Dampak Covid-19 terhadap Kekayaan Pasien

Pemakaman pasien Covid-19 menggunakan prokes. SATPOL PP KABUPATEN BANTUL

Covid-19 membuka semua tabir bagi orang yang memahami bahwa pandemi tidak sekadar problem medis dan tidak hanya mendekonstruksi seluruh tatanan tanpa teriakan revolusi. Tetapi, membuka pemahaman tentang diskriminasi dan eksklusi yang nyata dalam kesadaran sosial kita. Tentang kompleksnya Covid-19 berimpit dengan kemiskinan dan tentang kelas menengah yang ceroboh.

Bagaimana tidak, seperti cerita saya kemarin tentang satu keluarga yang terpapar Covid-19. Mereka menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah yang dapat dikatakan cukup berada di lingkungan kampung itu. Covid-19 memaksa semua penghuni harus isoman, tidak boleh berinteraksi dengan tetangga secara langsung atau saudara terdekat. Hanya diberi dispensasi khusus untuk mengoperasikan telepon pintarnya. Harta lainnya, seperti uang, mobil, dan sepeda motor tidak dapat membantu apa-apa. Rumahnya hanya diizinkan untuk menampung anggota keluarga lain yang sedang menjalani isoman.

Terlebih, ketika ada salah satu anggota keluarga yang saturasi oksigennya turun, dan perawatan menjadi satu-satunya ikhtiar untuk berjuang bertahan hidup. Namun, pihak rumah sakit (RS) telah memberlakukan peraturan, yakni pihak keluarga tidak diizinkan untuk menemani pasien Covid-19 yang sedang dirawat. Bahkan hingga ajal menjemput, tidak ada satupun keluarganya yang dapat menemani di RS.

Jenazah pasien Covid-19 dimandikan oleh pihak RS tanpa ada keluarga yang ikut memandikannya. Setelah dimandikan, jenazah tidak disemayamkan di rumah duka untuk sekedar transit, tetapi langsung diantar ke makam.

Di sana, tim kubur cepat dari Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) sudah menanti tugas pemakaman jenazah Covid-19 dengan protokol kesehatan (prokes). Sebelum diserahkan ke tim kubur cepat, beberapa orang, termasuk pihak keluarga menyalatkan jenazah dari luar mobil ambulans yang dipimpin oleh Mbah Kaum.

Kemudian, jenazah diserahkan kepada tim kubur cepat untuk segera dikuburkan secara prokes. Tahapan selanjutnya, dilanjutkan oleh tetangga yang bertugas untuk menuntaskan penguburan. Setelah itu, Mbah Kaum memimpin doa untuk jenazah Covid-19. Selepas Mbah Kaum dan para tetangga semua pulang, barulah pihak keluarga diizinkan untuk mendoakan jenazah.

Bagaimana dengan suami, anak, menantu, dan cucu-cucunya yang masih menjalani isolasi mandiri? Tentu saja tidak dapat berbuat apa-apa, hanya dapat melihat melalui video call dari rumah terkait pemakaman jenazah Covid-19 ala prokes. Kemudian acara dilanjut dengan kenduri sur tanah, yakni membuat pekuburan yang dilaksanakan oleh pihak keluarga setelah pemakaman, dan tahlilan sampai tiga hari yang bertempat di rumah tetangga yang tidak terpapar Covid-19.

Lalu, apa yang dapat dilakukan oleh pihak keluarga yang sedang menjalani isoman? Menangis. Iya, menangis adalah ungkapan luapan perasaan yang dapat dilakukan saat itu. Sembari meminta tolong kepada para tetangga, saudara, dan handai tolan untuk membaca tahlil dan mendoakan almarhumah selama tiga hari.

Inilah pelajaran hidup yang luar biasa bagi semua orang terkait dengan Covid-19, yang menata ulang semua hal yang dimiliki manusia, seperti harta benda, tahta, dan keluarga. Keluarga dan kerabat yang dimiliki pun tidak dapat membantu apa-apa, bahkan tidak dapat menemani, membantu atau menolong, hingga memberi penghormatan terakhir kepada seseorang yang dicintainya. Rumah yang megah, uang yang berlimpah di bank, mobil dan sepeda motor di garasi, suami, anak, dan cucu tidak dapat membantunya.

Hanya amal salihah semasa hidup di dunia ini yang dapat menolongnya kelak di alam barzakh dan yaumulkiyamah. Juga para tetangga dan saudara terdekatnya yang dapat membantu seluruh rangkaian acara rukti (merawat) jenazah Covid-19 dan mendoakan selama tiga hari.

Covid-19 semakin mempertegas keterangan dari sebuah hadis bahwa ketika anak cucu adam meninggal dunia, telah putus semua amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.