Belajar Tanggap Krisis dari Panggungharjo

Lurah Panggungharjo Tanggap Terhadap Kasus Positif Covid-19. MEDIA PANGGUNGHARJO

Kalurahan Panggungharjo dikenal sebagai Panggung Budaya, banyak hal yang bisa diambil dari Panggungharjo, yakni memiliki struktur perkembangan ekonomi yang baik.

Menurut saya, desa ini berpotensi besar dalam membantu memajukan negara kita yang tercinta. Hal itu karena faktor pemimpin desa yang kompeten sehingga mempercepat kemajuan pada Kalurahan Panggungharjo.

Kalurahan Panggungharjo adalah desa yang sudah maju dari segi ekonomi, usaha, budaya, dan teknologinya, namun semua itu tidak luput dari orang-orang yang bekerja keras untuk membangun desa menjadi lebih baik. Sebab, desa itu berhak untuk diperjuangkan.

Pemimpin yang baik tidak hanya pandai mengatur pemerintahan dan masyarakatnya, namun ia juga harus mampu menjadi telinga bagi warganya. Kalurahan Panggungharjo memiliki pandangan bahwa pendapat seorang warga itu sangat penting guna memajukan desa. Oleh karena itu, tidak heran jika lurahnya selalu bermusyawarah ketika ada hal yang menyangkut warga dan kemajuan desa.

Proses memajukan desa bergerak ke satu tujuan, yakni ingin mencapai kemandirian. Kemandirian desa di Panggungharjo, terletak pada tiga aspek. Pertama, politik dan pemerintahan desa. Kedua, perekonomian desa. Ketiga, penguasaan atas informasi dan data.

Adanya Undang-Undang Desa berdampak pada kemandirian dan kemampuan desa dalam mengelola keuangan, serta aset yang ada di Kalurahan Panggungharjo. Sebelum adanya UU Desa, kewenangan dipegang oleh kabupaten. Dalam mengatur dirinya sendiri, desa menjadi tidak leluasa. Hal itu menyebabkan desa berkembang dengan sangat lamban.

Saat pandemi Covid-19, Pemerintah Kalurahan Panggungharjo selalu mengajak warganya untuk jangan menyerah dalam mengahadapi pandemi. Meskipun susah, mereka berharap bahwa warga beradaptasi dengan situasi yang ada.

Kemudian, Pemerintah Kalurahan Panggungharjo mengajak warga untuk membentuk sebuah satuan tugas (satgas) yang diberi nama Tanggap Covid-19. Wahyudi Anggoro Hadi, selaku lurah, membuat dua langkah yang diterapkan, yakni lapor dan tanggap. Langkah tersebut memang dilakukan untuk identifikasi warga yang terpapar.

Wahyudi tidak bosan-bosan memberikan arahan kepada warganya untuk menjaga diri dan keluarga dengan di rumah saja. Sebab, situasi di luar sedang tak terkendali. Tentunya, banyak warga yang tidak bisa melakukan kegiatan di luar rumah.

Segala aktivitas yang tertunda membuat kondisi semakin kacau. Bermula dari krisis kesehatan, perlahan berubah menjadi krisis ekonomi. Proses jual beli nyaris lumpuh, hanya sebagian sektor perdagangan yang masih bisa bergerak. Pemerintah Kalurahan Panggungharjo tak bisa tinggal diam melihat warganya kesusahan. Bersama warga yang masih sanggup diajak berlari, Wahyudi membentuk tim relawan. Mereka tidak hanya membantu dalam bentuk tenaga dan waktu, namun ada yang mendukung dalam bentuk donasi.

Situasi yang tidak memungkinkan untuk melakukan pemantauan kesehatan dengan tatap muka, mengharuskan para relawan memutar otak guna mengatasi hal tersebut. Kemudian, sebuah ide membuat Google Form yang kala itu tengah naik daun, menjadi pilihan bagi para relawan. Setiap harinya, mereka memeriksa kesehatan warga melalui situs yang telah disediakan.

Agar perekonomian di Kalurahan Panggungharjo hidup dan semarak kembali, sebuah platform yang dapat membantu kebutuhan persediaan warga dihadirkan oleh pemerintah desa. Tidak hanya sebagai tempat jajan, platform ini juga berfungsi sebagai wadah bagi warga untuk menjualkan produknya. Dengan adanya platform yang bernama Pasardesa.id, proses jual beli antawarga tetap berjalan dan geliat ekonomi terlihat, meskipun belum begitu signifikan.

Warga yang dihimpit kesusahan ketika pandemi, tidak luput dari tanggung jawab seorang lurah. Ia selalu berusaha menjaga warganya agar tetap bertahan hidup dalam keadaan yang tidak memungkinkan, bahkan akhir kisah dari pandemi ini tidak dapat dipastikan. Dengan dukungan yang selalu menyertai, warga bisa beradaptasi dengan situasi pandemi.

Tidak hanya warga, pemerintah desa pun turut mengalami kerugian akibat pandemi. Sebuah unit usaha yang menjadi bagian dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panggung Lestari harus tutup sementara selama tiga bulan, namun seiring berjalannya waktu, unit usaha tersebut mulai dijalankan kembali sesuai peraturan satgas Covid-19.

Kalurahan Panggungharjo sendiri membuka lapangan pekerjaan bagi warganya untuk bekerja di unit-unit usaha yang telah dibangun. Hal itu bermanfaat dalam mengurangi pengangguran yang ada di Indonesia dan bisa membantu ekonomi keluarga.

Proses menyeleksi calon pekerja di unit-unit usaha tidak berdasarkan kriteria yang rumit. Latar belakang pendidikan calon pekerja tidak menjadi tolok ukur, karena yang dibutuhkan adalah orang yang mempunyai jiwa telaten. Namun, beberapa pekerja ada yang tidak berdomisili di Panggungharjo. Sebab, pada divisi-divisi tertentu, mereka masih memerlukan orang yang memiliki keahlian dan pengalaman minimal tiga tahun.

Semua unit usaha itu diawasi sepenuhnya oleh pemerintah desa. Agar semua lembaga yang ada dapat berjalan terarah sesuai dengan visi dan misi Kalurahan Panggungharjo, yakni memajukan desa dan memberdayakan warga.