Koperasi Wanita Dewi Kunti, Tumbuh Bersama Problem dan Inovasi

Pertemuan Koperasi Wanita Dewi Kunti di Aula Kalurahan Panggungharjo. JAMILLUDIN

Peran warga desa dalam perekonomian memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Koperasi merupakan penggerak ekonomi masyarakat, koperasi juga sebagai bentuk kerja sama dalam sektor perekonomian. Pada tahun 2007, Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perindustrian Bantul memberi bantuan kepada Kalurahan Panggungharjo, tetapi ada syaratnya, yakni membuat lembaga koperasi yang berbadan hukum. Mengabulkan permintaan tersebut, akhirnya dibentuk Koperasi Wanita Dewi Kunti.

Secara kelembagaan, Koperasi Wanita Dewi Kunti dibentuk oleh Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kalurahan Panggungharjo. Pada awal berdiri, terdapat 20 anggota, namun sekarang sudah bertambah menjadi 120 anggota.

Anggota dibekali ilmu melalui pelatihan koperasi dari dinas. Pengetahuan yang diajarkan terkait dengan pembuatan sistem keuangan, cara penggunaan sistem laporan keuangan yang terstruktur, laporan simpan-pinjam, dan laporan transaksi.

Setiap empat bulan sekali, Koperasi Wanita Dewi Kunti mengadakan evaluasi. Hal yang dibahas perihal koordinasi dengan beberapa pihak, memotivasi anggota baru, meningkatkan pelayanan kepada anggota, menyusun laporan, dan Rapat Anggota Tahunan (RAT), serta peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Perbedaan antara Koperasi Wanita Dewi Kunti dan koperasi pada umumnya terletak pada karakteristik anggotanya. Ibu rumah tangga yang mendominasi menjadi keunggulan tersendiri, namun pertemuan bulanan yang sangat kurang menyebabkan lambatnya perkembangan.

Kredit macet menjadi masalah utama yang harus dihadapi. Hal itu memunculkan kegagalan yang bercabang, yakni jumlah modal menjadi berkurang dan arus kas pun tersendat. Sebelum problem datang, sebenarnya dapat dicegah, jika koperasi mengajukan persyaratan kepada debitur (peminjam) untuk memberikan agunan atau jaminan.

Tujuan utama meminta agunan, yakni agar peminjam dapat melunasi kewajibannya tepat waktu. Menurut saya, itu sangat penting dan dianggap ampuh menghindarkan koperasi dari kegagalan kredit. Sebab, masih banyak peminjam yang belum begitu sadar akan kewajibanya untuk membayar kredit, sehingga perlu diberikan peraturan yang sedikit tegas.

Agunan ini digunakan untuk menutupi resiko kerugian pada koperasi, apabila kreditur tidak melunasi atau menunggak pembayaran. Sebagai pelunasan kredit yang dijaminkan, agunan dapat dijual ketika si debitur merasa tak mampu menuntaskan kewajiban. Bagi Koperasi Wanita Dewi Kunti, agunan bukan sebuah syarat utama. Mereka memandang bahwa agunan bisa menimbulkan riba.

Salah satu penyelamatan dalam menyelesaikan kredit macet, yaitu melalui perundingan kembali antara kreditur dan debitur dengan memberi keringanan perihal syarat-syarat pengembalian kredit. Keringanan tersebut diharapkan membuat debitur memiliki kemampuan untuk menyelesaikan kreditnya.

Memberi peringatan kepada kreditur merupakan langkah penyelesaian kredit macet yang ditempuh Koperasi Wanita Dewi Kunti. Musyawarah dengan cara mekanisme pemanggilan, bertujuan untuk mengetahui faktor yang menyebabkan kredit tak kunjung dilunasi.

Masalah kredit macet tidak harus diselesaikan melalui jalur hukum, namun dapat juga diselesaikan secara kekeluargaan. Langkah musyawarah diambil karena biaya jauh lebih murah, penyelesaian cukup mudah, dan relatif cepat.

Menurut saya, upaya yang harus dilakukan oleh Koperasi Wanita Dewi Kunti agar tidak mengalami kredit macet lagi, yakni penjadwalan kembali, persyaratan kembali, penyitaan jaminan, dan penghapusan kredit.

Penghapusan kredit adalah hal yang sering dilakukan dalam koperasi untuk menurunkan rasio kredit bermasalah, agar tingkat kesehatan koperasi tetap terjaga dengan baik. Namun, penghapusan kredit macet harus dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku, supaya tidak merugikan pihak koperasi, kreditur, dan anggota koperasi lainnya. Penghapusan kredit macet terdiri dari hapus buku atau penghapusan secara bersyarat, serta hapus tagih atau penghapusan secara mutlak.

Dalam program hapus buku, kredit macet biasanya dikeluarkan dari pembukuan koperasi, namun pihak koperasi tetap melakukan penagihan atas kredit macet tersebut. Apabila sudah melakukan hapus buku, namun tidak berhasil dalam proses penagihan, maka koperasi dapat membuat program hapus tagih sehingga kredit macet tersebut tidak perlu ditagih lagi.

Hapus buku dan hapus tagih terhadap kredit macet baru boleh dilaksanakan ketika pihak koperasi sudah berupaya keras dan tidak mendapatkan hasil dari pihak kreditur.

Pada tanggal 30 Oktober 2021, Koperasi Wanita Dewi Kunti meluncurkan aplikasi baru untuk pelaporan keuangan. Seluruh pengurus koperasi dan mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta (UNU) yang sedang melakukan Laboratorium Sosial (Labsos) di Kalurahan Panggungharjo, turut menghadiri pertemuan tersebut. Banyak hal yang dibahas, terutama cara mengoperasikan aplikasi dan kendala yang terjadi.

Gagap teknologi menjadi kendala utama yang dihadapi ibu-ibu pengurus Koperasi Wanita Dewi Kunti. Kami belajar secara perlahan di acara tersebut dengan dipandu oleh Danu, selaku pembuat aplikasi.

Pada tanggal 6 November 2021, Koperasi Wanita Dewi Kunti mengadakan pertemuan lanjutan untuk mematangkan kemampuan dalam menggunakan dan menginput data ke aplikasi. Kami, selaku mahasiswa yang sedang melakukan Labsos di koperasi, membantu memberi pemahaman kepada ibu-ibu yang masih asing dengan teknologi.

Setiap permasalahan yang ada di Koperasi Wanita Dewi Kunti, dapat menjadi sebuah pengetahuan baru dan gambaran bagi koperasi lain, agar lebih baik dalam mengelola sebuah koperasi. Melalui pengalaman tersebut, kita jadi belajar lebih teliti dan memperhatikan calon anggotanya sesuai dengan prinsip yang ada.

Pengalaman yang dilewati oleh Koperasi Wanita Dewi Kunti, dapat berfungsi sebagai peta bagi koperasi lain untuk menghindari terjadinya salah analisa pada calon kreditur dan memperkecil terjadinya kredit macet.

Koperasi Wanita Dewi Kunti hadir di tengah masyarakat memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk memperoleh pinjaman dengan mudah. Kehadirannya pun sebagai upaya untuk mencegah para anggota agar tidak salah dalam mengambil jalan hidupnya.

Koperasi Wanita Dewi Kunti juga perlu meningkatkan dan mengembangkan organisasinya melalui pelatihan-pelatihan, sehingga kinerja dan pelayanan yang diberikan lebih baik.

Dengan langkah perubahan ke arah yang lebih baik, akan semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk bergabung. Saya berharap, anggota dan pengurus Koperasi Wanita Dewi Kunti meningkatkan keaktifan koperasi agar jalannya usaha dapat dilakukan bersama.