Eksistensi Pemuda Penting dalam Pembangunan Desa

Pemanfaatan Potensi Desa. DISPMD BULELENG

Wahyudi Anggoro Hadi selaku Lurah Panggungharjo menganggap bahwa desa bukan hanya masa depan negara, tetapi masa depan dunia. Saya setuju dengan anggapan tersebut. Sebab, bagi saya hidup di desa lebih nyaman daripada hidup di kota.

Saya sudah mengalami kerasnya hidup di kota. Udarannya yang sejuk, membuat saya merasa nyaman. Menurut pengalaman saya, orang-orang desa sangat ramah. Berbeda dengan kehidupan di kota.

Tujuan merantau ke kota memang untuk mencari pengalaman, namun banyak hal yang yang membuat rasa nyaman menghilang, seperti udarannya penuh polusi dan sebagainya.

Realita masa kini, orang yang hidup di desa sering dipandang rendah oleh orang-orang kota, terutama pandangan mereka terhadap para pemuda desa. Mereka memandang bahwa pemuda yang hidup di desa tidak memiliki pekerjaan yang dapat mencukupi kebutuhan kehidupannya.

Desa dipandang sebagai tempat yang berisi kelompok petani, yang kehidupannya tidak sejahtera dan tidak bermartabat. Sedangkan kota merupakan masyarakat yang berada di pusat kebudayaan yang hidupnya cenderung megah, mewah, dan mengikuti zaman. Oleh karena itu, para pemuda di desa lebih memilih untuk merantau. Hal tersebut sudah terjadi di tempat tingal saya, yakni Desa Kalisat Kidul.

Problem ini pada akhirnya menjadi tugas pemerintah desa. Mereka berkewajiban mengedukasi atau menyosialisasikan kepada para pemuda desa tentang potensi desa.

Intervensi dari pihak pemerintah sangat diperlukan untuk membantu masyarakat agar berdaya. Pembangunan desa dalam konteks pemberdayaan masyarakat merupakan proses peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan ekonomi. Tujuan pemberdayaan masyarakat adalah untuk mengembangkan kemampuan, serta mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat.

Banyak sekali kemampuan masyarakat yang dapat dikembangkan, seperti kemampuan untuk berbisnis, kemampuan mencari informasi, kemampuan untuk mengelolan kegiatan, kemampuan dalam memanfaatkan lahan pertanian dan sebagainya.

Pola pikir dan perilaku yang berpotensi merugikan masyarakat atau menghambat kesejahteraan masyarakat perlu diperbaiki. Selain itu, ada hal lain yang dibutuhkan, yakni pengorganisasian masyarakat agar dapat mengelola kegiatan atau program yang dikembangkan. Jika solusi-solusi tersebut dilakukan dengan baik, maka masyarakat dapat membuat panitia kerja, melakukan pembagian tugas, dan saling mengawasi.

Banyak kemampuan yang dimiliki para pemuda desa, seperti beternak, bertani, berbisnis atau wirausaha, dan sebagainya. Kemampuan-kemampuan tersebut perlu digali lebih dalam agar lebih terarah.

Aspirasi yang saya sampaikan memiliki tujuan menyejahterakan masyarakat Desa Kalisat Kidul, dan mengubah cara pandang mereka agar tidak terus memandang rendah desa. Saya ingin menanamkan kepercayaan bahwa masyarakat desa itu mampu mencukupi kehidupan dan menopang masa depan yang cerah.

Cita-cita besar itu muncul ketika saya melihat Kalurahan Panggungharjo yang berhasil memberdayakan desa melalui tangan-tangan para pemuda. Keberhasilan itu tidak lepas dari keberadaan pemimpin yang mampu memberi dampak baik dan merubah pola pikir masyarakat. Hal itu membuat desa maju di sektor ekonomi.

Wahyudi mengungkapkan bahwa kunci sukses mengelola desa terletak pada kapasitas memanfaatkan sekecil apapun potensi yang dimiliki oleh desa. Selain itu, Kalurahan Panggungharjo pernah memegang gelar desa terbaik tingkat nasional pada tahun 2014. Desa ini pun pernah mendapat penghasilan bersih sebesar satu miliar lebih.

Desa saya memang belum sebagus Kalurahan Panggungharjo, namun itu tidak mengurangi rasa nyaman yang saya dapatkan ketika menetap di desa. Hidup di desa bukan berarti tidak bisa seperti orang-orang berdasi yang ada di kota. Mereka yang memandang rendah orang desa, barangkali tidak memiliki pengetahuan yang cukup bahwa desa juga memiliki orang-orang berpendidikan.

Alasan saya lebih memilih desa daripada kota karena ada beberapa faktor, salah satunya adalah Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki desa dan tidak dimiliki oleh kota, antara lain udara yang bersih dan pangan yang sehat.

Selain itu, nilai-nilai pranata sosial di desa dengan kota pun sangat jauh berbeda. Biaya hidup di desa yang relatif lebih murah daripada hidup di perkotaan, membuat saya tetap menjatuhkan pilihan saya kepada desa.

Ketika masyarakat desa lebih memilih pergi ke kota, lalu siapa yang akan membangun desa? Dengan potensi alamnnya, banyak desa yang mati suri dari aktivitas eknonomi. Padahal, saat sebuah masalah menimpa perkotaan, desa akan memberikan solusi.

Namun, banyak desa yang berlomba-lomba mengikuti modernisasi untuk menjadi kota. Tidak ada salahnya untuk memperluas pengetahuan tentang budaya, namun jangan sampai lupa dengan rumah aslinnya, yaitu desa. Kita harus tetap menjadi orang desa yang tidak menghilangkan adat desa.

Meskipun hidup di desa terasa nyaman dan tenang, tetapi hidup di desa juga ada kendalannya, seperti tidak lengkapnya fasilitas umum untuk hiburan para pemuda desa. Namun, menurut saya itu adalah hal yang menyenangkan. Saya menikmati itu semua. Sebagai contoh, pada saat kuliah online menggunakan Google Meet, Zoom, dan sebagainya, tiba tiba jaringan buruk. Itu adalah sesuatu yang menyebalkan, namun asyik.

Jaringan internet yang buruk di pedesaan juga ada hikmahnnya. Hal tersebut bisa untuk mengetes tingkat keseriusan kita dalam tholabul ‘ilmi. Apakah jaringan yang selalu buruk membuka kesempatan untuk tidak kuliah? Bagi saya, itu adalah alasan yang tidak masuk akal karena masih ada wifi yang bisa digunakan.