Oleh-oleh dari GyeongSangBuk-Do Korea Selatan

Kunjungan Sri Sultan Hamengkubuwono X ke Korea Selatan. SUWARMAN PARTOSUWIRYO

Tulisan ini adalah catatan saat mendampingi Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, melakukan kunjungan kerja ke Korea Selatan. Kunjungan ini berlangsung tanggal 3-8 September 2013. Salah satu tujuan kunjungan kerja adalah untuk menjalin kerja sama, meningkatkan kapasitas manajemen perikanan dalam upaya peningkatan produktivitas nelayan, peningkatan pendapatan nelayan dan pembudidaya ikan, pemasaran ikan, serta organisasi dan manajemen nelayan maupun pengelolaan tempat pelelangan ikan.

Penangkapan Ikan

Koperasi perikanan di pelabuhan perikanan Pohang (Pohang fishing port), awalnya terbentuk karena adanya kegiatan perikanan tradisional atau perikanan rakyat (small scale fisheries) yang membentuk kelompok yang beranggotakan sekitar 110 orang yang sebagian besar pemancing tradisional.

Koperasi perikanan merupakan bagian penting dalam pengembangan perikanan tangkap di GyeongSangBuk-Do, Korea Selatan. Para nelayan memberikan kepercayaan penuh pada koperasi karena koperasi ini adalah koperasi perikanan profesional yang terpercaya.

Pembangunan sarana koperasi seperti gedung, dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah. Fungsi koperasi antara lain mengatur manajemen Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan sistem jual beli ikan, menyediakan sarana produksi perikanan tangkap, dan mengurus asuransi nelayan.

Untuk mendapatkan harga jual yang tinggi, dilakukan sistem lelang. Nelayan yang melelangkan ikan di TPI, tidak dikenakan retribusi. Tetapi, bagi nelayan yang menjual langsung kepada perusahaan dikenai jasa lelang sebesar empat persen.

Nelayan juga dapat menitipkan hasil tangkapan kepada koperasi dan mendapatkan uangnya maksimal lima belas hari dan dapat diambil di bagian lembaga keuangan koperasi (semacam bank).

Komoditas utama yang dikelola oleh koperasi adalah cumi-cumi (squid) yang besarnya hampir 70 persen. Apabila sedang tidak musim cumi-cumi, hasil tangkapan lain berdasarkan musim ikan yang didaratkan. Sistem bagi hasil ditetapkan antara pemilik kapal dan anak buah kapal (ABK) sebesar 50:50, setelah dikurangi biaya operasional yang dikeluarkan.

Dalam meningkatkan usahanya, koperasi juga melakukan kegiatan pengolahan dan penyempurnaan kemasan (packaging improvement) dan pemasaran produk perikanan. Dukungan subsidi pemerintah terhadap keberadaan koperasi dilakukan selama tiga tahun, termasuk sistem manajemen kebersihan dan kesehatan (sanitary dan hygiene) TPI, sarana produksi penangkapan ikan, maupun perawatan kapal (docking).

Budi Daya Ikan

GyeongSangBuk-Do Fishery Technology Center merupakan lembaga pemerintah yang berfungsi dalam pengembangan perikanan. Tujuan lembaga ini adalah meningkatkan income baru, meningkatkan sumber daya manusia, dan meminimalisasi bencana dan kerugian.

Fasilitas yang dimiliki lembaga ini adalah perkantoran dan laboratorium, yang dananya dari pemerintah pusat dan daerah. Fishery Technology Center juga mengembangkan beberapa riset untuk penyediaan teknologi penangkapan ikan dan budi daya ikan.

Kegiatan yang dilakukan antara lain melakukan riset untuk menyediakan teknologi penangkapan ikan; menyediakan berbagai dana penangkapan ikan seperti perbaikan alat tangkap, docking; budi daya abalone; budi daya sea squirt; budi daya trout, adaptasi untuk restocking ke laut; pengembangan polikultur squid dan abalone; budi daya teripang; dan pengembangan pakan berkualitas tinggi untuk pembudidayaan ikan laut.

Dalam uji coba teknologi baru, lembaga ini kadang-kadang bekerja sama dengan pembudidaya ikan (pelaku utama). Budi daya ikan sebelah (flounder) berkembang baik. Benihnya diperoleh dari Fishery Technology Center.

Jukdo Fish Market

Pasar ikan Jukdo berada di wilayah Pohang. Pasar ikan ini sangat bersih dan teratur. Selain menjual ikan hidup, segar, dan ikan olahan, juga terdapat restoran dengan sajian menu serba-ikan.

Jenis ikan yang dipasarkan beraneka ragam antara lain ikan layur, sebelah (flounder), beloso, teri, gurita, sotong, cumi-cumi, kepiting, rajungan, abalone, kerang-kerangan, pari, keong laut, lobster, buntal, ekor kuning, trout, lemuru, tongkol, salmon, kembung, tigawaja, marlin, dan ikan kakap.

Ikan yang dipasarkan tidak hanya berasal dari Korea Selatan, tetapi juga berasal dari beberapa negara seperti Rusia, Australia, Jepang, dan lain-lain. Menariknya di pasar ini, adalah sebagian besar jenis ikan yang dipasarkan dapat tertangkap di perairan Samudra Hindia, selatan Jawa.

Harga ikan di pasar ini cukup tinggi. Sebagai contoh, harga ikan layur mencapai Rp22.000 per kilogram, ikan sebelah Rp45.000 per kilogram. Hal yang perlu dicontoh adalah setiap jenis ikan yang dipasarkan harus diberi label berupa jenis, asal, ukuran, dan harga ikan. Apabila ikan yang dipasarkan tidak diberi label maka pedagang akan dikenakan denda, sehingga semua pedagang disiplin dan tertib mengikuti aturan yang diterapkan oleh pasar. Sistem semacam ini membuat para pembeli lebih percaya untuk membeli ikan yang di pasar tersebut.

Untuk produk ikan olahan di pasar maupun di supermarket atau mal pada umumnya dipasarkan dalam kemasan (packaging) yang sangat menarik dan baik. Cara pemasaran semacam ini dapat meningkatkan nilai jual (value added) yang cukup tinggi. Bahkan terkesan seolah-olah bahwa produk yang dijual adalah kemasannya, karena produk ikan olahan jarang mempunyai nilai jual yang tinggi. Sebagai contoh, ikan teri kering di supermarket yang beratnya 250 gram dengan kemasan yang menarik harganya bisa mencapai sekitar Rp240.000.