Kisah Kepala Dukuh Jaranan Menjadi Relawan Covid-19

Kepala Dukuh Jaranan Bersama Rekannya Menangani Pasien Covid-19 di Shelter Tanggon. FENDIKA NURJAYANTO YUDATAMA

Nama lengkap saya Fendika Nurjayanto Yudatama. Setelah lulus dari Pendidikan Keperawatan Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO), saya mendaftar sebagai Kepala Dukuh (orang yang memimpin padukuhan) Jaranan. Walaupun usia saya masih terbilang muda, tetapi hal itu tidak mengendorkan niat saya untuk mencoba tes seleksi Kepala Dukuh Jaranan yang diadakan oleh Pemerintah Kalurahan Panggungharjo.

Setelah melengkapi berkas-berkas persyaratan yang ditentukan oleh panitia, saya akhirnya membulatkan tekad untuk mendaftarkan diri. Tanggal 29 Maret 2021, adalah tanggal yang yang mendebarkan jantung saya, karena pada hari itu saya mengikuti seleksi yang bertempat di SMA Negeri 1 Sewon.

Ketika panitia mengumumkan hasil tes, saya tak pernah menyangka lolos seleksi dan mendapat nilai tertinggi. Dua belas April 2021, secara resmi saya dilantik oleh Lurah Panggungharjo sebagai Dukuh Jaranan untuk periode 2021-2048.

Pada bulan Mei 2021, baru satu bulan menjabat kepala dukuh, terjadi ledakan pandemi Covid-19 di Provinsi Daerah Istimewa (DIY). Bahkan, dampak bencana kesehatan tersebut juga dirasakan oleh Kalurahan Panggungharjo.

Atas inisiatif Wahyudi Anggoro Hadi selaku Lurah Panggungharjo, dibentuklah shelter yang berfungsi untuk menampung pasien Covid-19. Gedung SMK Negeri 1 Sewon menjadi saksi bisu keganasan varian Delta, karena tempat isolasi pasien memanfaatkan ruang-ruang kelas di gedung tersebut.

Sepengetahuan saya, inisiasi shelter berawal dari Kalurahan Panggungharjo yang kemudian menjadi shelter gabungan empat desa, dan berubah nama menjadi Shelter Tanggon (Shelter Tangguh Kapanewon Sewon). Tujuan dibentuknya adalah untuk membantu Puskesmas Sewon I dan Puskesmas Sewon II dalam melayani warga desa yang terpapar Covid-19 dengan tanpa gejala atau bergejala ringan.

Prioritas Shelter Tanggon teruntuk warga Sewon yang tidak memiliki ruang isolasi yang memadai, serta keluarga yang memiliki anggota keluarga lansia dan anak-anak berusia di bawah 12 tahun.

Berbekal ilmu keperawatan dari bangku kuliah, saya ditunjuk oleh Lurah Panggungharjo sebagai tim medis. Tidak mudah menerima amanat dan tanggung jawab tersebut. Namun, di tengah kerisauan yang membelenggu hati, sekilas teringat motivasi ketika pertama kali memberanikan diri melamar menjadi Dukuh Jaranan, yakni untuk mengabdi kepada warga.

Dengan niat ibadah mengharap rida Allah, amanat saya kerjakan seraya membatin, “Siap delapan enam, Ndan.”

Tanggung jawab yang berat, merupakan hal yang cukup menantang saat memikul tugas sebagai tim medis. Pada minggu-minggu pertama bertugas di Shelter Tanggon, terasa begitu beratnya.

Kami, yakni Lurah Panggungharjo, Kamituwo Panggungharjo, Kepala Dukuh Garon, dan saya menjadi tim medis inti. Pada awal beroperasinya Shelter Tanggon, kami menjalankan tugas sebagai tim medis secara bergiliran yang diatur dengan sistem sif. Setiap sif terdiri dari satu orang tim medis.

Selama dua minggu pertama, saya yang menyokong semua informasi terkait pasien Covid-19. Memang membutuhkan usaha yang luar biasa dalam melaksanakan amanat dan tanggung jawab yang bagi saya sangat berat. Setelah memasuki minggu ketiga, mulai ada bantuan relawan medis dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kalurahan Panggungharjo.

Semua pelayanan; kunjungan ke rumah-rumah pasien; menangani pasien Covid-19 tanpa gejala dan bergejala ringan di shelter, kami tangani dengan penuh semangat. Saya juga bertugas mengoordinasi para relawan medis. Jujur saja, saya banyak belajar dari Lurah Panggungharjo yang tidak akan tinggal diam, ketika semua program yang direncanakan belum terselesaikan.

Waktu itu, pasien yang pertama kali ditangani di Shelter Tanggon, kami rujuk ke RS Rujukan Covid-19 di Kapanewon Bambanglipuro menggunakan ambulans karena saturasinya naik turun di antara angka 70 dan 80. Waktu sampai di sana, ternyata kursi rodanya rusak, saya pun berinisiatif mengambil kursi roda yang lain. Ketika saya mengambil kursi roda, pasien sudah meninggal dunia.

Kami sepakat, jenazah tersebut dimandikan terlebih dahulu di RS Rujukan Covid-19 dengan protokol kesehatan. Sambil menunggu jenazah dimandikan dan dikafani, kami memutuskan untuk pulang ke Shelter Tanggon dulu untuk berkoordinasi dengan tim lainnya.

Sepulang dari rumah tersebut dan sudah sampai di shelter, masih ada drama lagi. Kali ini, drama yang harus saya saksikan bergenre agak horor. Sugi selaku sopir mobil ambulans, mengalami kesurupan selama 10 hingga 15 menit.

Masih ada cerita lagi yang ingin saya bagi, yakni cerita sewaktu bertugas menangani salah satu pasien yang bernama Priyo. Ia adalah warga Padukuhan Kweni. Sejak awal terpapar Covid-19, kami menanganinya di Shelter Tanggon. Hingga pada akhirnya, kami antar Priyo ke RS Khusus Rujukan Covid-19 di Kapanewon Bambanglipuro karena saturasinya tidak stabil, kami juga selalu berkomunikasi dengan pihak keluarga.

Sayangnya, takdir berkata lain. Priyo meninggal dunia. Sejak saat itu, hubungan saya dengan keluarga mendiang Priyo menjadi akrab, seperti saudara sendiri. Bahkan, semua keluarganya mengucapkan terima kasih kepada pihak pengelola shelter karena sudah merawat, menemani, dan mendampingi dengan pelayanan yang maksimal sampai ajal menjemput. Pada detik ini pun kami masih saling berkirim kabar melalui WhatsApp.

Situasi Covid-19 memburuk dan menyebabkan kelangkaan oksigen. Penggunaan sisa oksigen yang masih ada di shelter, kami upayakan sesuai dengan skala prioritas. Saya merasa ada yang kurang dari Shelter Tanggon ini. Katanya, shelter gabungan empat desa, tetapi peran dan dukungan dari kalurahan lain sangatlah kurang.

Kami pernah kedatangan pasien suami istri dari Kalurahan Pendowoharjo di siang hari, tepatnya pukul 13.00. Saya pun melayani mereka dengan baik sesuai standar pelayanan Shelter Tanggon, kami siapkan paket kebutuhan pasien, termasuk tempat tidur dan sebagainya. Menjelang petang, kedua pasien tersebut saturasinya rendah. Saya segera membantu memasok oksigen dengan alat bantu pernapasan yang sudah tersedia di shelter. Namun, hanya sang suami yang saturasinya bisa naik menjadi normal.

Akhirnya, sang istri kami rujuk ke RS PKU Muhammadiyah Bantul diantar oleh saya, Kamituwo Panggungharjo, Laras selaku Dokter Puskesmas Sewon I, dan Silvi selaku relawan FPRB. Sampai di sana pun saturasinya tak kunjung naik.

Kami selalu memantau kabar dari RS PKU Muhammadiyah Bantul. Setelah sepuluh jam mendapat perawatan, kami menerima berita bahwa sang istri sudah meninggal dunia.

Kabar tersebut saya laporkan kepada Lurah Panggungharjo. Atas inisiatifnya, kami sepakat untuk tidak memberitahukan kepada sang suami—yang saat itu masih dirawat di Shelter Tanggon—terkait kepergian sang istri. Bagi saya, kisah ini sangat menegangkan dan membuat hati terenyuh.

Alhamdulillah. Akhirnya, kami merekomendasikan sang suami untuk kembali pulang ke rumah setelah menjalani karantina di shelter selama 17 hari. Dalam batin, saya berbicara, “Bagaimana perasaan sang suami ketika mengetahui bahwa istrinya sudah meninggal dunia akibat terpapar Covid-19?”

Setelah grafik kasus Covid-19 mengalami penurunan yang sangat drastis. Kami, yang merupakan bagian dari Pemerintah Kalurahan Panggungharjo mempunyai tekad bergerak cepat untuk mengatasi merebaknya Covid-19 dengan melakukan vaksinasi.

Sebagai Dukuh Jaranan, saya berusaha mengedukasi warga agar tidak perlu takut dan antipati terhadap vaksin. Saya berusaha menyosialisasikan pengetahuan sesuai yang saya pelajari di kampus dulu bahwa vaksin adalah antibodi. Vaksin adalah langkah menuju herd immunity atau kekebalan komunitas.

Program vaksin pertama, kami prioritaskan untuk warga desa yang berumur 50 hingga 80 tahun. Jenis vaksin yang disuntikkan adalah Sinovac. Teruntuk warga desa di bawah umur 50 tahun, menggunakan Vaksin AstraZeneca. Program vaksin pertama kali dilakukan di Puskesmas Sewon II.

Cerita tentang program vaksin yang paling meninggalkan kesan, ketika mengantar warga Padukuhan Jaranan yang lansia untuk melakukan vaksin pertama di Puskesmas Sewon II. Saya memfasilitasi transportasi mereka dengan menggunakan mobil pribadi saya untuk mengantar, mengarahkan, menunggui, menjemput, hingga mengantar pulang sampai ke rumah masing-masing.

Program vaksin kedua, untuk warga desa berumur di bawah 50 tahun dan anak berumur di atas 12 tahun. Jenis vaksin yang disuntikkan adalah AstraZeneca, Moderna, dan Sinovac.

Sedangkan, program vaksin kedua ini, dilakukan per masing-masing kring (wilayah). Kring selatan diadakan di Padukuhan Geneng. Kring tengah diadakan di Padukuhan Glondong. Kring utara diadakan di bekas RS Patmasuri, Krapyak Kulon. Jenis vaksin yang diberikan adalah Pfizer, Moderna, AstraZeneca, dan Sinovac.

Menurut saya, yang terlibat langsung dalam pelaksanaan vaksin di Puskesmas II, di Kalurahan Panggungharjo, dan di kring selatan, keseluruhan progres program vaksinasi sudah di atas 90 persen dan persentase warga yang belum melakukan vaksin di,bawah 10 persen.

Sementara itu, persentasi warga Padukuhan Jaranan yang sudah melakukan vaksin sudah mencapai 91 hingga 93 persen. Untuk yang belum melakukan vaksin sekitar 7 hingga 9 persen dari keseluruhan warga.