Apresiasi Untuk Para Nelayan

Nelayan. SEKRETARIAT KABINET REPUBLIK INDONESIA

Tanggal 6 April nelayan seluruh Indonesia boleh berpesta untuk memperingati Hari Nelayan Nasional. Mungkin banyak yang belum tahu bahwa tanggal tersebut merupakan Hari Nelayan Nasional. Begitu pun nelayan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), banyak dari mereka belum tahu.

Sudah lebih dari setengah abad peringatan ini diperingati. Seharusnya Hari Nelayan Nasional menjadi hari penting bagi para nelayan. Jumlah nelayan Indonesia hampir tiga juta orang, belum termasuk anggota keluarganya, jumlah yang cukup besar untuk sebuah komunitas. Sudah selayaknya Hari Nelayan Nasional menjadi sebuah agenda peringatan.

Nelayan sebagai warga negara Indonesia yang dikenal sebagai pekerja keras, pahlawan pangan nasional, pahlawan devisa negara, penjaga kepulauan kita, dan penjaga kedaulatan negara Indonesia, nasibnya masih kurang diperhatikan. Banyak di antara mereka adalah masyarakat marjinal, masyarakat golongan miskin, tinggal di lingkungan kumuh, dan tidak memiliki akses ke fasilitas kesehatan yang memadai. Regulasi pun banyak yang tidak berpihak pada nelayan.

Sebuah kenyataan yang ironis bahwa nasib nelayan sebagai garda terdepan yang mengelola pesisir dan lautan belum mampu menikmati kekayaan laut yang ada. Nelayan sebagai aktor utama dalam mengelola sumberdaya ikan belum dapat menikmati secara utuh, padahal kekayaan alam tersebut terletak ditangan para nelayan.

Secara nasional kondisi nelayan belum sejahtera, perkampungannya terkesan kumuh, pendidikan rendah, kemampuan manajemen rendah, kurang cerdas, kurang inovatif dan kurang produktif (a lost generation), serta kurang modal. Kemiskinan yang menjerat nelayan bagaikan lingkaran setan yang tidak pernah putus.

Pada saat musim ikan, nelayan bisa panen ikan dan pendapatannya besar, sedangkan saat tidak musim ikan, nelayan tidak memperoleh ikan dan pendapatan sedikit, bahkan tidak mempunyai pendapatan sama sekali. Oleh karena itu, untuk dapat mengelola pendapatannya, mereka perlu pendampingan pengetahuan manajemen sehingga pola hidup boros dan konsumtif bisa dihindari.

Beberapa penyebab nelayan miskin, baik kultural maupun struktural, antara lain, kerusakan lingkungan perairan, Illegal, unreported and unregulated (IUU) fishing, penangkapan secara tradisional, inovasi teknologi kurang, padat tangkap, sulit dan mahalnya BBM, harga ikan relatif konstan, kesetaraan gender nelayan wanita, serta keterwakilan dan kepedulian terhadap nelayan rendah.

Jika hanya nelayan yang bersuara, aspirasi para nelayan tidak akan tersampaikan secara optimal kepada para pemangku kepentingan. Lha wong kerjone neng laut. Bagaimana bisa menyampaikan aspirasi kalau tidak ada mediator atau pendampingan. Berbeda dengan buruh perusahan yang di darat, mereka lebih optimal dan memiliki waktu yang sangat luas untuk menyampaikan aspirasinya.

Peringatan Hari Nelayan Nasional seyogyanya dapat membangkitkan kesadaran (awareness) terhadap masalah kesejahteraan para nelayan dan keluarganya. Hari Nelayan Nasional, di beberapa daerah diperingati dengan mengadakan upacara adat, pesta rakyat, ritual adat, lomba-lomba perikanan, sedekah laut, pesta laut, dan sebagainya.

Sejak adanya nelayan DIY tahun 1982, Hari Nelayan Nasional belum pernah dirayakan sebagai sebuah peringatan. Oleh karena itu, saat perayaan sedekah laut atau pesta laut pada bulan Muharam (Suro) di beberapa lokasi, alangkah baiknya salah satu agendanya adalah merayakan Hari Nelayan Nasional.

Sedekah laut dapat dilaksanakan bersamaan dengan Hari Nelayan Nasional. Hal itu dapat memperkokoh dan mengakselerasi tertanamnya budaya pesisir dan masyarakat nelayan. Semoga dengan memperingati dan mengenal Hari Nelayan Nasional, upaya pemerintah dalam memperbaiki taraf hidup dan meningkatkan kesejahteraan para nelayan dapat segera diwujudkan.

Semakin besar dukungan dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, dengan harapan pekerjaan nelayan tidak lagi menjadi pilihan terakhir. Kalau para nelayan tidak memiliki penerusnya dan tidak ada yang mau bekerja sebagai nelayan. Siapa yang akan menjadi pahlawan pangan bangsa kita?

Khususnya bagi masyarakat nelayan DIY, dengan memperingati Hari Nelayan Nasional, dapat menjadi bahan introspeksi diri, apakah kehidupannya yang selama ini dicita-citakan sudah dapat dicapai atau dinikmati. Sekaligus dapat mengingatkan kembali kepada komitmen nelayan yang segala aspek kehidupannya diwadahi dalam Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia, seperti kesetiakawanan, kebersamaan, kepedulian, kedaulatan, kekompakan, kesehatan, pendidikan, serta kesejahteraan dapat dibina dan diwujudkan.

Apalagi terkait dengan diberlakukannya ASEAN Economic Community (AEC), khususnya sektor perikanan, merupakan peluang dan tantangan. Oleh karena itu, harus disiapkan secara optimal dan selalu meningkatkan daya saing produknya, apabila produk-produk nasional tidak siap menghadapi AEC, maka produk kita akan tergantikan oleh produk impor dari negara ASEAN lainnya. Semoga kita siap menghadapinya.