Bentang Potensi Kalurahan Panggungharjo

Salah satu bendang sosial, budaya dan SDM adalah Kampoeng Mataraman. IYA MUNAWROH

Menurut saya, untuk mengetahui potensi yang dimiliki oleh Kalurahan Panggungharjo Kapanewon Sewon Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, diperlukan inventarisasi pemetaan bentangnya. Pemetaan bentang meliputi dua analisis bentang yakni bentang alam (landscape) dan bentang hidup (lifescape).

Bentang Alam (Landscape)

Bentang alam dapat dipetakan berdasarkan tiga aspek, yaitu aspek topografi, aspek biotik dan aspek non biotik. Aspek topografi meliputi letak wilayah, bentuk muka rupa bumi, luas wilayah dan batas-batas wilayah. Aspek biotik meliputi jumlah penduduk, keberagaman flora dan fauna. Sedangkan aspek non biotik meliputi kondisi tanah, kondisi perairan, dan kondisi iklim.

Kalurahan Panggungharjo berada di bawah wilayah Kecamatan Sewon Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis, Kalurahan Panggungharjo memiliki wilayah berbatasan (sebelah utara) dengan Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron Kota Yogyakarta. Sebelah selatan berbatasan dengan Kalurahan Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Bantul. Sebelah barat berbatasan dengan Kalurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Bantul dan Sebelah timur berbatasan dengan Kalurahan Bangunharjo, Kecamatan Sewon, Bantul.

Kalurahan Panggungharjo memiliki luas wilayah 560,9660 hektar, dengan ketinggian tanah dari permukaan laut 45 m. Di Kalurahan Panggungharjo Luas tanah sawah 278,47 Ha, tanah kering 396,37 Ha dan tanah yang digunakan untuk fasilitas umum 90,60 Ha. Dan sisanya untuk pemukiman, perumahan, pemakaman dan lain sebagainya. Aksesibilitas Kalurahan Panggungharjo menunjukkan bahwa jarak dari pusat kecamatan adalah 2 km, jarak dari ibu kota kabupaten adalah 8 km, jarak dari ibukota provinsi adalah 7 km, dan jarak dari ibu kota negara adalah 500 km.

Pembagian wilayah Kalurahan Panggungharjo dapat dilihat berdasarkan sifat atau karakteristiknya: Kawasan Pertanian (Kring Selatan), peruntukan lahan untuk kegiatan pertanian meliputi Padukuhan Garon, Cabeyan, Ngireng-ireng, Geneng, dan Jaranan. Kawasan ini merupakan penyangga produksi padi untuk Kalurahan Panggungharjo. Untuk Kawasan Pusat Pemerintahan (Kring Tengah) meliputi Pedukuhan Pelemsewu, Kweni, Sawit, Glondong dan Padukuhan Pandes.

Dan Kawasan Aglomerasi Perkotaan (Kring Utara).Yang sering disebut kring utara (sebelah utara ring road) telah berkembang menjadi aglomerasi perkotaan yang disebabkan alih fungsi tanah persawahan ke pemukiman cukup tinggi. Hal ini meliputi: Padukuhan Krapyak Wetan, Krapyak Kulon, Dongkelan dan Pedukuhan Glugo.

Berdasarkan data kependudukan tahun 2018 jumlah penduduk Kalurahan Panggungharjo sebanyak 28.141 jiwa, terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 14.140 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 14.001 jiwa.

Bentang Hidup (Lifescape)

Bentang Hidup dapat dipetakan melalui beberapa bentang, antara lain : sosial budaya, ekonomi, lingkungan, teknologi, pasar dan SDM. Pembentukan Kalurahan Panggungharjo diawali dengan penggabungan dari tiga kelurahan yakni kelurahan Cabeyan, kelurahan Prancak, dan kelurahan Krapyak. Kalurahan (sebutan untuk desa-desa di Provinsi DIY) ini dibentuk berdasarkan keputusan Dewan Pemerintah Daerah Yogyakarta Nomor 148/D.Pem.D/OP tertanggal 23 September 1947 yang dengan keputusan dewan pemerintah.

Dan pada waktu itu Hardjo Sumarto diangkat sebagai Lurah Kalurahan Panggungharjo yang pertama. Perkembangan Kalurahan Panggungharjo jika dilihat dari aspek kebudayaan dimulai dari abad ke 9-10 yang merupakan kawasan agraris, hal ini dibuktikan dengan adanya Situs Yoni Karanggede di Pedukuhan Ngireng-Ireng. Sehingga dari budaya agraris ini muncul budaya seperti : Gejog Lesung, Thek-thek/Kothek-an, Upacara Merti Dusun, Upacara Wiwitan, Tingkep Tandur, dan budaya-budaya lain yang sifatnya adalah merupakan penghormatan kepada alam yang telah menumbuhkan makanan sehingga bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan umat manusia.

Kemudian pada abad ke 16 di wilayah Krapyak Kulon dan Glugo yang saat ini menjadi nama padukuhan di Kalurahan Panggungharjo adalah merupakan kawasan wisata berburu (Pangeran Sedo Krapyak – 1613), dan pada Abad ke 17 kawasan ini merupakan sebagai tempat olahraga memanah kijang/menjangan dan sebagai tempat pertahanan (Sultan HB I – Panggung Krapyak 1760).

Budaya yang dibawa dari intervensi keberadaan Kraton Mataram sebagai pusat budaya sehingga menumbuhkan budaya adiluhung seperti : Panembromo, Karawitan, Mocopat, Wayang, Ketoprak, Kerajinan Tatah Sungging, Kerajinan Blangkon, Kerajinan Tenun Lurik, Batik, Industri Gamelan, Tari-tarian Klasik, dan lain-lain. Hingga saat ini, berbagai ruang (tempat dan alat) untuk melestarikan budaya terus dipenuhi, salah satunya pembangunan balai budaya yang pembangunannya baru dimulai April 2021.

Tidak hanya perkembangan dari budaya. Dari aspek keagamaan juga ikut berkembang. Pada tahun 1911 di wilayah Krapyak Kulon didirikan Pondok Pesantren Al Munawwir, sehingga kegiatan-kegiatan seperti : Sholawatan, Dibaan, Qosidah, Hadroh, Rodad, Marawis, dan juga budaya-budaya yang melekat pada kegiatan peribadatan seperti : Syuran (peringatan 1 Muharram), Muludan (peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW), Rejeban (peringatan Isra’ Mi’raj), Ruwahan/Nyadran (mengirim doa untuk leluhur menjelang Bulan Ramadhan), Selikuran (Nuzulul Qur’an), dan lain-lain terus dipertahankan.

Dari hal inilah bisa kita simpulkan yang menjadi faktor penyebab mayoritas penduduk beragama islam di Kalurahan Panggungharjo. Sekitar tahun 1900-1930 dengan adanya perkembangan budaya yang semakin tumbuh dan berkembang maka dengan hal itu pun kebutuhan bersosialisasi di masyarakat juga harus mengikuti. Sehingga berkembanglah bermacam-macam dolanan anak seperti : Egrang, Gobak Sodor, Benthik, Nekeran, Umbul, Ulur/layangan, Wilwo, dan lain-lain.

Bahkan di kampung Pandes berkembang sebuah komunitas “Kampung Dolanan” yang memproduksi permainan anak tempo doeloe, seperti : Othok-Othok, Kitiran, Angkrek, Keseran, Wayang Kertas, dan lain-lain. Perkembangan ini banyak memberikan keuntungan bagi masyarakat. Terutama dari aspek ekonomi, budaya khas kalurahan dan sosial masyarakat. Karena dengan adanya ruang-ruang seperti ini maka adanya interaksi masyarakat yang berdampak rasa kepedulian antara satu dengan yang lain.Pada Tahun 1980 di Kalurahan Panggungharjo menjadi wilayah sub-urban.

Sehingga mulai berkembang Budaya Modern Perkotaan dan banyak mempengaruhi generasi muda. Perkembangan ini membawa berbagai macam kesenian ala milenial seperti: kesenian Band, Drumband, Karnaval Takbiran, Tari-tarian Modern, Campur Sari, Outbound, Playstation/Game Rental, dan lain-lain, yang menjadi warna-warni dalam kehidupan bermasyarakat di Kalurahan Panggungharjo. Adanya berbagai kegiatan di kalurahan Panggungharjo menjadi arena tumbuhnya demokrasi yang mendorong nilai-nilai kemanusiaan tetap terpelihara.

Adanya ruang-ruang yang menjadi arena perkumpulan warga, dapat menjadi ruang pertukaran ide, gagasan, yang notabenenya untuk kemajuan dan perubahan. Kepemimpinan Kepala Desa sangat mempengaruhi arah pembangunan desa. Sampai saat ini, Kalurahan Panggungharjo telah melalui enam masa kepemimpinan oleh beberapa lurah, yaitu: Hardjo Sumarto, 1946-1948; Pawiro Sudarmo; R. Broto Asmoro; Siti Sremah Sri Jazuli, 1987-1989; H. Samidjo, 1992-2000, 2002-2012; dan Wahyudi Anggoro Hadi, S. Farm., Apt, 2012-2018, 2018 sampai sekarang.

Pemerintahan Kalurahan Panggungharjo terdiri dari Pemerintah Kalurahan dan Badan Permusyawaratan Desa/Kalurahan (BPD/Bamuskal). Pemerintah Kalurahan terdiri dari Lurah dan dibantu oleh Perangkat Kalurahan dengan total berjumlah 38 orang. Terdiri dari: Lurah, Carik, Urusan tata usaha dan umum (Kaur Tata Laksana), Urusan Tata Keuangan (Kaur Danarta), Urusan Tata Perencanaan (Kaur Pangripta), Seksi Keamanan (Jagabaya), Seksi Kemakmuran (Ulu-Ulu), Seksi Sosial (Kamituwa) dan Padukuhan (Dukuh). Di Kalurahan Panggungharjo memiliki 14 Padukuhan dan 119 RT. Sedangkan Badan Permusyawaratan Kalurahan (Bamuskal ) terdiri dari 8 orang dari perwakilan 14 Padukuhan dan 1 orang dari unsur perempuan.

Setiap desa tentu memiliki problem terkait kapasitas seorang perangkat. Apalagi ketika perangkat sudah sepuh dan dipaksa untuk mengikuti perkembangan zaman, seperti pengoperasian alat-alat elektronik, hal ini sangat sulit bagi perangkat. Agar setiap pekerjaan tidak terbengkalai, maka salah satu perangkat mengusulkan adanya staf yang direkrut oleh pemerintah kalurahan. Dengan kekuatan PADes yang mumpuni maka hal tersebut dapat dipenuhi oleh Kalurahan Panggungharjo dengan mengangkat staf honorer yang bertugas membantu para kaur dan kasi dalam menjalankan tugasnya.

Staf Kalurahan Panggungharjo terdiri dari 11 (sebelas) orang, masing-masing memiliki potensi dibidangnya. Dengan tingkat pendidikan Strata I berjumlah 9 (sembilan orang), Diploma 4 Orang, SLTA 19 (sembilan belas) orang, SLTP 5 (lima) orang dan SD 1 satu (orang). Dalam kurun waktu dibawah 2030 ada 15 (lima belas) orang yang akan memasuki masa pensiun. Jika peneliti analisis, pengangkatan 5 (lima) staf honorer yang membantu setiap kaur dan kasi merupakan langkah strategi dalam menciptakan regenerasi dalam pemerintahan Kalurahan Panggungharjo.

Kultur birokrasi yang baru dibentuk di masa kepemimpinan Wahyudi adalah mengedepankan sistem penggajian berbasis kinerja. Dalam artian perangkat yang berkinerja baik akan mendapatkan penghasilan yang baik dan begitu sebaliknya. Penerapan sistem penggajian berbasis kinerja, hal yang mendasar yang dilakukan adalah analisis jabatan, analisis beban kerja, penetapan kinerja, pengukuran kinerja dan pemberian tunjangan kinerja. Dengan analisis jabatan ini, maka dapat diketahui persyaratan minimum yang dipersyaratkan bagi seseorang yang menduduki suatu jabatan.

Contohnya: Di Kalurahan Panggungharjo, untuk menduduki posisi (jabatan) sebagai kepala dusun, secara ideal setidaknya lulusan diploma. Tujuannya adalah dilihat dari kompetensi. Dengan status pendidikan, setidaknya memahami proses perencanaan partisipatif, pengelolaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Dengan strategi ini, maka sejak tahun 2015, Pemerintah Kalurahan Panggungharjo menugas-belajarkan 7 (tujuh) orang perangkat kalurahan untuk kuliah di STPMD “APMD” Yogyakarta, (Wahyudi, 2018:66).

Lembaga Kemasyarakatan atau disebut dengan nama lain adalah lembaga yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan merupakan mitra pemerintah desa dalam pembangunan dan pemberdayaan. Lembaga Kemasyarakatan Desa/Kalurahan Panggungharjo dibentuk berdasarkan Peraturan Desa No. 9 Tahun 2013, (www.panggungharjo.desa.id). Lembaga Kemasyarkatan Desa/Kalurahan terdiri dari : LPMD (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa), TP PKK (Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), Karang Taruna Cahyaning Amerta, LPMD ( Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa) Kalurahan yang terdiri dari 14 Pokgiat LPMD (Kelompok Kegiatan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa) Padukuhan, RT (Rukun Tetangga).

Lembaga Desa di Kalurahan Panggungharjo dibentuk dengan tujuan untuk mengampu Sebagian besar pelayanan atas barang dan jasa kepada masyarakat. (www.panggungharjo.desa.id). Lembaga-Lembaga Desa tersebut, antara lain : BUMDesa Panggung Lestari, Badan Pelaksana Jaring Pengaman Sosial (Bapel JPS), Pengelola Sistem Informasi Desa (PSID), Sanggar Anak Desa (SADEPA), Lembaga Budaya Bumi Panggung, Lembaga Mediasi Desa (LMD), Pagyuban Ketua RT (Pakarti) terdiri dari 119 Ketua RT, Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Manunggal.

Selain yang saya uraikan diatas, lembaga yang lain yang berkaitan dengan agama yang ada di Kalurahan Panggungharjo adalah Majelis Tasmi’ul Qur’an (Nahdlatul Ulama), Pengajian Suryo Condro (Muhammadiyah), Dewan Masjid Indonesia Panggungharjo (DMII Panggungharjo), Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia Panggungharjo (IPHI Panggungharjo) dan LDII.

Lembaga Penunjang Perekonomian Warga yang ada di Kalurahan Panggungharjo adalah Koperasi dan Lembaga Keuangan Mikro. Koperasi merupakan soko guru ekonomi kerakyatan yang sampai dengan tahun 2018 diharapkan sebagai tonggak penggerak perekonomian desa. Hal ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para anggota dalam upaya pemupukan modal baik untuk investasi biaya pendidikan, biaya kesehatan maupun keperluan lain. Di Kalurahan Panggungharjo terdapat 14 unit koperasi, antara lain: KPRI (Koperasi Pegawai Republik Indonesia); KOPKAR (Koperasi Karyawan); KOPONTREN (Koperasi Pondok Pesantren); KSU (Koperasi Serba Usaha); KOPINKRA; KPP KLB dan KOPWAN (Koperasi Wanita). 14 unit koperasi dan embrio-embrio koperasi banyak di kembangkan oleh RT, Ibu-Ibu PKK dan Dasawisma.

Sedangkan Lembaga Keuangan Mikro non koperasi di Kalurahan Panggungharjo terdapat UED-SP yang dikelola oleh pemerintah kalurahan, SPP yang dikelola oleh PKK Sewon, UPK yang dikelola oleh BKM, UP-FMA yang dikelola oleh Gapoktan. Dalam pengelolaan baik koperasi maupun lembaga keuangan mikro permasalahan yang sering muncul adalah adanya koperasi yang sudah tidak aktif, terbatasnya profesionalisme SDM yang berpengaruh pada perkembangan dan kemajuan koperasi, dan permodalan yang masih terbatas.

Setelah disahkannya UU Desa tahun 2014, yang berisikan asas rekognisi dan subsidiaritas, menjadikan desa memiliki 120 kewenangan. Semua kewenangan tersebut tidak mungkin dilaksanakan semuanya oleh Pemerintah Kalurahan Panggungharjo. Sehingga dengan adanya lembaga-lembaga yang telah dibentuk oleh Pemerintah Kalurahan Panggungharjo mampu menarik masyarakat desa untuk ikut berpartisipasi dalam menjalankan roda pemerintahan, (www.panggungharjo.desa.id).

Prestasi Kalurahan Panggungharjo

Sebelum Undang-Undang Desa lahir, Kalurahan Panggungharjo telah mendapatkan beberapa penghargaan, antara lain: (sebelum tahun 2013), Juara II Kabupaten, Lomba Kompetisi PERSIBA Divisi I Tahun 1992, Juara II Kabupaten, Lomba Desa Kamtibmas HUT Bhayangkara Ke-57 Polda DIY Tahun 2003, Juara I Kabupaten, Lomba Evaluasi Pembangunan Desa Kabupaten Bantul 2005, Juara I Kabupaten, Lomba Paduan Suara Se-Kabupaten Bantul KGPH Mangkubumi. Kemudian pada tahun 2013 sampai tahun 2021, Kalurahan Panggungharjo mendapatkan penghargaan baik dari level kabupaten, provinsi maupun nasional. Prestasi tersebut, antara lain: Juara I Kabupaten, Lomba UP2K PKK 2013, Juara I Kabupaten, Lomba Gugus Paud 2013, Juara I Kabupaten, Lomba Hatinya PKK 2013, Juara I Nasional, Lomba Keterpaduan Posyandu-Paud Dan Bina Keluarga Balita (BKB) 2013, Juara II Kabupaten, Lomba Desa Tingkat Kabupaten Bantul 2013, Juara I Kecamatan, Lomba Satuan Paud Sejenis (Sps) 2013, Proyek Percontohan Desa Ramah Anak Tahun 2013 Oleh BPPM DIY, Juara Harapan II Kabupaten, Lomba Pemberdayaan RT (RT 12 Sorowajan Glugo) 2013, Juara II Kabupaten, Lomba Masak PKK 2013, Juara I Nasional, Lomba Desa Tingkat Nasional 2014, Juara I Kabupaten, Perlombaan Petani Berprestasi 2014, Juara I Kabupaten, Lomba Desa Tingkat Kabupaten Bantul 2014, Lima Nominator Penerima Eagle Award Tahun 2014 Untuk Kampoeng Dolanan, Juara Ii Kabupaten, Lomba P2WKSS 2015, Juara III Provinsi, Lomba Hatinya PKK 2015, Juara 1 Provinsi, Lomba UP2K PKK Tingkat Provinsi DIY 2016, Pelaksana Terbaik, Monev 10 Program Pokok PKK Tingkat Kabupaten, Desa Terbaik Bidang Pendidikan Versi Kemendesa, Juara I Nasional, Lomba UP2K PKK Tingkat Nasional 2017, Juara II, Lomba Bina Keluarga Lansia 2017, Juara II Kabupaten, Lomba Desa Siaga Tingkat Kabupaten Bantul 2017, Juara I Provinsi, Lomba HKG PKK KKBPK Kes Tingkat Provinsi DIY 2017, Juara II Provinsi, Lomba Tertib Administrasi PKK Tingkat Provinsi DIY 2017, Juara III Provinsi, Lomba Paar Tingkat Provinsi DIY 2017, Juara V Provinsi, Hatinya PKK Tingkat Provinsi DIY 2017, Juara I Nasional, Lomba Unspoken Talent Night Festival Theater Inklusi 2017, Juara III Provinsi, Festival Upacara Adat Dinas Kebudayaan DIY Tahun 2017, Juara II, Lomba Dalam Rangka Dies Natalis Fakultas Kedokteran UGM 2017, Juara II, Lomba Kamtibmas Tingkat Polwil Yogyakarta 2017, Juara I Kabupaten, Lomba Gapoktan Berprestasi Tingkat Kabupaten, Juara I Provinsi, Lomba Gapoktan Berprestasi Tingkat Provinsi, Juara I Nasional, Lomba Gapoktan Berprestasi Tingkat Nasional, Desa Inspiratif Versi Kemendesa, Juara I Lomba Desa Pangan Aman Tingkat Nasional Tahun 2021.

Prestasi yang diperoleh Kalurahan Panggungharjo adalah sebagai buah dari kerja-kerja kesemestaan yang peruntukannya tidak hanya untuk yang berprestasi, bukan pula hanya untuk negara, tetapi untuk seluruh masyarakat Kalurahan Panggungharjo. Karya yang mengantarkan Kalurahan Panggungharjo mendapatkan banyak apresiasi. Sehingga, karya tidak hanya sekedar pajangan untuk dipublikasikan, namun ada nilai yang membangkitkan semangat mewujudkan mimpi. Karena karya adalah sebagai penghormatan atas hidup.

 

Referensi :

Website Kalurahan Panggungharjo (www.panggungharjo.desa.id)