Dari Markas Gerilya untuk Mendukung Kembalinya Republik Indonesia

Djoewariyah Mantan Anggota PMI. LUKI FIDIANTORO

Studi tentang peranan sejarah desa akhir-akhir ini berhasil menarik banyak orang. Ketertarikan akan peranan desa dalam peristiwa perjalanan sejarah bangsa, barangkali karena kerinduan identitas warga desa tentang sejarah masa lalunya.

Faktor lain yang membangkitkan minat masyarakat adalah kejenuhan terhadap buku-buku sejarah, yang terlalu banyak memaparkan tokoh-tokoh besar saja, sehingga penulisan sejarah lokal yang terjadi di desa mampu menjadi alternatif untuk menarik atensi banyak orang.

Pedesaan, di berbagai segi kehidupannya, belum mendapat tempat dalam penulisan sejarah Indonesia. Menurut perspektif Sartono Kartodirdjo, dalam sistem politik modern, partisipasi politik petani secara langsung atau melalui perangkat struktur pedesaan yang tradisional adalah basis dukungan yang kokoh.

Menurut Koentjaraningrat, pada hakikatnya, sebagian besar revolusi Indonesia terjadi atau berlangsung di pedesaan. Namun, untuk mempermudah dalam membaca desa dan revolusi, alangkah baiknya jika mengetahui dahulu tentang entitas yang bernama desa.

Seorang Sarjana Indologi dari Belanda J.H. Boeke, mendefinisikan bahwa desa adalah kehidupan masyarakat beragama yang terdiri atas petani. Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Selo Soemardjan. Ia menyimpulkan, desa merupakan suatu gugusan teritorial yang terdiri atas beberapa dukuh, diperintah oleh seorang kepala desa atau lurah, dan dipilih langsung oleh rakyat.

Bersamaan dengan jatuhnya Yogyakarta pada 19 Desember 1948, suasana revolusi mulai mewarnai kehidupan rakyat di pedesaan. Sejak saat itu, pedesaan menjadi wilayah pertahanan dan pengungsian. Mereka yang datang ke desa adalah para pejuang dari macam-macam kesatuan, laskar rakyat, dan penduduk dari kota. Pada akhirnya, penduduk di desa memiliki aktivitas tambahan, yakni melakukan penjagaan, spionase, dan mencukupi kebutuhan logistik bagi para pejuang.

Ada salah satu buku yang menarik yang terbit pada tahun 1992 terkait peran pedesaan dalam revolusi di Yogyakarta. Judulnya, ‘Peranan Desa dalam Perjuangan Kemerdekaan : Studi Kasus Keterlibatan Beberapa Desa di Daerah Istimewa Yogyakarta’ yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Melalui buku ini, kita bisa melihat desa dan warganya menjadi bagian yang mendukung perjuangan kemerdekaan.

Web di Kalurahan Panggungharjo menampilkan informasi tentang sejarah desa. Informasi yang tertulis mengatakan bahwa Kalurahan Panggungharjo awalnya terdiri dari dari tiga desa, yaitu Kalurahan Cabeyan, Prancak, dan Krapyak sejak tahun 1946.

Proses penggabungan ini dikenal dengan istilah ‘blengketan’. Tujuannya, agar otonomi pemerintahan desa dapat dijalankan dengan biaya dari kas desa itu sendiri, sehingga tidak terlalu memberatkan pemerintah daerah.

Penggabungan desa-desa ini, kemungkinan juga karena perpindahan ibukota Republik Indonesia, dari Jakarta ke Yogyakarta. Sejak 4 Januari 1946, Yogyakarta menjadi ibukota, sehingga sasaran penyerangan Belanda cepat atau lambat juga akan mengarah ke Yogyakarta.

Pada tanggal 19 Desember 1948, Agresi Militer Belanda II membuat Yogyakarta jatuh. Pasukan militer Indonesia kemudian menyingkir ke desa-desa.

Sawit sebagai Markas Tentara Pelajar Wilayah Selatan

Untuk menyalurkan semangat perjuangan, maka Markas Besar Komando Djawa (MBKD) mengeluarkan instruksi mengenai pasukan Gerilya Desa, yang kemudian disingkat Pager Desa. Instruksi mengenai Pager Desa tersebut dikeluarkan pada tanggal 25 Januari 1949, dengan nomor 11/MBKD/1949.

Pada masa itu, Pager Desa cepat sekali berkembang dan sangat penting peranannya. Ketika perang telah usai pun perannya sangat berarti dalam menjaga keamanan.

Korban dari warga desa jumlahnya melebihi TNI. Saat berlangsungnya revolusi fisik, Pager Desa mewujudkan perlawanan rakyat yang murni. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya menjadi anggota tentara biasa atau menjadi pamong desa. Hal ini membuktikan bahwa Pager Desa itu punya banyak tenaga pemuda. Kala revolusi pecah, terbentuk pimpinan desa yang kuat dalam persatuan lurah, pamong desa, dan Pager Desa.

Apa yang terjadi kepada Kalurahan Panggungharjo, setelah terjadi Agresi Militer Belanda II yang berhasil menawan Soekarno-Hatta? Pertanyaan ini tentunya menarik untuk dibahas. Sebab, peristiwa tersebut memicu para tentara bergerilya di desa-desa, sehingga sangat mungkin jika di sekitar Panggungharjo terdapat markas gerilya. Tidak mustahil, apabila perang berpindah ke desa-desa yang ada di Yogyakarta, termasuk di sekitar Panggungharjo.

Kita bisa membaca tulisan Sewan Susanto, yang berjudul ‘Perjuangan Tentara Pelajar dalam Perang Kemerdekaan Indonesia’ untuk mengetahui tentang markas gerilya di sekitar Panggungharjo. Melalui tulisannya, kita memperoleh data bahwa Padukuhan Sawit dijadikan Markas Tentara Pelajar yang dipimpin oleh Arif Suratno. Selain itu, Padukuhan Sawit juga dijadikan Markas Detasemen III yang dikomando Martono.

Untuk mencukupi logistik perang, seperti obat-obatan, pasukan Arif Suratno sering pergi ke rumah Mangkubumen di Ngasem yang merupakan jaringan logistik Tentara Pelajar. Tidak hanya logistik, rumah ini juga menyediakan bantuan dari masyarakat di Yogyakarta dan obat-obatan.

Tentara Pelajar yang bermarkas di Sawit sering melakukan serangan terhadap pasukan Belanda, khususnya tangsi serdadu Belanda yang berada di Ngupasan. Namun, kaki Arif Suratno pernah terluka karena terkena tembakan pada pertempuran dengan Belanda di daerah Minggiran. Peristiwa ini terjadi pada 15 Januari 1949 sepulang dari penyerangan bergerilya di Yogyakarta.

Kemudian, Sawit menjadi sasaran serangan pasukan Belanda karena dijadikan Markas Tentara Pelajar dan Detasemen III. Pada 19 Januari 1949, dua pesawat jenis capung, terbang untuk mengintai markas gerilya.

Pada tanggal 20 Januari 1949, terjadi penyerangan di Padukuhan Sawit. Tiga pesawat mustang cocor merah membombardir wilayah itu, sehingga pasukan Martono dan Tentara Pelajar berpindah markas.

Warga Sawit sebisa mungkin menghindar dan melakukan serangan balasan dengan peralatan seadanya. Namun, karena kalah dalam persenjataan, akhirnya Sawit berhasil digempur. Setelah keberadaan markas di Sawit terbongkar, pasukan Arif Suratno berpindah ke Mrisi dan membentuk pasukan Tentara Pelajar yang ada di Sleman.

Dampak dari penyerangan ini, banyak warga Sawit yang gugur. Pasukan Tentara Pelajar yang meninggal kemudian dimakamkan di Sawit, nisannya diberi bendera merah putih sebagai penanda.

Pelemsewu, dari Pos Palang Merah Indonesia hingga Markas Kompi

Salah satu wilayah yang penting di Panggungharjo dalam gerilya adalah Pelemsewu. Data ini diperoleh penulis ketika wawancara dengan Djoewariyah yang merupakan anggota Palang Merah Indonesia (PMI), ketika revolusi berlangsung.

Jatuhnya Yogyakarta membuat warganya mengungsi ke desa-desa di pinggiran kota. Orang berbondong-bondong keluar dari kota sejak 19 Desember 1948. Panggungharjo yang berada di pinggiran Yogyakarta, akhirnya menjadi salah satu tujuan pengungsian, termasuk Djoewariyah.

Ia dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 25 Desember 1933. Berdasarkan hasil wawancara, kita bisa mengetahui bahwa ada pos PMI dan markas militer di sekitar Panggungharjo.

Awalnya, Djoewariyah ikut mengungsi, namun melihat banyak orang yang terluka dalam rombongannya, timbul keinginan di benaknya untuk membantu para korban Agresi Militer Belanda II. Ia kemudian memutuskan untuk menjadi anggota PMI.

Pertama kali menjadi anggota PMI, Djoewariyah ditugaskan di sekitar gedung Krapyak (sekarang Panggung Krapyak). Ia melakukan pertolongan disana selama 5 sampai 7 hari. Namun, ia didatangi pasukan yang dipimpin Komarudin dari kesatuan Batalion II Kompi III seksi 2. Menurut keterangan Djoewariyah, markas pasukan ini berada di Pelemsewu.

Kelompok Djoewariyah diminta pindah ke Pelemsewu untuk merawat pasukan Komarudin, sekaligus untuk keamanan PMI sendiri. Peran barunya setelah bergabung dengan kompi Komarudin adalah menjaga kesehatan TNI, dan menjadi kurir agar selalu terhubung dengan pasukan dalam kota. Selain itu, ia juga bertugas melakukan spionase keberadaan pasukan Belanda.

Pasukan Komarudin terkenal keberaniannya dalam menggempur lawannya, namun tidak jarang pasukan ini terluka, sehingga keberadaan pos PMI ini sangat menunjang kesehatan mereka.

Sayang sekali penulis tidak bisa mengetahui letak pasti dari pos PMI, termasuk markas kompi Komarudin, karena faktor ingatan Djoewariyah yang perlahan memudar. Namun, ada keterangan yang jelas bahwa Pelemsewu pernah digunakan sebagai markas mereka.

Warga Pelemsewu menyambutnya dengan penuh hangat, karena digunakan sebagai markas tentara. Hal ini terbukti dari cerita Djoewariyah bahwa mereka selalu mendapatkan ‘nuk’ dari warga, termasuk pasukan Komarudin. ‘Nuk’ merupakan iuran sukarela dari warga.

Menurut Djoewariyah, kompi Komarudin sering melakukan pencegatan mobilisasi pasukan Belanda seperti di Druwo. Hasilnya, pasukan Belanda sering mengalami hambatan di sekitar Kalurahan Panggungharjo, ketika akan menyerang daerah selatan. Melihat hal ini bisa disimpulkan, ada kerjasama antara warga Pelemsewu dan Kompi Komarudin.

Jika tidak ada hubungan yang baik, mungkin warga akan menolak kehadiran mereka karena berpotensi membahayakan nyawa warga Pelemsewu sendiri. Pada akhirnya, tentara Indonesia berhasil melakukan Serangan Umum 1 Maret, karena ada bantuan dari warga desa di sekitar Yogyakarta.

Sebagai penutup, penulis akan mengutip pendapat dari sejarawan, Anthony Reid. Ia menulis bahwa dalam masa revolusi, pasukan Belanda mengetahui keunggulannya di bidang persenjataan, namun permasalahannya adalah para gerilyawan bisa menyerang mereka dari mana saja, karena pangkalan-pangkalan mereka ada di pedesaan. Ini merupakan contoh, tentara mendapatkan dukungan hangat dari para penduduk desa dengan cara memberi makanan dan pelayanan yang ramah.