Desa Inspirasi Bagi Negeri Ini

Kepala Badan Pengembangan dan Informasi Kementerian Desa RI mengunjungi Kalurahan Panggungharjo. MEDIA PANGGUNGHARJO

Pada semester tujuh, kampus Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) mengadakan Laboratorium Sosial (Labsos) dan setiap mahasiswa wajib mengikuti program tersebut.

Menurut UNU, Labsos dianggap lebih baik daripada sistem Kuliah Kerja Nyata (KKN). Melalui program ini, seorang Mahasiswa harus bisa memecahkan sebuah masalah yang ada pada desa tersebut.

Selain itu, hal yang menarik dari sistem Labsos adalah sebuah masalah tidak hanya ditinjau dari satu bidang ilmu, tetapi ditinjau dari beberapa bidang ilmu, seperti agribisnis, manajemen, akuntansi, dan sebagainya.

Dengan kolaborasi berbagai bidang keilmuan, harusnya suatu permasalahan dapat teratasi dengan baik dan solusinya pun beragam, sehingga jika ada permasalahan yang rumit dapat teratasi dengan mudah.

Labsos tahun 2021 diadakan di Kalurahan Panggungharjo. Desa ini mernjadi percontohan untuk desa-desa yang lain, bahkan namanya sudah cukup terkenal di ASEAN karena memiliki sumber daya manusia yang kreatif, produktif, dan inovatif.

Desa ini juga tertata dengan rapi, baik dari segi pemerintahannya maupun masyarakatnya. Hal itu dapat dilihat dari tertibnya sebuah peraturan yang ada dan disiplinnya para pegawai pemerintahan.

Kalurahan panggungharjo mulai berkembang pesat saat dipimpin oleh Wahyudi Anggoro Hadi. Ketika mencalonkan diri menjadi lurah, tidak ada yang namanya menyuap warga.

Jika melihat dari caranya mencalonkan diri menjadi lurah, saya menganggap bahwa ia ingin berjuang untuk kemajuan dan kesejahteraan Kalurahan Panggungharjo. Buktinya, setelah menjadi lurah, keadaan lebih tertata dengan baik daripada tahun-tahun sebelumnya.

“Mas, dulu desa ini, sebelum dipimpin oleh Pak Wahyudi ada yang korupsi, tetapi setelah Pak Wahyudi menjadi lurah, tidak ada yang korupsi sama sekali, bahkan tidak ada yang berani untuk korupsi,” tutur seorang warga Panggungharjo.

Ia pun melanjutkan, “Contohnya begini, Mas, kalau ada bantuan dari pemerintah, langsung dibelanjakan untuk membeli kebutuhan masyarakat atau langsung dibagikan kepada yang berhak. Pak Wahyudi pun mengawasi hal tersebut sampai benar-benar jatuh kepada tangan yang berhak.”

Kalurahan panggungharjo memiliki beberapa unit usaha dan lembaga di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Pertama, Kelompok Usaha Pengelola Sampah (KUPAS) yang berdiri sejak tahun 2013. Walaupun belum bisa menampung semua permasalahan sampah yang ada di Panggungharjo, setidaknya mampu menguranginya.

Jumlah masyarakat di Kalurahan Panggungharjo sekitar 21.000 orang, namun KUPAS baru menampung 1000 orang. Oleh karena itu, perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat tentang betapa pentingnya menjaga lingkungan hidup.

Sistem pengambilan sampahnya sangat unik. Setiap dua hari sekali karyawan KUPAS akan mengambil sampah. Hal itu membuat petugas sering dipanggil ojek sampah. Bedanya menggunakan roda tiga, kalau ojek yang sering dijumpai pakainya roda dua atau roda empat.

Menurut saya, sampah yang ada di KUPAS belum terpilah dengan benar, seperti plastik dan sayuran belum tersortir dengan benar sehingga masih campur aduk sampahnya.

Dari banyaknya sampah yang ada bisa dimanfaatkan dengan baik, misalnya sampah organik bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik dan budidaya maggot. Pupuk organik sendiri dibagi menjadi dua, yakni pupuk organik padat dan cair. Masing-masing dari mereka mempunyai keunggulan.

Jika digunakan, tanaman akan subur dan tanahnya pun tidak akan rusak karena pupuk organik tadi tidak mengandung unsur kimia yang berbahaya. Selain menjadi pupuk organik, sampah organik pun bisa dimanfaatkan untuk budidaya maggot sebagai pakan ternak.

Kedua, Pasardesa.id adalah platform digital yang berasa desa untuk mengatasi kebutuhan konsumsi warga. Berawal dari upaya mitigasi dampak ekonomi dari serangan Covid-19, Pasardesa.id menjadi solusi yang menghidupkan kembali proses jual beli di saat bencana. Berkat ini pula desa bertahan di saat kritis.

Adanya Pasardesa.id menjadi sebuah upaya dari Pemerintah Kalurahan Panggungharjo dalam menangani dampak persebaran Covid-19, terutama dalam aspek ekonomi.

Sejak diresmikan oleh Abdul Jalim Iskandar selaku Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT), berbagai kalangan mulai mencari informasi terkait Pasardesa.id.

Terdapat empat nilai yang menjadi konsep dasar Pasardesa.id, yaitu mitigasi, solidaritas, kolaborasi, dan ekonomi berbagi. Apabila di interpretasikan lebih detail, nilai mitigasi artinya peran platform ini tidak hanya sebagai langkah untuk melakukan stabilisasi pasar, tetapi juga bentuk upaya pencegahan meluasnya sebaran Covid-19.

Terkait nilai solidaritas, Pasardesa.id memberikan cashback 20 persen bagi yang berbelanja paket sembako untuk diberikan kepada warga desa yang membutuhkan.

Nilai kolaborasi memiliki makna bahwa stakeholder yang terlibat dalam penyediaan aneka barang kebutuhan, seperti sembako hingga kebutuhan ibu dan anak, terdiri dari berbagai kategori mitra.

Ketiga, Kalurahan Panggungharjo memanfaatkan tanah desa dengan cara membangun Kampoeng Mataraman. Tempat ini merupakan rumah makan dengan nuansa abad ke-19. Berdiri di lahan yang cukup luas, yakni sekitar enam hektare membuat tampilan tempat ini menyerupai kampung yang sesungguhnya.

Kampoeng Mataraman resmi hadir pada tanggal 29 juni 2017. Sebelumnya, pemanfaatan tanah desa hanya disewakan pada pihak ketiga sehingga manfaatnya hanya dirasakan oleh pemerintah desa melalui pendapatan asli desa.

Lalu, Pemerintah Kalurahan Panggungharjo dibantu oleh tim kreatif desa berinovasi, mengembangkan pusat kuliner dan wisata edukasi budaya agraris khas pedesaan zaman dulu.

Menu makanan yang disediakan atau ditawarkan oleh Kampoeng Mataraman, antara lain lodeh, oseng pare, tempe, tahu, lele goreng, dan aneka olahan ayam. Selain itu, minuman yang tersedia ada es teh, kopi, dan sebagainya.

Tak hanya makanan dan minuman saja yang banyak pilihannya, namun juga dapat memilih gula sesuai dengan selera kita, sebab Kampoeng Mataraman menyediakan gula pasir, gula jawa, gula aren, dan gula batu. Istimewanya, seluruh menu dimasak tanpa bahan kimia sehingga menghasilkan makanan yang sehat.

Begitulah gambaran sekilas tentang desa inspirasi yang mana bisa menjadi referensi bagi desa-desa lain. Sebenarnya masih banyak lagi kisah tentang Kalurahan Panggungharjo, tetapi saya hanya menulis sebagian besarnya. Saya sebagai penulis pun sangat tertarik dengan sistem yang berjalan. Barangkali akan menerapkannya di desa saya karena masih banyak kekurangan, terutama terkait pemberdayaan alam, pemberdayaan manusia, dan tatanan pemerintahan desa.