Mewujudkan Desa sebagai Ibu Bumi yang Layak

Wahyudi Anggoro Hadi selaku Lurah Panggungharjo. MEDIA PANGGUNGHARJO

Bergerak dalam hal positif dengan semangat tinggi akan menghasilkan energi penuh. Salah satunya bergerak maju dalam memimpin dan membuat perubahan di masyarakat. Energi akan terasa murni dengan didasari nilai kejujuran. Begitulah secuil pesan dari Wahyudi Anggoro Hadi selaku Lurah Panggungharjo.

Ia lahir di Bantul pada 24 juli 1979. Pendidikan Formalnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) diselesaikan tahun 2008. Selain itu, ia juga pernah menjadi santri di Pondok Pesantren An-Nur, Ngrukem, Bantul.

Semasa muda, Wahyudi pernah dipercaya sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Farmasi UGM. Ia juga menjadi bagian dari organisasi Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan masih aktif sampai sekarang.

Tak heran jika ia dipercaya oleh masyarakat sebagai pemimpin sekaligus pengayom berkat pengalaman organisasinya tersebut. Saat diwawancarai Tim Damar pada tanggal 11 juni 2013, Wahyudi bercerita bahwa awalnya tak pernah terbesit dalam benaknya menjadi salah satu jajaran pengurus penting di Kalurahan Panggungharjo.

Motivasi yang mendorong ia terjun menjadi lurah, yakni keinginananya untuk merangkul masyarakat dengan pendekatan kultural, pemberdayaan nilai sosial sejak dini, dan juga perlawanan terhadap manifestasi politik.

Salah satu prinsip yang sangat ditekankan dalam kepemimpinannya adalah nilai kejujuran. Baginya, kejujuran dalam ranah sekecil apapun harus ditegakkan, karena hal ini dapat mencegah pertambahan korupsi yang telah mengkerdilkan bangsa.

“Marilah kita melawan korupsi dari hal kecil,” pesan Wahyudi.

Dengan prinsip dan ide-ide cemerlangnya, Wahyudi berharap dapat memberikan kultur baru dalam pemerintah dan masyarakat Kalurahan Panggungharjo, maupun sekitarnya, sehingga menciptakan lingkungan yang berbudaya, bertanggung jawab, dan mengalir dengan nilai kejujuran.

Berbicara tentang tokoh inspiratif, ia mengidolakan Mahatma Gandhi, Gus Dur, dan Bung Karno. Pemikiran dan semangat dari ketiga tokoh inilah yang tampaknya menginspirasi semangat pergerakan Wahyudi.

Ia mengutip pemikiran Albert Einstein bahwa materi yang terus digerakkan dengan kecepatan tinggi akan berubah menjadi energi. Begitu juga manusia, jika terus bergerak yang muncul adalah energi hebat manusia tersebut.

“Gus Dur, Mahatma Gandhi, dan Bung Karno adalah orang yang bergerak dalam hal positif dengan kecepatan tinggi,” tutur Wahyudi.

Kencangnya gerak semangat melaju, memunculkan getirnya duka atau justru rasa suka yang tercipta. Namun, bagi Wahyudi, duka dan suka adalah sama. Ia menganggap semua yang dilakukan tidak selamanya berdasarkan rasa suka, karena suka adalah hal yang normatif.

Sebab, ada dua hal yang sangat ia hindari dalam hidupnya, yaitu dendam dan putus asa. Menurut pemikirannya, dendam hanyalah masa lalu yang akan menghancurkan masa depan, sedangkan putus asa tali pemutus kesuksesan. Oleh karena itu, Wahyudi tampil sebagai sosok pekerja keras dan pantang menyerah.

Pada akhir untaian katanya, ia berpesan lewat tawa dengan nada tegas.

“Selama belum ada perubahan di masyarakat, pantang tunduk, bangkit melawan,” tutur Wahyudi.

Semangat ini layaknya apresiasi bagi generasi muda yang memiliki semangat juang melawan berbagai virus-virus kebobrokan bangsa. Semoga pesan dan semangat juang Wahyudi mampu mengobarkan gairah para generasi muda ketika sedang amar maruf nahi munkar.

Sebelum Wahyudi menduduki kursi lurah, ia bergerak di tingkat dusun untuk memanfaatkan potensi yang ada. Dengan mengangkat keunggulan Dusun Pandes, ia berhasil menjadikannya sebagai tempat wisata dengan branding Kampoeng Dolanan.

Dusun Pandes kini menjelma menjadi sebuah tujuan wisata yang terkenal dengan mainan tradisionalnya. Kita dapat menjumpai berbagai mainan dan permainan tradisional, serta cara membuatnya. Keberhasilan Wahyudi membangkitkan semangat warga sehingga lebih giat lagi dalam memproduksi mainan tradisional anak.

Bergerak dalam hal positif dengan semangat tinggi akan menghasilkan energi penuh. Salah satunya bergerak maju dalam memimpin dan membuat perubahan dalam masyarakat. Energi akan terasa murni dengan didasari nilai kejujuran. Begitulah secuil pesan dari Wahyudi.

Sejak kepemimpinannya pada September 2012, Kalurahan Panggungharjo terbukti telah berhasil menciptakan ruang-ruang yang bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan, baik pemerintah, masyarakat, maupun swasta, untuk dapat berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan desa.

Keberhasilan pembangunan desa melalui strategi pemberdayaan masyarakat, karena ada sosok pemimpin yang memahami karakter masyarakatnya dengan baik. Pemimpin tersebut menjadi pemicu kembalinya masyarakat desa yang berdata, yang sebenarnya telah ada sejak awal terbentuknya Kalurahan Panggungharjo.

Keberdayaan masyarakat yang mula-mula tumbuh melalui akulturasi antara ajaran agama Islam dan budaya jawa, sempat mengalami mati suri pada masa kepemimpinan lurah ke-5. Namun, keberdayaan masyarakat tersebut kembali teraktualisasi pada masa kepemimpinan lurah ke-6 melalui kerja sama dengan pihak eksternal dalam rangka mengoptimalkan kegiatan desa. Tujuannya untuk memperkuat keberdayaan masyarakat di Kalurahan Panggungharjo.

Membangun desa tak harus memiliki Sumber Daya Alam (SDA). Sebab, masih ada potensi lain yang bisa dioptimalkan, seperti, budaya, dan teknologi. Hal itu yang terjadi di Kalurahan Panggungharjo. Keterbatasan SDA justru bisa menghasilkan omzet sebesar 5,2 miliar rupiah di tahun 2018.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panggung Lestari pernah menerima penghargaan di Myanmar. Penghargaan di tingkat ASEAN ini diterima di Nay Pyi Taw, Myanmar, pada tanggal 8 November 2019.

Wahyudi mengatakan bahwa ia datang ke acara tersebut untuk mewakili BUMDes Panggung Lestari. Ia juga menjelaskan, hal tersebut suatu wujud penghargaan yang diberikan oleh masyarakat ASEAN atas kepemimpinan yang dipandang memegang peranan penting dalam pembangunan desa dan pengurangan kemiskinan.

Wahyudi memaparkan bahwa pembuatan BUMDes Panggung Lestari dilakukan karena ingin membangun pola hubungan yang baru antara pemerintah desa dan warga desa agar tidak hanya bersifat administratif.

Keberadaan BUMDes Panggung Lestari dengan lebih dari lima unit usaha ini bisa memberikan pelayanan barang dan jasa yang menjadi kebutuhan warga desa.

Selain itu, BUMDes Panggung Lestari pun memberikan dampak perekonomian bagi masyarakat. Ada lima unit usaha, yakni Kelompok Usaha Pengelola Sampah (KUPAS), Kampoeng Mataraman, tamanu oil, Pasardesa.id, dan agro pertanian.

Setidaknya, lebih dari 90 warga Kalurahan Panggungharjo bekerja di BUMDes Panggung Lestari. Mereka diberikan gaji sesuai Upah Minimum Kabupaten (UMK). Sementara itu, kebutuhan pokok unit usaha diambil dari hasil usaha maupun pertanian warga. Jika warga tidak mampu memenuhinya, maka pihak BUMDes akan mencari ke pasar.

Peran aktif masyarakat merupakan kunci keberhasilan dan kemajuan suatu wilayah, termasuk dalam lingkup desa. Dengan program dan perencanaan anggaran yang sudah terencana, tidak sulit rasanya mewujudkan masyarakat desa yang lebih baik. Wahyudi memaparkan bahwa bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi menjadi salah satu sasaran yang terus didorong agar semakin bermanfaat untuk masyarakat.

Masyarakat memiliki peran aktif dalam bergabung dan berkomitmen mendukung gerakan sosial Anti Politik Uang (APU). Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) melebarkan sayap gerakan sosial tersebut ke berbagai komunitas masyarakat. Berharap gerakan ini mendapat dukungan dari seluruh lapisan masyarakat di Bantul sehingga virus positif uang dalam penyelenggaraan pemilu dapat berkembang.

Peradaban baru tersebut merupakan peradaban desa masa depan yang berbasis pada tatanan yang ramah pada alam dan lingkungan, komunitas yang mempunyai ketahanan pangan, dan ketangguhan budaya.

Desa bisa menjadi pelopor dan motor penggerak pemulihan ekonomi bangsa untuk ke depannya. Ada tiga kunci penting kemajuan desa, yaitu ketersediaan generasi muda di desa yang cukup, Sumber Daya Manusia (SDM) yang kreatif dan inovatif, serta partisipasi aktif warga pada pembangunan desa.

One thought on “Mewujudkan Desa sebagai Ibu Bumi yang Layak

Comments are closed.