Kisah Inspiratif, Membangun Motivasi Kepemimpinan dalam Diri

Industri Parawisata Yogyakarta. JOGJAKOTA

Suatu hari Pak Ganang (seorang lurah) pernah bercerita kepada Mas Arif tentang pengalamannya menjadi pemimpin selama dua periode. Terkait motivasi menjadi pemimpin (menjadi lurah), semua itu penting dimulai atau diniati, melalui ketertarikan diri sendiri.

Menurut Pak Ganang, berdasar dari pengalamannya dengan niat tulusnya bahwa Ia sebenarnya ingin menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri. Dengan begitu kita bisa mandiri di desa sendiri. Periode pertama dalam kepemimpinannya di tahap pertama fokus pada program kebersihan lingkungan sebagai langkah preventif kemungkinan terjadinya banjir.

Jogjakarta yang sejak dahulu dikenal sebagai ‘Kota Pelajar,’ saat ini berkembang pesat tidak hanya demikian. Yogyakarta saat ini juga dikenal dengan Kota Wisata. Oleh karena itu Pak Ganang berasumsi bahwa penting menciptakan kenyamanan bagi pelancong. Hal itu juga menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah. Selain kenyamanan, ada pula keindahan, kebersihan, dan pesonanya.

Jadi sebelum mewujudkan tempat destinasi yang nyaman, maka terlebih dahulu penting memperbaiki tata lingkungan yang tepat nyaman dan memuaskan pengunjung. SDM Yogyakarta memang realitasnya tidak mungkin bersaing dengan masyarakat Kota Metropolitan. Namun secara mentalitas jelas berbeda dengan orang-orang Jakarta yang bangun pagi jam 05.00, berangkat kerja jam 06.00 pulang jam 22.00 dan tidur jam 23.00 secara rutin. Warga Pak Ganang tidak bisa begitu, pola pikir warga Jogja mayoritas tidak begitu, banyak yang terjebak pada ‘zona nyaman,’ atau tidak banyak tuntutan.

Realitas tersebut merupakan PR besar Pak Ganang untuk mengubah mindset comfort zone warga-warganya. Ia merasa memiliki tanggung jawab besar. Jadi 10 tahun atau 20 tahun mendatang apa saja yang harus diwujudkan untuk menggiring perubahan mindset warga Yogyakarta supaya berubah ke arah lebih baik di masa depan.

Dunia semakin global perkembangan informasi teknologi semakin cepat dan sebagai efek jika manusia tidak cukup tanggap dalam merebut posisi dalam persaingan sehat maka terlindas atau tenggelam oleh zaman. Untuk mengejar hal itu salah satunya dengan menjadikan lingkungan sebagai tempat wisata. Secara tidak langsung menjadi tuan rumah, lingkungannya menjadi ramai dengan pengunjung atau wisatawan, tempat yang nyaman dikunjungi.

Dengan menjadikan lingkungan tempat wisata, maka tidak perlu lagi mencari nafkah atau mencari pendapatan dengan merantau jauh misal ke Jakarta. Warga-warga bisa berjualan, rejeki dan uang bisa datang sendiri. warga juga bisa berjualan apa yang mereka punya. jadi untuk mewujudkan hal demikian, maka penting menjadikan lingkungan sendiri sebagai tempat wisata yang nyaman dan menarik minat wisatawan.

Potensi Tamanmartani

Apa saja potensi Tamanmartani selain alam? Pertanyaan yang muncul terkait program-program desa untuk kemajuan wilayah Tamanmartani. Pak Ganang menanggapi dan menyatakan bahwa wisata sebenarnya ada beberapa unsur, seperti pemerintah, bisnis, akademisi, masyarakat, dan lainnya. Untuk membangun desa salah satu taktiknya dengan mengajak warga menjadikan wilayah kita semua sebagai tempat wisata. Warga juga akan semangat dan mulai terbangun untuk saling gotong royong membangun desa. Namun untuk mewujudkan tempat wisata maka jalan raya harus bagus, tertib, aman, infrastruktur yang juga bagus semisal warung pendukung. Wisata jika dimiliki bersama akan muncul gotong royong bersama, dan muncul kebersamaan. Kita sebenarnya bukan hidup sendiri sendiri seperti orang kota yang cenderung individualis pada umumnya.

Desa Tamanmartani memiliki slogan khusus yaitu ‘Kibar’ singkatannya kreatif, inovatif, berbudaya, agamis, dan rukun. Slogan tersebut tujuannya untuk mengenalkan Desa Tamanmartani sebagai Desa yang rukun. Inisiatif pembangunan wisata senyatanya memiliki banyak keuntungan dibanding rugi, syaratnya dengan dilandaskan pada kerukunan, gotong royong dan semangat kebersamaan.

Untuk mewujudkan hal demikian, ada beberapa langkah-langkah yang dapat dilakukan. Pertama, dengan pemetaan dusun-dusun yang akan menjadi ikon, memiliki potensi besar yang bisa dijadikan destinasi. Kedua, melihat potensi desa mana yang bisa dibangun homestay untuk kawasan hunian dan kuliner. Ketiga, memetakan daerah bagi pelaku kesenian atau seniman, seperti kesenian garjo.

Pemetaan tersebut terkonsep secara teratur sebagai langkah keseriusan dari pemerintah daerah. Selain itu masyarakat juga bisa memiliki kesempatan memiliki panggungnya sendiri di penampilan kesenian. Dalam wisata, penampilan kesenian juga dapat dikategorikan sebagai destinasi. Jadi pembagian terdiri dari destinasi, fasilitas atau infrastruktur.

Perbincangan Arif dengan Pak Ganang memancing rasa penasaran Arif. Ia memberi tanggapan masukan, menurut Arif hal urgen yang bisa diolah adalah pelaku kesenian. Karena darinya akan mengalir ide-ide cemerlang yang berciri khas.

Dalam pandangan Pak Ginang ada istilah ‘Amenitas.’ Amenitas merupakan faktor-faktor yang harus dimiliki, keinginan dan harapan bersama juga tertuang dan dijabarkan dalam RPJMD baik tingkat satu, tingkat dua, dan tingkat desa dengan harapan akselerasinya bisa cepat seirama. Adanya hal demikian untuk mempertahankan keistimewaan atau ciri khas yang menjadi daya tarik destinasi wisata Tamanmartani.

Saat ini pemerintah pusat tengah getol atau sangat mengapresiasi dan mendukung dalam pembangunan wisata di daerah Yogyakarta. Hal itu dinilai memperkuat ketahanan ekonomi dan pembiayaan yang paling murah dibanding lainnya. Secara potensi, wilayah Yogyakarta memiliki banyak potensi wisata yang bisa dibangun. Jadi, menurut Pak Ganang dalam membangun desa senyatanya itu hal mudah dan akan tetap diperjuangkan.

Tugas pemerintah dalam pembangunan desa meliputi beberapa sektor, lingkungan, sosial, dan ekonomi. Jika ketiga hal itu tercapai, maka pembangunan desa mencapai titik keberhasilan. Tugas Lurah juga tidak jauh berbeda dari pemerintah pusat. Pembangunan wisata juga mencakup ketercapaian tiga sektor di atas (lingkungan, sosial, dan ekonomi).

Dalam prosesnya, semua hal ini tidak mudah, namun jika kita lihat pembangunan infrastruktur tol yang tujuannya memecah problem ekonomi seperti di Jakarta, tidak seperti di Batam. Batam yang awalnya tersentral kemudian secara perlahan mulai meredup. Hal-Hal yang terjadi di batam dapat diambil contoh bahwa yang terjadi di sana tidak terulang di Yogyakarta terutama di wilayah Tamanmartani.

Harapan Pak Ganang sebagai Lurah atau pemimpin tidak hanya mencakup wilayah. Melampaui hal itu, untuk kemajuan masyarakat supaya memiliki wawasan, pengalaman dan skill baru meski semisal pemimpinnya tidak mahir. Artinya hal itu membuat masyarakat mandiri secara ekonomi dan terus maju tanpa berharap lebih terhadap pemerintah pusat.

Pak Ganang bercita-cita, desa yang dipimpinnya memiliki sistem tersendiri. Ia mulai memberikan tanggung jawab berbeda terhadap relasinya, sharing knowledge, tanpa dukungan dari mereka seluruh sistem tidak akan berjalan, dan tujuan tidak akan tercapai. oleh karena itu tugas sebagai pemimpin wilayah Tamanmartani harus membuat pondasi yang kuat dari akar.

Keberhasilan suatu desa terletak pada pemimpinnya. Jika pemimpinnya bermain politik tidak sehat dan tidak fokus pada tanggung jawabnya, maka desa dan masyarakatnya tidak makmur. Semisal memiliki konspirasi dengan Bandar, maka semua hal akan diexpose di Bandar tersebut. Pak Ganang tidak berharap wilayahnya jatuh ditangan orang yang salah. kekuatan seluruhnya berada di masing-masing titik. hal terpenting yang harus dipersiapkan adalah membangun dusun yang mandiri terutama dalam ekonomi.