Dari Bak Sampah Menjadi Bank Sampah

Pemilahan Sampah Kalurahan Panggungharjo. KAPANEWON SEWON

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses konsumsi atau sesuatu yang dibuang dari sisa kegiatan manusia. Sampah didefinisikan oleh manusia berdasarkan derajat keterpakaiannya. Dalam proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung.

Sampah sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia dan organisme lain. Dampak positif dari sampah, yaitu sampah bisa diolah untuk menjadi pupuk yang jumlahnya sangat besar di dalam ekosistem, sampah juga dapat dijadikan sebagai biogas, dan satu lagi yang paling menguntungkan, sampah bisa dijadikan sebagai alat dalam membuka lapangan usaha. Jika kapasitas sampah yang dihasilkan banyak maka bisa membuka peluang ekonomi bagi banyak orang dan tentu ini bisa ikut mengentaskan tingkat pengangguran yang tinggi.

Selain dampak positif, ada juga dampak negatif. Jika sampah tidak dikelola dengan benar, sampah akan menjadi masalah. Sampah organik yang dibiarkan menumpuk maka bisa membusuk dan bisa mengeluarkan bau yang mengganggu. Meski begitu, seiring dengan berjalannya waktu, sampah organik akan terurai dan menjadikan tanah tempat timbunan sampah tersebut subur. Tapi, jika itu sampah anorganik maka sampah tersebut hanya akan membusuk dan tidak bisa terurai sehingga menyebabkan masalah pada tatanan hidup manusia maupun organisme lainnya.

Semua orang pasti tahu sampah itu apa? Manfaatnya apa? Sampah, ya, sampah. Mau bagaimanapun, ya, tetap sampah. Tapi, di balik itu, justru ada potensi yang dimiliki sampah yang tidak banyak orang yang mau menggalinya. Siapa, sih, yang membutuhkan sampah? Jika semua manusia memiliki sudut pandang yang sama, menganggap sampah itu tidak memiliki manfaat dari segi apa pun, tentu sampah tidak akan berguna sampai kapan pun.

Dengan sudut pandang yang beda maka sampah bukan lagi barang tidak berguna. Jika berada di tangan orang-orang yang memiliki gagasan tentang penyelesaian sampa, bisa memiliki nilai ekonomi.

Seperti yang pernah saya tulis pada artikel sebelumnya, sampah bisa menjadi berkah jika orang-orang di sekitarnya bisa melihat potensi yang dimiliki sampah. Salah satu usaha pemanfaatan sampah adalah dengan bank sampah. Bank sampah adalah tempat yang untuk mengumpulkan sampah terpilah. Hasil dari pengumpulan sampah terpilah tersebut disetorkan ke tempat pembuatan kerajinan dari barang bekas atau ke tempat pengepul sampah.

Regulasinya sendiri tertuang dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) RI Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank Sampah. Seperti yang dituliskan dalam Pasal 1 Nomor 2 peraturan tersebut, bank sampah merupakan tempat pemilahan dan pengumpulan sampah. Tidak sekedar dipilah dan dihimpun, sampah tersebut kemudian didaur ulang (recycle) sehingga mempunyai nilai ekonomis. Meski memiliki embel-embel bank, bank sampah memiliki struktur koperasi atau yayasan.

Bambang Suwerda adalah salah satu orang dengan ide untuk memanfaatkan potensi sampah. Pada tahun 2008, Bambang mencetuskan konsep bank sampah dan diterapkan di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Ide tersebut, awalnya ditolak warga karena ‘sampah’ itu sendiri. Warga masih beranggapan bahwa sampah tidak bernilai. Tapi, berkat kegigihannya, warga mulai mengerti dengan konsep bank sampah, sehingga sampai saat ini bank sampah diminati banyak orang karena bisa menghasilkan uang.

Mekanisme kerja bank sampah adalah nasabah harus memilah terlebih dahulu sampah-sampahnya sebelum ‘ditabung’. Kategori pemilahannya adalah sampah organik dan sampah anorganik. Sampah yang bisa ditabung adalah sampah anorganik. Selanjutnya, sampah ditimbang dan dikonversi menjadi saldo tabungan.

Nantinya, sampah-sampah yang terkumpul di bank sampah akan dijual ke pengepul. Uang hasil penjualan tersebut masuk ke rekening para nasabah. Seperti bank pada umumnya, bank sampah juga memiliki buku tabungan untuk para nasabahnya. Ada juga bank sampah yang mengubah limbah anorganik menjadi kerajinan tangan dengan berbagai kreasi, contohnya tas, dompet, jas hujan, payung, dan lain-lain.

Hingga saat ini, konsep dari Bambang Suwerda telah banyak diterapkan hampir di seluruh penjuru Indonesia, salah satunya yang sudah diterapkan di Kalurahan Panggungharjo. Namanya juga bank sampah, tentu yang ditabung bukan uang, melainkan sampah. Tapi, tetap saja yang dihasilkan adalah uang.

Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, berinovasi dalam penerapan konsep bank sampah. Jika kebanyakan bank sampah mengkonversi sampah ke bentuk uang, bank sampah Kalurahan Panggungharjo mengkonversi sampahnya menjadi emas.

KUPAS, salah satu lembaga yang berada di bawah naungan BUMDes Panggungharjo, bekerja sama dengan Pegadaian yang mempunyai produk tabungan emas. Uang hasil penjualan tabungan sampah yang dikumpulkan warga, dikonversi ke dalam rekening tabungan emas. Jadi, selain bisa menjadi solusi bagi bersihnya lingkungan, bank sampah juga bisa menjadi alat menyejahterakan masyarakat.

Pengelolaan sampah melalui bank sampah di Kalurahan Panggungharjo, sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2013. Pengelolaan sampah di Kalurahan Panggungharjo berawal dari tahun 2013 dan didukung oleh adanya Peraturan Desa (Perdes) Nomor 7 Tahun 2016 yang mengatur pedoman pengelolaan sampah. Namun, inovasi menabung sampah yang dikonversi menjadi emas baru digagas pada awal tahun 2019. Batas minimum setoran sampah yang ada di Panggungharjo adalah 0,01 gram. Jika harga emas berada di angka 600.000 rupiah per gram maka setoran sampah dari masyarakat berada di nominal 6.000 rupiah.

Ketika warga menyetorkan sampah senilai 6.000 rupiah maka akan langsung masuk dalam rekening tabungan emas. Tabungan itu akan menjadi simpanan warga (nasabah) sehingga secara tidak langsung, upaya mengentas kemiskinan di desa pun bisa terlaksana dengan adanya kerja sama antara warga dan pemerintah desa dalam mengelola sampah.

Jika dalam bank sampah yang hasilnya berupa uang, nasabah bisa mengambil uangnya saat membutuhkan uang, berbeda dengan bank sampah yang ada di Panggungharjo. Nasabah tidak bisa mencairkan tabungan dalam waktu satu tahun atau dua tahun karena tabungan emas ini bersifat akumulasi dan berjangka. Nasabah bisa meminjam uang terlebih dahulu ke bank sampah, jika memerlukan uang dan bisa dicicil dalam rentang waktu selama 12 tahun sampai 15 tahun.

Mekanisme dari bank sampah Kalurahan Panggungharjo, yaitu setiap warga yang menjadi nasabah bank sampah akan melakukan pemilahan sampah. Sampah pilahan berupa sampah rosok dibawa ke bank sampah lalu ditimbang. Hasil dari timbangan dicatat di buku tabungan oleh KUPAS. Kemudian, sampah disalurkan ke pengrajin atau empat daur ulang sampah (recycle).

Dengan melakukan ini secara tidak langsung, warga telah berusaha mengelola sampah dan ikut mengembangkan ekonomi desa. Menjadikan desa nyaman dan sehat. Sesuai dengan tujuan yang tertulis dalam UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya.

Keuntungan yang didapatkan dengan adanya bank sampah yaitu lingkungan bersih dan sehat karena setiap masyarakat yang menjadi nasabah bank sampah akan mengelola sampahnya sendiri. Tidak ada lagi istilah pembuangan sampah karena sampah sudah dikelola dan memiliki nilai guna. Bukannya dibuang, sampah malah dihimpun untuk dijadikan sumber penhasilan. Dengan begitu bisa membantu ekonomi keluarga.