Kondisi Sosial Masyarakat di Kalurahan Panggungharjo

Kampoeng Matraman. PANGGUNGHARJO

Kalurahan Panggungharjo merupakan desa yang terletak di Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul. Secara administratif, Kalurahan Panggungharjo terdiri dari 14 padukuhan yang terbagi menjadi 118 RT dengan luas wilayah desa 560,966,5 Ha.

Secara geografis, Kalurahan Panggungharjo terletak di sebelah utara Kota Yogyakarta. Sebelah timur Kalurahan Bangunharjo. Sebelah selatan Kalurahan Timbulharjo. Dan, sebelah barat Kalurahan Pendowoharjo.

Terdapat tiga pembagian wilayah desa di Kalurahan Panggungharjo berdasarkan sifat atau karakteristiknya. Pertama, kawasan pertanian (Kring Selatan) yang merupakan penyangga produksi padi untuk warga. Kedua, kawasan pusat pemerintahan (Kring Tengah) yang terdapat balai desa sebagai pusat pemerintahan.

Ketiga, kawasan aglomerasi perkotaan (Kring Utara) yang terletak di sebelah utara Jalan Ringroad telah berkembang menjadi aglomerasi perkotaan karena banyaknya alih fungsi lahan persawahan menjadi pemukiman.

Jumlah penduduk Kalurahan Panggungharjo pada tahun 2018 berjumlah 28.141 ribu jiwa. Berdasarkan data-data, terdapat keberagaman kondisi sosial yang disebabkan banyak faktor, seperti letak geografis desa yang berdekatan dengan pusat kota, padatnya jumlah penduduk, dan banyaknya pendatang dari luar kota yang tinggal di indekos ataupun pondok pesantren. Hal tersebut menimbulkan dampak sosial terhadap masyarakat Kalurahan Panggungharjo.

Adapun budaya asli dari Kalurahan Panggungharjo sangat identik dengan budaya Keraton Yogyakarta karena desa ini memiliki sejarah yang panjang, yang berkaitan dengan Keraton Yogyakarta.

Kalurahan Panggungharjo tercatat dalam sejarah berdiri pada tanggal 24 Desember 1946, tepatnya setelah ada maklumat Nomor 5 Tahun 1948 Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta tentang Hal Perubahan Daerah-daerah Kalurahan dan Nama-namanya.

Salah satu isian maklumat tersebut menyatakan bahwa dilakukan penggabungan dari tiga kalurahan, yaitu Kalurahan Cabeyan, Prancak, dan Krapyak menjadi kalurahan baru yang disebut Kalurahan Panggungharjo.

Lurah pertama Kalurahan Panggungharjo adalah Hardjo Sumarto. Ia diangkat melalui Keputusan Dewan Pemerintah Daerah Yogyakarta Nomor 148/D.Pem.D/OP tertanggal 23 September 1947.

Keberagaman sosial yang datang dari para perantau di pondok pesantren, tentu lebih banyak membawa pengaruh positif. Hal itu karena lingkungannya memiliki tatanan sosial yang sangat kuat berkat para pengasuh pondok pesantren yang menjaganya.

Sementara itu, pengaruh dari para pendatang yang tinggal di indekos cenderung kurang berpengaruh terhadap kondisi sosial masyarakat desa, karena komunitasnya tidak terpusat serta terpisah, antara indekos satu dan yang lainnya.

Kondisi geografis Kalurahan Panggungharjo yang dekat dengan kota memiliki pengaruh yang sangat tinggi terhadap kondisi sosial masyarakatnya. Hal itu disebabkan jumlah penduduk Kota Yogyakarta yang sangat padat dan banyak pendatang dari luar kota atau luar negeri dengan berbagai keperluan.

Faktor tersebut menyebabkan timbulnya kontak sosial antara warga Kalurahan Panggungharjo, masyarakat perkotaan, dan para pendatang. Terlebih dengan perkembangan era globalisasi yang sangat pesat, membuat semakin mudahnya budaya atau kebiasaan sosial dari luar desa masuk ke lingkungan masyarakat desa.

Pengaruh tersebut ada yang memiliki manfaat untuk perluasan ilmu pengetahuan. Ada juga yang diterima masyarakat, lalu menjadi kebiasaan atau budaya baru di Kalurahan Panggungharjo.

Namun, tidak semua budaya dan kebiasaan dari luar sesuai dengan tatanan sosial atau norma yang berlaku di masyarakat desa. Tidak sedikit pula yang akhirnya menimbulkan masalah sosial di Kalurahan Panggungharjo.

Berdasarkan pengalaman yang saya alami setelah terjun langsung ke Kalurahan Panggungharjo, banyak keberagaman budaya dan sistem sosial yang berlaku di masyarakat.

Salah satu budaya Keraton Yogyakarta yang sangat melekat pada masyarakat Panggungharjo dapat dilihat dari beberapa konstruksi bangunannya, seperti Panggung Krapyak, Kampoeng Mataraman, dan lain-lain.

Hal itu menjadi nilai yang bagus untuk tujuan wisata edukasi terhadap para wisatawan dari luar kota maupun luar negeri, baik untuk kalangan pelajar, remaja, dan keluarga.

Masyarakat Kalurahan Panggungharjo juga menghormati beberapa budaya luar yang masuk ke tatanan masyarakat desa. Salah satunya, yaitu budaya luar yang sering diaplikasikan di lingkungan pesantren dan turut dilakukan oleh beberapa warga desa.

Dalam sistem sosial yang berlaku, masyarakat Panggungharjo masih melestarikan beberapa tradisi yang menjadi nilai positif dan keunggulan dalam terjaganya norma-norma sosial, seperti tradisi gotong royong, pemberdayaan masyarakat desa yang manfaatnya dapat dirasakan di waktu yang akan datang, dan menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Tingginya jiwa sosial masyarakat dan sikap saling bantu masih menjadi kebiasaan masyarakat, sehingga melahirkan persepsi dari para pendatang bahwa sifat warga Kalurahan Panggungharjo sangat ramah.

Namun, ada pula keberagaman pengaruh budaya dari luar yang menimbulkan berbagai macam polemik di masyarakat, terutama di kalangan remaja. Hal itu juga dipengaruhi oleh era globalisasi yang berkembang karena kemajuan teknologi.

Kurangnya kepekaan, pengalaman, dan pengetahuan orang tua terhadap teknologi menjadi penyebab minimnya kontrol atas masuknya budaya atau kebiasaan dari luar. Hal itu juga menyebabkan permasalahan baru dalam pemanfaatan teknologi, seperti kenakalan remaja sering terjadi di daerah perkotaan. Permasalahan tersebut sangat penting untuk diperhatikan karena menyangkut dengan masa depan masyarakat Panggungharjo.

Terdapat beberapa kenakalan remaja yang sering terjadi di perkotaan, antara lain pergaulan bebas, narkotika, dan seks bebas. Berdasarkan kenakalan remaja yang terjadi di Kalurahan Panggungharjo menyebabkan lunturnya kepekaan remaja desa terhadap sopan santun dan norma sosial.

Kurangnya sopan santun dalam komunikasi dengan orang tua dan cara berpakaian remaja-remaja tidak sesuai dengan norma, justru dianggap sebagai hal yang wajar oleh beberapa warga. Padahal, hal itu dapat berkembang menjadi kenakalan remaja.

Walaupun permasalahan tersebut sangat mungkin terjadi di lingkungan masyarakat, namun masyarakat desa tidak memberi perhatian dalam proses penyelesaiannya.

Sedangkan, pihak pemerintah telah menyoroti masalah sosial yang terjadi di kalangan remaja, namun masyarakat desa tetap tak acuh dan menganggap hal itu merupakan sesuatu yang wajar.

Kenakalan remaja dalam aspek sopan santun dan norma sosial harus diperhatikan agar remaja di Kalurahan Panggungharjo dapat terhindar dari hal tersebut.

Selain itu, terdapat pengaruh negatif yang dapat ditimbulkan dari masuknya budaya atau kebiasaan luar, yakni berbagai tindak kriminal. Sebagai contoh, pencurian motor marak terjadi di wilayah Krapyak Kulon.

Kondisi sosial di beberapa wilayah Kalurahan Panggungharjo memiliki keunikan tersendiri, yakni tidak ada pembatas sosial atau strata sosial yang terjadi di kalangan masyarakat. Terutama antara warga yang miskin dan yang kaya. Hal itu disebabkan karena kuatnya pengaruh dari kondisi sosial masyarakat yang terjaga, menjadikan keberagaman sosial yang bersifat positif.

Selain itu, terdapat keunikan dalam aspek ekonomi masyarakat, yaitu perbedaan mata pencaharian tergantung masing-masing wilayah. Pada kawasan pertanian (Kring Selatan) didominasi oleh masyarakat Kalurahan Panggungharjo yang berprofesi sebagai petani, kawasan pusat pemerintahan (Kring Tengah) terdapat beragam profesi yang diambil warga desa, salah satunya sebagai aparatur desa dan petani.

Pada kawasan aglomerasi perkotaan (Kring Utara) banyak masyarakat desa yang memilih profesi sebagai pedagang, wirausaha, dan Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Keberagaman mata pencaharian tersebut, diharapkan tidak menimbulkan adanya klasifikasi atau stratifikasi sosial. Pemerintah desa justru mengharapkan adanya pemberdayaan masyarakat agar saling bekerja sama untuk memajukan Kalurahan Panggungharjo.