Peran Perempuan dalam Keluarga

Ibu Menyusui dan Bekerja. RSP RESPIRA

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Istana yang paling indah adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna adala keluarga

Mutiara tiada tara adalah keluarga

Dalam kutipan lagu ‘Harta berharga’ yang menjadi pengiring di film ‘Keluarga Cemara’ memiliki arti bahwa sebuah keluarga adalah harta berharga yang sangat bernilai dan tidak tergantikan oleh harta semahal apapun.

Keluarga memang begitu hebat dan memiliki peran yang luar biasa untuk setiap anggotanya, sejak awal lahir hingga sekarang. Keluarga menjadi pembentuk watak kita masing-masing. Keluarga menjadi pendidik pertama dan terpenting.

Tidak ada hal yang lebih berharga daripada keluarga. Mereka mampu menerima kita di saat seluruh dunia tidak sedang bersahabat. Mereka pun menjadi garis terdepan untuk tetap melindungi kita. Jika ada masalah seberat apapun, mereka akan mengulurkan tangan untuk membantu.

Keluarga merupakan suatu lembaga sosial yang paling besar perannya bagi kesejahteraan sosial. Keluarga merupakan lingkungan sosial yang terpenting bagi perkembangan dan pembentukan pribadi anak. Mereka merupakan wadah bimbingan dan latihan anak sejak kehidupan yang sangat muda.

Keluarga menjadi inti dari masyarakat. Kata lainnya, keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami, istri, dan anak. Keluarga yang baik tentunya dibangun oleh perempuan-perempuan yang baik, kuat, tangguh, sabar, dan adanya kerja sama yang harmonis.

Masa-masa berkembang menjadi modal utama sebagai penerus bangsa dan pembangunan negara. Tidak hanya itu, pengaruh keluarga memiliki faktor besar terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Keluarga berperan penting dalam pendidikan untuk membentuk kepribadian sejak dini.

Memiliki kedekatan yang baik dengan keluarga pasti memberikan dampak positif pada lingkungan masyarakat. Ketika seseorang memiliki hubungan yang baik dengan keluarga, pastinya dapat membangun hubungan yang baik juga di luar.

Ketika ada yang menikah di desa, tak jarang anak-anak muda diminta untuk nyinom (sekelompok pemuda yang membantu menjadi pelayan tamu di hajatan orang), namun beberapa orang pasti ada yang tidak mau. Rata-rata orang yang tidak mau itu biasanya dari keluarga yang kurang bersosialisasi kepada lingkungan sekitar.

Budaya gotong royong ketika ada tetangga yang mau menikah sudah menjadi hal yang lumrah di desa. Ada ungkapan ora nyinom ora disinomi (tidak membantu, maka tidak akan dibantu) yang beredar di lingkungan pedesaan. Mereka yang tidak mau nyinom, diartikan tidak mau bersosialisasi dengan tetangganya.

Pada dasarnya, peran perempuan dalam keluarga adalah sebagai anak untuk orang tuanya, sebagai seorang istri untuk suaminya, dan sebagai seorang ibu untuk anak-anaknya. Selain itu, perempuan juga punya tanggung jawab secara sosial sebagai bagian dari masyarakat.

Perempuan di dalam keluarga, yakni ibu, ia menjadi sosok nomor satu yang mendidik anak untuk menciptakan karakternya. Kunci keberhasilan seorang anak di kehidupannya sangat bergantung pada ibu. Sikap ibu yang penuh kasih sayang, memberi kesempatan pada anak; memperkaya pengalaman, menerima, menghargai, dan dapat menjadi teladan yang positif bagi anaknya.

Didikan yang diberi ibu akan besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak. Jadi, dapat dikatakan bahwa gambaran anak tentang dirinya ditentukan oleh interaksi yang dilakukan ibu dengan anak.

Ibu adalah sosok perempuan yang sangat kuat, tidak mudah menyerah oleh keadaaan, dan tidak mudah lelah berjuang untuk keluarga. Untuk menjadi perempuan tangguh tidak hanya menjadi ibu rumah tangga, namun menjadi perempuan berkarir atau perempuan pengusaha juga bisa.

Menjadi seorang ibu tetaplah hebat apapun keadaannya. Saya sering melihat kekuatan seorang ibu sangatlah besar di keluarga, terutama dalam ekonomi. Mereka rela membantu mencari uang demi mempertahankan kelangsungan hidup keluarga, bahkan mereka tidak segan membawa anaknya. Sebagai contoh, kita sering melihat seorang ibu menggendong anaknya yang masih kecil untuk ikut bekerja di lampu merah sambil menawarkan koran atau apapun itu. Mereka sungguh hebat, bukan?

Saat mereka dalam kondisi mencari rezeki, perempuan masih berperan menjadi ibu untuk anaknya, sekaligus menjadi pedagang guna mencari nafkah. Walaupun lelah menyerang, itu tidak membuatnya menyerah.

Peran ibu tidak hanya dirumah, namun ibu dapat memegang peran yang sangat banyak. Bagi saya, wong wedok kui iso dadi wong lanang, ning nek wong lanang hurung mesti iso dadi wong wedok (seorang perempuan itu bisa menjadi sosok laki-laki, tetapi laki-laki belum tentu bisa menjadi sosok perempuan).

Dalam keadaan ekonomi keluarga yang kurang, perempuan rela ikut bekerja mencari uang dibarengi dengan mengasuh anak. Pekerjaan ibu rumah tangga pun tidak bisa dibilang mudah. Coba bayangkan seorang ibu yang mengemban tugas sebagai ibu rumah tangga sekaligus perempuan yang bekerja, itu pasti sangat kuat dan hebat.

Tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu, suatu peringatan terhadap peran perempuan dalam keluarga, baik sebagai istri bagi suaminya, ibu untuk anak-anaknya, maupun untuk lingkungan sosialnya. Peringatan hari ibu bermula dari adanya kongres perempuan yang dilakukan pertama kali pada tanggal 22 desember 1928. Lalu, tanggal itu diresmikan sebagai hari ibu oleh Soekarno.

Tidak salah jika ibu sangat berpengaruh dalam membentuk karakter suatu bangsa, karena dari tangannya terbentuk mental-mental generasi penerus bangsa. Ada kalimat yang mengatakan bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Proses pendidikan anak memang berawal dari ibu, bukan dari guru atau pendidik lainnya di sekolah. Peran ibu sangat besar dalam mewujudkan kebahagiaan dan keutuhan keluarga.

Tugas utama perempuan adalah mendidik generasi-generasi baru untuk mewujudkan penerus bangsa yang mampu membangun ke arah yang lebih maju lagi. Oleh karena itu, ibu harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam mendidik anaknya.

Tidak hanya menjadi ibu, perempuan dalam keluarga memiliki peran sebagai istri dan bisa juga sebagai anak. Perlu dihayati benar mengenai sasaran dan tujuan dari peran itu, agar perempuan dapat melakukan tugasnya dengan baik. Selain itu, perempuan harus menguasai cara atau teknik memainkan peran yang sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Perempuan tidak hanya dirumah. Mereka juga memiliki tugas untuk berkiprah dalam membangun desa dan pemberdayaan perempuan desa. Adanya koperasi wanita yang diciptakan khusus untuk para perempuan, terutama ibu-ibu rumah tangga, menjadi wadah bagi mereka untuk bersosialisasi.

Koperasi perempuan yang saya ketahui dan masih berjalan hingga sekarang adalah Koperasi Wanita Dewi Kunti yang terletak di Kalurahan Panggungharjo. Koperasi ini digerakkan oleh ibu-ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Koperasi ini berdiri karena terjadinya gempa bumi yang mengakibatkan banyak korban meninggal, terlebih lagi banyak perempuan menjadi janda. Pada tahun 2007, Dinas Koperasi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menawarkan bantuan dana dengan syarat membuat lembaga koperasi yang berbadan hukum. Berawal dari hal itu, Koperasi Wanita Dewi Kunti lahir.

Bagi sebagian kaum perempuan, Koperasi Wanita Dewi Kunti merupakan bentuk komitmen sekaligus kiprah mereka untuk mengaktualisasikan diri di ruang publik. Kehadiran lembaga ini, diakui telah merangsang tumbuhnya keterlibatan dan keberdayaan perempuan sebagai salah satu tiang penyangga ekonomi keluarga melalui berbagai kegiatan ekonomi kerakyatan yang mereka kembangkan.

Perempuan memiliki peran yang luas, bahkan bisa menggunakan peran ganda, sebagai ibu dan pekerja. Seorang ibu yang bisa ikut bekerja demi membantu ekonomi keluarga adalah ibu yang sangat hebat dan kuat. Saya sering bangga melihat perempuan seperti itu. Bagaimana tidak? Mereka memiliki pekerjaan rumah tangga yang begitu banyak, namun masih bisa bekerja.

Masih banyak orang yang memandang perempuan sebagai sosok yang lemah. Seharusnya mereka peka terhadap fenomena ini, sekarang banyak perempuan yang begitu kuat demi keluarga.

Masih banyak petani di desa saya, perempuan-permpuan hebat itu, meskipun sudah tua masih tetap giat bekerja. Kata peribahasa Jawa, ora obah ora mamah (tidak kerja, maka kita tidak bisa makan). Oleh karena itu, para perempuan lanjut usia yang ada di desa, hidupnya sebatang kara atau masih dengan suami, mereka harus tetap bekerja untuk bertahan hidup.

Saya masih sering melihat perempuan-perempuan tangguh itu mengayuh sepedanya ke sawah dengan semangat untuk mencari rezeki, berharap hasil panen yang ditanam memuaskan. Perempuan-perempuan itu sudah sangat hebat, bahkan tidak lemah sama sekali, jangan meremehkan para perempuan yang begitu hebat perannya untuk keluarga maupun masyarakat.