Ketahanan Budaya dalam Cipta Karya Batik Cap Kertas

Praktik membatik menggunakan canting. DINAS PARIWISATA KULON PROGO

Salah satu wujud nyata untuk melestarikan dan mengembangkan budaya adalah dengan kreativitas dan inovasi berupa karya, seperti menciptakan batik cap kertas. Terlebih setelah UNESCO mengakui batik sebagai budaya tak benda warisan manusia pada tahun 2009 silam.

Adalah Yayasan Sanggar Inovasi Kalurahan Panggungharjo yang melakukan terobosan, yakni sebuah kreativitas dan inovasi dalam seni membatik, dengan memanfaatkan limbah kertas kemasan (duplex) sebagai bahan baku dalam membuat canting cap batik yang bekerja sama dengan Sanggar Dongaji milik Nurohmad, S.Sn. Canting cap kertas ini sudah melalui pengujian, dan terbukti menghasilkan batik cap sesuai dengan standar SNI 08-3531-1989.

Selain memanfaatkan limbah kertas, canting cap kertas juga menggunakan limbah kayu sebagai penampang kertas. Pemanfaatan limbah kertas dan kayu dalam pembuatan canting cap kertas merupakan wujud dalam menjaga kelestarian lingkungan, bukan hanya dari sisi pengelolaan dan pemanfaatan sampah, melainkan turut serta mengerem laju penebangan pohon sebagai bahan industri kertas. Tahun 2016, canting cap kertas ini mendapat penghargaan sebagai Teknologi Tepat Guna dari Kabupaten Bantul.

Dalam pembuatan canting cap kertas, bahan dan alat yang digunakan tergolong sederhana serta mudah untuk mendapatkannya. Teknik pembuatannya pun cukup mudah, tidak seperti cap batik tembaga yang memerlukan keahlian dan alat khusus.

Hal tersebut telah dibuktikan Sanggar Dongaji yang telah melakukan pelatihan pembuatan batik cap kertas sejak tahun 2012 hingga saat ini. Peserta yang pernah dilatih pun berasal dari berbagai daerah, seperti Pulau Sumatra hingga Pulau Papua, bahkan terdapat peserta dari Sri Langka dan Amerika.

Sejarah perkembangan batik sangat dipengaruhi oleh tujuh faktor yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari kreativitas dan inovasi, antara lain teknik dalam membatik, media, motif, dan warna batik, aplikasi atau pemakaian batik, makna filosofi, serta tujuan dalam membatik.

Kreasi adalah sebuah sinonim dari karya atau menciptakan. Kreativitas dan inovasi karya batik erat kaitannya dengan pengaruh internal dan eksternal batik itu sendiri, seperti budaya, kekuatan sejarah, adat istiadat, kebiasaan, teknologi, dan pengaruh budaya luar.

Sejarah kreativitas dan inovasi karya batik berkembang sangat dinamis, bahkan mungkin ada sebelum memiliki nama ‘batik’. Sejak kapan batik ada, dan bagaimana penggunaan batik pertama kalinya masih menjadi perdebatan yang panjang.

Secara alat dan teknik, kita dapat menjumpai alat yang bernama canting tulis dan cap. Seiring perkembangannya, dua nama alat tersebut melekat menjadi jenis batik secara teknik, yaitu batik tulis dan batik cap.

Alat batik dapat kita jumpai berdasarkan varian bahannya. Seperti alat yang menggunakan tembaga, kuningan, atau bahan logam lainnya, yang dapat kita temukan di daerah Jogja dan daerah Solo.

Umumnya canting hanya tersedia dalam tiga ukuran, yakni klowong, cecek, dan sawut. Ketiganya memiliki fungsi yang berbeda-beda berdasarkan nama-namanya. Canting klowong memiliki fungsi untuk menggambar ornamen pada batik. Canting cecek berfungsi untuk membuat titik-titik kecil. Canting sawut memiliki fungsi yang sama dengan canting cecek, namun memiliki ukuran yang lebih besar.

Di daerah Pekalongan, canting yang disediakan sudah lebih banyak dengan berbagai ukuran pula. Seperti alat tulis, canting di sana tersedia dari ukuran nomor 0.0 hingga nomor 10. Juga terdapat canting dengan dua dan tiga cucuk (lubang).

Selain itu, di Kembang Songo Yogyakarta, kita dapat menjumpai canting yang memiliki ujung yang sudah dibagi menjadi empat bagian. Hal itu digunakan untuk menghasilkan titik kotak pada batik. Jenis batik yang dihasilkan dengan canting tersebut dinamakan batik nitik.

Kehadiran batik cap yang semula memiliki tujuan untuk industrial, berkembang dengan berbagai varian alat canting cap batik dari bahan yang bermacam-macam, seperti kayu, kertas, seng, dan tembaga.

Sebuah terobosan kreativitas dan inovasi dalam dunia seni batik untuk fokus pada lingkungan hidup dengan memanfaatkan limbah kertas kemasan (duplex) maupun limbah kayu, sebagai bahan baku pembuatan canting cap kertas beserta penampang kertasnya.

Jenis canting kian berkembang dari waktu ke waktu. Seperti pada tahun 2009, muncul canting listrik dan canting dengan perintah komputer (berbasis teknologi 4.0). Menariknya, semua kreasi tersebut tidak saling membunuh, tetapi mempunyai pangsa pasar masing-masing.