Hari Nusantara sebagai Perwujudan Deklarasi Djuanda

Dekalrasi Juanda. KEMENDIKBUD

Tanggal 13 Desember 2013 adalah puncak peringatan Hari Nusantara ke-14. Peringatan ini secara nasional diselenggarakan di Donggala dan Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Selain diselenggarakan secara nasional, tiap daerah juga merayakan peringatan Hari Nusantara.

Peringatan Hari Nusantara di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dimeriahkan dengan beberapa agenda, antara lain bersih pantai, pameran perikanan dengan rangkaian acara lomba masak ikan, lomba makan ikan anak tingkat SD, dan lomba mewarnai tingkat TK yang diselenggarakan di Taman Pintar Yogyakarta.

Ada juga sedekah laut dengan rangkain acara, antara lain lomba renang, lomba dayung, lomba menggambar, lomba mewarnai, pentas wayang kulit, dan kesenian pesisir diselenggarakan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng, Kabupaten Gunungkidul. Selain itu, juga diselenggarakan lomba Adibakti Mina Bahari, workshop, sarasehan, pentas ketoprak Mina Budaya, lomba karya tulis, lomba cerdas cermat, dan puncak acaranya menyelenggarakan upacara di Stadion Mandala Krida Yogyakarta.

Seperti diketahui, peringatan Hari Nusantara dicanangkan oleh Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid, pada tahun 1999. Dua tahun kemudian, Hari Nusantara disahkan oleh Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri, melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 126 Tahun 2001. Penetapan ini menjadi sebuah pengingat bagi seluruh warga negara Indonesia bahwa Indonesia adalah negara terbesar di dunia.

Peringatan Hari Nusantara berpatokan pada Deklarasi Djuanda yang terbit pada 13 Desember 1957. Deklarasi ini menyatakan kepada dunia bahwa satu, Indonesia menyatakan sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak tersendiri. Dua, sejak dahulu kala kepulauan nusantara ini sudah merupakan satu kesatuan. Tiga, ketentuan ordonansi 1939 tentang Ordonansi dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia.

Singkatnya, Deklarasi Djuanda dengan lantang menyatakan bahwa Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.

Deklarasi Djuanda dicetuskan oleh Perdana Menteri Djuanda Kartawidjaja yang kemudian dikenal sebagai konsepsi Wawasan Nusantara. Deklarasi Djuanda sendiri telah menggemparkan masyarakat internasional dan tidak langsung diterima oleh dunia, termasuk Amerika Serikat dan Australia yang notabene bukan negara kepulauan.

Setelah perjuangan yang gigih dengan diplomasi panjang dan alot, pada tahun 1982, Deklarasi Djuanda akhirnya dapat diterima dan ditetapkan dalam Konvensi Hukum Laut PBB ke-3 Tahun 1982, United Nation Convention on Law of the Sea (UNCLOS). Selanjutnya, deklarasi ini diratifikasi dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan UNCLOS 1982 bahwa Indonesia adalah negara kepulauan.

Prinsip-prinsip negara kepulauan (Nusantara) dalam konsepsi tersebut mengakibatkan bertambahnya luas wilayah Indonesia, sehingga menjadi bulat dan utuh.

Berbagai konsekuensi konsepsi negara kepulauan telah diakomodasi dalam Konvensi Hukum Laut 1982. Keberhasilan memanfaatkan Hukum Internasional ini ditunjang oleh pemikiran yang logis, konsistensi perjuangan, dan diplomasi yang gigih.

Hari Nusantara perlu diperingati oleh semua elemen bangsa. Harus mulai terbentuk sebuah pemahaman bahwa pembangunan sektor kelautan akan menjadi tumpuan bangsa di masa depan. Kita perlu memberikan apresiasi yang besar kepada para pendahulu kita, terutama Perdana Menteri Djuanda Kartawidjaja yang pada waktu itu yang telah mendeklarasikan Indonesia sebagai negara kepulauan ini.

Sejak dahulu laut mempunyai banyak fungsi, antara lain sarana untuk penaklukan, tempat pertempuran, sumber makanan bagi umat manusia, jalan raya perdagangan, tempat bersenang-senang, alat pemisah atau pemersatu bangsa, kaya sumber daya mineral, kaya sumber daya ikan, dan sebagainya.

Apabila dikelola dengan baik, ramah lingkungan, dan semua pemangku kepentingan bekerja sama, tidak menutup kemungkinan laut dapat memberikan percepatan pertumbuhan ekonomi di masa depan.

Hari Nusantara dapat digunakan sebagai momentum percepatan implementasi ‘dari among tani ke dagang layar’. Menyeimbangkan paradigma pembangunan antara land based socio-economy development dan marine based socio-economy development.

Artinya, kalau pembangunan di darat selama ini mendapatkan porsi besar, sedangkan pembangunan di laut mendapatkan porsi kecil. Maka ke depannya, pembangunan di laut harus mendapatkan porsi yang lebih besar. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat pesisir.

Dengan peringatan Hari Nusantara, setidaknya dalam satu tahun sekali dapat mengingatkan kita bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan kaya sumber daya alam, maka harus tetap dijaga, diselamatkan, dan dilestarikan untuk kemakmuran dan kejayaan bangsa.