Menembus Batas Politik dan Birokrasi dengan Kemanusiaan

Tim Medis Shelter Tanggon Kapanewon Sewon ketika akan memberikan oksigenasi pada pasien Covid-19. AHMAD MIZDAD HUDANI

Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan’ sebuah quote atau kutipan dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang seringkali muncul dimana-mana. Saya sendiri pertama kali membaca kutipan ini ketika duduk di bangku SMA. Melalui sebuah stiker dari Gusdurian Jogja yang ditempelkan kakak saya di lemari rumah. Pertama kali membacanya, jelas saya tidak begitu paham apa yang dimaksudkan Gus Dur. Dari kutipan itu saya hanya meyakini bahwa kemanusiaan adalah hal yang sangat penting, itu saja.

Pemahaman saya soal kutipan itu kemudian terus mengendap di benak saya. Hingga akhirnya Covid-19 mempertemukan saya dengan konteks mengapa tema kemanusiaan adalah hal penting bahkan harus diletakkan di atas politik. Terutama ketika saya ikut berperan serta menjadi relawan Shelter Tanggon Kapanewon Sewon. Shelter ini dibentuk ketika Covid-19 varian delta merebak di Indonesia. Lonjakan angka pasien yang terpapar positif Covid-19 secara signifikan di era itu berdampak rumah sakit penuh, sementara kasus positif Covid-19 baru terus muncul. Di sisi lain ketersediaan fasilitas kesehatan dan ubo rampenya, jauh dari harapan semua warga negara akan pelayanan kesehatan yang optimal, layak, patut dan bermartabat bagi semua warga bangsa.

Perspektif dan mindset kesehatan semesta, yang dapat menenangkan jiwa dan raga semua warga bangsa, terutama warga desa harus terus ditengahkan dan terus dibicarakan agar terus menjadi prioritas dalam membendung lonjakan pandemi Covid-19. Memang tidak untuk mudah membicarakan kesehatan semesta, padahal jika tidak paham betul terkait perspektif dan mindset kesehatan semesta, akan meminalisir angka kematian penderita Covid-19 hanya karena jiwa-jiwa mereka, mental-mental mereka dibuat ngedrop memikirkan dengan sangat mendalam ketidak pastian melonjaknya pandemi Covid-19 saat itu. Padahal faktor kesehatan mental tidak kalah pentingnya dengan kesehatan badan (raga).

Di masa awal pembukaan Shelter Tanggon tersebut, belum banyak warga yang ikut serta menjadi relawan. Sehingga Lurah Panggungharjo, Wahyudi Anggoro Hadi, yang merupakan lulusan Farmasi, ikut serta menjadi relawan medis. Pada tanggal 5 Juli 2021, malam hari Pak Wahyudi baru selesai melakukan visit ke salah satu warga yang positif Covid-19. Belum sempat membuka APD-nya, hotline Shelter Tanggon mendapat informasi mengenai warga Kalurahan Bangunharjo yang perlu divisit.

Tanpa pikir panjang Pak Wahyudi berangkat memvisit warga tersebut, tanpa peduli yang divisit warga desanya atau bukan. Sesampainya di lokasi, Pak Wahyudi segera mengecek kondisi warga tersebut, dan kemudian melaporkannya ke Grup Whatsapp yang berisi Panewu Kapanewon Sewon, Lurah-lurah se-Kapanewon Sewon, Dokter dan Perawat Puskesmas Kapanewon Sewon, serta relawan medis lainnya.

Kisah lain adalah ketika ada seorang mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi yang berdomisili di Kota Yogyakarta yang tiba-tiba menghubungi hotline Shelter. Dia mengaku kebingungan karena kehabisan uang hingga tidak bisa membeli makanan, sementara tidak ada keluarga maupun saudara di Jogja. Atas nama kemanusiaan dan tanggung jawab sosial maka mahasiswa yang positif Covid-19 tersebut diterima di Shelter Tanggon. Untuk masalah makan, seluruh warga yang di karantina atau di isolasi di Shelter mendapatkan makan gratis tiga kali sehari. Kisah yang hampir sama juga berlaku ketika belasan santri salah satu Pondok Pesantren di Banguntapan positif Covid-19.

Dengan tangan terbuka para santri ini di terima di Shelter Tanggon. Cerita Pak Wahyudi dan apa yang terjadi di Shelter Tanggon, menyadarkan saya bagaimana kemanusiaan harus diletakkan di atas batas-batas birokrasi dan politik pemerintahan. Ketika ada warga membutuhkan pertolongan cepat, maka tidak penting lagi untuk sekedar basa basi mempertanyakan dari mana pasien positif Covid-19 itu berasal atau berdomisili.

Cerita selanjutnya muncul dari Pak Jamiludin, Pak Jamil adalah Penyuluh Agama Islam KUA Kapanewon Sewon yang pada kali ini ikut serta menjadi relawan di Shelter Tanggon. Dalam kondisi krisis dan serba dalam keterbatasan, maka semua relawan harus siap mengisi posisi apapun. Pak Jamil sempat beberapa kali menemani Pak Wahyudi memvisit warga desa, meskipun Pak Jamil bukan merupakan relawan medis.

Suatu waktu Pak Jamil pernah ikut memvisit warga yang kebetulan tidak beragama Islam. Dalam konteks ini maka Pak Jamil harus melepaskan atribut sebagai Penyuluh Agama Islam dan mau menolong warga yang tidak sama dengan agamanya. Jika sebelumnya kemanusiaan harus diletakkan di atas batas-batas birokrasi. Kali ini kemanusiaan juga harus diletakkan di atas agama. Seperti halnya kasus sebelumnya, pada kasus ini ketika ada warga membutuhkan pertolongan, maka tidak perlu menanyakan lagi agama yang menjadi keyakinan pasien Covid-19.. Hal ini pun berbanding lurus dengan kutipan Gus Dur yang lain, “Tidak penting apapun agamamu atau sukumu.

Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Orang tidak pernah tanya apa agamamu”. Cerita lain yang memberi pelajaran tentang pentingnya arti kemanusiaan muncul dari cara berpolitik beberapa pemimpin daerah di Indonesia. Jika dua cerita sebelumnya berkonotasi positif, cerita ini berkonotasi negatif. Dr. Rimawan Pradiptyo, seorang dosen FEB yang juga merupakan inisiator gerakan kemanusiaan yang bernama Sambatan Jogja (Sonjo), dalam wawancaranya dengan Puthut EA di acara Putcast, menyayangkan sikap beberapa pemimpin daerah yang tetap berpolitik di masa-masa yang krisis ini .

Pak Rimawan menyebutkan ada beberapa pemimpin daerah yang berusaha menyembunyikan data positif Covid-19, dengan cara tidak mengoptimalkan tracing terhadap Covid-19. Hal ini dapat dilihat dengan test rate yang kecil di daerah-daerah tersebut. Cara ini ditengarai agar daerahnya terlihat mampu mengatasi pandemi Covid-19. Pak Rimawan menyebut cara ini seperti memelihara bom waktu yang suatu waktu akan meledak.

Seperti mengkonfirmasi apa yang dikatakan Pak Rimawan, sebelumnya juga terdapat kasus dimana para pemimpin daerah sengaja memampangkan gambar wajahnya di bantuan Covid-19. Salah satu kasus yang menjadi sorotan banyak pihak adalah Bupati Klaten Provinsi Jawa Tengah, yang menutupi label kemensos di bantuan handsanitizer, dengan gambar wajahnya. Cukup parahnya masalah ini hingga membuat Bawaslu dan Istana meminta para kepala daerah untuk berhenti mempolitisasi bansos (Lumbanrau, 2020). Berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan Gus Dur. Cerita ini menunjukkan bagaimana politik yang membabi buta selain menyalahi etika sosial, juga mengancam kehidupan masyarakat.

Nilai Kemanusiaan Gus Dur

Nilai kemanusiaan digunakan Gus Dur sebagai akar dari produk pemikirannya baik di bidang agama, kebudayaan, demokrasi, maupun sosial. Melalui paham kemanusiaan ini, Gus Dur meletakkan manusia dengan martabat tinggi, khususnya di hadapan Tuhan, dan oleh karena itu, manusia harus dimuliakan (Wahyudi, 2020). Paham kemanusiaan Gus Dur sendiri mempunyai ciri yang berbeda dengan paham kemanusiaan yang muncul di Eropa. Kelahiran paham kemanusiaan di Eropa muncul sebagai antithesis konsep ketuhanan yang didominasi oleh gereja.

Masa itu disebut sebagai Zaman Kegelapan, dimana manusia tidak diberi kesempatan menggunakan akal budi untuk mengatur kehidupannya sendiri. Sementara paham kemanusiaan Gus Dur menggunakan perspektif agama Islam. Sebuah pandangan yang lahir dari prinsip ketuhanan atas kemanusiaan.

Gus Dur meletakkan nilai kemanusiaan dalam pemahaman keberagamaannya. Selain nilai ketauhidan dan kewajiban melaksanakan syariah, Gus Dur meletakkan kesejahteraan sosial sebagai wujud komitmen kemanusiaan dalam beragama. Dalam hal ini rahmatan lil alamin yang melekat pada agama Islam tidak hanya dimaknai sebatas kasih sayang, tapi juga kesejahteraan sosial.

Paham keagamaan Gus Dur bertentangan dengan kalangan formalis yang menempatkan ajaran tauhid dan fiqih di atas manusia. Sikap Gus Dur dalam hal memuliakan manusia merupakan wujud keyakinan atas keesaan Allah. Dan fiqih yang merupakan wadah dari segala hukum-hukum syariat, dipahami sebagai instrumen perlindungan atas hak-hak dasar manusia.

Gus Dur mengajarkan kita bagaimana kemanusiaan adalah hal penting. Dan kemanusiaan harus berada diatas birokrasi dan politik, bahkan di konteks tertentu kemanusiaan harus ditonjolkan melebihi agama. Tanpa kemanusiaan, birokrasi akan menjadi buta, alih-alih menjadi alat untuk mengatur birokrasi hanya akan menjadi batasan. Tanpa kemanusiaan, politik akan semakin menjauhi kata kesejahteraan. Dan tanpa kemanusiaan, agama, seperti kata Gus Dur, “Agama tanpa kemanusiaan akan melahirkan fundamentalisme”.

Pandemi Covid-19, yang membawa kita ke dalam situasi krisis, haruslah menjadi momen untuk terus mengasah rasa kemanusiaan. Hadirnya Covid-19 telah memperparah ketidakberdayaan masyarakat kecil. Struktur masyarakat yang sebelumnya sudah timpang kini semakin kentara. Tanpa rasa kemanusiaan, membantu mereka yang lemah, hanya akan menjadi jargon. Jika dalam upaya mencapai kesejahteraan di kondisi normal saja kita tidak mungkin meninggalkan nilai kemanusiaan. Apalagi di kondisi krisis seperti saat ini.

Sudah saatnya, sebagai warga desa kita harus mereview kembali, apa-apa yang sudah menjadi praktik-praktik baik yang telah dilakukan oleh desa. Ternyata desa, merupakan salah satu entitas yang hingga saat ini mampu bertahan di era pandemi Covid-19, karena desa masih memegang teguh agama dan budaya sebagai panglima. Agama dan budaya inilah yang mensyaratkan warga desa untuk saling bergotong royong. Gotong royong membentuk tiga puncak pola relasi warga desa. Puncak pola relasi dalam bidang sosial adalah kekelurgaan. Dan Puncak pola relasi dalam bidang ekonomi adalah kerja sama. Terakhir puncak pola relasi dalam bidang politik adalah musyawarah. Tiga puncak pola relasi warga desa inilah yang membentuk karakter warga desa memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi jauh lebih tinggi dari karakter warga perkotaan.

Referensi:

Lumbanrau, R. E. 2020. Virus Corona dan Bantuan Sosial: Foto Kepala Daerah di Kemasan Bansos, ‘Kampanye Terselubung’ yang Dapat Dipidanakan. Retrieved from BBC News Indonesia: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52533254

Pradiptyo, R. 2021. Kenapa Relawan Covid-19 Menyerah? – PutCast.

Wahyudi, F. 2020. Humanisme Gus Dur: Pergumulan Islam dan Kemanusiaa, Sebagai Jawaban Dehumunisasi Di Era Disrupsi. AL-HIKMAH: Jurnal Dakwah, Volume 14, Nomor 1, 95-114.