Pandemi Covid-19 dan Hati Nurani

Persiapan Mengubur Jenazah Covid-19. MUNAWAR YASIN

Usia saya saat ini 55 tahun. Memang sudah cukup tua. Tetapi, setiap kali ada panggilan kemanusiaan, saya tidak bisa berdiam diri. Saya selalu merasa harus ikut turun tangan, meskipun mungkin tidak banyak yang bisa saya lakukan. Apalagi panggilan itu berasal dari tangisan orang banyak yang membutuhkan pertolongan. Jiwa saya terpanggil. Jadi, satu-satunya alasan atau motivasi saya bergabung dengan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) adalah murni kehendak hati nurani.

Bagi saya, Covid-19 adalah suatu bentuk cobaan dari Tuhan untuk hamba-Nya dalam cakupan yang sangat luas. Sangat-sangat luas. Hampir semua negara di permukaan bumi telah dikunjungi oleh virus ini, tak terkecuali Indonesia. Bahkan, hingga saat ini, persoalan virus ini masih belum benar-benar selesai. Masih dalam tahap pemulihan secara perlahan.

Saya sebagai bagian yang sangat kecil dari luasnya Nusantara, sepertinya memang tak bisa berbuat banyak. Oleh karena itu, saya tidak pernah merasa telah melakukan banyak hal.

Saya merupakan ketua FPRB yang total keseluruhan anggotanya ada 60 orang. Kami membantu masyarakat untuk mengurangi risiko yang diakibatkan oleh berbagai bencana.

Ketika Covid-19 merajalela di mana-mana, setiap hari saya menyaksikan kabar kematian. Sangat mengerikan rasanya. Tiba-tiba saja, kami dikepung kesibukan yang sangat menguras energi. Kami menjemput jenazah sekian banyak setiap hari dari beberapa rumah sakit di Yogyakarta, kemudian melaksanakan pemakaman sesuai dengan standar atau protokol kesehatan yang telah ditentukan secara ketat oleh pemerintah.

Saat sedang melaksanakan semua itu, hati saya terkadang mendadak seperti ditusuk jarum. Begitu sakit. Bagaimana kalau yang sedang berbaring tanpa nyawa itu adalah saya sendiri? Akan seperti apakah nasib anak-anak dan istri saya di rumah? Atau, bagaiamana kalau yang sedang saya urusi pemakamannya itu adalah istri atau anak saya sendiri? Ngeri sekali membayangkan semua itu.

Untuk menyiasati keefektifan kerja, tim yang total berjumlah 60 itu saya pecah menjadi empat tim kecil. Setiap tim kecil beranggotakan 15 orang. Setiap satu pemakaman diurus oleh satu tim kecil. Dengan begitu, kami bisa menggunakan waktu dan tenaga secara efisien. Meskipun sesungguhnya tetap kewalahan karena banyak sekali jenazah yang harus kami urus setiap harinya.

Sering kali kami bekerja sampai tengah malam, bahkan menjelang pagi. Padahal paginya harus mulai kerja lagi. Semua itu adalah hal yang sangat baru dan tak mudah begitu saja kami lakukan.

Biasanya, kami mengurusi hal-hal yang tidak begitu menguras waktu dan tenaga. Misalnya, pohon tumbang. Untuk persoalan satu ini, kami cukup mengerahkan beberapa orang saja. Tak lama kemudian, masalah sudah dapat teratasi. Tugas kemanusiaan kami sebelumnya sangat insidental. Tidak setiap hari dan memakan waktu begitu banyak.

Kehadiran Covid-19 seolah menguji ketulusan kami menjadi relawan kemanusiaan. Untuk menjawab itu, tentu saja kami harus siap sedia untuk melayani kemanusiaan selagi masih bisa. Saya harus menyuguhkan bakti terbaik saya pada kemanusiaan.

Niat membantu sesama itu kami tunjukkan melalui kegiatan di FPRB yang sangat padat di tengah pandemi. Kami melakukan penyuluhan dan sosialisasi tentang tata cara pemakaman jenazah khusus Covid-19. Penyuluhan dilakukan di banyak tempat di wilayah Kalurahan Panggungharjo.

Penyuluhan di setiap tempat itu dibimbing oleh 10 orang, mulai sehabis salat isya sampai seluruh materi penyuluhan tersampaikan. Pesertanya adalah tokoh-tokoh masyarakat setempat. Tujuannya, agar mereka sedikit banyak mengerti cara menangani pasien atau jenazah akibat Covid-19. Antusiasme peserta penyuluhan membuat kami yang tadinya kelelahan menjadi kembali bersemangat.

Dalam melakukan misi kemanusiaan ini, kami bekerja sama dengan RS Panembahan Senopati atau RSUD Bantul, PKU Muhammadiyah Bantul, PKU Muhammadiyah Yogyakarta, dan RS Kota Madya. Melalui berbagai rumah sakit tersebut kami menerima panggilan, mengambil jenazah warga Kalurahan Panggungharjo yang meninggalnya karena terpapar Covid-19.

Kemudian, membantu pengurusan jenazah tersebut sesuai protokol. Selain itu, kami pernah juga menerima panggilan dari RS Sardjito, bahkan dari Kulonprogo dan Gunungkidul. Tentu saja yang kami urus adalah jenazah yang berhubungan dengan warga Kalurahan Panggungharjo. Selain warga Panggungharjo, barangkali kami mau, tetapi saya yakin kemampuan kami terbatas.

Sangat sedikit waktu yang kami punya untuk duduk bersama dan melemparkan candaan satu sama lain sambil memulihkan tenaga. Kami seperti kurang hiburan. Harus pandai mencuri-curi waktu untuk istirahat dan menghibur diri. Tidak hanya karena kekurangan waktu, namun situasinya terlalu serius untuk bercanda.

Kami memiliki waktu yang sulit. Sama sekali tidak mudah. Bagaimana mungkin semua itu akan mudah kami lakukan, sementara setiap hari nyawa orang seolah-olah melewati ujung-ujung jari kami tanpa ucapan perpisahan? Bagaimana kami akan melakukan semua itu dengan mudah kalau orang-orang yang kami urus itu adalah saudara kami sesama manusia?

Bersamaan dengan tugas kemanusiaan yang super padat itu, kami juga seorang bapak bagi anak-anak kami, menjadi suami untuk istri kami, dan menjadi orang yang bertanggung jawab atas nafkah keluarga di rumah.

Tidak ada pekerjaan yang mulus tanpa halangan, termasuk kerja suka rela kami dalam menangani jenazah Covid-19 yang jumlahnya membuat saya pilu. Kadang kala, jika bukan halangan, ada hal-hal aneh yang membuat kami tertegun sejenak dan merenungi kejadian yang tengah terjadi.

Ada beberapa kejadian yang masih sangat saya ingat sampai saat ini. Kejadian ini bukan menimpa saya, namun teman satu tim saya. Itu terjadi di Krapyak, ketika teman saya mau memasang lampu di pemakaman jenazah Covid-19. Tanpa diketahui oleh siapa pun di sana, bahkan termasuk semua tim yang turut terlibat, ternyata ada sosok dari alam lain yang masuk dalam dirinya.

Ketika sampai di selter, yaitu di bekas RS Patmasuri yang berada di Panggungharjo, keanehan tersebut muncul. Teman saya tiba-tiba saja mengatakan sesuatu yang membuat kami semua heran.

Katanya, “Saya mau jadi anggota FPRB.”

Aneh. Padahal dia sudah menjadi anggota FPRB sejak lama. Dia sudah bertugas bersama kami sejak lama. Oleh karena itu, akhirnya kami tahu yang sebenarnya terjadi.

Saya melakukan dialog dengan sosok dari alam lain yang merasukinya. Ternyata teman saya ‘diganggu’ makhluk halus, tapi dia tidak marah-marah sama sekali. Dalam hati, saya sempat tertawa sejenak. Singkat cerita, akhirnya sosok itu mau pergi setelah terjadi tawar-menawar di antara kami.

Kejadian aneh kedua terjadi di pemakaman juga. Saya pikir memang hal-hal aneh kerap terjadi di pemakaman. Saat itu, kami hendak memakamkan jenazah Covid-19 di malam hari. Saat itu, kami memakamkan jenazah nonmuslim.

Sebelum memasukkannya ke liang lahat, kami sudah periksa dan tidak ada apa-apa. Ketika jenazah akan diturunkan, entah bagaimana caranya, ada bongkahan-bongkahan batu seukuran kepal tangan orang dewasa. Jumlahnya cukup banyak. Terpaksa kami harus membersihkannya terlebih dahulu, lalu mengulang apa yang kami lakukan, yakni menurunkan jenazah. Masih ada beberapa lagi, tapi saya kira dua itu saja yang saya ceritakan supaya tulisan ini tidak terlalu panjang dan hanya berisi keanehan-keanehan.

Bagi saya, bencana yang menimpa Indonesia ini memberi hikmah yang penting sekali untuk dipahami oleh banyak orang. Bahwa orang-orang di sekitar kita suatu waktu akan membutuhkan bantuan, sedangkan di waktu lain kita pun membutuhakan mereka. Roda waktu terus berputar dan kita juga harus turut bergerak agar tak tergilas putarannya yang tidak dapat dibendung sama sekali oleh siapa pun, kecuali Yang Maha Esa.

Kesedihan yang tampak di muka saudara-saudara kita, tetangga-tetangga kita, dan teman-teman dekat kita, sudah selayaknya turut membuat pipi kita panas dan mata hendak berair. Rasanya ada yang mengganjal di relung, jika kita tak mau turun tangan membantu orang-orang terdekat yang sedang dikepung nasib tak baik.

Apabila kita tak tergerak hatinya, kita patut berkaca dan mencela sosok yang muncul di dalam kaca itu. Sosok itu adalah sosok yang mungkin telah mati mata hatinya, telah mati nuraninya.

Saya berharap, akan lebih banyak lagi orang yang mau turut andil dalam program kerja kemanusiaan ini, terutama kaum muda. Sebab, di antara kami yang 60 orang itu, rata-rata memang bukan orang yang masih muda dan gagah perkasa. Sayang sekali memang.

Kami harap apa yang kami lakukan dapat memantik kesadaran kaum muda agar turut mencurahkan tenaga dan juga pikiran untuk berlangsungnya kehidupan masyarakat yang aman, tenteram, dan nyaman.

Terlalu banyak—atau malah terlalu sedikit—yang saya tulis di sini. Saya tidak bisa bercerita secara detail di ruang yang terbatas ini. Meskipun hanya sedikit, semoga tulisan pendek nan sederhana ini bisa memberikan pengalaman secara tak langsung.