Pemuda Desa sebagai Agent of Change Menuju Kemandirian dan Kedaulatan Desa

Asesmen Akademi Kampung Sigap oleh YSID. INSTAGRAM/SANGGARDESA

Sindana (2020) berpendapat bahwa ada dua hal yang dapat dilakukan oleh pemuda desa agar lebih siap berperan di desa, yakni membangun ekosistem pemuda yang mandiri dan menjadikan desa sebagai laboratorium pemuda. Ekosistem yang mandiri dapat dicapai dengan membangun tiga hal.

Pertama, sekolah desa, sebagai pendidikan yang dapat memerdekakan dan kontekstual sesuai kebutuhan, serta tantangan nyata yang dihadapi pemuda desa di desa masing-masing.

Kedua, jaringan pemuda desa, yakni sebuah ekosistem yang mampu menjadi ruang tumbuh yang sehat para pemuda desa untuk menemukan dirinya sendiri, karena kami yakin ekosistem yang baik melahirkan karakter yang baik pula. Ketiga, lumbung data desa, yaitu riset kolektif yang dilakukan bersama jaringan pemuda desa secara berkelanjutan.

Dalam Kongres Kebudayaan Desa (KKD), kami mencoba untuk mendorong gagasan menjadikan desa sebagai laboratorium pemuda dalam upaya pelibatan pemuda di desa. Seperti mencari cara agar di masa depan pemuda mendapatkan ruang, peran menjaga, dan mengelola tiga aset utama desa, yaitu air, udara, dan pangan yang bersih juga sehat.

Desa dapat menjadi ruang eksperimen pemuda, ruang untuk berkarya nyata, dan tempat mengaplikasikan nilai ngelmu kelakone kanthi laku, yang artinya ilmu akan dapat dipahami dengan benar dan tepat melalui penerapan dalam tingkah laku atau perbuatan.

Menurut Susanto (2020), setidaknya ada tiga persoalan yang dihadapi kaum muda di desa. Masalah pertama, pendidikan dan pengangguran. Terbatasnya fasilitas pendidikan di desa menyebabkan SDM desa menjadi kalah tangkas dan kalah bersaing dibandingkan SDM kota. Selain itu, karena faktor pendidikan yang rendah, menyebabkan sulitnya inovasi-inovasi yang ditemukan di desa.

Masalah kedua adalah keahlian (soft skill). Tanpa fasilitas pendidikan yang mendukung maka kreativitas dan keahlian masyarakat desa susah berkembang. Oleh karena itu, agak sulit rasanya membayangkan alih teknologi dapat terjadi dengan cepat di desa, tanpa adanya peningkatan kualitas dan kuantitas SDM di desa.

Masalah ketiga adalah akses teknologi dan transportasi. Keterbatasan akses teknologi serta transportasi semakin membuat masyarakat desa jauh dari kemajuan. Adanya pagebluk Covid-19, sudah waktunya untuk merubah mindset pemuda desa, menjadi aktor sekaligus agent of change.

Menjadi garda terdepan dalam mewujudkan kemandirian dan kedaulatan desa, dengan modal karakter dan kepribadian yang bersumber dari nilai-nilai luhur sebagai warisan para leluhur yang membedakan pemuda desa dengan pemuda kota. Sudah saatnya bergotong royong, bersatu padu untuk mewujudkan kemandirian dan kedaulatan desa.

Adalah KKD 2020 yang menghasilkan formulasi arah tatanan Indonesia baru dari desa itu, telah termaktub secara ringkas dan padat dalam rumusan visi Indonesia baru dari desa berwujud Deklarasi Arah Tatanan Indonesia Baru dari Desa, yang isinya berbunyi.

‘Atas berkat dan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, maka desa dengan ini menyatakan bahwa cita-cita tatanan Indonesia Baru adalah terselenggaranya politik pemerintah desa yang jujur, terbuka dan tanggung jawab untuk mewujudkan masyarakat yang partisipatif, emansipatif, tenggang rasa, berdaya tahan, mandiri, serta memuliakan kelestarian semesta ciptaan melalui pendayagunaan datakrasi yang ditopang oleh cara kerja pengetahuan dan pengamalan lintas ilmu bagi terwujudnya distribusi sumber daya yang setara untuk kesejahteraan warga.’

Terdapat tiga misi yang diposisikan sebagai cara pencapaian demi terwujudnya visi Indonesia baru dari desa tersebut, yaitu menjadikan desa sebagai arena demokrasi politik lokal sebagai wujud kedaulatan politik, kedaulatan ekonomi, dan kedaulatan data.

Pemuda harus terlibat aktif sebagai agent of change dalam setiap misi dan visi kepala desanya masing-masing. Demi mewujudkan kedaulatan politik dan pemerintah desa, pemuda berperan untuk mengedukasi tentang bahaya money politic dalam kontestasi politik di desa.

Terkait penggunaan dana desa, pemuda berperan untuk mengkritisi kebijakan yang tidak mengarusutamakan kepentingan warga desa, dan mengkritisi penggunaan dana desa yang masih abu-abu atau tidak transparan serta cenderung mengarah pada praktik-praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

Pada kedaulatan ekonomi, pemuda berperan menghidupkan ekosistem ekonomi kerakyatan bukan ekonomi kapitalis, serta ikut menggerakkan ekonomi kreatif dan inovasi produk yang bersumber dari desa. Meminjam kalimat Wahyudi Anggoro Hadi, ‘jangan tinggalkan desa, karena desa layak diperjuangkan.’

Dalam misi ketiga, pemuda-pemuda yang melek Teknologi Informasi (TI) sudah saatnya berkarya untuk mewujudkan kedaulatan data dengan masuk menjadi tim TI desa, sebagai pengelola sistem informasi desa. Hal itu disebabkan, dengan memperbarui data dan infografis secara berkala tentang kegiatan pemerintah desa, akan semakin mempertajam transparansi data publik, sehingga dapat meminimalkan program-program fiktif yang tujuannya adalah untuk mengurangi potensi terjadinya praktik-praktik KKN.

Sejarah adalah guru yang terbaik. Kita sepatutnya belajar dari gerakan kaum muda di tahun 1928 yang melahirkan sumpah pemuda dan embrio kemerdekaan bangsa. Semangat kaum muda di tengah kondisi terhimpit dan sulit ternyata tak pupus dimakan zaman. Perang dengan pandemi Covid-19 masih jauh dari kata usai. Mari susun ulang seluruh energi dan pikiran demi membangun desa. Menurut Susanto (2020), dari desa pulalah langkah awal tata dunia baru ini dimulai. Terakhir, mari kita renungkan bersama kata-kata Bung Karno, ‘beri aku 10 Pemuda akan ku guncangkan dunia.’

Referensi:

Wahyudi Anggara Hadi dkk. 2020. “PEMUDA: Merekonstruksi Ulang Formasi Strategis Pemuda. Yogyakarta. Yayasan Sanggar Inovasi Desa.

Ceramah dari Wahyudi Anggara Hadi Lurah Desa Panggungharjo.