Terima Kasih Labsos UNU, Saya Jadi Mengenal Panggungharjo

Kampoeng Mataraman Menjadi Titik Kumpul Pertama Mahasiswa UNU Ketika Magang. JUNAEDI

Menjadi mahasiswa tingkat akhir, dalam tanda kutip semester tujuh, ada kegelisahan yang menyerang hati dan pikiran. Terutama muncul pikiran, “Besok setelah lulus mau bagaimana dan jadi apa?” Ternyata menjadi mahasiswa tingkat akhir memang bukan saatnya lagi untuk main-main, melainkan harus serius dan lekas lulus.

Sebelum diterjunkan di Panggungharjo, kerumitan yang dirasakan memang cukup banyak. Rasa-rasanya setiap hari ada yang menghantui, bukan karena takut hantu, melainkan gelisah menunggu kabar pembagian kelompok dari kampus.

Semester tujuh merupakan fase mahasiswa akan melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN), namun di kampus saya memiliki nama yang berbeda, yaitu Laboratorium Sosial (Labsos). Kegiatan Labsos ini menekankan riset aksi atau penelitian tindakan. Berbeda dari KKN, Labsos berorientasi pada tindakan langsung untuk memecahkan masalah yang terjadi.

Munculah pertanyaan yang memenuhi kepala.

“Besok bakal labsos dimana?”

“Bareng siapa saja?”

“Tempatnya jauh atau dekat?”

Itu hanya sedikit pemikiran beserta ketakutan-ketakutan kecil yang terjadi. Sepertinya bukan hanya saya yang overthinking dengan itu, melainkan teman yang lain pun begitu. Tidak jarang sampai ada yang susah tidur. Terlebih lagi semenjak Covid-19 ini dan setelah dua tahun di rumah saja, tiba-tiba harus masuk kuliah dan diterjunkan ke masyarakat untuk pengabdian. Rasanya ketakutan itu semakin terasa di semester akhir, sungguh berat.

Setelah mengalami banyak takutnya itu, saya mendapat kepastian. Akhirnya saya di tempatkan di Panggungharjo, Sewon, Bantul. Selain dekat dari rumah, ternyata Kalurahan Panggungharjo memiliki banyak hal yang bisa dipelajari. Bayangan saya hanya sebuah kalurahan pada umumnya, tapi siapa sangka ternyata Kalurahan Panggungharjo sangat istimewa, banyak hal tersembunyi didalamnya.

Sebuah desa yang mendapatkan gelar desa terbaik tingkat nasional, dan prestasinya pun tidak bisa dihitung dengan sepuluh jari tangan. Wahyudi Anggoro Hadi selaku Lurah Desa Panggungharjo memang memiliki banyak ide dan inovasi untuk mengembangkan masyarat dan pembangunan desanya, dilihat dari berbagai prestasi desa yang diraih. Gelar desa terbaik nasional pun pernah dicapai.

Kalurahan Panggungharjo ini sudah bisa dikatakan sukses dibandingkan yang lain, termasuk kalurahan saya sendiri. Ketika Wahyudi mengenalkan ‘wajah’ Panggungharjo saja sudah membuat saya kagum, begitu bagus kinerjanya.

Panggungharjo memiliki BUMDES yang diberi nama BUMDES Panggung Lestari sebagai upaya pendayagunakan potensi desa dan diharapkan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Saat ini BUMDes Panggung Lestari memilki empat unit usaha.

Unit usaha yang pertama adalah Kelompok Usaha Pengelolaan Sampah (KUPAS). Bermula dari sampah, KUPAS ini berdiri sejak tahun 2013, kini usaha sampah itu sudah berkembang. Sebelum pandemi, KUPAS memiliki 25 orang karyawan dan sekarang berkurang menjadi 15 karyawan. Mereka terdiri dari penjemput sampah dan pemilah sampah.

Ada keunikan tersendiri dari karyawan yang bekerja di sini, mereka berasal dari dinas sosial, bahkan ada satu Orang Dalam Gangguang Jiwa (ODGJ). Hebatnya lagi, mereka yang awalnya tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP), sekarang sudah diakui sebagai warga Panggungharjo. Dulu mereka orang jalanan, namun sekarang bisa memiliki kendaraan dan handphone sendiri. Bukankah di sini mereka begitu diperhatikan?

Selanjutnya, pada februari 2018 muncul unit usaha yang bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) membangun PT. Sinergi Panggung Lestari (SPL). Unit usaha ini berawal dari permintaan kampus membuat obat tradisional menggunakan minyak nyamplung. Selain itu, badan usaha ini juga melakukan inovasi sendiri, seperti membuat produk kosmetik dari minyak tamanu, perawatan kulit wajah, dan badan.

Tidak berhenti di situ saja, pengolahan minyak nyamplung terus dikembangkan dan diikutkan sayembara. Salah satunya lolos sebagai inovator terbaik di sayembara Royal Academy of Engineering’s Leaders in Innovation Fellowships (LIF) yang digagas pemerintah Inggris.

Nampaknya BUMDES Panggung Lestari tidak berhenti berinovasi, pada tahun 2017 dibangun rumah makan dengan suasana pedesaan jaman dulu, namanya Kampoeng Mataraman. Sebelum pandemi, Kampoeng Mataraman bisa meraup omzet hingga 300 juta rupiah per bulan, namun setelah pandemi kurang lebih hanya sekitar 120 juta rupiah per bulan. Karyawan yang dulunya mencapai 50 orang kini menjadi 27 orang, memang pandemi ini sangat hebat dan bisa merubah tatanan hidup.

Kondisi pandemi membuat kampoeng mataraman merubah konsep menjadi mode bertahan hidup. Pandemi memaksa semua orang untuk beradaptasi oleh keadaan, pandemi membuat orang terbatas dengan aktivitas dan mobilitas.

Inovasi tetap muncul meskipun di tengah terjangan pandemi. Tahun 2020, saat ruang gerak dibatasi, BUMDES Panggung Lestari menciptakan aplikasi belanja bernama Pasardesa.id. Mengusung konsep belanja dari rumah, Pasardesa.id menjadi tempat untuk menjual produk-produk warga desa, hadirnya merupakan sebuah upaya dalam menangani dampak Covid-19. Namun, jangan salah meskipun baru satu tahun, Pasardesa.id sudah meraup omzet 2,5 milyar.

Menyelenggarakan pemerintahan yang bersih, transparan, dan bertanggungjawab untuk mewujudkan masyarakat yang demokratis, mandiri, dan sejahtera serta berkesadaran lingkungan menjadi visi dan misi Kalurahan Panggungharjo. Menurut saya, itu sangat bagus, semakin bagus lagi karena sudah diimplementasikan di setiap unit usaha, maupun lembaga pemerintahnya. Ini dapat menjadi contoh bagaimana lurah mampu membawa kemajuan bagi warganya.

Hebatnya lagi, Kalurahan Panggungharjo pada tahun 2019 menerima penghargaan The 4th ASEAN Rural Development and Poverty Eradication Leadership Award di Nay Pyi Taw, Myanmar. Ini merupakan penghargaan ASEAN bagi Civil Society Organization (CSO) dan Private Sector (swasta) yang dinilai telah berkontribusi bagi pembangunan desa dan pengentasan kemiskinan.

Selain unit usaha dan deretan penghargaan tersebut, Kalurahan Panggungharjo memiliki yang memang layak dikasih apresiasi yaitu program Bantuan Pendidikan bagi warga yang kurang mampu agar setiap satu rumah memiliki satu sarjana. Ada juga program Layanan Persalinan yang menjamin ibu hamil dan bayi agar kesehatannya dapat dipantau secara optimal.

Agaknya pemerintah desa memang benar-benar ingin memperhatikan kesejahteraan warganya dari sebelum lahir hingga akhir hayatnya. Hal itu ditunjukan dengan adanya program Keperawatan Lansia Ketergantungan. Program ini bertujuan memberikan asupan pangan dan hunian layak bagi lansia yang tidak memiliki keluarga sama sekali. Selain itu, ada program Akta Kematian Sehari Jadi (Aksi Simpati). Melalui Aksi Simpati ini, hanya dibutuhkan satu hari untuk membuat akta kematian. Sungguh dipermudah, bukan?

Begitulah kiranya gambaran Kalurahan Panggungharjo, sebuah keberuntungan bisa diterjunkan di sini, meskipun pertanyaan penuh ragu sempat terbesit, “Apakah saya bisa meleburkan diri bersama warga dan teman-teman?” Namun, setelah menjalaninya, saya percaya bahwa Tuhan bersama mahasiswa semeter akhir.

Add Comment