Memperkaya Kearifan Lokal dengan Bahasa Daerah

Pidato Berbahasa Jawa Menjadi Salah Satu Upaya Pelestarian Budaya. BNPB DIY

Saat ini peradaban manusia sudah begitu maju. Terbukti dari budaya-budaya modern yang muncul dan mengisi ruang lingkup kehidupan manusia, mulai dari kehidupan rumah tangga hingga kemajuan teknologi industri dan informasi.

Dunia pendidikan sekarang pun turut berkontribusi menyemarakan kemajuan teknologi. Keadaan sudah jauh berbeda dengan model-model pendidikan pada zaman dahulu. Fenomena ini sebagai tanda bahwa masyarakat sudah menikmati cipta, rasa, dan karsa berupa hasil-hasil budaya yang tergolong modern.

Berbagai perubahan yang terjadi di Indonesia tidak hanya menyangkut tatanan kehidupan sosial ekonomi, namun politik, kebahasaan dan kebudayaan juga menjadi sektor yang terdampak modernisasi.

Kontak bahasa mengakibatkan kontak budaya atau sebaliknya. Hal ini terjadi karena efek dari era globalisasi. Semua jarak dan ruang terasa lebih dekat dengan kemajuan teknologi.

Berada di titik kemajuan zaman lantas tidak mengharuskan kita lupa terhadap akar budaya yang telah ada. Budaya-budaya itu mengandung nilai yang sangat luhur dan wajib dilestarikan.

Kearifan lokal penting untuk digali sembari tetap menikmati kebudayaan yang semakin modern. Melupakan kearifan lokal yang ada berarti mengingkari eksistensi warisan budaya nenek moyang yang sangat bernilai tinggi.

Salah satu kearifan lokal yang ada di seluruh nusantara adalah bahasa dan budaya daerah. Bahasa daerah merupakan salah satu bahasa yang dikuasai oleh hampir seluruh anggota masyarakat pemiliknya yang tinggal di daerah itu. Oleh karena itu, sangat wajar jika adat, kebiasaan, tradisi, tata nilai, dan kebudayaan masyarakatnya juga terekam di dalam bahasa daerah tersebut.

Tak jarang beberapa masyarakat sangat membanggakan bahasa daerahnya. Hal itu memicu munculnya sikap yang meremehkan bahasa dan budaya lain. Tidak heran apabila sikap tersebut menimbulkan persaingan antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Ada semacam kekhawatiran bahasa daerah di penjuru negeri ini akan punah karena terdesak oleh bahasa Indonesia dan ketakutan memudarnya nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Secara teoretis, persaingan bahasa dan budaya daerah dapat dijelaskan karena kehadiran dua bahasa atau lebih dalam suatu wilayah dan masyarakat dapat menjurus kepada tiga kemungkinan terjadinya persaingan.

Pertama, ada semacam koeksistensi damai di antara kedua bahasa tersebut. Artinya adalah warga masyarakat yang bersangkutan menggunakan Bahasa 1 (B1) atau Bahasa 2 (B2) secara bebas referensi. Pemilihan B1 atau B2 semata-mata didasarkan kepada dalil sosiolinguistik, yaitu siapa yang berbicara, kepada siapa, di mana, kapan, tentang apa, dan sebagainya.

Kedua, B1 dan B2 setelah masa yang lama berpadu menjadi semacam antarbahasa (interlanguage), yang barangkali diawali oleh interferensi dari B1 ketika warga menggunakan B2, atau sebaliknya.

Kesadaran masyarakat pendukung sebuah bahasa sangat berguna dalam proses melestarikan bahasa dan budaya daerahnya. Hal itu bertujuan agar generasi yang akan datang dapat mewarisinya.

Salah satu usaha yang mungkin bisa dilakukan, yakni dengan memberikan dan mengajarkan, serta mendidik anak-anak dengan beberapa petuah melalui ungkapan-ungkapan. Kemudian, menjelaskan nilai-nilai yang terkandung.

Masyarakat Jawa termasuk salah satu etnis yang sangat bangga dengan bahasa dan budayanya, meskipun kadang-kadang mereka tidak mampu menggunakan bahasa Jawa secara aktif dengan undha-usuk, serta tidak begitu paham dengan kebudayaannya.

Beberapa orang memandang bahwa bahasa dan budaya Jawa termasuk budaya kuno dan feodal yang sudah tidak relevan dengan situasi masa kini. Padahal, di masa sekarang ini membutuhkan pedoman dan nilai-nilai agar bangsa yang kita pijak menjadi bangsa yang arif dan bijaksana.

Berdasar pada hal-hal baik yang menyertai tindakan pelestarian bahasa dan budaya, maka kearifan lokal dalam bentuk apa pun yang mengandung nilai adiluhung perlu digali lebih dalam lagi. Sebagai contoh, budaya Jawa penuh dengan simbol sehingga dijuluki sebagai budaya simbolis.

Julukan tersebut diperkuat dengan adanya wiwahan dalam budaya Jawa. Simbol-simbol wiwahan terdapat di dalam upacara perkawinan dan berkaitan erat dengan kehidupan masyarakatnya.

Simbol-simbol yang digunakan sampai kini mengandung berbagai nilai budaya, etika, serta moral yang sangat penting dijelaskan kepada generasi selanjutnya. Hal itu merupakan salah satu produk budaya dan secara terus-menerus perlu dipahami, juga diresapi.

Bahasa Jawa sebagai produk mencerminkan budaya masyarakatnya. Sifat dan perilaku mereka dapat dilihat melalui bahasa atau kegiatan berbahasa. Perkembangan kebudayaan juga dapat memperkaya bahasa Jawa di seluruh aspeknya.

Paribahasa, ungkapan, bebasan, dan saloka sebagai salah satu bentuk penggunaan bahasa dapat mencerminkan sifat dan kepribadian pemakainya. Lebih-lebih ungkapan yang bermakna ketidaklangsungan, itu mencerminkan budaya Jawa yang sampai sekarang masih melekat pada masyarakatnya.

Budaya Jawa dari zaman dahulu terkenal sebagai budaya adiluhung yang menyimpan banyak nilai, mulai dari etika dan sopan santun di dalam rumah, hingga sopan santun di ranah publik. Cara mengutarakan pendapat, berbicara kepada orang tua, berpakaian, makan, memperlakukan orang lain, dan sebagainya.

Tindak tanduk tersebut telah mendarah daging dalam budaya Jawa. Bahasa dijadikan sebagai alat untuk memahami budaya, baik yang sekarang maupun yang telah diawetkan (dengan cara mewariskannya).

Sebuah istilah ‘tanpa bahasa tidak akan ada budaya’ menunjukan bahwa kekuatan budaya sangat bergantung kepada masyarakat yang memeliharanya. Cara yang efektif, yakni dengan mengoptimalkan interaksi terhadap sesama menggunakan bahasa daerah.

Salah satu unsur bahasa yang cenderung baku dan beku dari segi struktur maupun makna adalah unsur yang disebut ungkapan dan peribahasa (secara universal unsur ini dimiliki bahasa-bahasa yang ada di dunia).

Unsur tersebut diwariskan turun- temurun sampai saat ini, meskipun dari segi budaya sudah berubah. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memahami budaya etnis. Salah satunya adalah mengkaji dan memahami ungkapan seperti paribasa, bebasan, dan saloka yang terdapat dalam bahasa daerah dan budaya masing-masing.

Bentuk-bentuk kebahasaan tersebut mengandung nilai budaya yang tidak pernah disadari oleh generasi masa kini, bahkan dianggap sebagai warisan budaya yang hanya perlu diketahui oleh orang-orang tua.

Dalam kondisi bangsa Indonesia yang sangat terpuruk menghadapi etika dan sopan santun seperti saat ini, perlu disosialisasikan dan ditanamkan nilai-nilai budaya lokal, baik lewat jalur formal maupun non formal. Sudah waktunya kembali ditanamkan pendidikan budi pekerti dengan menggali aspek-aspek budaya setempat agar akar budaya tidak tercabut dari generasi selanjutnya karena lebih mengagungkan budaya lain, khususnya budaya barat.

Bonvillain dalam Language, Culture, and Communication mencetuskan bahwa model-model budaya dapat dimunculkan secara eksplisit melalui ungkapan. Model-model budaya yang dimaksudkan mencakup mentalitas, persepsi, sikap, perilaku, etika, dan moral.

Ungkapan sebagai salah satu bentuk budaya tentu mengandung hal-hal yang disebut nilai budaya. Nilai-nilai itu menunjukan sebuah anggapan ungkapan dapat menggambarkan sikap dan pandangan hidup.

Sebagai contoh, masyarakat Jawa sangat memperhatikan sikap-sikap hidup yang sederhana, penuh tanggung jawab, sangat menghargai perasaan orang lain, berbudi bawa leksana, serta selalu rendah hati.

Tak ketinggalan sikap aja dumeh, aja adigang, aja adigung, dan aja adiguna selalu ditekankan pada masyarakat Jawa agar selalu menjadi orang yang rendah hati, berbudi baik dan menghargai orang lain.

Terdapat beberapa ungkapan yang dianggap petuah dan dipegang erat oleh masyarakatnya, yakni giri lusi janna kena ingina, alon-alon waton kelakon, hamangku, hamengku, hamengkon, sepi ing pamrih rame ing gawe, ing arsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, melu handarbeni, melu hangrungkebi, mulat sarira hangrasa wan, dan nglurug tanpa bala, menang tanpa angsorake.

Ungkapan-ungkapan tersebut dapat dijabarkan bahwa masyarakat Jawa memiliki pandangan luwih becik alon-alon waton kelakon, tinimbang kebat kliwat yang mengandung nilai bahwa salah satu sikap hidup orang Jawa yang tidak ingin gagal dalam meraih keinginannya.

Kata alon-alon di dalamnya sebenarnya tersirat makna sebuah langkah. Jadi, itu hanyalah cara seseorang menentukan jalan yang diambil untuk mencapai tujuan, karena yang penting adalah kriteria yaitu waton kelakon (harus terlaksana) daripada kebat kliwat (tergesa-gesa tetapi gagal).

Ketika menjadi pemimpin, orang Jawa memiliki beberapa semboyan dan pandangan hidup yang harus dilaksanakan agar kepemimpinannya dapat berjalan dengan baik, karena diiringi dengan sikap yang arif dan bijaksana.

Sikap dan pandangan itu, antara lain adalah seorang pemimpin harus dapat hamangku, hamengku, dan hamengkoni. Hamangku diartikan sebagai sikap dan pandangan yang berani bertanggung jawab terhadap kewajibannya. Hamengku diartikan sebagai sikap dan pandangan yang harus berani ngrengkuh (mengaku sebagai kewajibannya). Hamengkoni dalam arti selalu bersikap berani melindungi dalam segala situasi.

Jadi, seorang pemimpin dalam pandangan masyarakat Jawa itu harus selalu berani bertanggung jawab, mengakui rakyatnya sebagai bagian dari hidupnya, dan setiap saat harus selalu melindungi dalam segala kondisi dan situasi.

Ungkapan yang paling populer dalam dunia pendidikan adalah ing arsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Ungkapan ini juga berasal dari bahasa Jawa dan mengandung nilai-nilai yang sangat baik untuk panutan seorang pemimpin.

Apabila seseorang benar-benar ingin disebut sebagai seorang pemimpin, dia harus selalu berada di depan untuk memberikan contoh yang baik dalam bentuk sikap, ucapan, dan tindakan yang selalu konsisten.

Ketika seorang pemimpin berada di tengah-tengah rakyatnya, dia harus mangun karsa (memberi semangat) agar rakyat tidak mudah putus asa jika menghadapi segala macam cobaan.

Sewaktu dia ada di belakang dia harus selalu tut wuri handayani (mau mendorong) agar rakyatnya selalu maju. Jika seorang pemimpin memiliki sikap dan pandangan hidup yang baik, rakyat akan selalu melu handarbeni, melu hangrungkebi, dan mulat sarira hangrasa wani.

Ungkapan tersebut memiliki arti bahwa prestasi yang dicapai dalam suatu tempat atau negara akan selalu dijaga oleh rakyatnya dengan baik, karena rakyat merasa ikut memiliki. Apabila ada orang lain yang akan merusak tatanan yang sudah mapan, rakyat juga akan ikut membela. Namun, semua itu dilakukan setelah mengetahui secara pasti duduk persoalan yang benar dan yang salah. Sikap itu mencerminkan ungkapan mulat sarira hangrasa wani (mawas diri).

Berdasarkan pandangan di atas, seorang pemimpin akan semakin berwibawa dan dapat menyelesaikan segala persoalan tanpa menimbulkan persoalan baru. Berkat kewibaannya itulah seorang pemimpin memiliki kekuatan sehingga akan berani nglurug tanpa bala serta menang tanpa ngasorake. Kedua ungkapan tersebut memiliki makna segala persoalan dapat diselesaikan sendiri dengan baik tanpa harus merendahkan martabat orang lain yang bermasalah dengan dirinya.