Penduduk dan Tempat Tinggal

Rusunawa Triharjo Kulonprogo untuk Warga Berpenghasilan Rendah. DPU KULONPROGO

Tanah dan tempat tinggal merupakan kebutuhan hidup manusia yang paling utama. Manusia hidup di tanah, melakukan aktivitas di tanah. Hampir semua kegiatan manusia, baik secara langsung ataupun tidak langsung, selalu berhubungan dengan tanah. Ketika meninggal pun perlu tanah sebagai tempat beristirahat.

Ketidakmampuan manusia untuk memiliki tanah dan tempat tinggal, akan mengakibatkan mereka menjadi tunawisma. Tunawisma adalah orang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Untuk berteduh dan tidur, mereka akan memanfaatkan kolong jembatan, taman umum, pinggir jalan, pinggir sungai, stasiun kereta api, dan lain-lain. Umumnya, hal ini terjadi di pusat kota dan daerah pinggiran, yaitu desa yang berbatasan langsung dengan kota.

Banyak asumsi yang muncul bahwa harga tanah di desa masih murah, masih terdapat banyak lahan yang belum dimanfaatkan, namun hal itu tidak jauh berbeda dengan kota. Tanah di desa juga makin sempit. Membeli tanah di desa juga tak mudah.

Desa-desa yang berbatasan langsung dengan kota, memiliki masalah yang cukup umum. Sebagian penduduknya tidak memiliki tanah dan rumah. Salah satu solusi adalah menyewa atau istilah terkenalnya, ‘ngontrak’. Sumber pendapatan penduduk daerah ini didominasi oleh jasa dan perdagangan, bukan lagi pertanian.

Kebutuhan rumah dan tempat tinggal merupakan kebutuhan primer. Rumah berfungsi sebagai tempat melepas lelah dan beristirahat, tempat berlindung dari bahaya. Bagi beberapa orang, rumah merupakan lambang status sosial serta penyimpanan harta. Masih banyak fungsi rumah yang bisa dilihat secara objektif maupun subjektif.

Berdasarkan hierarchy of need, kebutuhan akan rumah dapat dijelaskan sebagai kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, kebutuhan berinteraksi, dan kebutuhan mengekspresikan diri.

Rumah bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, namun juga tempat untuk mengaktualisasikan diri. Selain rumah, lingkungan perumahan juga penting. Lingkungan perumahan merupakan suatu sistem yang terdiri dari lima elemen.

Pertama, unsur alam yang meliputi topografi, hidrologi, tanah, iklim, dan unsur hayati. Kedua, manusia sebagai individu yang meliputi kebutuhan biologis, emosional, nilai moral, perasaan, dan persepsinya. Ketiga, masyarakat. Keempat, tempat manusia sebagai individu ataupun kelompok untuk melangsungkan kehidupan. Kelima, jaringan merupakan sistem yang menunjang berfungsinya lingkungan perumahan, seperti jalan, air bersih, listrik dan sebagainya.

Ada beberapa faktor memunculkan fenomena. Faktor yang sering dituding menjadi penyebab utama adalah urbanisasi. Desa yang berbatasan dengan kota, menerima luapan para perantau. Tinggal di pinggiran menjadi pilihan masyarakat yang mempunyai pekerjaan di kota, karena harga tanah di kota cukup membuat isi dompet ludes. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini dengan cara menekan laju urbanisasi.

Perlu diketahui bahwa tidak hanya urbanisasi yang menyebabkan munculnya tunawisma, namun kemiskinan menjadi salah satu faktor yang harus mendapat sorotan.

Kemiskinan dapat disebabkan oleh dua hal. Pertama, tidak memiliki kesempatan untuk mengasah kemampuan, baik secara formal ataupun informal. Kedua, kebijakan pemerintah yang tidak berpihak ke rakyat, seperti lapangan pekerjaan yang minim. Langkah untuk memperbaiki kondisi seperti adalah membuka lapangan pekerjaan, memberi bantuan modal usaha, dan pemerataan ekonomi di desa-desa.

Masih banyak faktor yang menyebabkan orang menjadi tunawisma, yaitu permasalahan sosial. Anak yang kurang kasih sayang dan ingin mencicipi rasa bebas dari kekangan orang tua turut menambah masalah sosial.

Kisah pelipur lara tentang kota yang manjur mengubah nasib orang menjadi kaya raya, menjadi salah satu penyumbang masalah sosial. Kisah tersebut sering ditelan mentah-mentah oleh beberapa orang. Tanpa keahlian, kisah sukses di kota hanya sebuah omong kosong.

Orang-orang yang terpuruk di kota malu untuk kembali ke daerah asal, karena tidak berhasil mengubah nasib. Mereka memilih pindah ke desa yang berbatasan langsung dengan kota. Hal ini yang membuat kawasan desa pinggir kota memiliki banyak tunawisma.

Tidak hanya itu, penyebab lain datang dari adanya budaya merantau di daerah-daerah tertentu. Budaya tersebut timbul karena lingkungan yang tidak sehat, yakni tetangga yang suka menggunjing. Kita tidak bisa menutup mata bahwa budaya mengurusi orang lain masih tumbuh subur di sebagian daerah.

Mereka yang telah lulus, namun masih di rumah, akan dicap pengangguran. Sangat penting memberi pengertian kepada warga tentang kehidupan di kota yang tidak mudah tanpa keahlian. Selain itu, kita perlu memberi edukasi bahwa kesuksesan bisa dicapai dengan berkontribusi dalam membangun dan memajukan desa. Sukses tidak selalu didapat dari merantau.

Penyebab lain dari banyaknya tunawisma di kota adalah kebijakan politik pemerintah dan kasus korupsi yang merajalela. Kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, akan membuat warga yang berada di bawah garis kemiskinan semakin sulit.

Apa yang terjadi jika orang tidak mempunyai tanah dan rumah? Jika hal itu terjadi, akan banyak permasalahan yang terjadi, salah satunya berhubungan dengan kualitas hidup seseorang.

Kualitas hidup berdasar pada derajat kepuasan atas penerimaan suasana kehidupan saat ini. Kualitas hidup adalah persepsi individu tentang keberadaannya di kehidupan dalam konteks budaya dan sistem nilai tempat ia tinggal.

Pengkajian kualitas hidup secara internasional terus dilakukan oleh Organization of Economic and Culture Development (OECD). Menurut OECD, indikator kualitas hidup adalah pendapatan, perumahan, lingkungan, stabilitas sosial, kesehatan, pendidikan, dan kesempatan kerja.

Indikator tersebut bisa dikatakan sangat memadai, sudah mencakup berbagai macam hal yang menjadi cerminan kualitas hidup, namun belum masih sangat rancu, sehingga masing-masing perlu dijabarkan lebih lanjut.

Menurut World Health Organization (WHO), terdapat empat aspek mengenai kualitas hidup, yaitu kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, hubungan sosial, dan hubungan dengan lingkungan.

Sedangkan, faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang adalah jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, penghasilan, hubungan dengan orang lain, standard referensi, dan kesehatan fisik.

Hubungan antara tunawisma dan kualitas hidup, dapat dilihat pada dampak adanya tunawisma secara fisik. Pertama, kebersihan dan kesehatan.

Rumah yang jauh dari kriteria hidup sehat akan memunculkan masalah kesehatan. Tidak adanya ventilasi dan penerangan, bisa memunculkan gangguan pernapasan dan penglihatan. Hal tersebut tidak diperhatikan, karena mereka masih kekurangan dalam pemenuhan pangan, sehingga mereka juga tak punya cukup dana untuk memelihara kesehatan dan pengobatan.

Kedua, kurang gizi. Mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan, terlebih lagi makanan bergizi. Ketiga, tindak kriminal. Perebutan atau persaingan lahan dapat memicu konflik. Tidak adanya lapangan pekerjaan yang sesuai, memaksa tunawisma untuk melakukan tindak kriminal.

Keempat, pendidikan. Biaya pendidikan tidak terjangkau oleh tunawisma yang masih kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak jarang anak-anak terpaksa putus sekolah untuk membantu orang tuanya mencari nafkah.

Kelima, pekerjaan. Kurangnya keahlian, kesehatan yang buruk, dan stigma dari masyarakat, membuat tunawisma sulit mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan yang tersedia untuk tunawisma menjadi sangat terbatas, yaitu pekerjaan serabutan yang tidak membutuhkan keahlian tertentu. Akibatnya, sumber pendapatan tunawisma pun menjadi semakim sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Keenam, lingkaran kemiskinan. Kemiskinan ini akan terus berlanjut. Orang tua yang tidak mampu menjamin kesejahteraan keluarganya, akan menurunkannya kepada anak-anak. Kurang gizi yang berawal dari masa kehamilan, kesehatan yang tak terjamin dari tempat tinggal, kurangnya pendidikan akibat putus sekolah, serta kesehatan mental dari lingkungan yang tidak mendukung, akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.

Begitu pentingnya tanah dan tempat tinggal bagi manusia. Pemerintah menyadari masalah tersebut dan turut berupaya memberi solusi, salah satunya mendirikan rumah sewa sederhana yang dapat dijangkau masyarakat, baik rumah susun ataupun rumah deret.

Walaupun keberadaan rumah sewa terus diusahakan pemerintah, jumlahnya belum cukup untuk menampung semua permintaan. Masih banyak masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan, mereka tidak mempunyai tempat tinggal yang layak dan terpaksa menjadi tunawisma.

Tidak hanya pemerintah daerah dan pusat yang berusaha membantu warga, pemerintah desa pun ikut menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk menciptakan lingkungan yang ideal.

Hal itu dilakukan oleh Pemerintah Kalurahan Panggungharjo. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), mereka menciptakan lapangan kerja bagi penduduk golongan marjinal dan pengangguran tanpa keahlian. Selain itu, membuat Program Pendidikan Satu Rumah Satu Sarjana untuk menjamin pendidikan bagi warganya. Segala upaya yang ditempuh itu memiliki satu tujuan, yakni menekan laju kemiskinan sehingga tunawisma dapat berkurang.