Di Atas Enam Hektare, Roda Ekonomi Panggungharjo Berputar

Kompleks Kampoeng Mataraman dengan Nuansa Pedesaan. IG/KAMPOENG MATARAMAN

Kalurahan Panggungharjo yang kini di bawah kepemimpinan Wahyudi Anggoro Hadi menjadi sorotan dunia luar karena program-program desanya yang banyak menarik perhatian masyarakat global.

Kantor kalurahan dan seluruh perangkatnya yang biasanya disambangi hanya untuk keperluan surat-menyurat dan meminta tanda tangan, namun di tangan Wahyudi tempat tersebut tidak sekadar tempat administratif.

Ia mengajak masyarakat menjadikan kantor kalurahan sebagai tempat yang lebih terbuka dan kini menjadi tempat orientasi pembangunan kawasan desa melalui berbagai unit lembaga desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Kondisi yang sudah tercipta ini diharapkan menjadi akselerator pemulihan roda ekonomi yang bersumber dari desa.

Melalui berbagai lembaga dan BUMDES, masyarakat diajak ikut serta dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi desa dengan cara berperan langsung dalam lembaga- lembaga desa tersebut.

Tolak ukur kesuksesannya dinilai dari dua hal, yaitu profit yang tinggi dan manfaat yang tinggi. Tingginya profit tanpa adanya manfaat yang tinggi (yang bisa dirasakan masyarakat desa), tidak bisa diartikan bahwa BUMDES tersebut sukses.

BUMDES di Panggungharjo lahir berdasarkan lima infrastruktur, yaitu infrastruktur politik, infrastruktur sosial, infrastruktur ekonomi, infrastruktur teknologi, dan infrastruktur pengetahuan.

Hal yang menarik adalah terdapat unit usaha BUMDES dengan konsep kuliner zaman dulu. Namanya Kampoeng Mataraman. Selain untuk menyantap makanan sembari menikmati suasana pedesaan yang asri, tempat ini juga bisa disewa sebagai tempat outbond, pernikahan, dan lain-lain. Tempat yang berdiri di atas tanah desa seluas enam hektar ini lahir pada tanggal 29 Juni 2017.

Konsepnya tergambar dengan sangat jelas dari arsitektur bangunannya yang berbentuk limasan. Ketika berada di sana, kita seolah-olah sedang dibawa ke masa lalu, karena nuansa tersebut membawa kesan klasik dan gapura pintu masuk yang terbuat dari bambu yang terkesan unik.

Tidak hanya itu, penataan tempat pada Kampoeng Mataraman juga memperhatikan kaidah serta filosofi Jawa. Seperti keberadaan tanah pangonan, tanah paguron, tanah sengkeran, titi soro, rumah demang, penataan lokasi masjid, detail letak dapur, dan sumurnya.

Kampoeng Mataraman ini juga sengaja di desain mirip dengan era kerajaan Mataram pada awal abad ke-19. Nuansa zaman dulu benar-benar dibuat totalitas dengan busana lurik yang dipakai oleh para staf dan karyawan.

Salah satu latar belakang dibangunnya Kampoeng Mataraman ini adalah sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah desa setelah Kalurahan Panggungharjo dinobatkan sebagai ‘desa budaya’. Selain itu, juga bertujuan memberikan referensi sejarah Kebudayaan Jawa kepada masyarakat.

Konsep Kampoeng Mataraman ini sebenarnya tempat makan yang terkesan sederhana, tetapi tidak jauh berbeda mutunya seperti restoran mewah pada umumnya.

Lahan seluas enam hektar itu tidak hanya menjadi tempat bagi Kampoeng Mataraman bernaung, namun di sisi selatan terdapat juga bangunan-bangunan berukuran kecil yang dijadikan rumah oleh Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) untuk menumpahkan segala ide dan cita-citanya.

Sanggar Inovasi desa ini awalnya diinisiasi pada tahun 2019. Kemudian, diluncurkan oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) pada tanggal 5 Januari 2020 di Yogyakarta, bersamaan dengan program pelatihan YSID yang diikuti 22 pemuda desa dari sepuluh provinsi di Indonesia. Namun, lembaga ini baru berbadan hukum pada tanggal 4 Juli 2020.

YSID merupakan inisiatif komunitas pegiat pembangunan desa di bawah binaan Kalurahan Panggungharjo. Tujuannya untuk menjawab permintaan berbagai pihak, baik lokal, nasional, hingga internasional yang selama ini telah melakukan aneka kunjungan dan studi banding di Kalurahan Panggungharjo.

YSID memiliki tiga pilar penopang kemandirian desa yang merupakan hasil ekstraksi dari pengalaman Kalurahan Panggungharjo yang menjadi desa terbaik di Indonesia. Tiga pilar tersebut, di antaranya politik, ekonomi, dan data.

Menurut kacamata YSID, pilar politik menjadikan desa sebagai arena demokrasi politik lokal sebagai wujud kedaulatan politik. Pilar ekonomi memilki makna menjadikan desa sebagai arena demokratisasi ekonomi lokal sebagai wujud kedaulatan ekonomi. Pilar terakhir, yaitu pilar data berarti pemberkuasaan melalui aktualisasi pengetahuan warga sebagai wujud kedaulatan data.

YSID ke depannya akan mengadakan program-program yang dapat diikuti khalayak umum sehingga misinya yang berkaitan dengan tiga pilar desa dapat terealisasikan.

Tujuan YSID berdiri adalah untuk mengonstruksi pengalaman Kalurahan Panggungharjo sejak tahun 2012 hingga kini. Hal itu dilakukan dengan cara mengemasnya dalam bentuk pengetahuan, sehingga bisa didayagunakan oleh pemerintah dan warga desa lain untuk mendorong kemandirian desa.

Kini Kalurahan Panggungharjo menjadi referensi bagi beberapa desa lain di Indonesia karena inovasi-inovasi yang diciptakan. Tercetusnya ide-ide yang cemerlang itu, diharapkan dapat ditiru oleh desa lain, seperti pengelolaan pemerintah desa, pengelolaan BUMDES yang dapat memberdayakan masyarakat, dan lain-lain.

Saat pandemi Covid-19 Pemerintah Desa membentuk gugus tugas level desa yang diberi nama Panggungharjo Tanggap Covid-19 (PTC-19). Berawal dari program tersebut, muncul platform digital yang menjadi mitigasi ekonomi bagi warga desa umumnya, terlebih lagi bagi warga yang terdampak. Selain itu, pentingnya eksistensi YSID adalah bisa menjadi laboratorium sosial yang mampu mendidik generasi muda menjadi seorang pemimpin.