Hidup Berdampingan dengan Mesin Produksi

Ilustrasi mesin. KEMENTERIAN ESDM

Bumi telah merayakan ulang tahun kira-kira sebanyak 4,54 miliar kali. Angka tersebut diperoleh dari proses para ilmuwan dalam melakukan penelitiannya melalui berbagai cara, di mana salah satunya menghasilkan penemuan batuan-batuan berusia 3,5 miliar tahun yang terdapat di hampir semua benua. Acasta Gneiss tercatat sebagai batuan tertua di bumi dengan usia 4,03 miliar tahun, letaknya di barat Kanada, dekat Great Slave Lake.

Tak berhenti pada penelitian melalui batuan, para ilmuwan tentunya juga ‘menyentuh’ benda-benda ruang angkasa. Melalui berbagai informasi, metode, dan objek penelitian, dapat disimpulkan usia bumi sekitar 4,54 miliar tahun, dengan rentang kesalahan 50 juta tahun. Sebagai perbandingan, galaksi Bimasakti yang berisi tata surya berusia sekitar 13,2 miliar tahun, sementara alam semesta telah berusia 13,8 miliar tahun.

Kehidupan di bumi muncul pada rentang 2,5 hingga 2,8 miliar tahun yang lalu, saat bumi mulai mendingin dan membentuk kerak padat, juga kondisi yang memungkinkan tercipta cairan di permukaannya. Hingga pada sekitar dua miliar tahun lalu, kehidupan dengan fotosintesis semakin memperkaya oksigen di lapisan atmosfer bumi.

Kala itu, sebagian besar makhluk hidup masih berukuran kecil. Sampai akhirnya makhluk hidup multiseluler kompleks mulai lahir sekitar 580 juta tahun lalu. Organisme terus berevolusi, menjadi bentuk baru atau punah, seiring dengan perubahan biologis dan geologis yang terus terjadi di bumi.

Dikutip dari buku Homo Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia yang ditulis oleh Yuval Noah Harari, manusia pertama kali berevolusi di Afrika Timur sekitar 2,5 juta tahun silam dari satu genus kera yang lebih tua, Australopithecus, yang berarti ‘kera selatan’.

Sekitar 2 juta tahun silam, sebagian laki-laki dan perempuan purba meninggalkan tanah air mereka untuk menempuh perjalanan melalui Afrika Utara, Eropa, dan Asia, serta bermukim di wilayah-wilayah tersebut. Kelestarian di hutan bersalju Eropa Utara membutuhkan sifat-sifat yang berbeda dengan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di rimba panas Indonesia, populasi manusia pun berevolusi ke arah berbeda-beda. Manusia di Eropa dan Asia Barat berevolusi menjadi Homo neanderthalensis, yang lebih gempal dan lebih berotot, hingga teradaptasi sangat baik untuk kondisi dingin.

Di Pulau Jawa, Indonesia, hidup Homo soloensis, yang cocok untuk hidup di wilayah tropis. Di Flores, manusia purba mengalami proses menjadi katai. Manusia pertama kali mencapai Flores saat permukaan air laut sedang rendah. Ketika lautan kembali meninggi, manusia terperangkap di Pulau Flores yang tidak kaya sumber daya. Manusia besar yang membutuhkan banyak makanan, musnah terlebih dulu.

Sementara itu, manusia yang berukuran kecil dapat bertahan dengan lebih baik. Berlangsung dari generasi ke generasi, hingga mereka dikenal oleh para ilmuwan sebagai Homo floresiensis, dengan tinggi maksimum satu meter, dan bobot tak lebih dari 20 kilogram.

Pada dasarnya, manusia mampu beradaptasi dengan kondisi bumi, baik sejak awal, kini, ataupun nanti. Homo sapiens yang menyandang predikat sebagai manusia cerdas, tentu tak perlu diragukan kemampuannya dalam beradaptasi saat menjalani kehidupan di muka bumi.

Kita telah bertumbuh dan berkembang menjadi penguasa bumi. Tak berhenti pada beradaptasi terhadap perubahan akan kondisi bumi, otak manusia modern bisa saja melakukan hal sebaliknya, yakni menuntut bumi untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan pemikiran manusia.

Kemajuan berpikir yang muncul dari otak spesies manusia terakhir, kita, membentuk pandangan bahwa bumi bukan hanya menyediakan sumber kehidupan, namun juga menyimpan potensi besar yang dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Alih-alih memanfaatkan dengan mengedepankan apresiasi terhadap potensi yang dimiliki bumi, kita justru membentuk aktivitas yang mengutamakan kepentingan diri sendiri. Semula, cara memperoleh makanan dengan berburu dan mengumpulkan secukupnya sumber pangan yang disediakan oleh alam. Kemudian, kecerdasan mengembangkan kehidupan yang menjadi bergantung pada mesin-mesin produksi makanan. Seolah peran bumi bukan lagi untuk menyediakan makanan, tetapi menyediakan ruang untuk menanggung dampak eksistensi mesin-mesin produksi.

Tak cukup soal limbah atas proses produksi, bumi bahkan dituntut oleh buah pikir penduduknya, manusia yang katanya paling bijaksana, untuk menyiapkan semua keperluan produksi. Saat makanan jenis biji-bijian sedang banyak digemari, bagian hutan bumi harus rela disulap menjadi lahan pertanian. Kulit bumi terus-menerus dikeruk untuk mencapai bongkahan fosil penggerak mesin.

Mesin dan kita bisa saja dikatakan sebagai suatu pasangan yang tak dapat dipisahkan. Bagaimanapun juga, dunia yang semakin modern telah mengajarkan, hingga membuat ketergantungan, pada kemudahan hidup berkat adanya mesin. Hampir semua kebutuhan hidup kita telah didukung oleh kinerja mesin. Agaknya, abad ke-21 ini, kita akan ditertawakan oleh kemajuan dunia jika berhenti pada penyesalan mengenai terciptanya mesin di atas bumi.

Aktivitas industri telah berhasil menyatu dengan sempurna ke dalam proses kehidupan umat manusia hari ini. Deforestasi tak terhindarkan atas mudahnya dalam memproduksi produk-produk yang mendatangkan uang. Keuntungan tak selesai pada praktisnya memenuhi sarana hidup, namun juga target laba untuk membangun sesuatu yang lebih besar pada masa mendatang. Ambisi tersebut tak terhindar dari langkah mendorong dunia untuk menambah intensitas proses produksi di ranah industri.

Kondisi adanya tuntutan untuk mengejar target laba dari penggunaan mesin-mesin produksi, tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi kita, sebagai manusia, sekaligus sebagai makhluk yang dinilai memiliki pemikiran paling maju daripada jenis makhluk apa pun di permukaan bumi. Bisa saja kita lalai terhadap bumi saking senangnya pada cara kerja dengan mengandalkan mesin. Tentu hal semacam itu harus segera dihindari, agar kemajuan berpikir kita tidak semakin menjebak bumi dalam proses eksploitasi.

Idealnya, sebagai sosok yang mengalami proses berpikir, kita juga mampu lebih kritis terhadap kedudukan bumi. Mengkaji ulang tujuan diciptakannya mesin perlu dilakukan sebagai bentuk sikap berhati-hati dalam memanfaatkan alat penunjang kemudahan hidup. Pabrik-pabrik dibangun dengan sistem pengelolaan menggunakan mesin produksi, barangkali untuk memaknai terciptanya produk dengan lebih efektif dan efisien, bukan untuk memproduksi produk sebanyak-banyaknya.

Industri tak luput dari penilaian sebagai ruang pemuas hasrat untuk memperoleh sebanyak-banyaknya keuntungan berupa laba usaha. Tentunya juga tak sedikit yang mengkritisi bahwa industri sebagai ‘biang kerok’ adanya kerusakan alam.

Terlepas dari penilaian benar atau tidaknya, pada kenyataannya, waktu-waktu kini kita telah hidup berdampingan dengan industri. Ketersediaan air bersih dan layak minum pun sebagian besar dari kita mempercayakan pada industri.

Bukan hanya perkara air, namun hampir semua fasilitas yang kita gunakan untuk beraktivitas sehari-hari merupakan hasil karya mesin. Makanan sampai dengan barang-barang tak habis dalam sekali pakai, kita peroleh berkat adanya produksi pabrik yang prosesnya tak pernah bebas dari jejak karbon.

Selaku pengguna yang tak terlibat dalam proses produksi, kita memang tak perlu repot-repot untuk ikut memikirkan dampak negatifnya pada kondisi bumi. Namun perlu dicatat, bahwa kunci utama industri berkelanjutan ada pada pengguna terakhir hasil olahannya.

Semakin banyak pengguna terakhir yang tak mampu memilah antara produk untuk memenuhi kebutuhan dan produk sekadar untuk hasrat kesenangan, artinya akan semakin banyak pula jumlah karbon yang dihasilkan dari proses industri.

Menjadi manusia cerdas, sebagaimana karakter Homo sapiens, dalam proses pengambilan keputusan bahwa akan menggunakan produk hanya sesuai dengan kebutuhan, bisa dikatakan sebagai peran penting untuk mencapai titik bijaksana dalam menggunakan mesin.