Nelayan Yogyakarta Tangguh Hadapi Pandemi

Nelayan Tangguh. KESATUAN NELAYAN TRADISIONAL INDONESIA

Hampir semua sektor terdampak pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia. Hal ini juga terjadi pada sektor perikanan, khususnya perikanan tangkap. Munculnya Covid-19 bagi nelayan dapat diibaratkan ‘sudah jatuh tertimpa tangga’. Kondisi iklim dan cuaca laut sedang tidak bersahabat, aktivitas juga dibatasi karena pandemi.

Nelayan tangguh di sini maksudnya, ketika sektor lain di wilayah pesisir seperti pariwisata harus berhenti total, nelayan tetap beraktivitas melakukan penangkapan ikan, maka para nelayan masih memperoleh penghasilan.

Kata tangguh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sukar dikalahkan, kuat, andal, dan kuat sekali (tentang pendirianya). Ketangguhan para nelayan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sebagai tanggung jawab kepala keluarga. Dalam kondisi kurang bersahabat para nelayan tetap melakukan aktivitas penangkapan ikan di laut. Kondisi kurang menguntungkan di sini antara lain cuaca yang kurang bersahabat seperti gelombang pasang, arus kencang, angin kencang, dan lainnya. Musim pancaroba, pandemi Covid-19, dan lainnya.

Kepribadian pantang menyerah atau tangguh adalah sebutan bagi pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya menganggap sesuatu yang terjadi, seperti terjadinya musibah pandemi Covid-19 itu dari segi positifnya. Dalam kondisi pandemi nelayan tetap melakukan penangkapan ikan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sebelum adanya pandemi, aktivitas nelayan dan masyarakat pesisir antara lain kegiatan nelayan menangkap ikan di laut, kegiatan wisata, penjualan ikan, wisata kuliner, dan lainnya. Terlebih pada Sabtu dan Minggu maupun, hari libur aktivitas masyarakat pesisir sangat ramai sesuai kegiatan masing-masing.

Pada saat libur dan kondisi laut kurang bersahabat, banyak nelayan yang turut dalam kegiatan wisata seperti menjajakan makanan, tukang parkir, pemandu wisata, dan lainnya, sehingga pada saat tidak bisa ke laut nelayan masih tetap mendapatkan penghasilan. Kolaborasi kegiatan seperti ini merupakan modal utama yang dimiliki masyarakat pesisir untuk selalu bergotongroyong dan saling membantu, sehingga aktivitas ekonomi dapat berjalan dengan baik dalam kondisi yang aman dan nyaman.

Saat pandemi Covid-19, pariwisata yang selama ini menjadi sumber penghasilan tambahan nelayan, tidak dapat diharapkan lagi. Semua akses jalan menuju objek wisata pesisir atau pantai ditutup untuk menghindari penyebaran virus Covid-19. Ditutupnya akses objek wisata pantai dimaksudkan untuk mencegah terjadinya penyebaran pandemi Covid-19 yang berpotensi berasal pengunjung wisata dari luar DIY, pemudik, maupun kerumunan dari masyarakat setempat.

Pemerintah Daerah DIY telah menerbitkan surat edaran berdasarkan SK Gubernur DIY No. 65/Kep/2020 tanggal 20 Maret 2020 dan Surat Ka. Dinas K dan P Kab. Gunungkidul No. 553/344 tanggal 3 April 2020 yang ditujukan salah satunya ke wilayah sepanjang pesisir DIY. Penerbitan edaran ini berkaitan dengan usaha pencegahan penyebaran virus Covid-19, yaitu melarang nelayan dari luar DIY (nelayan andon) masuk ke DIY dan sekaligus menutup semua akses jalan menuju objek wisata pantai.

Kegiatan penangkapan ikan tetap berjalan seperti sebelum ada pandemi Covid-19, kecuali kondisi iklim dan cuaca seperti ombak besar, angin kencang, dan arus kencang nelayan tidak melakukan penangkapan ikan. Namun perlu diakui bahwa pada Maret sampai Mei, di Samudera Hindia siklus tahunan merupakan musim pancaroba, perubahan musim barat ke musim timur sehingga arus kencang dan gelombang tinggi.

Memang musim tersebut kurang menguntungkan bagi para nelayan dan ditambah dengan adanya pandemi Covid-19. Persiapan nelayan untuk melakukan kegiatan penangkapan juga agak berbeda dengan sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Walaupun kegiatan penangkapan ikan dilakukan di laut nelayan tetap menjalankan protokol kesehatan sesuai imbauan pemerintah.

Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Kabupaten Gunungkidul Darmadi, mengatakan, selama adanya pandemi Covid-19 nelayan di Sadeng tetap melakukan kegiatan penangkapan ikan, pemasaran ikan hasil tangkapan standar atau kelas ekspor berjalan lancar, sedangkan pemasaran ikan standar atau kelas lokal mengalami kesulitan dan harga ikan turun.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Hubungan Nelayan Seluruh Indonesia (DPC HNSI) Kabupaten Bantul, Suyanto, juga menambahkan bahwa sebetulnya nelayan tidak begitu terpengaruh adanya pandemi Covid-19, karena kegiatan nelayan cukup banyak. Justru yang terkena dampak atau terpukul dampak Covid-19 antara lain pariwisata, produk hasil pertanian harga turun drastis, dan lainnya. Kerawanan kejahatan meningkat, umumnya drop-dropan dari luar DIY.

Dengan adanya berbagai persoalan yang dihadapi nelayan, seperti adanya pandemi Covid-19 dan musim pancaroba yang mengakibatkan gelombang tinggi, arus kencang, dan angin kencang, para nelayan tetap tangguh untuk melakukan kegiatan penangkapan di laut, baik yang menggunakan kapal motor (KM) maupun perahu motor tempel (PMT).

Pada musim pancaroba, di selatan DIY juga terjadi siklus musim ikan teri atau ikan impun yang jumlahnya sangat banyak dan biasanya ikan tersebut bergerak ke tepi pantai. Nelayan dapat menangkap dengan serok atau sodo yang terbuat dari waring. Fenomena ini terjadi setiap tahun pada saat musim pancaroba.

Kegiatan penangkapan ikan selama pandemi Covid-19 sepanjang pesisir DIY tetap dilakukan, artinya selama kondisi cuaca dan gelombang tergolong aman dan tidak membahayakan nelayan. Oleh karena itu, para nelayan tetap melakukan kegiatan penangkapan ikan di laut.

Khususnya nelayan yang menggunakan PMT dalam melakukan penangkapan ikan masih berpedoman pada ‘pranata mangsa penangkapan ikan’. Menurut beberapa nelayan pesisir DIY, pranata mangsa masih cocok dan dapat membantu dalam penangkapan ikan. Musim ikan ternyata masih relevan dan cocok dengan pranata mangsa. Dengan begitu, nelayan bisa menyiapkan alat tangkap lebih awal yang sesuai dengan musimnya.

Selain pranata mangsa, info dari BMKG berkaitan kondisi iklim dan cuaca sangat penting sebagai acuan bagi nelayan untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan ke laut. Maka dari itu nelayan selalu meng-update setiap hari melalui media elektronik maupun media cetak. Selain informasi dari BMKG, nelayan juga selalu melakukan pengamatan langsung di pantai. Kemampuan memahami dan menandai (bahasa Jawa=niteni) perubahan alam tersebut merupakan cara yang cukup praktis dalam menyiasati dan memperkirakan musim penangkapan ikan maupun berbagai perubahannya. Hal ini sudah terbiasa dilakukan oleh sebagian besar nelayan.

Apabila dibandingkan dengan data tahun sebelumnya, dalam bulan yang sama jenis ikan yang tertangkap untuk PMT umumnya relatif sama tidak banyak perbedaan. Bahkan komoditas yang biasanya tidak menjadi target tangkapan menjadi sasaran tangkap dan mempunyai nilai jual yang tinggi seperti ikan gelama yang selama ini bukan ikan target, sesuai perkembangannya ikan gelama menjadi target tangkapan. Ikan gelama mahal harganya, karena di dalam perutnya terdapat gelembung udara yang mempunyai nilai jual tinggi.

Beberapa tempat pendaratan ikan yang dapat terpantau melakukan aktivitas penangkapan ikan antara lain Sadeng, Sundak, Drini, Baron, Ngrenehan, Gesing (Kabupaten Gunungkidul); Depok, Samas, Goa Cemara, Kwaru, Pantai Baru (Kabupaten Bantul); dan Trisik, Karanguni, Congot (Kabupaten Kulon Progo). Tetapi pada hari Senin, 25 Mei 2020 dan tanggal 26 Mei 2020, hampir di sepanjang pantai DIY terjadi gelombang pasang, dengan demikian tidak ada aktivitas penangkapan ikan.

Semua kapal dinaikkan ke daratan untuk menghindari kerusakan akibat adanya gelombang pasang. Nelayan pantai Ngrenehan saja yang masih melakukan penangkapan ikan sebanyak tujuh PMT dengan menggunakan alat tangkap jaring insang dasar atau jaring ciker (bottom gill net) dan mendapatkan ikan hasil tangkapan berupa ikan-ikan kecil campuran berupa ikan kuniran, tiga waja, udang jerbung, dan lainnya.

Walaupun kegiatan nelayan berjalan, bukan berarti tidak ada kendala. Kendala yang dihadapi adalah pemasaran ikan hasil tangkapan harganya sedikit mengalami penurunan khususnya ikan-ikan lokal.

Untuk ikan hasil tangkapan kelas ekspor seperti ikan tuna, bawal putih, layur, lobster, dan udang jerbung harganya relatif stabil atau tidak ada perbedaan antara harga sebelum dan selama adanya pandemi Covid-19. Justru ada beberapa komoditas yang harganya mengalami kenaikan seperti ikan bawal putih dan udang jerbung. Harga ikan hasil tangkapan selama Maret sampai dengan Mei 2020 bila dibandingkan dengan harga ikan sebelum terjadinya pandemi Covid-19 ada yang mengalami kenaikan dan penurunan, tetapi ada juga yang harga ikan stabil.