Keluarga Berencana, Salah Satu Jalan Keluar dari Kemiskinan

Kampung Keluarga Berencana. DPPKBPMD BANTUL

Janganlah diragukan lagi

Keluarga berencana besar maknanya

Untuk hari depan nan jaya

Putra-putri yang sehat cerdas dan kuat

Akan menjadi harapan bangsa

Ayah ibu bahagia, rukun raharja

Rumah tangga tentram sentosa

Tujuan dari lagu ‘Keluarga Berencana Sudah Waktunya’ adalah untuk membentuk keluarga kecil sejahtera, sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga tersebut.

Program Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu program sosial dasar yang sangat penting bagi kehidupan bangsa. Program ini memberikan konstribusi yang besar bagi pembangunan. Selain itu, KB merupakan upaya dalam meningkatkan kepedulian masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, dan peningkatan kesejahteraan keluarga.

Tujuan pemerintah menciptakan program KB, yakni untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dan jumlah penduduk. Gerakan ini bermula dari luar negeri. Oleh karena itu, banyak pelopor gerakan KB yang berasal dari luar negeri, seperti Inggris.

Gerakan KB di Inggris sudah dimulai sejak abad ke-19. Gerakan ini diprakarsai oleh Maria Stopes yang awalnya dipusatkan untuk kaum buruh dan masalah kesehatan ibu. Beberapa tahun kemudian, Amerika Serikat mengikuti jejak Inggris. Gerakan tersebut diberi nama Birth Control.

Pada awal kemerdekaan, Indonesia masih belum setuju dengan adanya program KB, namun pada saat kelahiran semakin meningkat, pemeritah mulai berpikir untuk mengurangi laju kelahiran. Sebab, jika angka kelahiran terus meningkat, akan menghambat pembangunan Indonesia yang baru saja merdeka.

Program KB mulai digerakan secara serius dan menyeluruh pada pemeritahan orde baru, Indonesia mulai bergabung dengan komite KB Internasional pada tahun 1952. Lalu mendirikan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

PKBI resmi berdiri pada 23 Desember 1957 setelah berkoordinasi dengan Indonesia Planned Parenthood Federation (IPPF) dan menerima dukungan dari banyak pihak.

Untuk mewujudkan keluarga sejahtera, PKBI menempuh tiga macam usaha, yaitu pertama, mengatur kehamilan atau menjarangkan kehamilan. Kedua, mengobati kemandulan. Ketiga, memberikan nasihat perkawinan.

Walaupun laju pertumbuhan penduduk sudah mengalami penurunan, jumlah penduduk di Indonesia setiap tahun selalu bertambah. Hakikatnya, KB tidak hanya bergerak pada bidang pengendalian penduduk, melainkan juga dalam bidang peningkatan kualitas kehidupan masyarakat, seperti dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan juga kesehatan.

KB di kalangan pedesaan masih belum rata, walaupun sudah ada sosialisasi terkait hal tersebut. Pola pikir warga desa yang masih mengikuti tradisi orang dulu agak sulit untuk menerapkannya. Ada pepatah yang menyatakan bahwa banyak anak, banyak rezeki pula, namun kenyataanya masih banyak orang miskin dengan keadaan mempunyai lebih dari empat orang anak.

Keluarga miskin sering menimbulkan siklus kemiskinan. Fenomena menunjukan bahwa keluarga miskin memiliki banyak anggota keluarga. Anggota keluarga yang banyak dan tidak disertai akses pendidikan dan layanan kesehatan yang layak, membuat anak-anak dari keluarga miskin kecenderungan menjadi keturunan yang miskin.

Apabila merujuk pada perkampungan sebelum era 80-an, setiap keluarga masih memiliki banyak lahan garapan. Meskipun sebagai petani, mereka mampu menghidupi beberapa anak. Terlebih lagi dengan semakin bertambah usia anak-anak, pekerjaan-pekerjaan rumah dan kebun mulai dibantu.

Anak-anak berbagi peran. Mereka berbagi tugas. Anak perempuan biasanya ditugaskan memasak, mencuci, dan membereskan pekerjaan di rumah. Sementara itu, anak yang laki-laki biasanya membantu orang tua di kebun dan mengurus makanan ternak. Kisah keluarga pada tahun tersebut memang benar, banyak anak banyak rezeki.

Anak-anak adalah aset. Anak adalah anugerah. Semakin banyak anak, tugas-tugas rumah diselesaikan dengan cepat. Usaha tani dan ternak tidak mungkin terbengkelai. Selain itu, anak dididik untuk bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, serta belajar mandiri. Namun, seiring pertumbuhan populasi penduduk, banyak anak bukan lagi sebagai banyak aset.

Anak bukan lagi sebagai anugerah dan berkat. Anak justru menjadi biaya. Anak adalah malapetaka dan ancaman kemiskininan keluarga, bahkan banyak anak sebagai ancaman kemiskinan suatu wilayah.

Kesadaran akan pentingnya mewujudkan keluarga yang sakinah merupakan cita-cita utama bagi setiap pasangan suami istri. Banyak upaya dan cara yang harus ditempuh oleh setiap keluarga guna mewujudkannya, salah satunya menerapkan KB.

Keluarga sakinah yaitu keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiel yang layak, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras, dan seimbang dengan manusia lain.

Meskipun Islam telah memberi lampu hijau terkait dengan masalah ini, tetapi realita yang terjadi dalam masyarakat tidak demikian. Hal ini dapat dimaklumi karena masalah KB hanya bersifat pilihan keluarga, sehingga tidak mengherankan jika ada sebagian penduduk yang bersedia melaksanakan dan ada pula yang tidak bersedia melaksanakan.

Masalah kependudukan di Indonesia tidak hanya menyangkut jumlah keluarga kecil, namun cara keluarga kecil meningkatkan kualitas hidupnya juga diperhatikan. Untuk menciptakan lingkungan keluarga yang berkualitas, maka harus menentukan waktu yang pas dalam membangun rumah tangga, menentukan jumlah anak, serta menjaga kesehatan reproduksinya.

Upaya ini juga merupakan bagian dari proses menerapkan pola hidup sehat, karena setiap keluarga diharapkan dapat mencapai kondisi sejahtera fisik, mental, dan sosial secara utuh.

Kondisi perekonomian keluarga setelah memakai alat kontrasepsi KB menjadi stabil, karena mereka hanya mempunyai dua anak, sehingga istri tidak terlalu repot mengurus rumah tangga dan dapat membantu suami dengan berwiraswasta.

Menggunakan program KB, hak dan kewajiban suami istri dapat terlaksana dan berjalan dengan seimbang. Melalui program KB, pendapatan keluarga akan meningkat sehingga kesejahteraan juga akan ikut meningkat.

Tidak hanya warga pedesaan saja yang enggan tidak mau KB, tetapi warga perkotan pun juga sama, khususnya warga miskin yang berada di wilayah pinggiran.

Pemerintah menilai bahwa warga miskin perkotaan di sejumlah wilayah di Indonesia, masih enggan mengikuti program KB, karena belum menyadari perlunya menggunakan alat kontrasepsi untuk mengatur kehamilan. Mereka pun juga enggan berkonsultasi dan datang ke pusat pelayanan yang telah disediakan. Hal itu terjadi karena mereka yang kekurangan akan memikirkan mencari nafkah terlebih dahulu. Konsultasi KB hanya akan menyita waktunya untuk mendapatkan uang.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tengah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat miskin dalam penggunaan KB. Masih ada beberapa kendala yang dihadapai BKKBN, rata-rata warga pinggiran tersebut masih belum terdata dan tidak mempunyai KTP.

Sebuah penelitian menyatakan bahwa sebagian besar dari mereka memiliki tiga sampai sepuluh anak dengan kualitas kesehatan dan pendidikan yang rendah. Pelayanan KB sebenarnya sangat mudah didapatkan, mulai dari puskesmas terdekat, rumah sakit, hingga mobil unit yang fungsinya untuk menjangkau pemukiman-pemukiman yang jauh dari fasilitas kesehatan.

Sebelumnya, pihak BKKBN akan melakukan sosialisasi pada mereka guna menyadarkan pentingnya program KB. Salah satu usaha pemerintah adalah dengan membentuk Kampung KB yang sudah dilaksanakan di ratusan wilayah di indonesia.

Sejak dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 14 Januari 2016, Kampung KB terus tumbuh pesat. Semangat membentuk dan mendirikan Kampung KB di seluruh Nusantara telah membuahkan hasil.

Lingkup kegiatan Kampung KB tidak hanya fokus pada kegiatan Program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK), melainkan ada kegiatan kesehatan reproduksi, ketahanan dan pemberdayaan keluarga, pembangunan permukiman, pendidikan, hingga peningkatan sosial serta ekonomi masyarakat.

Selain itu, Kampung KB juga bermanfaat mengentaskan kemiskinan dan mendekatkan pembangunan kepada masyarakat. Intinya, program ini melibatkan semua sektor pembangunan. Dengan kata lain, Kampung KB tak hanya berbicara soal membatasi ledakan penduduk, tetapi juga memberdayakan potensi masyarakat agar berperan nyata dalam pembangunan.

Pelaksanaan Kampung KB melibatkan lintas sektor secara aktif. Ada lima faktor utama keberhasilan Kampung KB, yakni komitmen kuat dari pemangku kebijakan di semua tingkatan, integrasi lintas sektor, optimalisasi fasilitas, dukungan mitra kerja, dan semangat serta dedikasi pengelola, termasuk petugas lini lapangan KB dan partisipasi masyarakat.

Kampung KB akan menjadi ikon program kependudukan. Kehadiran Kampung KB bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tingkat kampung, melalui program KKBPK serta pembangunan sektor lain, dalam rangka mewujudkan keluarga kecil berkualitas.