Kapasitas Politik Kepemimpinan

Keakraban Lurah Panggungharjo dengan aparatur desanya. WAHYUDI ANGGORO HADI

Seringkali kita mendengarkan , memperbincangkan dan mendiskusikan terkait tema kapasitas politik. Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan kapasitas politik itu? Kapasitas politik adalah kemampuan kepala desa mengarahkan kebijakannya. Kapasitas politik itu sangat tergantung dari proses politik, jika pemilihan kepala desa berangkat dari politik yang sehat maka akan menghasilkan kapasitas politik yang sehat dan begitu sebaliknya. Bagaimana kapasitas politik ini bisa sehat yaitu dengan cara dalam setiap pemilihan yang dijalankan oleh setiap desa harus mampu melakukan perlawanan terhadap politik uang dalam memenangkan kursi kekuasaan.

Sehingga ketika yang terpilih berawal dari politik yang sehat maka relatif punya kapasitas politik yang baik serta mempunyai prasyarat dalam membangun kapasitas politik yang baik dalam pemerintahannya. tetapi ketika kekuatan uang yang digunakan dalam memenangkan kursi jabatan kita jangan berharap pemerintah yang kita pilih membawa perubahan bagi kehidupan kita, syukur-syukur kalau punya pemikiran membangun, tetapi realita yang kita lihat bagaimana mengembalikan utang.

Menurut Sutoro eko (Wahyudi, 2018: 92) Seorang kepala desa dalam mengantarkan perubahan desa setidaknya memiliki lima kapasitas yang dasar (baik). Pertama adalah kapasitas regulasi (kemampuan untuk memahami aturan sekaligus memproduksi aturan). Kedua adalah kapasitas ekstraktif (memahami sekecil apapun potensi di desa untuk dikembangkan). Ketiga adalah kapasitas distributif (kemampuan untuk membagi kewenangan). Dalam konteks UU No. 6 tahun 2014 kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah desa ada sekitar 120 kewenangan yang terbagi dalam empat bidang kewenangan desa (penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat desa), artinya seandainya pemerintah desa hanya bisa menjalankan 40 kewenangan maka sisa yang 80 kewenangan tersebut harus dibagi habis kepada lembaga desa, lembaga kemasyarakatan, dan organisasi sosial kemasyarakatan desa. Keempat adalah kapasitas responsif (cepat tanggap terkait dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat desa). Kelima adalah kapasitas jaringan (kemampuan menjalin relasi dengan berbagai pihak).

Seorang kepala desa dengan kapasitas yang dimiliki dan dibantu oleh aparat desa (disebut pemerintah desa) tidak mungkin dapat menjalankan semua kewenangan yang diberikan kepada pemerintah desa oleh negara. Untuk itu proses politiknya harus baik serta dibingkai dengan keteladanan dari seorang kepala desa karena dari keteladanan maka lahirlah kepemimpinan yang baik. Karena sejatinya tidak ada kepemimpinan tanpa keteladanan (Wahyudi, 2018:101).

Membangun sebuah desa sama halnya dengan mengendarai sebuah mobil yang mempunyai roda empat. Di mana ketika roda kendaraan itu hilang satu, maka mobil yang kita kendarai tidak akan sempurna. Membangun sebuah desa, tidak hanya cukup untuk mengandalkan infrastruktur, sumber daya masyarakat desa serta potensi alam desa dan lain sebagainya yang ada, tetapi juga membutuhkan bantuan dari berbagai pihak seperti NGO, pemerintah desa dan akademisi, sehingga inilah yang harus dihimpun untuk dijadikan sebuah kekuatan dalam merubah wajah desa.

Selain itu juga kita semua berharap agar negara mempunyai upaya serius dalam mengedukasi warga desanya. Jika kapasitas yang dimiliki seorang pemimpin adalah buruk maka hal itu menjadi representasi dari pemilihnya, kita mengetahui bahwa logika demokrasi itu mengandaikan, dalam menentukan pemimpin itu ditentukan melalui suara terbanyak. Jika pemilih itu memilih pemimpin yang buruk maka pemilihnya juga lebih buruk dari pemimpinnya dan begitu sebaliknya.

Warga desa itu terkadang tidak adil, di satu sisi sudah terima uang tapi disisi lain juga masih bermimpi ingin mengharapkan pemimpin yang baik, pemimpin yang ingin membawa perubahan dalam kehidupannya. Dalam konteks politik perlu pemimpin peka melakukan pendidikan politik secara baik kepada masyarakat, selain mendorong masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang tinggi, juga berupaya agar masyarakat mampu berwirausaha, menabung dan berinvestasi.

Gaya Kepemimpinan (Leadership Style)

Secara teori, kepemimpinan merupakan suatu kegiatan untuk mempengaruhi orang lain. Kepemimpinan merupakan suatu proses untuk mempengaruhi aktivitas kelompok. Kepemimpinan merupakan kemampuan memperoleh kesepakatan pada tujuan bersama. Kepemimpinan adalah suatu upaya untuk mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Kepemimpinan adalah sebuah hubungan yang saling mempengaruhi antara pemimpin dan pengikutnya. Walaupun cukup sulit menggeneralisir, pada prinsipnya kepemimpinan (leadership) berkenaan dengan seseorang mempengaruhi perilaku orang lain untuk suatu tujuan. Tapi bukan berarti bahwa setiap orang yang memengaruhi orang lain untuk suatu tujuan disebut pemimpin. (Fridayana, Y. 2013:15)

Seorang pemimpin tentu diharapkan memiliki kapasitas dan duduk tegak lurus pada posisinya dalam bertransformasi menjadi pemerintah. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ambang dalam Jurnal Bisman Volume II Nomor I Tahun 2019 Analisis Kepemimpinan Transformasional Kepala Desa Dalam Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa di Kalurahan Panggungharjo, menyampaikan bahwa:

‘Dari perspektif peraturan perundang-undangan, baik dari Undang-undang, Peraturan Menteri Desa PDTT, maupun Peraturan Desa Panggungharjo, secara legal, seorang Kepala Desa diharuskan untuk memiliki pola kepemimpinan transformasional. Aspek-aspek kepemimpinan transformasional seperti Idealized Influence, Inspirational Motivation, Intelectual Stimulation, dan Individualized Consideration, secara komprehensif mampu direfleksikan oleh Sang Kepala Desa, Bapak Wahyudi Anggoro Hadi‘.

Bass (1985) dalam buku Yukl (2013) berargumen bahwa kepemimpinan transformasional adalah suatu kondisi dimana para pengikut dari seorang pemimpin merasakan adanya kepercayaan, kekaguman, kesetiaan, dan hormat terhadap pemimpin tersebut, dan mereka termotivasi untuk melakukan lebih dari pada yang awalnya diharapkan mereka. Pemimpin tersebut mampu untuk mentransformasi dan memotivasi para pengikut dengan cara membuat mereka lebih sadar mengenai pentingnya hasil suatu pekerjaan, mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi atau tim daripada kepentingan diri sendiri.

Indikator Kepemimpinan Transformasional

Dalam praktiknya, kepemimpinan transformasional lebih dari sekadar karisma saja, karena pemimpin transformasional berupaya untuk menanamkan dalam diri pengikutnya kemampuan untuk senantiasa berpikir kritis dengan terhadap pandangan yang sudah umum dan mapan, dan bahkan mengkritisi pandangan yang dipegang oleh pemimpinnya (Bass & Avolio, 1985). Gaya kepemimpinan ini berfokus pada kualitas berwujud seperti visi, nilai-nilai bersama dan ide-ide dalam rangka membangun hubungan baik, memberi makna yang lebih besar untuk setiap kegiatan, dan menyediakan landasan bersama untuk proses perubahan.

Kepemimpinan Transformasional terdiri dari 4 (empat) komponen perilaku (Bass & Riggio, 2006; Bass & Avolio, 1985) yang seringkali disebut dengan “four I’s”, yaitu: Pertama, Idealized influence; pemimpin transformasional berperilaku sebagai panutan dan menunjukkan kepribadian karismatik yang membuat para pengikutnya ingin menjadi mereka. Hal ini seringkali disebut bahwa pemimpin transformasional adalah role model baik bagi para pengikutnya.

Pengaruh-pengaruh tersebut disampaikan melalui kemampuan pemimpin untuk mengeksekusi tantangan pada taraf yang cukup terukur, tanpa meninggalkan nilai-nilai, pendapat maupun prinsip-prinsip yang dianutnya. Melalui aspek inilah, sang pemimpin transformasional membangun kepercayaan dengan pengikut-pengikutnya dan pada gilirannya, menciptakan kepercayaan daripada pemimpin mereka. Dalam aspek-aspek ini berakibat pada terciptanya kepercayaan loyal dari para pengikut terhadap pemimpin mereka, karena sebagai pemimpin mampu memberikan teladan dan layak untuk diteladani.

Hal tersebut berakibat terhadap performa para pengikut dimana mereka berusaha untuk memberikan yang lebih terhadap segala tanggung jawab maupun tugas yang dipercayakan terhadap mereka.

Kedua, Inspirational motivation; Aspek ini menunjukkan kemampuan pemimpin untuk meningkatkan kepercayaan diri, motivasi dan daya respon daripada ide dan pemikiran para pengikutnya. Pemimpin transformasional menyatakan visi yang jelas untuk masa depan, mampu mentransmisikan harapan kelompok dan menunjukkan komitmen kuat terhadap tujuan yang telah ditetapkan untuk dicapai secara bersama. Aspek ini menuntut keterampilan komunikasi yang luar biasa karena pemimpin harus mengkomunikasikan pesan-pesannya dengan akurat, kuat, dan mampu menggerakkan.

Sampai sejauh mana seorang pemimpin mengkomunikasikan sejauh mana visi yang menarik, menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan usaha-usaha pengikut dan memodelkan perilaku-perilaku yang sesuai (Lako, 2004).

Perilaku penting lainnya dari seorang pemimpin adalah adanya antusiasme, keinginan, dan kemampuan handal yang konsisten menunjukkan sisi percaya diri dari visi untuk mencapai tujuan organisasi. Ketiga, Intellectual stimulation; Kepemimpinan transformasional senantiasa mengapresiasi segala ide dan self-sufficiency daripada para pengikutnya. Pemimpin memberikan dukungan kepada para pengikutnya dengan membantu dan melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan.

Lebih dari itu, pemimpin juga tak henti-hentinya memantik kreativitas dan inovasi daripada pengikutnya dalam memberikan solusi untuk segala permasalahan yang ada. Pemimpin juga secara terbuka mampu menghadapi segala asumsi dan kritik dari siapapun itu, dan membantu memberikan perspektif yang berbeda bagi para pengikutnya dalam menghadapi tantangan dan hambatan yang ada. Visi yang diungkapkan pemimpin akan membantu para pengikutnya melihat gambaran yang lebih besar dan dengan demikian membantu mereka berhasil mengatasi segala problematika yang ada.

Keempat, Individualized consideration; Dalam setiap organisasi, pasti setiap individu yang ada didalamnya memiliki kebutuhan dan keinginan yang eksklusif dan unik sesuai dengan perspektif masing-masing. Beberapa mungkin dirangsang oleh factor materiil seperti uang dan fasilitas, sementara yang lain mungkin karena kebutuhan akan perubahan dan kegembiraan. Individualized Consideration dalam kepemimpinan transformasional mengakui kebutuhan ini dan mencoba untuk menjadi fasilitator dalam pemenuhan kebutuhan maupun keinginan tersebut.

Pemimpin mampu untuk mengidentifikasi kondisi para pengikutnya dengan cara mengamati dan mengevaluasi motivasi daripada masing-masing anggota tim. Sehingga diharapkan pemimpin mau untuk mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan dari bawahan, dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan dalam hal pengembangan karir. Pemimpin cenderung bersahabat, informal, dekat dan memperlakukan pengikutnya dengan perlakuan yang sama, memberikan nasehat, membantu dan mendukung serta mendorong self-development para pengikutnya (Lako, 2004).

Dengan demikian, kemampuan ini akan memacu anggota tim untuk berkembang dan menjadi sempurna dalam posisi individual mereka guna mendukung tercapainya tujuan organisasi yang menyeluruh. Pemimpin transformasional menjadikan dirinya seorang role model bagi para pengikutnya. Kepribadian yang karismatik menjadi ciri dari seorang pemimpin transformasional, sehingga menyebabkan para pengikutnya ingin menyerupainya. Pemimpin transformasional mampu untuk menyampaikan visi yang jelas untuk masa depan, mampu mentransmisikan harapan kelompok dan berkomitmen kuat terhadap pencapaian tujuan yang telah ditetapkan untuk dicapai.

Sehingga pemimpin mampu untuk meningkatkan kepercayaan dan motivasi daripada pengikutnya. Pemimpin transformasional mengapresiasi segala ide dan self-sufficiency daripada para pengikutnya. Pemimpin memberikan dukungan kepada para pengikutnya dengan membantu dan melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Pemimpin transformasional mengidentifikasi kondisi para pengikutnya dengan cara mengamati dan mengevaluasi motivasi personal anggota tim.

Sehingga diharapkan pemimpin mau untuk mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan dari bawahan, dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan, baik dari segi pengembangan karir maupun hal lainnya. Pemimpin juga mampu untuk bersahabat, informal dan memperlakukan pengikutnya dengan perlakuan yang seragam, memberikan nasehat, membantu dan mendukung serta mendorong self-development para pengikutnya (Lako, 2004).

Referensi :

Lako, A. (2004). Kepemimpinan dan Kinerja Organisasi Isu Teori dan Solusi. Yogyakarta: Amara Books