Tumbuh Kembang Panggungharjo di Tangan Wahyudi Anggoro Hadi

Kendaraan KUPAS yang Mengangkut Sampah dari Rumah Warga. MEDIA PANGGUNGHARJO

Saya adalah salah satu mahasiswa yang diterjunkan ke lapangan untuk menyerap sari-sari pengetahuan yang dibalut dalam program Laboratorium Sosial (Labsos) di Kalurahan Panggungharjo. Labsos adalah program dari Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta (UNU) agar mereka mampu menerapkan ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah.

Labsos dapat menjembatani dunia keseharian dengan mengandalkan kemampuan individu maupun kelompok guna menyelesaikan masalah. Kegiatan ini bagaikan berita baik sekaligus berita buruk bagi saya. Berita baiknya adalah Panggungharjo merupakan pemegang predikat desa terbaik di Indonesia, jadi mungkin saya dapat belajar dari kesuksesannya.

Kabar buruknya, desa ini memiliki rentetan penghargaan yang telah dicapai. Saya yakin, penghargaan tersebut akan memenuhi tulisan saya. Akhirnya, saya memutuskan hanya menulis salah satu penghargaan yang diterima Panggungharjo. Tentu saja ini bukan kabar burung semata sebab kesuksesannya sudah terdengar hingga mancanegara. Kemasyhurannya ditandai dengan penghargaan The 4th ASEAN Rural Development and Poverty Eradication Leadership Award di Nay Pyi Taw, Myanmar, pada tahun 2019.

Alasan hal tersebut menjadi kabar buruk karena saya ketakutan apabila tidak memenuhi harapan Panggungharjo. Terlebih lagi, saya bukan mahasiswa yang luar biasa. Malahan tergolong mahasiswa yang ‘kurang’.

Selama di Panggungharjo, kurang lebih dua minggu saya menemukan hal menarik. Atensi pertama saya tertuju pada Wahyudi Anggoro Hadi selaku lurah. Lurah rasa menteri. Barangkali malah rasa presiden karena saya belum pernah bertemu menteri ataupun presiden. Sudut pandang saya mengatakan bahwa perjuangan Wahyudi beserta program yang dibawanya dalam mensejahterakan masyarakatnya sangat layak diberi julukan ‘lurah rasa menteri’.

Gebrakan pertama yang dilakukan oleh Lurah Panggungharjo adalah meletakkan dasar-dasar dasar reformasi birokrasi untuk mewujudkan visi misi dari desa tersebut. Selain itu, Program yang dibawanya sesuai dengan alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, yakni tertuang bahwa dibentuknya pemerintah negara Indonesia guna melindungi warga negara, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Selanjutnya, masih dalam UUD 1945, dijelaskan dalam Pasal 28 C Ayat 1 bahwa setiap warga negara Indonesia berhak untuk mengembangkan diri, memenuhi kebutuhan dasarnya, dan berhak mendapat pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, serta budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya.

Berlandaskan dasar negara tersebut, Kalurahan Panggungharjo berupaya mewujudkan hadirnya negara dalam masyarakat, yaitu dengan menjalankan program-program peningkatan kesejahteraan, baik yang digagas oleh pemerintah desa sendiri maupun gagasan dari pemerintah supra desa berupa program administratif, sosial, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya.

Bukan sekadar angan dan omong kosong, berbagai aksi dilakukan pemerintah desa melalui program-program yang dicetuskan dan hingga sekarang masih dijalankan. Program-program tersebut berupa bantuan pendidikan bagi warga kurang mampu. Mempunyai penerus bangsa yang cerdas, berpendidikan, serta dapat mengentaskan angka kemiskinan merupakan cita-cita besar setiap daerah, bukan?

Hal ini didasari dengan keyakinan dari pemerintah desa bahwasa satu-satunya jalan untuk memutus rantai kemiskinan, yaitu melalui jalan pendidikan. Lebih tepatnya, pengetahuan. Bantuan ini diberikan kepada masyarakat kurang mampu, yang mempunyai tunggakan biaya pendidikan, baik dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, maupun Perguruan Tinggi.

Program ini diampu langsung oleh salah satu lembaga desa yaitu Badan Pelaksana Jaring Pengaman Sosial (Bapel JPS). Lembaga desa ini didirikan oleh Kalurahan Panggungharjo guna memberikan pelayanan sosial kepada masyarakat terutama bagi warga kurang mampu dengan harapan terwujudnya masyarakat yang sejahtera.

Orang yang berdomisili serta ber-KTP Panggungharjo tampaknya menjadi warga yang dihujani kebahagiaan, sebab sejak dalam kandungan sudah diberi atensi penuh oleh pemerintah desa. Ya, betul. Program selanjutnya berkaitan dengan ibu hamil dan bayi. Program ini bekerja sama dengan Rumah Bersalin Laras Hati dan Klinik Bersalin Bidan Basuki untuk memudahkan masyarakat agar mendapatkan persalinan yang layak sehingga bayi dapat lahir normal dan selamat.

Jika ada nominasi desa paling perhatian, saya akan mengusulkan Kalurahan Panggungharjo. Saya mengatakan hal ini bukan tanpa alasan. Warga di desa ini memang diberi perhatian secara paripurna. Tidak hanya ketika dalam kandungan, namun perhatian juga diberikan kepada mereka yang telah memasuki usia senja. Dengan catatan, syarat dan ketentuan berlaku.

Program yang diberi nama Keperawatan Lansia Ketergantungan merupakan bentuk keseriusan pemerintah desa kepada para lanjut usia (lansia). Mereka yang mendapat bantuan ini berasal dari masyarakat kurang mampu dengan syarat ketidaklayakan tempat tinggal, kurangnya pemasukan keluarga, tidak adanya kerabat yang mendampingi, dan kesehatan yang memburuk (bedrest).

Program-program yang berorientasi pada kesejahteraan ini didukung dengan keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang berdiri sejak bulan Maret 2013. Kalurahan Panggungharjo mendirikannya sebagai upaya pendayagunaan potensi desa dan diharapkan menjadi entitas yang mampu mengangkat perekonomian masyarakat.

Sudah empat tahun pemerintah desa mempunyai aksi nyata dengan mengelola sebuah rumah pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah di Kalurahan Panggungharjo berdasar pada dua perspektif, yaitu perspektif kesehatan lingkungan dan perspektif bisnis (usaha). Oleh karena itu, pengelolaan sampah berada di bawah naungan BUMDES. Inovasi ini berpotensi meningkatkan perekonomian serta menjaga lingkungan.

Unit usaha tersebut bernama Kelompok Usaha Pengelolaan Sampah (KUPAS). Untuk dapat memainkan peran sebagai alat perekonomian dan sebagai agen terwujudnya perubahan sosial menuju kesejahteraan, BUMDES Panggung Lestari memfokuskan usahanya pada bidang jasa pengelolaan lingkungan.

Berdiri pada awal tahun 2013 yang berawal dari sebuah keprihatinan terhadap tingkat kebersihan lingkungan yang turun karena semakin banyaknya volume sampah yang dihasilkan oleh masyarakat sehingga membutuhkan penanganan yang serius.

KUPAS ini berangkat dari tingkat padukuhan melalui program pemberdayaan masyarakat. Tentunya program tersebut mendapatkan apresiasi dari pemerintah desa dan bekerjasama dengan menyerukan slogan ‘peduli sampah untuk masa depan anak cucu kita’. Pada tingkat padukuhan, pengelolaan sampah baru mengampu satu wilayah, kemudian dikembangkan lagi, dan secara resmi lahirlah KUPAS.

Slogan dari KUPAS ini memiliki makna, yakni menyatukan kekuatan masyarakat desa dengan orientasi kepedulian masa depan anak. Hal ini merupakan penegasan atas komitmen Kalurahan Panggungharjo dalam menyulap masalah klasik di wilayah tersebut, menjadi sesuatu yang bermanfaat dan menguntungkan. KUPAS menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan bekerja berdasarkan prinsip dari, oleh, dan untuk masyarakat.

Selain dalam rangka mengoptimalkan potensi lokal yang dimiliki, KUPAS ini lahir untuk melakukan intervensi kebijakan dalam mendorong lahirnya budaya baru, yakni budaya mengelola lingkungan secara berkelanjutan.

Sampai dengan akhir tahun 2013, KUPAS telah melayani 1.090 titik penjemputan. Kapitalisasi modal yang dikelola mencapai lebih dari 344 juta rupiah atau meningkat sembila kali lipat dari modal awal.

Dengan kemampuan usaha tersebut, BUMDES Panggung Lestari melalui Unit KUPAS telah membuka lapangan kerja bagi dua puluh orang. Kehadirannya menginspirasi terbentuknya unit-unit usaha yang lain.

Beberapa manfaat yang dihasilkan dari kegiatan KUPAS, yakni sampah rumah tangga terkelola dengan baik, menciptakan lingkungan hidup pedesaan yang sehat, terserapnya tenaga kerja yang ada di desa, dan memberikan contoh sistem pengelolaan sampah rumah tangga yang inovatif dan produktif bagi desa-desa lain di Indonesia.

Dalam proses membangun Kalurahan Panggungharjo untuk sampai pada titik ini adalah proses yang tidak mudah dan singkat. Panggungharjo dibangun oleh Wahyudi bukan hanya saat menjabat sebagai lurah, namun jauh sebelum itu. Pada tahun 1999, ia melakukan eksperimen transformasi sosial dengan pendekatan kultural terkait membangun kesadaran kolektif dengan membangun Kampoeng Dolanan di Panggungharjo. Angan-angan tersebut baru terealisasikan pada tahun 2007. Perjalanan yang sangat panjang, bukan?

Add Comment