Memaksimalkan Potensi Perikanan Nusantara, ‘Ayo Makan Ikan’

Potensi Perikanan. KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2014, tanggal 21 November ditetapkan sebagai Hari Ikan Nasional (Harkannas). Negara-negara lain yang maju sektor perikanannya, sudah melakukan penetapan dan peringatan Hari Perikanan Dunia (World Fisheries Day) sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu.

Penetapan tersebut tidaklah berlebihan dan logis, karena pemerintah paham dengan potensi sumber daya ikan yang dimiliki. Sumber daya ikan Indonesia memang sangat besar. Setidaknya ada sepuluh kelompok sumber daya ikan yang ada di perairan kita, antara lain pelagis besar, pelagis kecil, demersal, ikan karang, ikan hias, udang dan krustasea lainnya, kerang-kerangan (Bivalvia), mamalia dan reptilia, rumput laut, dan benih alam komersial.

Potensi sumber daya ikan tersebut belum dikelola secara baik dan optimal. Apabila dikelola dengan baik, sumber daya ini akan dapat dipakai sebagai modal dasar untuk mewujudkan kedaulatan pangan khusus kebutuhan pangan asal ikan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, menyatakan bahwa ikan termasuk dalam produk pangan. Potensi kelautan dan perikanan perlu dikelola secara baik, optimal, dan lestari, agar modal dasar pembangunan perekonomian yang bersumber dari perairan tetap berkelanjutan (sustainable).

Untuk memasyarakatkan Harkannas (National Fish Day), moto atau slogan yang paling sesuai adalah ‘tiada hari tanpa makan ikan’. Jadi, mari makan ikan agar sehat, cerdas, dan kuat, karena ikan merupakan bahan makanan yang bergizi tinggi, kaya protein, vitamin, mineral, serta asam lemak omega 3, 6, dan 9 yang sangat penting untuk pertumbuhan fisik dan kecerdasan manusia.

Oleh karena itu, perlu himbauan dan pelaksanaan gerakan satu hari mengkonsumsi ikan (one fish consumption day) dan pemasangan spanduk yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan pada bulan November dengan peringatan Harkannas.

Sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan mendukung ketahanan pangan dan gizi nasional, perlu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ikan sebagai bahan pangan yang mengandung protein berkualitas tinggi.

Tercatat pada tahun 2013, konsumsi ikan nasional sebesar 35,21 kg per kapita per tahun, masih di bawah negara terdekat yang mempunyai wilayah perairan jauh di bawah perairan Indonesia. Sedangkan menurut data Badan Pusat Statistik, tingkat konsumsi ikan di DIY sekitar 17,61 kg per kapita per tahun. Dengan angka ketersediaan ikan sebesar 25,42 kg per kapita per tahun, DIY menempati posisi nomor satu dari bawah untuk konsumsi ikan. Sedangkan, untuk konsumsi ikan lele menduduki nomor satu dari atas.

Ketersediaan ikan tidak akan lepas dari peran nelayan dan Kelompok Pembudidaya Ikan Kecil (Pokdakan) sebagai produsen maupun masyarakat yang peduli terhadap potensi sumber daya ikan.

Kebutuhan ikan di DIY setiap tahun selalu meningkat. Untuk memenuhi target ketersediaan ikan konsumsi di DIY tahun 2014 sebesar 27,5 kg per kapita per tahun, dibutuhkan produksi ikan sebesar 99.000 ton. Produksi ikan sendiri diperkirakan sebesar 67.900 ton. Jika dikonsumsi sendiri baru dapat memenuhi sebesar 68,6 persen dari kebutuhan. Hasil produksi ini tidak mungkin dikonsumsi masyarakat DIY semua karena beberapa hasil produksi tersebut juga didistribusikan ke luar.

Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat DIY, dipasok ikan dari luar dalam bentuk ikan segar dan ikan olahan. Produksi tahun 2013 sendiri hanya memenuhi 45 persen kebutuhan ikan konsumsi masyarakat, sedang sisanya masih dipasok dari luar DIY.

Sebagai gambaran perkiraan kebutuhan ikan harian di DIY, yaitu lele kurang lebih 19 ton per hari (9,27%), ikan nila kurang lebih 17 ton per hari (8,29%), ikan gurami kurang lebih 14 ton per hari (6,83%), ikan bawal tawar kurang lebih 12 ton per hari (5,85%), udang kurang lebih 8 ton per hari (3,90%), ikan campuran (ikan bandeng, patin, mujair, gabus, wader, mas, belut, tawes) kurang lebih 36 ton per hari (17,56%), ikan laut segar kurang lebih 62 ton per hari (26,34%), dan ikan laut olahan kurang lebih 45 ton per hari (21,96%). Peluang pasar untuk memenuhi kebutuhan ikan masih besar.

Harkannas tidak dimaknai untuk menyiapkan ikan konsumsi dan suka makan ikan saja, tetapi memiliki makna yang lebih luas. Kenapa? Karena ada ikan konsumsi dan ikan nonkonsumsi. Jadi, bagaimana kita mewujudkan masyarakat menjadi ‘hobi’. Hobi makan ikan, memelihara ikan, pecinta ikan, menyayangi ikan, menggemari ikan, peduli ikan, dan sebagainya.

Peringatan Harkannas ke-1 di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2014, pelaksanaannya dilakukan bersamaan dengan peringatan Hari Nusantara yang berlangsung tanggal 20-23 November 2014 di Taman Pintar Yogyakarta.

Beberapa agenda yang dilaksanakan, antara lain pameran produk perikanan, lomba masak ikan, lomba mewarnai, lomba menggambar, lomba menghitung ikan, seminar atau diskusi, penjualan ikan, kampanye makan ikan, dan gerakan memasyarakatkan makan ikan (gemarikan).

Fish day diharapkan dapat mendukung terwujudnya kedaulatan pangan, khususnya yang berasal dari ikan. Hal ini dapat dilakukan dengan alasan tersedianya potensi sumber daya ikan (laut, payau, tawar) dan sumber daya ikan non-konsumsi.

Kedaulatan pangan dapat menyerap tenaga kerja yang banyak. Selama ini bahan baku pangan diekspor, kembali ke kita sudah menjadi pangan siap saji. Apabila proses pengolahan dilakukan di negara sendiri, akan dapat menyerap tenaga kerja, memberi nilai tambah (value added), dan memiliki daya saing produk tinggi.

Tidak perlu impor lagi, cukup mengandalkan produk dalam negeri dengan harga terjangkau oleh masyarakat, sehingga sumber pangan kita tidak didikte lagi oleh negara lain. Ini membutuhkan komitmen yang tinggi dan konsistensi semua stakeholder.

Tidak perlu ragu lagi mengonsumsi ikan, karena banyak manfaatnya. Ayo, makan ikan agar sehat, cerdas, dan kuat. Tiada hari tanpa makan ikan. Gerakan dimulai di lingkungan keluarga sedari dini.