Bentang Hidup yang Memberi Nyawa

Unit Usaha di BUMDES Panggung Lestari Bersama Pegadaian. IG/KUPAS

Kalurahan Panggungharjo merupakan desa yang ada di Bantul. Keberadaannya tidak bisa dipisahkan dari keberadaan ‘Panggung Krapyak’ atau oleh masyarakat sekitar disebut sebagai ‘Kandang Menjangan’ yang berada di Padukuhan Krapyak Kulon.

Terdapat sekitar 40 ribu jiwa, 14 dusun, dan 119 RT di sini. Panggungharjo juga merupakan kawasan strategis ekonomi. Sumber pendapatan masyarakat berasal dari dari sektor pertanian. Selain itu, karakteristik sebagian masyarakatnya merupakan pekerja kontraktor.

BUMDES Panggung Lestari yang ada di Panggungharjo termasuk dalam kategori terbaik di Indonesia dan pendapatannya bisa mencapai enam sampai tujuh miliar rupiah. Selama pandemi, pendapat tersebut masih di atas tiga miliar.

Bentang alam di sini tidak terlalu baik, tetapi bentang hidup, berupa sosial dan budaya berkembang dengan optimal. Hal itu dibuktikan dengan adanya produksi tamanu oil, padahal Kalurahan Panggungharjo tidak memiliki bahan baku. Namun, desa ini dapat mengelolanya melalui pemanfaatan teknologi dan sosial. Kebetulan, ada warga desa yang pintar dalam mendesain, lalu pemerintah desa mendorong dan mendukung untuk menciptakan alat dan mempublikasikannya.

Sampai detik ini, hanya tersisa tiga unit usaha yang masih aktif, yaitu Kampoeng Mataraman, Pasardesa.id, dan KUPAS. Kampoeng Mataraman menjadi salah salah satu unit yang membantu perkembangan Kalurahan Panggungharjo.

Unit usaha ini termasuk bentang budaya dan pemanfaatan bentang pasar. Berdirinya Kampoeng Mataraman pada tanggal 29 juni 2017. Pada awal berdirinya, kursi manajer dipegang oleh Junaedi selama delapan bulan, lalu ia mengundurkan diri di bulan Agustus.

Selang beberapa lama jabatan manajer dipegang oleh Nuzulina. Saat itu belum ada manajemen, hanya ada manajer dan kerangkanya belum jelas. Ketidakhadiran manajemen, pengurus gudang, dan kontrak kerja membuat kesulitan dalam pemasaran.

Kampoeng Mataraman awalnya hanya dijalankan oleh lima orang yang masing-masing bertugas memasak, menjadi pramusaji, menjaga kasir, dan belanja. Target yang ingin dicapai pun tidak muluk-muluk, yakni sehari minimal 40 orang konsumen.

Dahulu, jika ingin masak perlu kayu bakar dan bangunan belum sebesar sekarang. Berkat acara Harapan dan Rembug Desa Nasional yang diadakan di Kampoeng Mataraman, secara langsung membawa efek marketing dan memasyhurkan nama Wahyudi Anggoro Hadi sehingga dapat menyabet prestasi sebagai lurah terbaik se-Indonesia.

Lambat laun berkembang dan menyediakan fasilitas outbound. Saat itu dibantu oleh Sholahudin untuk urusan kasir dan masih mencatat secara manual menggunakan kertas nota yang kemudian di-input oleh bagian keuangan. Kalau sekarang sudah berbeda, bagian kasir sudah lebih canggih karena pakai aplikasi dan punya tablet sendiri.

Tak selamanya pandemi membuat terpuruk, namun memang benar jika kondisi tersebut rasanya membuat semuanya terasa abu-abu. Melihat keadaan yang memprihatinkan itu, Kalurahan Panggungharjo berinovasi menciptakan platform marketplace bernama Pasardesa.id.

Tujuan Pasardesa.id menghubungkan warga yang terdampak ekonomi, seperti usaha-usaha kecil, warga yang tidak berpenghasilan tetap, dan terbatas dengan warga yang tidak terkena terdampak.

Lahir karena kondisi pandemi, yang awalnya hanya sebagai platform mitigasi, setelah itu berkembang cukup pesat dan berhasil menggaet lima desa untuk bergabung.

Sistem yang dijalankan, antara dulu dan sekarang berbeda. Dulu hanya dipakai untuk pencarian Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD), namun sekarang, aplikasi ini diarahkan menjadi sosial e-commerce agar para penggerak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari desa dapat memasarkan produknya dengan lebih luas.

Pasardesa.id fokusnya kepada pemberdayaan BUMDES. Setiap BUMDES pasti memiliki macam-macam produk, seperti rajungan, batik, olahan makanan oleh-oleh, hingga hasil panen. Kehadiran platform ini juga bertujuan memberikan wadah bagi produk unggulan desa untuk mengenalkannya ke penjuru negeri.

Sebuah usaha pasti mengalami pasang surut, tak terkecuali Pasardesa.id. Usaha yang masih seumur jagung ini tak jarang menemui kendala-kendala selama beroperasi.

Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan sumber daya manusia. Pasardesa.id masih terbatas dalam menjalankan model bisnis yang ditetapkan sehingga beberapa fungsi di lembaga ini belum berjalan dengan maksimal.

Selain itu, hambatan juga datang dari pihak BUMDES. Hal itu terjadi karena kapasitas setiap BUMDES berbeda-beda, baik dari sisi lembaga, kapasitas sumber daya manusia, dan jenis usaha yang tidak semua cocok dijalankan, seperti makanan dan simpan pinjam. Sebenarnya bisa diarahkan untuk menggali potensi lain di desa mereka, namun belum tentu akan setuju.

Sebelum Kampoeng Mataraman dan Pasardesa.id muncul, sudah ada Kelompok Usaha Pengelola Sampah (KUPAS). Unit usaha ini menjadi yang pertama kali dilahirkan oleh BUMDES Panggung Lestari.

Sampah-sampah yang ada di Kalurahan Panggungharjo dikelola oleh KUPAS. Kalurahan Panggungharjo memiliki prosedur sendiri dalam mengelola sampah, yakni petugas akan mengambil sampah di tiap-tiap rumah warga.

Bagi warga yang mengambil paketan KUPAS 25 ribu per bulan maka penjemputan sampah dilakukan setiap dua hari sekali. Jika ingin dijemput setiap hari, warga harus memilih paketan KUPAS 50 ribu per bulan. Hal itu tidak berlaku untuk pelayanan sampah di pondok pesantren sebab harganya tergantung pada jumlah santri.

Sampah-sampah yang sudah dijemput itu, kemudian dibawa ke Rumah Pengelolaan Sampah (RPS) untuk dilakukan pemilahan. Proses pemilahan berguna untuk mengetahui kondisi sampah masih dapat didaur ulang atau akan berakhir di tempat pembakaran. Jika masih dapat didaur ulang maka akan dijual ke pengepul. Uniknya, setiap jenis sampah punya pengepul sendiri. Namun, untuk sampah yang dianggap tidak berharga lagi langsung diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.

Sampah yang tidak bisa di kelola mandiri akan dijemput oleh bank sampah setiap minggu ke-3. Pada akhir bulan, pengurus akan menimbangnya. Hasil penimbangan itu akan dibagi hasil dengan ibu-ibu. Berkat kerja sama dengan Pegadaian, bagi hasil tersebut berbentuk tabung, yang nantinya diakumulasi menjadi tabungan Emas Antam.

Walaupun dahulu banyak warga yang tidak setuju terhadap kehadiran bank sampah, tetapi seiring berjalannya waktu dengan menunjukkan bahwa hal itu berguna dan sangat membantu warga desa maka lama kelamaan warga desa setuju.

Meskipun KUPAS sudah berjalan selama delapan tahun, namun masih membutuhkan beberapa hal untuk melengkapi kekurangan yang dimilikinya. Bahan baku sampah rumah tangga, lahan pengolahan, kendaraan penjemputan sampah, sumber daya manusia, dan teknologi penunjang (mesin pemilah) masih menjadi sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

Tak hanya Pasardesa.id, KUPAS pun masih menghadapi banyak kendala, yakni sistem akuntansi masih sangat buruk, manajemen komplain, basis data yang valid, dan manajemen sumber daya manusia.

Setelah berkunjung ke KUPAS, pandangan saya terhadap sampah berubah. Sampah itu sebuah misteri, sampah itu tidak ada matinya. Sebelum orang mati pasti masih menghasilkan sampah. Sampah itu bukan hanya permasalahan di Indonesia, tetapi seluruh semesta.