Hal Terpenting di Dunia Ini Adalah Kemanusiaan

Sterilisasi di Shelter Setelah Pengecekan Kondisi Pasien Covid-19. AHMAD ARIEF ROHMAN

Saya seorang pemuda desa berusia 24 tahun yang tinggal di Kalurahan Panggungharjo. Kini, saya tengah diberi kesempatan untuk belajar banyak hal dari desa ini. Kebetulan, saya mendapat amanah memegang peranan penting, yakni sebagai direktur BUMDes Panggung Lestari, yang merupakan salah satu dari sepuluh lembaga desa di Kalurahan Panggungharjo.

Pada pertengahan bulan Juni, saat gejolak gelombang kedua Covid-19 mulai terlihat, Kalurahan Panggungharjo bergerak cepat dalam menangani bencana kesehatan tersebut. Tanpa butuh waktu yang lama, Panggung Tanggap Covid-19 (PTC-19). Sebelumnya, saya ingin memberi penjelasan singkat, PTC-19 adalah gugus tugas yang dibentuk untuk merespon dampak yang ditimbulkan Covid-19.

Pertengahan Juni 2021, Pemerintah Kalurahan Panggungharjo bersama perwakilan dari lembaga-lembaga desa, melaksanakan rapat koordinasi untuk membahas langkah strategis yang harus dilakukan guna merespon lonjakan kasus gelombang kedua Covid-19.

Hasil rapat koordinasi tersebut memutuskan pendirian shelter desa untuk dijadikan tempat isolasi bagi warga desa yang tidak mungkin melakukan isolasi mandiri di rumah, karena ada anggota keluarga lain yang rentan tertular atau fasilitas di rumah sangat terbatas.

Ali Yahya selaku Jagabaya (sebutan seksi keamanan kalurahan di Daerah Istimewa Yogyakarta), mendapat tanggung jawab sebagai koordinator shelter. Berbagai persiapan pun dilakukan dengan seksama, mulai dari kebutuhan infrastruktur, administrasi, hingga sistem informasi yang akan digunakan untuk memantau kondisi pasien yang menginap di shelter selama isolasi.

Bangunan SMK Negeri 1 Sewon yang disulap menjadi tempat isolasi ini, tidak hanya dipakai oleh Kalurahan Panggungharjo, namun dalam pelaksanaannya berkolaborasi dengan tiga desa lainnya yang ada di Kapanewon Sewon.

Keterbatasan relawan saat pertama kali beroperasi, membuat shelter dijalankan oleh beberapa tim saja, yakni tim medis, tim non-medis, tim sekretariat, dan tim logistik. Namun, ada satu tim yang menurut saya unik. Kami menyebutnya Tim Garuda 1.

Tim ini berisi beberapa pengurus, yang hampir setiap hari ada di shelter, bahkan waktunya lebih banyak dihabiskan di shelter daripada di tempat kerjanya ataupun di rumah.

Tim Garuda 1 beranggotakan Kepala Dukuh Garon, Kepala Dukuh Jaranan, Bimo (Kamituwo Kalurahan Panggungharjo), Silvy (tim medis FPRB), Jamil (PSID), Koko (tim media), Dani (tim teknologi dan informasi), serta saya (tim logistik).

Grup WA menjadi sarana bagi Tim Garuda 1 agar komunikasi lebih efisien. Meskipun mereka cenderung menggunakannya sebagai tempat bersambat, namun sarana tersebut tetap sesuai dengan fungsinya, yakni untuk koordinasi. Tentu saja ada sambatan dari kawan-kawan relawan shelter. Sebab, pada awal pengelolaannya, baru sedikit sekali yang berpartisipasi, sehingga setiap orang bisa mengerjakan banyak pekerjaan.

Hak itu tak menyurutkan semangat Tim Garuda 1. Semangatnya terus menggelora sampai helter dinonaktifkan sementara, karena kasus Covid-19 sudah mulai menurun.

Perjuangan relawan begitu gigih, mereka tanpa lelah terus berusaha semaksimal mungkin untuk merawat pasien-pasien Covid-19, baik yang isolasi di shelter ataupun yang melakukan isolasi mandiri.

Ada cerita tentang saya yang pernah dibuat begitu semangat olehnya, yaitu pada 5 Juli, sekitar pukul 10 malam. Saya dan Kepala Dukuh Garon menjaga pos sekretariat, sembari menyaksikan tim medis yang tengah memantau pasien Covid-19 dengan gejala. Mereka sudah memakai Alat Pelindung Diri (APD) selama dua jam. Ketika hendak melepas pakaian yang membuat gerah sampai bercucuran keringat itu, tiba-tiba ada panggilan dari pasien isolasi mandiri.

Pasien tersebut merasakan sesak nafas dan membutuhkan asupan oksigen. Dengan sigap dan tanpa istirahat, tim medis yang belum sempat melepaskan APD, langsung meluncur ke rumah pasien, yakni di Kalurahan Bangunharjo.

Satu setengah jam kemudian, tim medis kembali dengan ekspresi lesu disertai wajah yang terlihat lelah. Saat itu, relawan medis hanya ada lima orang. Mereka terbagi ke dalam tiga sif, tugas pun dijalankan setiap hari tiada henti. Lima pejuang itu adalah Wahyudi (Lurah Panggungharjo), Laras (Dokter Puskesmas Sewon I), Bimo, Kepala Dukuh Jaranan, dan Silvy.

Cerita selanjutnya tak kalah membuat terenyuh dan meninggalkan kesan yang kuat di benak saya, yakni kala melihat keasyikan anak-anak penghuni shelter bermain dengan riangnya.

Saat itu, ada satu keluarga yang melakukan isolasi di shelter bersama anak-anaknya. Kesunyian malam itu mendadak pecah. Terdengar gelak dari anak-anak kecil yang sedang bermain dengan sederhana. Mereka gembira di tengah sulitnya keadaan yang mereka alami.

Barangkali, mereka memang belum memahami definisi ‘keadaan sulit’, atau definisi saya dengan mereka berbeda. Pemandangan yang indah itu justru menampar saya. Menyadarkan saya yang selalu mengeluh karena pasien Covid-19 terus meningkat. Saya hanya bisa menyapa mereka dari kejauhan dan seakan-akan ikut bermain dengan mereka.

Banyak kejadian yang saya saksikan, lebih tepatnya, kami saksikan. Hal itu membuat saya dan para relawan lainnya tidak kehilangan semangat untuk terus berjuang melawan keadaan ini. Namun, satu-persatu dari kami tumbang, setidaknya ada tiga pengurus shelter yang turut terinfeksi Covid-19.

Padahal kami sudah menerapkan protokol kesehatan dengan sangat ketat dan sebaik mungkin, tapi saya sadar bahwa inilah harga yang harus dibayar sebagai garda terdepan.

Pengelolaan shelter sempat terjadi perubahan yang cukup signifikan, akibat beberapa relawan yang tumbang. Kemudian, banyak orang yang mulai menyediakan waktu dan tenaganya untuk bergabung. Cerita baru siap diukir bersama orang-orang baru tentunya.

Pada 20 Juli 2021, setelah makan siang dengan tongseng hasil kurban, seluruh relawan shelter berkumpul untuk mengadakan rapat koordinasi lanjutan membahas perubahan struktur kepengurusan yang baru.

Saya masih berada di tim logistik yang dibantu beberapa relawan lainnya. Tim logistik bertanggung jawab atas ketersediaan makan pasien dan relawan, obat-obatan, oksigen, kebutuhan laundry, ketersediaan tempat tidur, APD, dan lain-lain. Tim logistik juga bertanggung jawab atas pengelolaan aset yang dimiliki, serta bantuan-bantuan yang diterima oleh shelter, baik berupa uang maupun barang.

Ada satu kejadian yang masih terbayang sampai sekarang, yaitu ada salah satu pasien yang membutuhkan pembalut wanita. Ketika permintaan tersebut datang, tim logistik yang berada di shelter hanya saya. Setelah diberitahu ukuran dan mereknya, saya pun berangkat ke toko kelontong terdekat.

Saya yang tidak memiliki pengetahuan tentang pembalut wanita sempat merasa bingung. Sebab, saya baru mengetahui bahwa ternyata ada dua variasi pembalut, yaitu pembalut wanita yang bersayap dan tidak bersayap. Dengan banyak pertimbangan, saya memilih yang bersayap. Analisis sok tahu saya mengatakan bahwa kegunaannya akan lebih banyak daripada yang tidak bersayap.

Sekalipun saya belum pernah melihat wujud kedua variasi pembalut wanita. Sesampai di shelter, analisis sok tahu dan tanpa dasar terbukti salah, dengan kata lain, saya harus kembali ke toko. Namun, toko yang didatangi berbeda, karena malu sama penjualnya.

Satu lagi cerita yang muncul di tim logistik. Saat itu, saya pulang dari shelter pukul 11 malam. Baru saja sampai, saya sudah mendapat pesan dari salah satu tim medis, mereka membutuhkan obat karena salah satu pasien mengeluhkan diare. Belum sempat rebahan, saya langsung berangkat untuk membeli obat di apotek terdekat. Namun, beberapa apotek terdekat sudah tutup dan harus mencari apotek lain yang masih buka. Untungnya saya bisa mendapatkan obat yang dimaksud.

Tim logistik ini terdiri dari empat orang, dua orang di antaranya berhenti di tengah-tengah kesibukan dan tidak dapat melanjutkan perjuangan karena terpapar Covid-19. Salah satu dari mereka ada yang melakukan isolasi di shelter, sehingga memudahkan relawan dalam memantau pasien-pasien yang bergejala sedang maupun berat.

Sebenarnya shelter tidak difungsikan untuk pasien Covid-19 yang bergejala berat karena keterbatasan tim medis dan alat yang dimiliki, namun karena beberapa rumah sakit rujukan Covid-19 sudah penuh dan tidak dapat menampung pasien lagi, pasien bergejala berat pun dirawat di shelter ini.

Kami tak pernah berhenti berkoordinasi dengan pihak Puskesmas Sewon I dan II untuk mendaftarkan pasien bergejala berat, yang melakukan isolasi di shelter agar dapat mendapatkan rujukan di rumah sakit.

Selain bertugas di tim logistik, beberapa kali saya turut membantu tim medis. Pernah ada dua tempat yang membutuhkan bantuan tim medis secara bersamaan, saya dan Bimo langsung meluncur ke lokasi di Pendowoharjo dengan membawa APD lengkap.

Keluarga pasien menghubungi petugas shelter untuk meminta pengecekan kondisi, karena pasien pingsan mendadak setelah menjalankan salat isya. Sesampai lokasi, kami mendapati badannya bersuhu sangat dingin dan tidak ditemukan detak jantung. Setelah berkonsultasi dengan dokter dan memastikan kematian pasien, kami menyampaikan kabar tersebut kepada keluarganya. Mereka sangat terpukul atas kematian pasien. Dengan sangat berat saya ikut berbelasungkawa dan mendoakan kepergian pasien.

Banyak pelajaran yang saya dapat dari pengalaman menjadi relawan di shelter, tetapi ada satu hal yang dapat saya simpulkan dari pengalaman luar biasa ini, yakni kemanusiaan. Cerita yang saya tulis hanya sedikit bagian dari perjuangan yang telah dilakukan oleh relawan-relawan tangguh. Atas dasar itu, saya tidak pernah menyesal bergabung dengan relawan PTC-19.