Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Lokal Desa

Rapat Anggota Tahunan Koperasi Wanita Dewi Kunti. JAMILUDIN

Adakah yang sudah pernah mendengar apa itu bank plecit? Atau malah sudah pernah melakukan transaksi dengan bank plecit? Wah, kalau belum tahu apa itu bank plecit, sebaiknya tidak terbuai dengan penawaran dan memakai jasa mereka. Sebab, banyak sekali masyarakat yang sudah terjebak oleh penawaran menarik mereka dan berakhir sengsara.

Memang apa, sih, bank plecit ini? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata bank plecit ini adalah sebutan bagi lembaga bukan bank atau perorangan yang meminjamkan uang, biasanya disertai dengan tawaran bunga yang tinggi dan penagihannya dilakukan setiap hari. Bank plecit ini juga dikenal dengan sebutan bank keliling.

Kebanyakan sasaran dari bank plecit adalah masyarakat desa yang minim informasi. Perlu diketahui, bank plecit berstatus tidak sah atau ilegal. Mengapa begitu? Karena bank plecit bukan bagian dari lembaga keuangan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Lalu, kenapa masih ada warga yang tertarik menggunakan jasa bank plecit? Ada banyak faktor mengapa masyarakat desa atau warga desa mengambil pinjaman dari bank plecit. Saya ambil tiga contoh yang sering ditemukan. Pertama, karena seseorang ini kepepet membutuhkan biaya, tentunya dengan berbagai alasan, misal untuk keluarga yang sedang sakit parah dan harus operasi dengan biaya rumah sakit yang tidak murah. Bisa juga orang ini membutuhkan dana untuk sekolah anaknya.

Kedua, karena adanya pandemi Covid-19 seperti saat ini. Perusahaan-perusahaan juga terdampak pandemi Covid-19, karena tidak bisa menggaji karyawannya, perusahaan terpaksa melakukan PHK ke beberapa pegawai. Sedangkan, orang yang di-PHK ini adalah seorang kepala keluarga, yang harus memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Ketiga, masyarakat dengan status menengah ke bawah yang terkendala dalam modal usahanya atau masyarakat yang ingin mengelola sebuah usaha mikro, tetapi sulit mendapatkan modal usaha dari lembaga keuangan yang sah. Masyarakat dengan akses informasi yang mudah didapat, mungkin tidak kesulitan mendapatkan modal usaha dari lembaga keuangan yang sah, tetapi masyarakat desa dengan keterbatasan informasi, bingung dengan syarat-syarat ketentuannya yang banyak dan rumit.

Oleh sebab itu, mereka memilih mengambil pinjaman dari bank plecit daripada lembaga keuangan legal. Syarat untuk memperoleh pinjaman dari bank plecit memang sangat mudah. Istilahnya, tidak perlu banyak mengeluarkan tenaga untuk melengkapi syarat peminjaman. Tetapi, tanpa disadari syarat yang mudah inilah awal dari tipu muslihat bank plecit.

Seperti pengalaman yang pernah saya jumpai, ada seorang kepala keluarga, sebut saja Tono (samaran) ingin bekerja sebagai pengemudi taksi online. Ia tidak punya dana untuk mengambil cicilan mobil. Akhirnya, Tono memutuskan untuk meminjam uang di bank plecit. Dengan mudah dan cepat, uang yang dipinjam Tono ini cair. Mulailah ia mengambil cicilan mobil dan menjadi pengemudi taksi online.

Singkat cerita, ekspektasi Tono ini tidak menjadi kenyataan. Penumpang Tono tidak banyak, sehingga pemasukan tidak sesuai target. Sedangkan, bank plecit mulai meresahkan, uang yang dipinjam ditagih terus-menerus tiap minggunya, dengan bunga tinggi, dan dengan cara penagihan yang tidak punya hati. Saat itulah kekhawatiran Tono muncul.

Dengan berat hati, ia harus mengikhlaskan mobilnya untuk dijual. Padahal, status mobil ini belum lunas. Setelah mobil terjual, ternyata uang hasil penjualan tidak cukup untuk menutup hutang di bank plecit. Sebab, Tono telat membayar hutangnya, sehingga bunganya bertambah terus-menerus. Maka dari itu, untuk menutup kekurangannya, ia harus mencari cara untuk mencari uang tambahan. Dengan terpaksa, Tono menjual rumahnya, keluarganya pun terkena imbas.

Akibat pinjam dari bank plecit, Tono malah bangkrut dan tidak memiliki apa-apa. Bayangkan, bagaimana perasaan Tono saat itu? Rasa sedih, kecewa, dan marah menjadi satu. Ingin meluapkan kemarahan kepada siapa jika musibah ini memang sudah terjadi, dan ini murni Tono sendiri yang mengambil langkah awal bersepakat dengan bank plecit.

Selain itu, di era sekarang juga marak fenomena pinjaman online ilegal atau pinjol ilegal. Pinjol ilegal juga merupakan lembaga yang tidak mengantongi izin operasional dari Otoritas Jasa Keuangan. Kasusnya sama dengan bank plecit. Bedanya, bank plecit bertransaksi secara langsung atau keliling seperti rentenir, sedangkan pinjol ilegal melakukan transaksi secara online melalui aplikasi, media sosial, atau internet lainnya.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang terjebak oleh tipu daya pinjol. Sama dengan bank plecit, pinjol ilegal menawarkan berbagai kemudahan administrasi kepada nasabah. Untuk orang-orang yang membutuhkan biaya mendesak, tawaran kemudahan ini menarik sebagai alternatif pembiayaan saat menghadapi situasi tersebut.

Apakah teman-teman pernah dihubungi nomor yang tidak dikenal? Pernah terpikir mereka dapat nomor dari mana? berdasarkan kasus yang saya temui dan video yang pernah saya tonton di media sosial, ada seorang pegawai pinjol mengungkapkan bahwa jika ada seseorang mengambil pinjaman pinjol ilegal lewat aplikasi telepon genggam maka semua data, seperti nomor kontak dan galeri foto yang ada di telepon tersebut bisa diakses oleh pihak pinjol ilegal.

Ia mengatakan, hal membobol data inilah yang paling kejam dari pinjol ilegal. Berdasarkan data tersebut, pinjol ilegal menghubungi orang-orang yang tersimpan di kontak telepon genggam si peminjam, padahal tidak ada sangkut pautnya. Orang-orang ini lalu diteror mendesak untuk melunasi pinjaman koleganya.

Ada juga aplikasi yang menawarkan tempat menabung atau tempat berinvestasi dengan iming-iming keuntungan yang berlipat-lipat. Dengan iklan atau testimoni palsu yang mereka sebarkan, masyarakat desa terkecoh dan mempercayainya. Masyarakat kemudian berinvestasi di sana. Padahal, itu adalah investasi bodong, uang yang diinvestasikan dibawa kabur oleh si pengumpul investasi. Hal inilah yang banyak meresahkan semua warga. Berdasar pada pengalaman di atas, kita harus lebih hati-hati dalam memilih tempat berinvestasi, meminjam uang, dan lain-lain.

Kita tentu tidak asingkan dengan Koperasi Unit Desa (KUD). KUD juga menawarkan layanan menabung, meminjam uang, dan lain-lain. Ada satu KUD di Kalurahan Panggungharjo, jenis koperasinya, yaitu simpan pinjam.

Koperasi desa ini bernama Koperasi Wanita Dewi Kunthi dan berstatus lembaga yang sah. Pengelolanya pun wanita. Hebat, bukan? KUD telah menjadi badan hukum yang eksis dan bisa bergerak lintas batas kewilayahan. Jadi, kalian tidak usah ragu dengan koperasi desa. Tidak semua desa bidang ekonominya tertinggal. Banyak desa yang sudah maju, salah satunya karena peran KUD.

Koperasi Wanita Dewi Kunti, yang juga sudah mewujudkan kemandirian ekonomi lokal desa. Koperasi ini menyediakan layanan menabung dan meminjam uang tanpa rasa takut dengan bunga yang tinggi. Sebab, Koperasi Wanita Dewi Kunti menawarkan bunga rendah, yaitu satu persen. Apabila anggota yang meminjam tidak sanggup membayar satu persen dari pinjamannya, ada kesepakatan lain, yaitu kemampuan beri jasa berupa apapun semampunya anggota.

Koperasi Wanita Dewi Kunti juga meluncurkan sebuah aplikasi keuangan yaitu sikop.id. Aplikasi ini mempermudah anggota maupun pengurus mengakses informasi layanan koperasi, informasi saldo tabungan, serta pinjaman. Dengan sikop.id, Koperasi Wanita Dewi Kunti sudah mewujudkan kemandirian ekonomi lokalnya.

Maka dari itu, daripada menabung dan meminjam uang di lembaga ilegal, seperti pinjol ilegal, bank plecit, dan investasi bodong, lebih baik uang disimpan di koperasi desa. Awalnya memang peminjaman dana lewat KUD membutuhkan persyaratan yang cukup banyak dan terkesan rumit dibanding pinjaman ke bank plecit dan pinjol ilegal yang serba mudah. Padahal, itu adalah jebakan belaka.

Koperasi desa dilindungi oleh PP Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Selain itu, syarat untuk menjadi anggota atau meminjam dana relatif mudah. Malah, di koperasi desa ini kita bisa mendapat nilai tambah berupa pelajaran kedisiplinan. Apalagi di Koperasi Wanita Dewi Kunti, sudah terjamin keamanannya jika kita menabung atau bertransaksi lainnya, karena ia sudah berbadan hukum dengan nomor badan hukum No. 027/BH/XV.1/VII/2007.