yang masih menganggap sampah itu sepele dan membuangnya di sembarang tempat. Tidak jarang pengguna jalan secara sengaja membuang sampah sembarangan dengan cara melemparkannya saja. Heran sekali mereka tidak risih dengan tindakan itu.

Sampah merupakan masalah yang perlu mendapatkan perhatian, jika anda tidak memperhatikannya, itu akan menyebabkan masalah lingkungan seperti mengganggu kesehatan, kenyamanan, ketertiban, dan keindahan. Untuk mencapai kondisi masyarakat yang hidup sehat dan sejahtera di masa yang akan datang, sangat diperlukan adanya lingkungan pemukiman yang sehat. Kata sehat memiliki arti suatu kondisi yang bisa dicapai, jika sampah dapat dikelola sehingga tercipta lingkungan yang bersih.

Sampah bukanlah masalah di kehidupan manusia pada zaman dahulu, namun dengan bertambahnya jumlah penduduk dengan tempat yang tetap, masalah sampah semakin membesar setiap harinya. Hal ini dibuktikan melalui modernisasi dan perkembangan teknologi. Aktivitas manusia semakin berkembang, semakin beragam kegiatan, semakin beragam pula sampah yang dihasilkan, terutama sampah rumah tangga. Masalah sampah yang berkaitan dengan manusia akan berdampak pada buruk dari segi sosial, ekonomi, maupun budaya.

Indonesia merupakan negara terpadat keempat di dunia dengan 264 juta jiwa. Jumlah penduduk yang besar mempengaruhi jumlah sampah yang dihasilkan. Kemajuan industri dan teknologi pun juga menyumbang kenaikan jumlah sampah dengan berbagai jenis limbah baru.

Pengelolaan sampah merupakan kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan. Pengelolaan tersebut meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Distribusi sampah yang bisa ditemui terdiri dari proses pengumpulan sampah dari pemukiman atau sumber sampah lainnya, pengangkutan sampah untuk dibuang di tempat penampungan sementara, dan proses akhir, yaitu pembuangan di tempat pengelolaan akhir.

Penyediaan tempat penampungan sampah sementara yang memadai sangat diperlukan untuk tempat menampung sampah, jika tidak suatu daerah akan mengalami masalah yang serius. Masalah sampah apabila tidak cepat ditangani secara benar, tidak menutup kemungkinan suatu daerah lama-kelamaan akan tenggelam dalam timbunan dan tumpukan sampah bersamaan dengan dampak negatif yang ditimbulkannya, seperti pencemaran air, udara, tanah, dan penyebaran sumber penyakit.

Menyediakan dan membangun tempat penampungan sampah sementara diperlukan kriteria persyaratan fisik maupun persyaratan sosial dan ekonomi agar keberadaannya tidak membahayakan, serta aman bagi lingkungan sekitar.

Permasalahan pengelolaan sampah di indonesia dapat dilihat dari beberapa faktor, yaitu jumlah sampah yang dihasilkan, tingkat pelayanan pengelolaan yang masih rendah, terbatasnya jumlah pembuangan akhir, fasilitas pengelolaan sampah, dan pentingnya menjaga lingkungan juga masih rendah sehingga dapat menimbulkan masalah baru seperti banjir.

Untuk meminimalisir permasalahan sampah, maka sampah harus dikelola dari sumbernya dengan cara pengurangan dan pengelolaan sampah harus dilakukan secara terpadu. Tujuannya untuk memberikan manfaat ekonomi, sehat bagi masyarakat, aman bagi lingkungan, dan mengubah perilaku manusia.

Pengelolaan sampah di kota-kota di Indonesia sampai saat ini belum mencapai hasil yang optimal. Permasalahan pengelolaan terkait sampah menjadi sangat serius di perkotaan. Hal itu akibat dari kompleksnya permasalahan yang dihadapi dan kepadatan penduduk yang tinggi sehingga pengelolaannya sering berdasarkan skala prioritas. Daerah kota yang tidak padat penduduk, sering kali kurang mendapat perhatian.

Panggungharjo adalah sebuah kelurahan yang penduduknya sangat padat, letaknya pun berada di pinggiran kota. Kepadatan penduduknya bisa tiga kali lipat dibandingkan desa-desa lainnya yang berada di Kabupaten Bantul. Dengan begitu sudah jelas, bahwa sampah yang dihasilkan juga sangat banyak, terutama sampah rumah tangga.

Tumpukan sampah tersebut tidak bisa lagi ditangani secara mandiri oleh warga Kalurahan Panggungharjo, salah satu penyebabnya adalah karena keterbatasan ruang. Akibat dari hal tersebut warga membuang dan membakar sampah secara liar di tempat-tempat terbuka.

Hal ini mendorong pemerintah desa untuk segera menuntaskan masalah dengan menghadirkan layanan pengelolaan sampah yang melibatkan beberapa aktor, yaitu pemerintah desa, lembaga desa, dan masyarakat dalam bentuk lembaga yang bernama Badan Usaha Milik Rakyat (BUMDES).

BUMDES Kalurahan Panggungharjo bernama BUMDES Panggung Lestari. Itu adalah lembaga usaha yang dikelola oleh masyarakat dan pemerintah desa dalam upaya meningkatkan dan memperkuat perekonomian desa. Terbentuknya lembaga tersebut berdasarkan kebutuhan serta potensi desa. Sejarah berdirinya BUMDES Panggung Lestari berawal dari unit usaha Kelompok Usaha Pengelolaan Sampah (KUPAS) pada awal 2013.

Berdirinya BUMDES Panggung Lestari ini bertujuan untuk mewujudkan kelembagaan perekonomian masyarakat pedesaan yang mandiri. Selain itu, untuk memberikan pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat.

Ada beberapa unit usaha yang berdiri di bawah naungan BUMDES, hingga saat ini semuanya berjalan dengan baik. Masing-masing unit usaha tersebut sudah mendapatkan profit yang sangat tinggi, tentunya hal itu tidak lepas dari tangan dingin Wahyudi Anggoro Hadi selaku Lurah Panggungharjo. Kepemimpinannya yang sangat cerdas dan hebat berhasil menghantarkan desa menjadi lebih baik dan maju.

Membangun desa maju tak harus kaya akan sumber daya alam sebab masih ada kekayaan serta potensi lain yang bisa dioptimalkan, seperti sosial, budaya, dan teknologi. Wahyudi mengungkapkan kunci sukses pengelolaan desanya, yakni pada kapasitas memanfaatkan sekecil apapun potensi yang dimiliki. Keberadaan BUMDES benar-benar membantu warga di Kalurahan Panggungharjo dalam melakukan segala hal.

KUPAS adalah unit usaha pertama yang dikelola oleh BUMDES Panggung Lestari dan memfokuskan usahanya pada bidang jasa pengelolaan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah. Dengan adanya unit usaha ini, Wahyudi berharap agar sampah tersebut bisa diproduksi lalu bisa dimanfaatkan kembali. Pemanfaatannya bisa diolah menjadi pupuk organik dan atau sebagai pakan maggot. Sedangkan untuk mengelola sampah anorganik, bisa dilakukan dengan cara pemilahan dan pengelompokan.

Terkait pengelolaan sampah, menurut UU 18 Tahun 2008, yang berkewajiban mengelola sampah adalah produsen sampah sendiri. Terkait hal tersebut, Risky selaku manajer KUPAS mencontohkan penanganan sampah yang salah, seperti membuang sampah sembarangan dan membakar sampah. Selain itu juga, disebutkan contoh pengelolaan sampah yang tidak tepat, yaitu dengan sistem kumpul-angkut-buang.

Sistem kumpul-angkut-buang hanya akan membuat sampah berubah menjadi gunung sampah. Risky juga menceritakan, bahwa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan pernah ditutup selama satu minggu pada awal 2019. Hal itu berakibat membuat sampah menumpuk di mana-mana.

Kini TPA piyungan memang sudah dibuka kembali, tapi diprediksi akan tutup kembali pada tahun 2022 mengingat sistem pengelolaan sampah masih menggunakan sistem kumpul-angkut-buang.

“Layanan yang bertanggung jawab dan tuntas,” ujar Risky. Tanggung jawab yang dimaksud adalah memilah dan memproduksi sampah agar bisa dimanfaatkan kembali.

Risky juga memaparkan perihal alur pengambilan sampah hingga pengelolaannya. Pertama, sampah akan dijemput oleh petugas di masing-masing rumah menggunakan kendaraan, lalu dibawa ke KUPAS. Layanan ini dilakukan seminggu tiga kali dan setiap pelanggan sudah memiliki jadwal masing-masing. Sayangnya, penjemputan sampah hanya berlaku di wilayah Panggungharjo.

Apabila ada waktu luang dan ingin memangkas pengeluaran, warga dapat datang langsung ke kupas untuk membuang sampahnya. Ada potongan harga bagi mereka yang membuang sampahnya sendiri.

Kemudian, sampah yang sudah sampai di KUPAS langsung dipisahkan. Pengklasifikasian sampah berdasarkan pada manfaatnya. Sampah anorganik dan organik memiliki manfaat yang berbeda, sehingga memang sangat perlu dipisahkan. Setelah dipilah, sebagian sampah akan digiling menggunakan mesin. Proses penggilingan itu menghasilkan bubur sampah dan pupuk organik.

Menurut cerita dari Risky, karyawan yang bekerja di KUPAS, khususnya yang di bagian pengelolaan sampah adalah orang-orang yang direkrut dari dinas sosial. Menurutnya, untuk saat ini tidak banyak yang ingin bekerja jika bersinggungan langsung dengan sampah karena bau. Bahkan hampir tidak ada orang yang mau bekerja di bagian persampahan.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi mereka yang dari dinas sosial. Mereka mau menerima karena memang dulunya bekerja menjadi pemulung di jalanan sehingga jika mereka diminta untuk bekerja di tempat pembuangan atau pengelolaan sampah, mereka akan menerimanya.

Berkat kemauan mereka dalam bekerja, ada banyak rezeki yang diterima. Sebagai contoh, mereka yang dulunya menjadi pemulung dan pendapatannya tidak pasti, kini sudah mempunyai pendapatan tetap setiap bulannya dan mereka bisa memenuhi kebutuhan diri sedniri dan keluarga.

Harapan dari adanya lembaga KUPAS ini tentu saja ialah layanan sampah yang bertanggung jawab dan tuntas, yaitu dengan dijemputnya sampah dari rumah-rumah warga untuk dibawa ke kupas, lalu langsung diolah supaya dapat dimanfaatkan lagi, bukan malah dijemput lalu dibiarkan saja menumpuk.

Add Comment